Kiranti mengambil KTP dan member card black gold yang diberikan Ai Farah. Tidak lupa dia berterima kasih. Kiranti pun berkeliling melihat koleksi fashion di lantai 3. Tapi dia kurang merasa suka dengan mode yang ada. Terasa aneh menurutnya. Maklum dia kurang paham mengenai masalah mode. Dari gaun, pakaian formal, tas, sepatu dan lain lain. Tidak ada yang menarik minat Kiranti yang hanya seorang gadis desa. Tentu saja dia tidak mengerti nilai dari barang barang yang ada di hadapannya. Tapi kemudian dia iseng mengambil satu buah tas. Dia terkejut melihat harga yang tertera puluhan juta rupiah. Ai Farah yang melihat dia mengambil tas tersebut. Menghampiri Kiranti.
Ambil saja bila kamu suka. kata Ai Farah.
Kiranti menggeleng. Kemudian mendekati Ai Farah. Seperti membisikkan sesuatu.
Aku tidak punya uang sebanyak itu Ai. Om Erick memang ada kasih uang. Tapi tidak sampai segitu. bisik Kiranti pada Ai Farah.
Ai Farah tertawa mendengar bisikan Kiranti.
Si awen memang pelit. Calon istri tak dikasih uang cukup buat shopping. Sudah ambil saja tas itu kalau kamu mau. Sama Ai mu ini. Kamu tak usah bayar. kata Ai Farah.
Kiranti melongo tidak percaya mendengar perkataan Ai Farah. Mama Sarah menghampiri mereka. Dia pun ikut serta perbincangan.
Oh si Awen pelit sama kamu. Dia tidak kasih uang? Ya sudah sini Mama yang bayar, kamu ambil saja yang kamu mau. Mamamu ini masih sanggup bayar kok. Mau beli setoko ini saja masih bisa. Jangan ragu. kata Mama Sarah.
Astaga nih Mama mertua dan Ai mertua benar benar sama dengan si Om waktu belanjain aku shopping dulu. Apakah benar mereka punya pohon uang? batin Kiranti.
Tidak, Ai dan Mama. Om Erick tidak pelit kok. Dia memang kasih uang tidak banyak. Tapi kalau shopping, apa saja yang aku mau dia belikan. Kalau hari ini dia ikut. Pasti dia bayar barang yang aku ambil. ucap Kiranti.
Dia tidak mau Om Erick dijelekkan. Walaupun itu Mama da Ai si Om. Apakah itu bentuk rasa suka Kiranti kepada Erick. Kiranti sendiri belum bisa memastikan.
Sudah tidak usah berdebat. Kamu pilih saja barang kamu inginkan. Ai mu tidak akan bangkrut karena itu. Kalau perlu kamu ambil item di ruangan barang limited edition itu. kata Ai Farah.
Ternyata Mama dan Ai benar benar baik. Menganggapku seperti anak sendiri. batin Kiranti.
Tidak perlu Ai. Tas yang dibelikan Om Erick sudah lebih cari cukup. ucap Kiranti mencoba menolak.
Sepertinya kamu panggil Awen OmErick? tanya Ai Farah.
Iya Ai. Saya senang manggil dia Om Erick. jawab Kiranti.
Tidak takut disangka sugar daddy dan sugar baby? tanya Ai Farah.
Biarin saja orang bilang apa Ai. Kan kami yang jalani bukan mereka. jawab Kiranti.
Ya sudah. Yuk kita ke ruangan limited edition. Siapa tahu kamu berminat dengan barang di sana. ajak Ai Farah.
Mereka pun menuju ruangan limited edition. Karyawan yang berjaga pun mempersilahkan mereka masuk. Begitu sampai Kiranti terpesona dengan barang barang mewah di ruangan tersebut. Walau tidak mengerti fashion dan mode. Dengan melihat saja Kiranti tahu bahwa barang di ruangan itu pasti sangat bagus.
Kiranti mendekati beberapa item yang terpajang. Dia tidak berani menyentuh sama sekali. Dari harga yang tertera di label. Dia tertegun. Harganya mencapai ratusan juta rupiah. Waduh ini sih barang Sultan harga Sultan batin Kiranti. Kiranti pun mengurungkan niat untuk melihat lebih lanjut. Dia tidak ingin terlihat memanfaatkan kesempatan. Walaupun mungkin Mama Sarah ataupun Ai Farah tidak akan keberatan dia mengambil barang tersebut. Menurut Kiranti harga barang di ruangan ini terlalu mahal untuk dia ambil. Mengingat statusnya yang belum resmi dengan si Om.
Ternyata anak ini masih sangat polos batin Ai Farah. Ai Farah yang melihat keraguan Kiranti segera mengambil sebuah tas seharga 700 juta.
Yang ini bagus buat kamu. Kamu terima ya. Anggap saja hadiah dari Ai. kata Ai Farah.
Tidak Ai. Saya tidak bisa menerima. Itu terlalu mahal buat saya. Lagipula saya belum butuh tas lagi Ai. Kalau boleh saya ingin pakaian dengan harga yang tidak semahal barang barang di sini Ai. Soalnya pakaian saya kan ditinggal di apartermen semua. tolak Kiranti sekaligus menyampaikan keinginannya.
Biasanya wanita suka tas lho. Apalagi ini branded luar negeri limited edition pula. Kamu terima ini. Anggap ini hadiah perkenalan dari Ai untukmu. Nanti kita cari pakaian sesuai keinginanmu. Sepertinya di lantai 1 banyak pakaian yang kamu inginkan. kata Ai Farah.
Tapi Ai. Tas itu terlalu mahal. tolak Kiranti dengan halus.
Tidak baik menolak niat baik orang Kiranti. kata Mama Sarah membujuk Kiranti agar menerima tas tersebut.
Kiranti pun hanya mengangguk dan kemudian berterima kasih kepada Ai Farah. Ai Farah menyuruh karyawannya membungkus tas tersebut. Kemudian mengajak Kiranti ke lantai 1 untuk mencari pakaian Kiranti.
Ce, Pakaiannya nanti Cece bayar ya. kata Ai Farah kepada Mama Sarah.
Amanlah itu. Tapi pelit amat sih kamu. Perhitungan sama Cece sendiri. kata Mama Sarah bercanda.
Enak saja aku dibilang pelit. Tuh tas 700 juta lho. Aku kasih saja. balas Ai Farah.
Iya juga sih masa orang yang ngasih barang seharga 700 juta secara cuma cuma dibilang pelit. Tidak masuk akal kan.
Sampai di lantai 1. Mama Sarah meminta Kiranti memilih pakaian yang diinginkan. Kiranti yang melihat harga ratusan ribu dan jutaan. Terlihat ragu. Sampai Mama Sarah mengingatkan.
Pilih yang kamu mau. Jangan lihat harganya. Mama yang bayar lho. perintah Mama Sarah.
Kiranti merasa beruntung sekali. Mendapatkan calon Mama mertua dan calon tante mertua seperti Mama Sarah dan Ai Farah. Ini adalah impian semua menantu.
Kiranti pun memilih cukup banyak pakaian. Mengingat bahwa dia akan tinggal lama di rumah utama. Tentu dia harus punya banyak stok pakaian. Apalagi dia datang ke rumah utama hanya dengan pakaian di badan. Pakaian santai di rumah, pakaian santai keluar rumah, piyama tidur, pakaian dalam, handuk, sandal, sepatu dan segala macamnya. Semua dipilih oleh Kiranti. Bukan bermaksud ambil kesempatan tapi karena kebutuhan. Kiranti sudah tidak mau tahu harga barang yang dipilihnya. Yang penting sesuai dan pas dipakai olehnya. Sesuai janji Mama Sarah pun membayar semua belanjaan Kiranti. Mama Sarah tersenyum senang. Rupanya Kiranti cepat tanggap dengan keadaan. Tidak banyak penolakan dan keraguan dari Kiranti. Karena ini memang kebutuhan Kiranti. Tidak mungkin Kiranti menggunakan pakaian yang sama tiap hari. Setelah Mama Sarah membayar. Kiranti mengucapkan terima kasih kepada Mama Sarah. Mama Sarah pun mengangguk senang. 'Anak yang baik, Erick tidak salah pilih.' batin Mama Sarah. Setelah selesai Kiranti, Ai Farah dan Mama Sarah menuju ruang kantor Ai Farah. Mereka memilih duduk beristirahat di ruangan kantor Ai Farah. Sambil berbincang bincang. Kiranti meminta diizinkan mampir ke apartermen saat pulang nanti. Dia ingin mengambil skincare dan krim perawatan lainnya. Mama Sarah tertawa mendengar permintaan Kiranti. Mama Sarah menjelaskan bahwa tidak perlu mengambil skincare dan krim perawatan lainnya. Nanti akan diantar karyawan Mama Sarah. Karena Mama Sarah punya toko peralatan kecantikan. Mama Sarah menyarankan produk berbahan alami dan ternyata itu merk yang dibelikan oleh Om Erick.
Baguslah tahu juga Awen milih skincare dan perawatan tubuh wanita. kata Mama Sarah.
Jangankan tokonya Kiranti. Itu pabrik produk tersebut punya Mamamu. Mau mandi skincare saja bisa kok. celetuk Ai Farah sambil tertawa.
#####
Sementara Erick dan Papa Budiman yang berangkat ke kantor bersama sama. Dalam perjalanan Papa dan Erick hanya diam. Papa tentu saja tahu kebiasaan Erick yang tidak suka diajak bicara ketika menyetir mobil. Ingin fokus menyetir biasa itu alasannya. Tapi Erick memulai pembicaraan.
Papa ke kantor karena mau menghindari omelan Mama kan? tanya Erick.
Iya. Kan gara gara kamu bikin masalah. Tahu sendiri kebiasaan Mamamu. jawab Papa.
Memang Papa pergi ke kantor untuk menghindari omelan Mama. Seperti biasa kalau ada masalah apa pun. Mama pasti meluapkan kekesalan kepada Papa. Karena Erick sudah membuat masalah. Terpaksa Papa menghindar. Kangen kantor hanyalah alasan Papa.
Sebenarnya ada alasan lain Papa ingin ke kantor bareng Erick. Papa ingin berunding masalah pernikahan mendadak Erick. Apalagi waktu persiapan hanya kurang lebih sepuluh hari. Tapi Papa tidak akan menanyakan dalam mobil. Mungkin menunggu makan siang atau waktu senggang Erick di kantor.
Waktu istirahat makan siang. Dalam ruangan kantor Erick. Papa, Erick dan Bayu duduk sambil makan siang di sofa bertiga. Papa membuka pembicaraan.
Gimana kalian berdua? Kerjaan lancar kan? tanya Papa.
No problem Pa. jawab Erick.
Bayu mengangguk mengiyakan perkataan Erick.
Bay, jawab dengan jujur. Kamu tahu masalah Kiranti? tanya Papa.
Maaf Pa. jawab Bayu.
Papa anggap jawaban mu tahu. Kenapa kamu menutupinya dari kami? tanya Papa lagi.
Erick yang memintanya Pa. Masalahnya ini ranah pribadi Erick. Aku tidak mau ikut campur. Aku tunggu Erick yang memberi tahu sendiri. Sekali lagi Bayu minta maaf Pa. jawab Bayu.
Betul Pa. Awen yang meminta Bayu tutup mulut. Jangan salahkan Bayu Pa. tukas Erick.
Betul Erick bertemu Kiranti di klub malam? Betul Kiranti baru akan dijadikan sebagai penghibur di sana? Dan Erick yang menebusnya? tanya Papa.
Betul Pa. Kami bertemu Kiranti di Artificial Club. Waktu itu Kiranti sedang dibawa untuk menemani Pak Edison Wang. Papa kan tahu bahwa Pak Edison hanya suka perawan. Jadi Erick pun menebusnya sebelum Kiranti menemani Pak Edison. Saya juga tidak tahu apa yang dipikirkan Erick malam itu. ujar Bayu menceritakan yang terjadi malam itu secara singkat.
Baguslah kalau begitu. Mungkin Awen memang mau menebus jodohnya. kata Papa.
Habis berapa untuk nebus? lanjut tanya Papa.
500 juta Pa. Pakai uang pribadi Awen. jawab Erick menyelah.
Mahal juga. Tapi sepadan untuk berlian seperti Kiranti. kata Papa.
Benar pake uang pribadi Awen? tanya Papa lagi.
Papa mau interogasi kami? Nih bukti transfer malam itu. Kalau Papa tidak percaya. kata Erick sambil menyerahkan HP dengan layar berisikan data transaksi mobile banking malam itu.
Papa melihat sekilas lalu mengembalikan Hp Erick.
Baiklah. Apa yang akan kamu rencanakan minggu depan? tanya Papa kepada Erick.
Aku akan menikahi Kiranti di Gereja minggu depan. Aku akan daftarkan pernikahan secara hukum di kantor catatan sipil. jawab Erick.
Bagaimana resepsinya? tanya Papa.
Untuk resepsi ditunda dulu. Aku nunggu Kiranti siap secara mental diperkenalkan sebagai menantu keluarga kita. jawab Erick.
Papa setuju. Lebih baik Kiranti tidak dikenal oleh publik demi kebaikannya sendiri. ucap Papa menyetujui ide Erick.
Akhirnya kamu akan nikah juga Rick. Selamat. kata Bayu.
Baiklah Papa akan memberitahu Mama mengenai ide mu. kata Papa.
Sorenya ketika Mama dan Kiranti sampai rumah utama. Ternyata Erick dan Papa juga baru sampai setelah pulang dari kantor. Mereka masuk bersama ke dalam rumah.
Siapa yang borong nih belanjaan? tanya Erick.
Istrimu Wen. jawab Mama.
Baru calon istri Ma. koreksi Kiranti.
Tumben borong belanjaan. Habis pajakin Ai Farah ya?. tanya Erick.
Mama yang bayar Rick. jawab Mama.
Lah kok pelit adikmu kali ini? tanya Papa.
Tidak juga . Dia kasih Kiranti tas Hermes 700 juta tuh. jawab Mama.
Mantap juga adikmu tuh. kata Papa kepada Mama.
Iya lah. Untuk kita mah dia tak bakal pelit. Malah Kiranti yang takut ambil. jelas Mama.
Kamu takut ambil barang di butik Ai Farah? tanya Erick kepada Kiranti.
Iya Om. Masa baru kenal. Main ambil ambil saja. Kan segan Om. jawab Kiranti.
Sama Ai Farah tidak usah segan segan. Tak bakal bangkrut Ai Farah kamu ambil barang barang di butiknya. jelas Erick.
Awen benar Kiranti. Dia itu Ai mu juga mulai sekarang. kata Papa.
Mau kamu ambil semua barang di ruang limited editionnya. Dia pasti kasih sama kamu. kata Mama.
Tak perlulah Ma. Kiranti segan. jelas Kiranti.
Baiklah anak manis. Kamu mandi dulu sana. Cobain tuh pakaian yang kita beli tadi. Kita lanjut ngobrol nanti. kata Mama.
Belum sempat semuanya ke kamar masing masing. Seorang asisten rumah tangga bernama Mirna menghampiri Mama sambil menenteng beberapa paper bag. Mbok Mirna begitulah panggilan si asisten rumah tangga. Mbok Mirna memberikan paper bag kepada Mama sambil berkata.
Nya, Ini diantar sama karyawan toko. Katanya pesanan Nyonya.
Mama Sarah mengambil beberapa paper bag tersebut dan memberikan ke Kiranti.
Ini skincare dan krim pesananmu tadi. kata Mama Sarah.
Kiranti menerima beberapa paper bag tersebut. Tidak lupa berterima kasih kepada Mama Sarah. Setelah itu ingin berlalu ke kamar nya. Tangan Kiranti penuh dengan belanjaan. Mbok Mirna menawarkan diri untuk membantu membawakan barang belanjaan Kiranti. Awalnya Kiranti ingin menolak. Tapi kesulitan membawa sendiri, akhirnya dia membiarkan Mbok Mirna membawa sebagian belanjaannya.
Sesampai di kamar Kiranti dan Mbok Mirna meletakkan belanjaan Kiranti di atas ranjang. Kiranti pun berterima kasih atas bantuan Mbok Mirna.
Terima kasih Mbok sudah mau bantuin Kiranti. Nama saya Kiranti Mbok. Nama Mbok siapa? ucap Kiranti.
Panggil saja saya Mbok Mirna. Sudah menjadi kewajiban saya membantu Non Kiranti. Saya permisi dulu Non. kata Mbok Mirna.
Iya Mbok. Sekali lagi terima kasih Mbok. kata Kiranti.
Mbok Mirna pun berlalu dari kamar Kiranti.
Kiranti membersihkan diri. Kemudian menggunakan krim perawatan yang digunakan setelah mandi. Mencoba pakaian baru nya. Kemudian merapikan dan menyusun belanjaan ke dalam lemari. Sepatu dan sandal dimasukkan ke laci khusus untuk sepatu. Dia memandangi tas pemberian Ai Farah. Seumur hidup tidak terbayang untuk memiliki barang tersebut. Sekarang tas seperti ini begitu saja menjadi miliknya. Hidup Kiranti bagaikan mimpi sekarang.
Setelah urusan di kamar beres. Kiranti bergegas turun ke bawah. Tidak enak sebagai tamu hanya diam di kamar saja. Tiba di bawah, Kiranti diajak ke ruang makan. Makan malam telah tersedia. Mereka pun segera bersiap menyantap hidangan. Kiranti mengambilkan nasi dan beberapa lauknya untuk si Om. Barulah Kiranti mengambil nasi sendiri.
Istri atau calon istri nih? Kok mesra amat. goda Mama Sarah.
Baru calon Ma. balas Kiranti.
Papa pun menyampaikan keinginan Erick terhadap rencana pernikahan minggu depan. Mama awalnya keberatan atas tidak adanya resepsi. Sedangkan Kiranti menyerahkan saja sepenuhnya kepada keluarga calon suaminya.
Papa menjelaskan kepada Mama alasan tidak ada resepsi semua demi kebaikan Kiranti. Mama pun akhirnya setuju juga. Yang penting ritual pernikahan bukan resepsi pernikahannya. Semua persiapan dibahas malam itu. Kiranti hanya menurut saja. Sebab dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Pembahasan dilanjutkan di ruang keluarga. Kiranti melihat tumpukan majalah dan koran di bawah meja ruang keluarga. Awalnya dia tidak perduli. Tapi akhirnya penasaran diambilnya majalah yang bercover wajah si Om. Membolak balik isinya sadarlah dia si Om adalah seorang pebisinis muda yang cukup terkenal. Majalah dia kembalikan lagi ke tempat semula. Maklum dia tidak begitu mengerti masalah bisnis. Dan memilih mendengarkan pembahasan Papa Mama dan si Om mengenai pernikahan mereka saja.