○---○
Ulangan Kenaikan kelas sudah dilewati Medlyn. Ya tidak begitu buruk, tapi ia bisa melewatinya. Liburan akhir tahun sudah ia rasakan selama kurang lebih 3 minggu lamanya. Kini hanya tersisa beberapa hari saja.
Medlyn lebih banyak tinggal di apartemennya. Mengingat semua temannya pergi berlibur bersama keluarga mereka. Medlyn? Tidak mungkin baginya jika akan diajak jalan jalan oleh keluarganya.
Omanya? Rahma memang peduli pada Medlyn. Tapi ia lebih peduli pada uangnya. Ia tidak menyia-siakan liburan ini. Menurutnya ini adalah sebuah peluang bisnis yang besar.
Lalu bagaimana dengan Amerika? Medlyn tidak akan bunuh diri dengan datang kesana. Rahma pasti akan menghabisinya jika ia sampai pergi ke Amerika. Negara dimana Elvan dan Opanya berada.
Medlyn masih tetap bersyukur dengan masih bisa diam diam menjadi anggota BS. Walaupun keberadaanya terancam. Yang orang lain ketahui pimpinan BS adalah Kinara Aubriana Sabolev. Nama yang hanya diketahui oleh keluarga besar Sabolev dan beberapa orang kepercayaan. Dan Rahma tau, jika itu adalah nama cucunya. Medlyn.
Jangan lupakan jika Medlyn adalah gadis yang pintar. Ia bisa membuat omanya percaya jika ia tidak pernah turun tangan atas BS. Cucu durhaka!
Itu semua dilakukan Medlyn, untuk mengungkap semua kebenaran yang ada. Dari BS, ia bisa mencari tau siapa yang telah membunuh Clairin. Walaupun Rahma selalu berusaha keras meyakinkan Medlyn bahwa yang membunuh Clairin adalah Zafran. Sahabat dari Clairin sendiri.
Medlyn memang tidak mengenal siapa itu Zafran. Selama ini ia berusaha mencari tau motifnya. Tapi ia tidak menemukannya. Dari info yang didapatnya, Zafran memiliki 2 orang anak lelaki. Salah satunya sudah berada ditangan Medlyn.
Yup! Tawanannya itu. Hanya itu yang Medlyn dapatkan setelah mencari tau siapa tawanannya. Ini akan sangat seru. Dia melenyapkan Clairin. Dan Medlyn akan melenyapkan putranya.
Tapi tidak sekarang. Medlyn tidak memiliki bukti apapun. Ia hanya memegang ucapan omanya. Mungkin setelah semua bukti ia dapatkan, rencananya itu akan dilaksanakan.
○---○
Medlyn sudah bosan. Sangat bosan! Semua sahabatnya sedang bersenang senang diluar sana. Termasuk Gavin! Dan dirinya? Hanya keluar masuk kamar apartemennya.
Sesungguhnya ia sangat merindukan rumahnya. Walaupun tidak pernah ada ketenangan disana. Tapi yang membuatnya tidak ingin menginjakkan kaki disana hanyalah sebuah fakta bahwa Rangga, Ayahnya tidak pernah berusaha mencarinya apalagi menghubunginya setelah kejadian itu. Hal itu selalu membuat Medlyn sesak.
Segitu tidak berharganya kah? Ia sungguh benci berada disituasi seperti ini. Tidak dianggap. Perlakuan seperti ini hanya menyisakan luka untuknya. Dan semua luka yang ia alami selalu dipendamnya baik baik. Selama 10 tahun ia harus memendam semuanya. Mungkin sesekali ia berfikir hal ini akan diungkapkannya kepada seseorang suatu saat nanti.
Pikirannya kembali pada rumahnya. Entah mengapa ia tiba tiba berfikiran untuk pulang ke rumahnya dan memberi kejutan pada Siena. Medlyn pun segera bersiap. Ia mengganti pakaiannya dan mengambil kunci mobilnya.
Jalanan Jakarta saat liburan seperti ini cukup lenggang, hingga Medlyn hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di rumahnya. Tak lupa, ia juga membawakan makanan kesukaan Siena saat diperjalanan tadi.
"Semoga mami suka" gumamnya sembari menenteng totebag yang berisi beberapa makanan.
Jantungnya berdebar tidak karuan saat menginjak tangga pertama di depan pintu utama. Matanya mengedarkan pandangan ke arah taman rumahnya. Ia rindu menangis ditengah taman itu, sendirian. Ya Medlyn memang aneh.
Namun yang lebih aneh lagi saat Medlyn hendak membuka pintu rumahnya. Pintu itu sudah terbuka duluan dan menampilkan seorang laki laki dengan sweater putih tebal. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali Medlyn melihatnya, 10 Tahun yang lalu.
"Opa merindukanmu" suara barinton itu menusuk indra pendengaran Medlyn. Ia menutup matanya berusaha menetralkan detak jantungnya. Apa sekuat ini nalurinya pada Balder?
"Hey, look at me Kina" sambungnya sambil menangkup wajah Medlyn dengan kedua tangannya.
"Don't touch me." Desis Medlyn sambil mengalihkan pandangannya.
"Apa kamu masih mengingat kejadian itu?" Tanyanya lagi setelah menurunkan tangannya dengan sangat berat hati.
"Tentu saja aku ingat. Dan tidak akan pernah lupa" Medlyn menekan setiap kata yang ia ucapkan. Balder cukup terkejut dengan perubahan Medlyn. Walaupun sedari awal ia sudah tau jika cucunya ini memiliki watak yang keras.
"Itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan Kina-"
"Stop to call me Kina. You have no right" Kina menaruh totebagnya di pintu dan berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu. Meninggalkan rumahnya sendiri. Namun ucapan Balder menghentikan langkahnya. Hanya menghentikan. Tidak membuatnya berbalik.
"Kamu boleh membenciku, tapi jangan membenci Elvan"
"I hate Elvan. Aku sangat membencinya. Jauhkan mahluk itu dariku kalau anda mau dia tetap hidup" ancam Medlyn penuh penekanan tanpa sedikitpun menengok kebelakang.
"Tap-"
"Aku tau tuan Sabolev. Anda pasti datang bersamanya. Dan aku tidak sudi melihatnya" Medlyn meninggalkan Balder begitu saja. Membanting pintu mobilnya dan berlalu dari rumahnya sendiri.
Disepanjang jalan Medlyn hanya menangis. Merutuki mulutnya yang mengatakan semua itu dengan gamblangnya. Ia benar benar memainkan perannya sebagai Kinara. Gadis batu yang tidak memiliki hati dan sangat membenci Elvan.
○---○
Gavin pov
Pagi ini gue bangun dan udah diatas kasur rumah gue. Ya semalem gue baru balik dari Seattle setelah 3 minggu disana. Awalnya gue nolak ajakan mama sama papa. Tapi mereka maksa pake banget. Gue gak tega ninggalin Medlyn sendirian di Jakarta.
Gue mau ngajak dia juga ga mungkin. Seattle di Amerika. Dia ga bakal mau pergi kesana. Jadi dengan berat hati hue terpaksa harus ninggalin majikan gue sendirian. Tapi, sekarang gue udah balik. Jadi harus langsung mulai kerja lagi dong.
Bangun tidur gue langsung mandi dan siap siap mengunjungi majikan gue tersayang. Ya kalian semua udah tau kan kalo gue sayang sama dia. Tapi ga tau dianya gimana.
Dengan semangat 45 gue turun ke lantai 1 ngampirin mama gue tercinta.
"Morning mama" sapa gue.
"Morning too. pagi pagi udah ganteng aja, mau kemana nih anak mama?" Tanya mama sambil nyiapin sarapan pagi, gue pun duduk di kursi kebesaran gue. Ahaha.
"Medlyn udah kangen banget nih ma sama Gavin. Katanya dia pengen banget ma ketemu sama Gavin" jawab gue panjang kali lebar ke mama.
"Medlyn apa kamu?" Pertanyaan mama tepat sasaran bangett sih. Pastinya gue lah! Gue udah ga tahan banget pengen ketemu sama majikan!
"Ya- si- kan- pasti Medlyn lah ma yang kangen." Sial kenapa gue pake grogi segala sih ngomongnya.
"Ga usah panas dingin gitu dong mukanya"
"Mama apaansi. Udah lah Gavin langsung ke apartnya Medlyn aja lah" gue pun bangun dari kursi dan langsung berjalan ke pintu depan.
"Hati hati sayang" teriak mama yang suaranyaaaa aduhaiu banget.
"Iya ma!" Teriak gue balik.
"Lho Gavin mau kemana? Udah ngga kena jetlag?" Tanya papa yang nampaknya lagi olahraga pagi, di halaman depan rumah gue. Tumben si papa.
"Ini demi perjuangan untuk menjajah hatinya Medlyn pa. Doain semoga Gavin bisa dapetin hatinya Medlyn ya pa" jawab gue berbeda dengan yang gue ucapkan ke mama. Ya, sesama lelaki papa pasti tau lah gimana perjuangan buat dapetin hati wanita pujaan.
"Pasti papa doain! Ya udah sana. Inget ya pesan papa, papa gak mau menantu selain Medlyn" seriusan nih direstuin papa?.
"Siap komandan! Gavin berangkat dulu ya pa!" Gue pun berlari ke arah mobil gue dan melambaikan tangan ke papa pertanda gue akan segera mengunjungi calon ibu dari anak anak gue.
Katakan kalo gue alay. Gue yakin saat lo pada kasmaran bakal lo tarik semua sumpah serapah lo pada.
○---○
At Medlyn's apart
Gavin telah sampai di apartemen Medlyn. Ia berjalan memasuki lobi apartement dengan bersenandung ria sambil membawakan oleh oleh untuk Medlyn.
Ia begitu semangat bertemu dengan Medlyn. Ia membayangkan Medlyn akan tersenyum senang dan marah karena Gavin terlalu lama berada di Seattle. Ia sangat menyukai ekspresi gadis itu ketika kesal.
Ketukan pertama tak ada jawaban. Tapi semangat Gavin tidak hilang begitu saja. Sampai ketukan kesepuluh akhirnya ia mendengar suara pintu terbuka.
Harapannya seketika menguap begitu saja. Ia melihat dunianya hancur. Gadis didepannya ini sangat berantakan dengan mata sembabnya dan air mata?
Medlyn memeluk Gavin. Ia benar benar membutuhkan pria ini sekarang.
"Ga...vin... hiks..." lirih Medlyn. Gavin semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap bahu Medlyn.
"Tenang Med, gue ada disini sekarang. Kita masuk dulu ya" ucap Gavin yang masih setia mengelus rambut Medlyn, sambil sesekali merapikannya.
Cukup lama sampai akhirnya Medlyn mengangguk dan melepaskan pelukkanya.
Medlyn membawa Gavin ke ruang tamu rumahnya. Ia duduk di sofa berdampingan dengan Gavin.
"Lo kenapa?" Tanya Gavin dengan lembut.
"..."
"Med jangan diem, ceritain ke gue. Ada apa?"
"Gav..."
"Iya kenapa?"
"Opa... ada di Indonesia"
○---○
Tbc...
Part 11 ~5 Mei 2020