9 | Bad Taste

1473 Words
○---○ Medlyn menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Sejak semalam, semua teman-temannya mencecar Medlyn dengan berbagai pertanyaan unfaedah mereka. Medlyn hanya membalas dengan sebuah voice note "Gue baik baik aja. Gak usah gangguin gue. Gue mau istirahat" Hal itu justru semakin membuat teman temannya semakin gencar mencari informasi tentangnya. Medlyn jenuh. Ia ingin menyegarkan fikirannya. Tapi ia harus kemana? Ia memilih untuk mencari rekomendasi tempat nongkrong kekinian melalui google. Namun ia justru tertarik dengan sebuah potongan berita yang ia baca. "Lagi, jalanan depan GOR Garuda digunakan untuk tawuran. Diketahui salah satu pihak merupakan siswa SMA Angkasa" "Bocor? Untung ngga ada atribut BS di fotonya" Medlyn tersenyum miring. Ia menang 2 - 0 dari anak Angkasa. 1. mereka mengalah saat tawuran. 2. Berita di medsos menjatuhkan nama Angkasa. "Gue bakal rayain ini" Medlyn meraih kunci mobil sportnya. Ia jarang menggunakan mobilnya yang ini karena jika sekolah ia lebih sering nebeng Gavin, dan saat akan ke basecamp juga ia menggunakan BMW nya. Namun si BMW kesayangannya itu sedang numpang tidur di garasi Gavin. (Awokawok bang gapin jan dihamilin ya si BMW avv) Medlyn mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak tau akan kemana. g****k banget kan? Namun ia tertarik saat melihat sebuah taman. Cukup ramai. Ia menghentikan mobilya dan memarkirkannya. Saat Ia keluar dari mobilnya beberapa pasang mata memandang Medlyn dengan tatapan yang berbeda beda (beda mata ya beda pandangan lah anjir!) Medlyn tetap cuek dan melanjutkan langkah kakinya menuju sebuah kursi untuk melepas penatnya. Ia medaratkan bokongnya di kursi taman ini. Untung saja ia mengenakan jeans dan hoodie panjang. Jadi tidak akan kepanasaan saat berada di ruang terbuka seperti taman. Baru sebentar Medlyn duduk menikmati indahnya taman ini, seseorang menghampirinya. "Hai" sapa orang itu pada Medlyn. "Boleh gue duduk disini?" Sambungnya dan dibalas anggukan oleh Medlyn. Medlyn tetap cuek dengan kehadiran orang itu. Ia tidak keberatan jika harus berbagi kursi taman dengan orang lain. Toh ini adalah tempat umum. Sampai orang tersebut berdeham memecah kecanggungan di antara mereka. "Kenalin, nama gue Keano Adriyan Mahendra" ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Medlyn. Medlyn mengenyrit seolah tidak asing dengan namanya. Ia lalu tersenyum dan membalas uluran tangannya. "Dewita Azkassyah Medlyn" "Gue panggil apa nih? Dewi? Kasy? Kasya? Asya?" "Medlyn" jawaban Medlyn membuatnya tersentak. Nama belakang? "O-oke, em lo bisa panggil gue-" "Iyan" "Ya gitu juga boleh" "Btw, lo sering kesini ya?" Tanya Medlyn. "Iya. Rumah gue deket sini" jawab Iyan. Yaa setidaknya gadis ini tidak terlalu dingin. Medlyn menjawab dengan anggukan. "Kalo lo?" "Baru kali ini" "Ohh, lo masih sekolah kan?" "Ya iyalah. Yakali putus sekolah" mereka berdua terkekeh. Medlyn kembali melihat ponselnya ia membuka berita soal tawuran kemarin. "Lo tau gak, gue ikut tawuran itu kemaren" "Gue juga" batin Medlyn. "Wow, terus gimana kemaren" tanya Medlyn pura pura antusias dengan topiknya. "Ya gitu, gue bahkan jadi penyerang paling depan" "Kok gue ngga liat lo ya kemarin?" "Emang sih badan gue gede, tapi kan tetep aja umur gue sama mereka lebih tua mereka" sambungnya lagi. "Lo kok bisa ikut tawuran?" "Gue diajak sama kakak sepupu gue" jawaban Iyan membuat Medlyn semakin yakin akan pemikirannya. "Eh, tapi lo ga papa kan?" "Amann" "Waitt, berarti lo anak-- Angkasa?" "Iya. Gue masih kelas 10" "Sama" "Anak Angkasa juga???" "Bukan, gue anak EASH. Masih kelas 10 juga" "EASH? Itukan sekolahnya-" "Ya gituu lah" mereka pun melanjutkan perbincangan di taman ini. Tanpa Iyan sadari, Medlyn telah merangkai sejuta rencana. Bukan-bukan Medlyn yang merangkai. Namun, Kina. ○---○ Medlyn pulang saat ia mendapat telfon dari Gavin. Pertemuannya dengan Iyan cukup mengejutkan, namun ia besyukur karena tidak perlu bersusah payah. Laki laki itu juga nampaknya tertarik dengan Medlyn. Bisa dilihat dari gerak geriknya. Mereka bahkan sudah bertukar id line. Waw. Medlyn mengembangkan senyumnya saat melihat mobil Gavin dan mobilnya dihalaman rumah. Ia segera mematikan mesin mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Ia semakin kegirangan saat Gavin duduk diruang tamu rumahnya dengan beberapa kantong plastik yang sudah ia tebak pasti berisi makanan. "MAKSUD KAMU APA SIH MAS?!!" teriakan Siena sukses menghilangkan senyum Medlyn. Ia pun berhenti berjalan saat mendengar teriakan mamanya yang berasal dari kamar atas. Gavin melihatnya. Ia bahkan sudah mendengar sebagian pertengkaran mereka. Ia tidak tau apa yang terjadi karena saat ia selesai menelfon Medlyn ia langsung masuk dan semuanya telah terjadi. Rangga dan Siena sudah bertengkar dari tadi.Bukan maksudnya untuk menguping, namun teriakan mereka terlalu keras. Medlyn memejamkan matanya. Berusaha menahan emosi yang menguap pada pikirannya. Ia sungguh penat hari ini, dan kedua orang tuanya justru memperburuk suasana hatinya. "Gav, kita per-" BRAK Sura pintu terbanting menghentikan kalimat Medlyn. Terlebih saat mengetahui papinya keluar dari kamar tidak sendirian. Melainkan bersama seorang wanita. Amarah Medlyn sungguh tidak tertahan lagi. Ia menghampiri mereka, dan memblokir langkah kedua orang ini. Rangga terkejut dengan kehadiran Medlyn. Setaunya, tadi putrinya ini sedang keluar rumah. Tapi kenapa ia sudah disini? "Wow, jalang baru lagi pi? Tante dibayar berapa sih sama papi saya?" Ucap Medlyn dengan nyalang. Ia benar benar harus bertindak sekarang. Rangga? Ia terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya. "Jaga bicaramu Medlyn" "Why? Papi kaget? Memang itu sebutan untuknya bukan? Seorang wanita yang berjalan dengan pria beristri. Apalagi namanya jika bukan jalang? Oh ya! b***h" "JAGA UCAPANMU MEDLYN! PAPI TIDAK PERNAH MENGAJARKANMU BICARA SEPERTI ITU" "YA! YANG PAPI AJARKAN HANYA MENYAKITI HATI ORANG LAIN!!" Plak "MAS!!" Tangan itu gemetar. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Hal yang harusnya tidak ia lakukan. Semuanya telah terjadi. Ia menampar Medlyn. Darah dagingnya bersama Clairin. Rangga merutuki dirinya sendiri karena telah hilang kendali. Ia terlalu emosi setelah bertengkar dengan Siena, dan Medlyn langsung menghadangnya seperti ini. "Maaf...maafin papi. Pa-papi ngga sengaja sayang" Rangga bergetar, ia sungguh menyesal telah menampar putrinya. "Thanks for this taste pa" Medlyn berlari ke arah Gavin dan menarik pria itu untuk ikut keluar bersamanya. "Medlyn! Dengerin papi nak! MEDLYN!!" "STOP TO CALL ME!!" teriak Medlyn dengan setengah berlari ke mobil Gavin. "KINARA!!!" Medlyn berhenti. Panggilan itu selalu berhasil mengaduk ngaduk hatinya. Medlyn hendak berbalik, namun ucapan seseorang menghentikan niatnya. "Kamu tidak berhak memanggil cucuku seperti itu Rangga!" Rahma berdiri tidak jauh dari mereka. Kehadirannya cukup mengejutkan. "Oma..." lirih Medlyn. Medlyn pun berlari menghampiri omanya. "Kinara, cucu oma... pi-pipi kamu, Rangga! Berani beraninya kamu!!" Rahma mendekati Rangga, dengan air mata masih menetes. Plak "Tidak cukup kamu menyakiti anakku sampai di akhir hidupnya? Sekarang kamu menyakiti cucuku juga?! Dimana akal sehatmu?!!" Ujar Rahma menggebu gebu. Sedangkan Medlyn? Ia semakin menangis, Gavin pun menghampirinya dan memeluk gadis itu. "Ma, aku bisa jelaskan-" "APALAGI RANGGA!! SEMUA SUDAH JELAS!! SETELAH KAMU MENDUAKAN CLAIRIN KAMU JUGA MENDUAKAN SIENA?!" Rahma berteriak di depan wajah Rangga. "..." "Sadarlah Rangga, disini kamu juga menyakiti cucuku. Sudah cukup Rangga. Aku menyesal membiarkanmu membesarkan cucuku! Aku akan membawanya" ucap Rahma tegas tak terbantahkan. "Oma..." "Kinara, oma tidak mau kamu tinggal dengan laki laki b******k itu. Kamu ikut oma sekarang" "Ma, jangan bawa Medlyn pergi ma. Aku sayang sayang sama Medlyn" "Apa urusanmu melarangku? Dia adalah cucuku. Kamu hanya wanita perusak masa kecil cucuku! Aku tidak akan membuat cucuku terjebak dengan orang orang b******k seperti kalian!" Rahma menunjuk Rangga dan Siena bergantian. "Aku sayang dengan Medlyn ma! Walaupun aku bukan ibu kandungnya!" Bela Siena. Ya, walaupun Medlyn bukan anak kandungnya tapi Siena selalu memberlakukan Medlyn dengan baik. "Tapi aku lebih berhak sebagai omanya! Bukankah kamu akan bebas membawa anak haram itu kesini setelah Kinara tidak ada dirumah ini lagi?" Siena terdiam. Disatu sisi ia sangat merindukan putranya, tapi ia tak ingin kehilangan Medlyn. "Kenapa diam? Jalang akan tetap menjadi jalang sampai kapanpun!" Ucapan Rahma sukses menohok hati Siena. Ia tertunduk. Menangis. Sebenarnya Medlyn ikut merasakan sakit saat melihat Siena dihina oleh omanya sendiri. Tapi memang benar bukan yang dikatakan oleh omanya? Rahma berbalik menarik Medlyn agar masuk kedalam mobilnya. "Oma, Gavin ikut ya" Rahma terdiam dan nampak berfikir sampai akhirnya ia mengangguk sebagai jawaban. Rahma duduk di kursi samping kemudi, sedangkan Medlyn berada di belakangnya bersama dengan Gavin. Gavin sudah tidak memikirkan dengan mobilnya yang ia tinggalkan. Kini ia hanya harus fokus pada Medlyn. Gadis ini sungguh sangat rapuh sekarang. Medlyn terus menatap ke luar jendela. pandangannya bertemu dengan Rahma saat menatap spion dalam. Cukup lama Medlyn memperhatikan wajah Rahma yang juga sedang menatapnya. tatapan itu tak asing, rambut Rahma tersingkap sesaat dan menampilkan bekas luka. Medlyn semakin pusing melihatnya lalu tertidur dalam perjalanan. ○---○ Rahma membawa Medlyn ke rumahnya di daerah Jakarta Selatan. Medlyn belum pernah ke tempat ini sebelumnya, mungkin Rahma baru membeli rumah ini. Walaupun suami Rahma, Aryo telah meninggal bahkan sebelum Clairin menikah, Rahma tetap bisa menghidupi putrinya dengan bekecukupan. Rahma termasuk janda kaya dan sukses dengan berbagai aset kekayaan. Di umurnya yang sudah lebih dari setengah abad, Rahma mewariskan seluruh hartanya pada Medlyn. Rahma sangat membenci Elvan. Karena menurutnya, kehadiran Elvanlah yang membuat anaknya menjadi hancur. Ia adalah tokoh utama yang membuat Elvan jauh dari Siena. ○---○ Tbc... Part 9 ~26 April 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD