Terjual Karena Hutang
*flashback on*
Satu minggu sebelum pertemuan Erick dan sang gadis. Di sebuah desa sekitar 2 jam perjalanan dari kota S. Seorang gadis beserta ayahnya pulang dari ladang di sore hari. Kiranti Lestari berumur hampir 19 tahun. Selepas lulus SMU di kota S, dia pulang dan membantu orang tua di ladang. Hal ini disebabkan oleh kekurangan dana untuk melanjutkan kuliah. Sedangkan untuk mencari pekerjaan dengan ijazah SMU sangatlah sulit. Sambil mencari pekerjaan, dia pun memutuskan untuk membantu kedua orang tuanya.
Sampai di rumah, ternyata beberapa orang sudah menunggu di halaman rumah. Mereka adalah juragan Amir dan para bawahannya. Ketika melihat Kiranti dan ayahnya. Senyum juragan Amir yang sedang duduk di teras rumah langsung mengembang.
"Selamat sore Pak Suroso" sapa juragan Amir.
"Selamat sore juga Pak Amir" balas Pak Suroso.
Sedangkan Kiranti hanya memperhatikan dari belakang ayahnya. Ada rasa khawatir dalam dirinya karena dia tahu maksud kedatangan juragan Amir. Sedangkan Bu Aminah berdiri di depan pintu. Biasanya ia sangat antusias menyambut suami dan anaknya pulang dari ladang.
"Pak Suroso, saya ke sini untuk menagih hutang yang jatuh tempo. Ini sudah ke 3 kalinya bapak lho. Sebelum ini Bapak sudah 2 kali tidak sanggup bayar. " ujar juragan Amir langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Enam bulan yang lalu Pak Suroso memang meminjam uang sebesar 30 juta rupiah kepada juragan Amir. Uang itu digunakan untuk modal berkebun jagung. Tapi apalah daya akibat hama hasil berkebun jagung gagal. Sehingga Pak Suroso kesulitan membayar hutang.
Sesuai perjanjian hutang 30 juta rupiah akan dibayar setelah panen dengan bunga sebesar 5 juta rupiah. Apabila gagal membayar maka bulan berikutnya akan bertambah bunga 5 juta rupiah. Begitu pula selanjutnya. Karena ini adalah yg ke 3 kalinya. Maka hutang Pak Suroso sudah menjadi 45 juta rupiah. Ada perjanjian pula bahwa jika yang ke 3 kalinya gagal membayar maka juragan Amir berhak menyita aset Pak Suroso yang harganya kurang lebih seharga hutang. Inilah yang menyebabkan kecemasan Kiranti karena dia tahu ayahnya belum memiliki uang yang cukup untuk membayar hutang.
"Maaf Pak Amir jujur saja saya belum memiliki uang yang Bapak inginkan. Saya mohon berilah saya waktu untuk mencari uang tersebut." ujar Pak Suroso dengan wajah pucat pasi.
"Tidak bisa begitu Pak. Saya sudah memberi keringanan 2 bulan. Kali ini saya terpaksa menyita aset Bapak." kata juragan Amir sambil menatap Pak Suroso.
"Tolonglah Pak. Saya mohon. " ujar Pak Suroso dengan penuh rasa takut. Sedangkan Kiranti dan Bu Aminah hanya bisa berpelukan erat dengan rasa cemas yang semakin memuncak.
"Apa aset yang Bapak punya sekarang?" tanya juragan Amir tanpa rasa iba sama sekali.
"Pak Amir kan tahu kalau panen jagung saya kemarin gagal. Jadi tolonglah pak beri kami keringan lagi" mohon Pak Suroso.
"Bukan urusan saya. Saya tanya apa aset yang Bapak punya sekarang?" tanya juragan Amir lagi tanpa rasa iba.
"Maaf Pak Amir, saya tidak punya barang seharga hutang saya. Ladang dan rumah milik Pak Kamal, saya hanya menyewa dan mengolah saja" jawab Pak Suroso dengan keringat dingin yang terasa mengalir di dahinya.
Juragan Amir terdiam cukup lama dan kelihatan berpikir. Tiba- tiba dia menoleh ke arah Kiranti yang masih berpelukan ketakutan dengan ibunya Siti Aminah. Sembari mengamati Kiranti terlintas permintaan agen pencari wanita pengh***r yang menemui dia beberapa hari lalu. Agen tersebut memesan stock wanita kepada juragan Amir. Ada permintaan khusus untuk gadis perawan cantik dengan harga yang tinggi. Juragan Amir mengamati Kiranti dari kepala sampai ke kaki. Walau kulit sedikit menghitam karena beberapa bulan berladang tapi wajah Kiranti tetap cantik dengan tubuh yg lumayan bagus. Kemungkinan akan dihargai tinggi oleh agen pencari wanita pengh***r.
Puas mengamati Kiranti dan yakin tidak salah menilai.
Juragan Amir berkata dengan senyum licik.
"Anda punya barang berharga seharga hutang anda kok Pak Suroso"
Suroso yang terkejut dengan perkataan juragan Amir pun bertanya dengan gugup.
"Aaa.. paa maakkk sudd anndaaa pak?"
Walau sudah menerka maksud perkataan juragan Amir, Suroso terus berusaha menyangkal isi pikirannya sendiri dan berharap ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Tapi harapan tinggal harapan. Apa yang ditakutkan pun terjadi.
"Anda tahu maksud saya Pak Suroso. Saya akan membawa anak anda sebagai pelunasan hutang anda" jawab juragan Amir sambil tersenyum senang.
"Tora, iwan bawa gadis itu" perintah juragan Amir.
"Awas jangan sampai harganya turun gara-gara lecet atau luka. Saya potong gaji kalian kalau itu terjadi" lanjut juragan Amir tegas.
Wajah juragan Amir berseri-seri membayangkan keuntungan yang bakal diperoleh. Dua hari lagi Santoso, agen pencari wanita pengh***r akan datang ke desa sesuai jadwal setiap bulan. Berhubung juragan Amir telah mempunyai stock beberapa gadis perawan maupun yg sudah lepas perawan. Walaupun yang sudah lepas perawan harganya tidak setinggi gadis perawan, namun keuntungannya tetap lumayan. Apalagi jauh lebih mudah mendapatkan dibanding gadis perawan. Terlebih lagi kebanyakan yang sudah lepas perawan akan dengan sukarela menanda tangani kontrak kerja, sehingga tidak akan banyak tuntutan untuk selanjutnya.
Pak Suroso dan Bu Aminah hanya bisa bersimpuh dan memohon kepada juragan Amir. Sementara Kiranti dipegang kedua tanganya dan setengah diseret oleh Iwan dan Tora. Bawahan juragan Amir lainnya berdiri di hadapan kedua orang tua Kiranti dengan tujuan menghadang keduanya. Keduanya terus bersimpuh memohon dan menangis. Tapi juragan Amir sepertinya tidak peduli sama sekali. Dalam pikirannya hanya keuntungan yang akan segera dia peroleh dari kesempatan ini. Dia pun berlalu pergi mengikuti Tora dan Iwan yang setengah menyeret Kiranti yang terus meronta. Kiranti dipaksa masuk ke dalam mobil, disusul oleh juragan Amir, Tora dan Iwan. Sedangkan salah satu bawahan juragan Amir lainnya segera masuk ke belakang stir mobil. Segera itu dia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah Kiranti. Kedua orang tua Kiranti hanya bisa melihat dan menangis pasrah, menyaksikan mobil tersebut berlalu pergi.
Sesampainya di rumah juragan Amir. Kiranti dipaksa turun dan diseret ke depan pintu sebuah ruangan. Juragan Amir mengambil kunci dari saku celananya dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, juragan Amir memaksa Kiranti memasuki ruangan. Ruangan itu cukup luas terdapat 5 tempat tidur susun yang artinya dapat menampung 10 orang untuk tidur. Tersedia AC dan juga kamar mandi dalam ruangan.
"Ini kamar tempat istirahatmu selama di sini. Dalam lemari ada pakaian dan barang- barang keperluanmu sehari-hari. Sedangkan untuk makanan nanti akan diantarkan oleh karyawan saya setiap jam makan tiba." jelas juragan Amir.
Kemudian dia berlalu keluar ruangan. Menutup pintu dan ceklek terdengar pintu dikunci dari luar.
Rupanya juragan Amir benar-benar memperhatikan para gadis perawan yang ada di tempatnya. Dia akan menyediakan segala keperluan yg dibutuhkan para gadis tersebut. Mungkin karena keuntungan yang tinggi membuat dia rela mengeluarkan uang agar dagangannya bisa dihargai lebih tinggi.
Sepeninggal juragan Amir, Kiranti melihat sekeliling ruangan. Ada 2 orang gadis yang sepertinya bernasib sama seperti dirinya dalam ruangan tersebut. Satu orang berbaring di atas tempat tidur hanya tersenyum getir melihatnya. Mereka sepertinya hanya saling menyapa lewat tatapan mata. Satu orang lagi yang baru saja keluar dari kamar mandi menyambut Kiranti. Dia tersenyum walaupun hambar. Wajar senyuman itu hambar karena mengingat nasib mereka yang akan segera dijual. Gadis itu lalu memeluk Kiranti dan memperkenalkan diri.
"Nana Kusuma. Panggil saja Nana."
"Kiranti Lestari" balas Kiranti.
Nana melepaskan pelukan. "Itu mbak Dian umurnya 23 tahun. Saya baru 18 tahun. Mbak Kiranti berumur berapa?" tanya Nana.
"Saya 19 kurang sedikit" jawab Kiranti.
Setelah berasa basi sebentar, Kiranti memutuskan untuk membersihkan diri. Dia membuka lemari, mengambil pakaian ganti, handuk dan perlengkapan mandi yang tersedia. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Selesai mandi terlihat makan malam sudah tersedia di atas meja. Mbak Dian dan Nana terlihat sedang menyantap hidangan. Keduanya segera mengajak Kiranti bergabung makan bersama. Kiranti setelah menggantung handuk dan peralatan mandi pun memutuskan untuk segera makan.
Ketiganya makan dalam keheningan tapi tatapan mata mereka saling mendukung dan saling memberikan kekuatan agar segera melalui cobaan yang akan mereka. Walau baru saling kenal mereka benar- benar senasib dan seperjuangan untuk saat ini. Setelah selesai makan ketiganya berbincang ringan sampai waktunya untuk tidur. Mereka pun membaringkan diri dan tidur untuk menyambut hari esok yang kelam.
Pagi dua hari setelah itu. Santoso dan bawahannya tiba di rumah juragan Amir. Dia menawarkan harga 75 juta rupiah untuk Kiranti. 50 juta rupiah untuk Nana. Sedangkan Dian dihargai 45 juta rupiah. Ya memang Kiranti dihargai paling tinggi karena cantik dan bertubuh indah sedangkan kulit yg sedikit hitam bisa diakali dengan skincare. Beberapa kali pemakaian dijamin bakal kinclong seperti artis. Itulah pemikiran Santoso yang memang ahli menilai para gadis. Setelah menyelesaikan kontrak perjanjian dan juga pembayaran antara Santoso dan juragan Amir. Ketiganya dipaksa masuk ke dalam mobil dan segera berangkat ke kota J.
Sampai di kota J hari sudah malam. Mereka kemudian ditempatkan dalam sebuah ruangan bersama belasan gadis lainnya. Ini adalah ruangan penampungan mereka selama menjalani perawatan diri sebelum ditawarkan kepada para pelanggan. Karena mereka gadis perawan yang dipesan khusus tentu harus melakukan perawatan diri terlebih dahulu agar tidak mengecewakan pelanggan. Mereka dimanjakan dengan fasilitas yang mewah. Berbeda dengan tempat juragan Amir. Mereka bebas tidak dikurung dalam ruangan. Hanya saja tidak bisa keluar rumah karena pengawasan dan penjagaan yg ketat oleh petugas di sana. Rumah dikelilingi tembok tinggi dengan penjaga di setiap sudut tembok. Jadi para penghuni hanya bebas berkeliaran di dalam rumah dan halaman saja.
Setiap gadis mendapatkan perawatan diri yang berbeda sesuai dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mereka diajari cara berhias diri. Cara berjalan yg anggun. Dan hal-hal lainnya yang akan dibutuhkan oleh mereka dalam pekerjaan kelak.
Malam itu mereka yang baru tiba dipersilahkan untuk langsung beristirahat setelah membersihkan diri. Pagi harinya semua dikumpulkan di ruang tengah. Pelatihan dimulai dengan penjelasan mengenai peraturan dan cara kerja. Juga pembagian komisi hasil dari kerja mereka. Para penghibur dibagi dalam beberapa tingkatan. Saat ini mereka yang ada di rumah ini adalah para calon penghibur yang masih perawan. Setelah dinyatakan layak mereka akan ditempatkan di rumah sebelah yang merupakan tempat para penghibur yang masih perawan. Setelah mereka kehilangan perawan mereka akan dipindahkan ke rumah lain yang merupakan lokasi wanita penghibur high class. Dijelaskan juga bahwa masih ada rumah-rumah lainnya tempat bernaung para wanita penghibur middle class dan low class. Mereka juga diberi pemahaman tentang keuntungan dan kerugian high dan middle juga low class. Mereka diharapkan untuk menjalani pelatihan sebaik mungkin agar bisa bertahan di high class kalau tidak ingin terbuang ke middle ataupun lebih parahnya low class. Karena tarif high class yang jauh lebih tinggi akan membuat mereka lebih cepat keluar dari lembah hitam. Begitulah janji para pelatih.
*pov Kiranti*
Hari ini hari ketiga penampungan di kota J. Sore hari pukul 17.00 ketika jam istirahat bebas diberikan. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman rumah. Mencoba mencari celah untuk melarikan diri dari rumah ini. Tetapi tidak kelihatan sedikit pun celah untuk lolos. Sial tempat ini sungguh sangat ketat penjagaannya batinku dalam hati.
Aku rindu kepada ayah ibu dan juga kampung halamanku. Saat ini kulitku mulai memutih akibat perawatan dengan skin care yang tepat dari pelatih. Aku yakin skin care itu pasti mahal. Perkiraan harganya jutaan per paket. Berapa pastinya entahlah, aku tidak pernah membeli produk perawatan diri seperti ini. Biasanya hanya body lotion dan bedak bayi saja yg kugunakan selama ini.
Nana dan Mbak Dian datang langsung duduk di sebelahku.
"Bagaimana Mbak Kiran? Ada tidak celah nya?" tanya Nana kemudian.
Aku hanya menghela nafas kasar dan mengerdikan bahu. Nana yang sudah tahu arti gerakan tubuhku pun diam termenung.
"Mbak, aku takut mbak" kata Nana setelah termenung cukup lama. Jujur saja sebenarnya aku pun juga takut. Tapi aku tidak mau menunjukkan ketakutan pada orang lain. Tidak bagus menambahkan aura negatif yang sudah ada. Mbak Dian yang pendiam pun juga sama sepertiku. Mencoba tegar dan berusaha terlihat kuat. Padahal setiap malam selama ini tanpa sengaja, aku melihat dia selalu menangis sebelum tidur. Sangat wajar bagi kami untuk merasa takut dalam keadaan kami. Hanya doa yang bisa kami panjatkan kepada Tuhan agar ada keajaiban untuk kami dalam keadaan sekarang.
Aku tidak akan menyerah demi lepas dari tempat ini. Untuk mengalihkan topik pembicaraan, aku berkata
"Na kamu tambah cantik lho semenjak perawatan." Jujur saja Nana dan Mbak Dian semakin glow up setelah beberapa hari mendapatkan perawatan diri mewah di tempat ini. Nana sedikit tersipu malu.
"Mbak dian juga kok. Apalagi Mbak Kiran sudah 'blink-blink' banget" balas Nana.
Mbak Dian hanya tersenyum hambar. Bagi yang tidak mengenal Mbak Dian mungkin akan menyangka dia bisu. Dari pengakuannya itu juga yang membuat dia belum pernah pacaran meskipun sudah berusia 23 tahun. Padahal si Mbak lumayan ok juga lho tampangnya.
Dari pengakuan si Mbak, dia dijual oleh orang tuanya kepada juragan Amir karena belum dapat jodoh di usia 23 dan juga uang hasil penjualannya untuk biaya kuliah adik laki-lakinya. Waduh kalau dipikir tega benar ayah dan ibunya. Masa anak perempuan sendiri dijual hanya demi kepentingan anak laki-laki. Ah dunia ini memang kejam untuk kaum perempuan seperti kami.
Seketika dua orang perempuan datang dan duduk di dekat kami.
"Lagi seru nih? ikutan dong" timpal Dewi. Disertai pula anggukan dari Ratna. Dewi dan Ratna merupakan teman baru yang kami kenal di tempat ini. Kami semua memang cepat akrab karena merasa senasib dan sepenanggungan.
"Benar lho kata Nana, kamu cepat banget 'blink-blink'nya. " sahut Ratna kemudian.
"Aku yakin kamu pasti segera dipindahkan ke rumah tempat pengh***r yang masih perawan."
ujar Dewi melanjutkan ucapan Ratna.
Meremang bulu kudukku mendengar perkataan Dewi. Jelas takutlah artinya aku akan segera dijajakan ke pelanggan. Aku pun tersenyum kecut. Mbak Dian membelai punggungku seperti memberi dukungan agar aku kuat.
"Maaf" ucap Dewi yg sepertinya menyadari kekeliruan yg dia ucapkan tadi.
"Tidak apa-apa. Memang itulah kenyataan yang harus kita hadapi. " sahutku menenangkan suasana.
"Tadi aku lihat kamu sepertinya mencari celah untuk kabur ya? Batalkan saja niat itu. Tidak ada celah untuk melewati tembok penjagaan" kata Ratna.
"Jadi apakah memang tidak ada cara buat kita lolos dari tempat ini selain melakukan pekerjaan sampai hutang kita lunas? " tanyaku.
Bisa berbulan- bulan kami mesti kerja sebagai pengh***r high class hanya untuk melunasi hutang dan keluar dari tempat ini. Belum lagi nanti biaya tempat tinggal, makan dan perawatan, itu semua akan dibebankan sebagai hutang kami.
Kami semua mash terdiam saling memandang tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Semua seolah sudah berada di jalan buntu tanpa ada jalan keluar.
"Ada sih jalan lolos dari sini, berharap saja ada dewa penolong yang menebus membayarkan hutang kita." celetuk Ratna tiba-tiba.
Setengah bercanda dengan maksud mencairkan suasana saja.
"Mimpi kali" sahutku langsung.
(Tanpa tahu mungkin itulah jalan hidupku ke depannya.)
Kami berlima pun tertawa berusaha gembira ketimbang sedih terus menerus.
"Kalian tahu tidak kalau saya punya ide?" ujar Dewi.
"Ide apa?" tanya Nana
"Begini lho. Nanti kalau kita sudah dijajakan sebaiknya kita usahakan rayu tuh pelanggan agar terus datang ke kita. Jadi tiap hari kita hanya melayani dia saja. Sehingga dia jatuh cinta terus nebus hutang kita. Jadi kita bisa lepas dari sini. Lumayan sekalian dapat pasangan hidup." jawab Dewi.
"Susah tuh ide tapi boleh dicoba daripada tidak berusaha sama sekali." kata Ratna sambil menghela nafas kasar.
Sambil terus memikirkan ide untuk lepas dari tempat ini. Tidak terasa waktu istirahat kami sudah habis. Semua diwajibkan untuk makan malam pukul 18.00-19.00. Setelah itu dilanjutkan sesi pelatihan sampai pukul 21.30. Lebih tepatnya sesi perawatan tubuh dan wajah. Barulah kami dapat beristirahat setelah itu.
Keesokan paginya pukul 07.00 kami dikumpulkan untuk sarapan. Selesai sarapan sesi pelatihan pun dimulai. Seharian kami berlima lalui dengan saling bertukar pikiran untuk ide melepaskan diri. Tapi tetap tidak ada solusi yang kami dapatkan. Malamnya setelah makan malam selesai, Pelatih memberi tahu kami bahwa beberapa dari kami akan dipindahkan ke rumah tempat pengh***r yg masih perawan ditempatkan. Pelatih memberikan masing- masing satu amplop sambil mengatakan bahwa ada dua jenis isi kertas di dalam amplop. Peserta yang mendapat amplop berisi kertas merah akan tetap di rumah ini. Sedangkan yang mendapat amplop berisi kertas hijau akan dipindahkan (artinya siap untuk segera 'diorbitkan'. Jadi artis mah enak. Ini jadi 'p*****r. Ga kebayang deh rasanya. Bisa-bisa meriang 7 hari 7 malam). Yang mendapat amplop isi kertas hijau setelah sesi perawatan maka wajib mengemas pakaian dan item yang dimiliki. Kemudian menunggu di depan pintu untuk dijemput petugas dari rumah sebelah.
Ada 5 dari 19 orang yang mendapat amplop isi kertas hijau. Sisanya mendapatkan kertas merah. Itu petunjuk dari pelatih. Aku membuka amplop dengan cemas. Dan kecemasanku terbukti benar. Aku dapat kertas hijau. Aku angkat dengan tidak bersemangat kertas hijau tersebut. Ternyata Dewi dan Ratna pun dapat kertas hijau. Kami pun bergenggaman tangan saling menguatkan satu sama lain. Nana dan Mbak Dian yang mendapat kertas merah merangkul kami dari belakang. Kami berlima pun berangkulan dan menangis pilu. Hanya tangisan dan doa yang dapat mewakili isi hati kami tanpa bicara. Di sisi lain 2 peserta yg juga mendapat kertas hijau duduk termenung dengan tatapan mata kosong. Aku yang melihat itu melepas rangkulan Dewi,Ratna, Nana dan Mbak Dian. Berjalan menghampiri mereka dan berinisiatif menarik serta merangkul keduanya. Tragis keduanya pecah dalam rangkulanku. Dewi, Ratna, Nana dan Mbak Dian menghampiri kami terus merangkul kami. Jadilah kami bertujuh saling merangkul dalam tangis. Peserta lain menatap dengan iba. Walau tidak berkata apa-apa. Tatapan mereka seolah sudah memberi dukungan kepada kami agar tabah.
Pukul 22.00 malam 5 peserta yang mendapat kertas hijau sudah berada di depan pintu masuk. Jemputan pun datang, melihat ke belakang sekilas. Kemudian menatap ke depan dengan langkah tegar aku masuk ke dalam mobil jemputan. Dewi, Ratna dan 2 gadis lainnya mengikuti masuk ke dalam mobil. Tidak butuh waktu lama kami sudah di tempat tujuan. Maklum hanya rumah sebelah. Kami diantar ke kamar pribadi yang telah disediakan. Ternyata di sini kami diberikan fasilitas kamar pribadi. Lebih nyaman dibanding tempat lama yang 1 kamar dihuni 4 orang. Kabarnya memang di sini dan rumah pengh***r high class penghuni akan mendapat fasilitas kamar pribadi. Kami diijinkan untuk beristirahat demi mempersiapkan mental kami esok hari. Aku pun segera berganti baju dan tidur.
Aku bangun kesiangan karena sulit tidur semalam. Walau mata berat tapi tidak mau juga tertidur.
Sudah pukul 08.00 pagi tidak ada yang membangunkan untuk sesi pelatihan. Rupanya kami dibebaskan dari pelatihan hari ini. Tapi kami disuruh untuk bersiap- siap pada sore hari. Karena kemungkinan kami akan mulai bekerja malam ini jika dipilih oleh pelanggan.
Aku bergegas mandi, setelahnya turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Maklum aku ditempatkan di lantai 3. Sampai di ruang makan terlihat Dewi sedang sarapan. Rupanya dia juga kesiangan. Kami sarapan sambil berbincang. Dia juga berpesan kepadaku semoga tidak dapat pelanggan yang bernama Tuan Edison dan Tuan Leonard. Soalnya keduanya terkenal sebagai 'pemakan perawan'. Sifat keduanya sama hanya memakai perawan saja. Besoknya mereka sudah tidak mau lagi kepada gadis yang mereka 'p***w**i'. Mereka berani bayar mahal hanya demi mendapatkan perawan. Maklum Sultan mah bebas. Hati ini bergidik mendengar perkataan Dewi.
Selesai makan malam pukul 19.00. Semua peserta di rumah ini dirias dengan baik. Kami diberikan gaun seksi yg menampilkan lekuk tubuh dengan tujuan menarik perhatian pelanggan. Satu per satu kami di videokan dan hasilnya dikirim ke pelanggan. Pelanggan akan memilih dari beberapa video. Kebetulan selain kami berlima yang baru sampai. Masih ada 7 gadis perawan di sini. Kemungkinan sisa yang belum terpilih oleh pelanggan malam sebelumnya. Dari infomarsi Dewi biasanya hanya 4 -5 gadis saja yg dipilih setiap malam. Dewi menjelaskan maklumlah tarif kami sangat fantastis mencapai ratusan juta tergantung tubuh dan wajah kami. Sisa yang tidak terpilih akan ditampilkan lagi besok malam. Jadi ada harapan aku tidak terpilih malam ini.
Harapanku sia-sia. Seorang manager datang dan berkata bahwa aku dipilih oleh Tuan Edison. Dan aku akan menerima komisi sebesar 20 juta rupiah. Tapi dalam kontrak kerja yang diperlihatkan kepadaku sore tadi bahwa aku berhutang sebesar 100 juta rupiah. Ya 100 juta rupiah. 75 juta rupiah yang dibayarkan ke juragan Amir. Ditambah biaya lain-lain yang bikin mumet kepala ku. Yang jelas totalnya 100 juta rupiah. Jadi setelah melayani Tuan Edison sekalipun, aku masih akan berhutang 80 juta rupiah. Padahal hutang keluarga kami ke juragan Amir hanya 45 juta rupiah. Sial banget deh. Sudah dijual sebagai dagangan hutangku malah bertambah. Gimana mau lepas dari tempat ini coba? Bisa bertahun baru lepas.
Pukul 20.00 aku yang telah selesai dirias ulang akan segera diantar ke ruang pribadi VIP class Tuan Edison di lantai 2. Manager sudah menjelaskan di sana aku hanya akan melayani Tuan Edison minum dan bernyanyi. Sedangkan untuk melayani n*fs* s** Tuan Edison, telah disewa kamar khusus di lantai 4.
Dalam perjalanan menuju ruangan pribadi VIP class Tuan Edison. Aku dikawal oleh 2 orang penjaga. Aku terus memutar otak agar dapat lolos dari tempat ini. Di lantai 2 sebelum sampai ruangan Tuan Edison. Tiba- tiba pandanganku terarah pada seorang pria yang kira-kira berusia hampir 40an baru keluar dari toilet. Lumayan gagah menurutku dengan tatapan mata yang juga menarik. Entahlah bisikan hati darimana terlintas pikiran untuk mengejar dan meminta tolong kepada pria tersebut. Aku secara mendadak membalikkan badan mengejar pria tersebut. Petugas pengawalku yang tidak siap hanya terperangah bengong. Pria tersebut sudah memegang handle pintu dan akan masuk ke ruangan pribadinya. Begitu tiba di dekat pria tersebut. Aku langsung bersimpuh, tangan kiriku memeluk kaki kanannya, tangan kananku memegang tangan kanannya yg hendak membuka pintu. Terkejut dia menatapku. Aku langsung memohon bantuannya.
"Om tolong saya, om. Saya tidak mau jadi p*****r" mohonku.
"Tolong saya om. Saya masih perawan om. Tolong saya" mohonku lagi dengan air mata yg mulai mengalir.
Entah dia kaget atau bengong. Hanya menatapku dalam diam. Sementara kedua pengawalku sudah tersadar dan mengejar ke arah kami. Salah satu pengawal membentak si om.
"Jangan ikut campur yg bukan urusanmu. Gadis ini pesanan Tuan Edison" bentaknya. Sementara pengawal lain langsung menarik ku agar menjauh dari si om. Selesai membentak si pengawal
membantu temannya menarikku. Aku terus meronta dan berteriak memohon kepada si om. Ternyata si om hanya terdiam menatapku yang sedang ditarik oleh kedua pengawal. Habis sudah harapanku. Tapi tiba-tiba aku mendengar si om berteriak.........
***Terbit 2 bab dulu ya. Mohon dukungan dari pembaca***