10 | Beni is back!

1562 Words
○---○ Medlyn Pov Kemarin, hal itu terjadi. Gue bener bener emosi banget saat liat papi bawa wanita lain lagi. Entah mengapa gue ngerasain sakit juga. Sudah cukup dengan mami Siena yang selalu ngingetin gue sama luka itu. Gue ngga tau gimana bisa oma dateng disaat gue lagi berantem sama papi. Tapi gue bersyukur banget dengan datangnya oma, gue bisa pergi dari sana dengan mudah. Awalnya gue diajak buat tinggal sama oma di Bandung? Really?! HELL NO!!!! gue ga bisa jauh jauh dari markas BS terutama sama sahabat sahabat gue. But, karena gue jago ngerayu oma luluh juga. Gue akhirnya tinggal di apartemen gue. Ngga terlalu mewah sih tapi cukup buat nampung badan gue ini. Soal Gavin? Ah babu gue yang itu mah pinter banget. Gue gak perlu risau soal cara dia buat balik ke rumahnya. Dia emang babu gue yang paling nurut. Soal rasa? Perasaan gue kedia ya cuma rasa sayang antar sahabat. Ada yang bilang kalo 'ga ada persahabatan yang murni diantara dua manusia lawan jenis' kayanya itu ga berlaku buat gue. Tapi kita semua juga ga ada yang tau kan? Harapan gue sih, hubungan gue sama Gavin tetep terjaga sebagai sahabat. Karena baru pindahan, gue ga sempet banyak bacot ya guys! Gue beres beres dulu. Setelah barang barang gue tertata rapi, ya ga rapi rapi amat sih:v gue membuka buku sejarah wajib gue, buku yang paling sakral banget karena ga pernah gue buka. Abisnya si buku ngajak flashback mulu. Hahaha. Makasih lho yang muji kalo gue rajin. Iya soalnya kan bentar lagi mau ulangan kenaikan kelas? gak lucu banget kalo cewe kalem kaya gue ga naik kelas. Ting! Ting! Ting! Hal yang membuat gue selalu goyah. Notifikasi! "Sapaa sihh yangg gangguuinn gue" karena kesel dan ga tahan buat buka Hp, akhirnya gue bangun dari kursi dan menghampiri belahan jiwa gue. "Gavin?" Today, 22.47 Gavianvcnz Med udh selesai beres beresny? Klo udh, bljr trus tidur Jngn begadang Azzmed Ok Gavianvcnz Sialan lo! Azzmed Kmbli! Gavianvcnz Srh lo-_ Bsk pagi gue jemput Azzmed Emng tgs l kn? Gavianvcnz Hm. Sono tidur dh malem Read. "Lucu" gue ketawa baca chat Gavin. Kalo dilihat lihat, Gavin emang perhatian sih sama gue. Dia baik orangnya. Udah lah ngapain bahas si Gavin sih! Dah ya Medlyn mau bobo guys! CU! ○---○ Author Pov Keesokan harinya Medlyn bangun dengan semangat. Ia bangun langsung mandi dan memakai seragam sekolahnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, tiba tiba ia diingatkan dengan suasa rumahnya. Biasanya saat ia membuka pintu kamar dan menuju dapur, ia sudah disuguhkan dengan sarapan. Tapi sekarang? "Sekarang lo bukan Medlyn lagi! Lo Kinara! Lo pasti bisa! Semangat Kinara!!" Ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Kinara? You know lah Kinara itu siapa. Medlyn langsung melewati dapurnya. Sarapan disekolah kedengarannya tidak buruk bukan. Saat ia membuka pintu apartemennya ia sudah dikejutkan dengan kehadiran mahluk perparas tampan. Siapa lagi kalau bukan babu kesayangannya. Kesayangan? Oke skip! "Gavin! Ngagetin tauk! Kenapa ngga ketok pintu?!" Kaget Medlyn. "Karena mau ngagetin!" Jawab Gavin. "Ga lucu! Lo harus dapet hukuman!" Medlyn tersenyum senang saat kening Gavin mengerut. "Ga bis-" "Hukumannya traktiran. Titik! Ayo berangkat" Medlyn mengunci apartemennya dan berlalu meninggalkan Gavin yang masih memutar otak. "GAVINN AYO CEPETAN!!" teriak Medlyn yang sudah sampai di depan lift. Gavin pun tersadar dari lamunannya dan setengah berlari menghampiri Medlyn. ○---○ At EASH Medlyn berjalan tak sabaran saat sampai disekolahnya. Ia sudah sangat kelaparan. Tasnya pun masih bertengger manis di pundaknya. Sedangkan Gavin berjalan lebih santai dibelakang Medlyn. Saat sudah di kantin, Medlyn langsung memesan nasi goreng dan air putih pada om Marly. "Om Marlyy yuhuu!!" Teriak Medlyn saat hampir sampai di depan kedai om Marly. "Weh, tumben pagi pagi udah disini neng" jawabnya sambil mengelap meja kantin. "Iya nih om, udah laper banget. Medlyn pesen nasi goreng sama air putih ya om!" Ucap Medlyn lagi. "Iya. Duduk dulu sana, ntar tak bawain" jawab om Marly. "Oke om!" Medlyn pun memilih meja yang akan didudukinya. "Om nasi gorengnya satu lagi ya!" Teriak Gavin. "Siapp" "Gav, lo makan juga?" Tanya Medlyn saat Gavin sudah duduk disampingnya. "Lo pikir cuma lo doang yang laper?" Jawab Gavin sambil mencubit hidung Medlyn. "Sakit b**o!" Medlyn memukul lengan Gavin, yang dipukul pun hanya terkekeh saja. Saat menunggu nasi gorengnya, Medlyn tak sengaja melihat seseorang. Sepertinya ia mengenalnya. Tapi siapa? Medlyn memfokuskan pandangannnya pada orang itu, tapi om Marly justru datang disaat yang tidak tepat! Ah sudahlah ia juga sudah sangat lapar. Medlyn pun memakan nasi gorengnya sambil bersenda gurau dengan Gavin sampai bel masuk berbunyi. Namun mereka tidak sadar jika ada yang memperhatikan mereka sambil mengepalkan tangannya. "Gue bakal bener bener ngancurin hidup lo!" ○---○ "WHAHAHHAHAHA" suara tawa menggema di sekitar kantin. Siapa lagi pembuatnya jika bukan karena ulah Medlyn? Medlyn mencampur es teh nya dengan kecap dan saos. Dan bodohnya ia tetap meminumnya. Bisa kalian bayangkan bagaimana ekspresi Medlyn? "Gila lo Med" Aca berseru, pada Medlyn masih dengan terkekeh. "Dia ketularan Stella tuh, jadi 'cendikiawan'" sahut Iren. "Ngga gitu guys! Medlyn tuh lagi percobaan jadi profesor" sambung Risa. "Iya tuh Risa bener" bela Stella. "g****k banget sih" mereka terdiam. Sinisan dari Candle membuat mereka merasa bingung. "Kenapa kamu yang sinis Can?" Bela Iren. "Iye dah" sambung Risa. "Heh udah! Kalian ni bahas ap- wait. Itu yang dikantin pojok saha? Jangan bilang kalo dia-" ucap Medlyn sambil menunjuk kantin pojok,yang terdapat beberapa anak kelas 12. "Kak Beni" jawab Aca. "Dia udah sekolah lagi?" Tanya Medlyn. "Med, lo abis terdampar atau gimana sih. Jelas jelas dia udah sekolah dari 4 bulan yang lalu! Dia di skors cuma 2 minggu kali" jelas Risa. "Etdah seriusan? Perasaan gue ga pernah liat dia deh" "Dia emang jarang keluar abis kena skors waktu itu Med" jawab Iren sambil meminum es tehnya yang tinggal separuh. "Waw keren" ucap Medlyn sambil berekspresi seolah olah ia mengaguminya. "Keren pala lo" "Apasi Acaa-- Karend!!! Nih Stella disini!! Ga mau mojok dulu sama Stella??!!" Teriak Medlyn saat melihat gerombolan Karend, alias anak cowo kelasnya melewati meja mereka. Yang dipanggil hanya menengok sekilas dan tetap berjalan. Alias tetap cuek. "Med apaan sih. Gue malu b**o!" Kesal Stella. "Gapapa kali Stel, dia kan pacar lo" Ucap Iren. "Iya tuh" sambung Risa. "Gue lagi berantem sama dia" "Kenapa?" Tanya Aca. "Dia cemburu lagi. Terus ngapus semua kontak cowo di hp gue" Jelas Stella sambil sedikit marah. "WHAHHAHAAH" Mereka berlima menertawai Stella. Menurut mereka kisah cinta Stella dan Karend sangat lucu karena sudah 3 tahun mereka pacaran dan 158 kali putus tapi selalu balikan di akhir ceritanya. "Eh Ren, Can, balik ke kelas yuk. Bentar lagi buk Gita masuk nih." Ajak Risa. "Eh iya Ris, ce kita bertiga duluan ye!" Pamit Iren sambil berdiri dan diikuti Candle dan Risa. "Oke" jawab Medlyn sambil mengacungkan jempolnya. Iren, Risa, dan Candle pun segera pergi ke kelas mereka. "Yang anak IPS kita atau mereka sih?" Tanya Stella tanpa perlu jawaban. "Iya. Kenapa kita yang lebih santai ya?" "Karena kita santai. Ah udah lah kita balik ke kelas juga" mereka bertiga pun berjalan menuju kelasnya. Saat sudah di depan kelas, Medlyn tiba tiba berhenti. "Eh guys, gue kebelet nih." Ucap Medlyn. "Yah napa baru bilang sih maemunah!" Jawab Aca sedikit kesal. "Ya orang baru kerasa geh!" Sungut Medlyn tak mau kalah. " udah. Med lo mau dianter apa sendiri aja?" Tanya Stella menengahi. "Gausah, sendiri aja" jawabnya lalu meninggalkan kedua sahabatnya yang lain. Stella dan Aca hanya geleng geleng saja, melihat kelakuan sahabatnya itu. Di sepanjang jalan ke toilet Medlyn mengeluarkan sejuta sumpah serapah untuk dirinya sendiri. Kenapa ia memilih jalan ke toilet sendiri sedangkan sekarang perasaanya justru berubah jadi tidak enak. Medlyn berusaha berfikir positif dan segera menuntaskan perasaan gelisah ini. Medlyn memasuki toilet wanita dengan sedikit was was. Mengingat toilet ini jarang dikunjungi. Setelah selesai, Medlyn keluar dari kamar mandi dan hendak mrmbasuh tangannya namun ia berhenti saat melihat seseorang sedang menyenderkan bahunya di pintu kamar mandi dengan menunduk. "Salah masuk lo. Ini toilet cewek kali. Buta lo ya" ucap Medlyn acuh sambil mencuci tangannya. Pria itu tidak menjawab ia justru mendekati Medlyn, mencengkram tangannya erat erat dan membuat gadis itu menatapnya. Mata Medlyn membulat sempurna saat ia melihat wajah laki laki itu. "Kenapa? Kaget?" Ucap laki laki itu. "Ish! Lepasin tangan gue!" Bentak Medlyn sambil menarik narik tangannya yang di cekal laki laki itu. "Gimana rasanya mempermalukan gue? PUAS LO UDAH BIKIN GUE DI SKORS?!!" bentaknya balik. "Lo emang pantes buat di skors! Lo itu ketua osis ga bener!" Laki laki itu membuang pandangannya dan tersenyum miring. "Gue bakal bales semua perbuatan lo" "GUE GAK PEDULI!!!" teriak Medlyn sambil menginjak kaki laki laki itu dan segera berlari saat tangannya sudah di lepaskan. "AWW. CEWEK SIALAN! LIAT AJA NANTI!" Teriaknya sambil meringis kesakitan. Medlyn berlari kencang sampai ia merasa jika laki laki itu tidak mengejarnya. "Gue rasa Beni serius sama omongannya" gumam Medlyn sambil setengah berlari. Pikirannya telah dipenuhi dengan orang tuanya. Dan kini ketos sialan itu juga menyita pikirannya. Ralat, MANTAN KETOS. "Med? Lo ga papa?" Tanya Aca setelah melihat Medlyn sedikit murung pulang dari toilet. Bukan jawaban yang ia terima. Ia justru mendapat tatapan tajam dari Medlyn. Aca menunduk. Mereka memang sering ceplas ceplos saat bersenda gurau. Tapi, tatapan Medlyn yang seperti itu tidak menandakan kalau ia sedang baik baik saja. Medlyn pun duduk di bangkunya dengan pikiran yang telah sampai entah dimana. "Kapan sih masalah capek mampir tempat gue" gumam Medlyn. ○---○ Tbc... Part 10 ~3 Mei 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD