"Bayangkan, bagaimana rasanya jika duniamu hancur berkali kali? Sakit."
○---○
"Gav..."
"Iya kenapa?"
"Opa... ada di Indonesia"
○---○
"Te-terus? Lo, tau dari mana" Ucap Gavin terbata bata. Ia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Ke...maren gue pu-pulang ke rumah, tapi... malah ketemu opa... dan gu-gue ngomong 'itu' lagi" Medlyn menangis menjadi jadi. Gavin pun langsung memeluknya menenangkan gadis ini.
"Lo ngomong kalo lo benci sama Elvan?" Tanya Gavin dan diangguki Medlyn.
"Bahkan... lebih pa-parah. Gue bi-bilang ma-u bu-nuh dia gue cuma emosi Gav!" tangisnya kembali tumpah.
"Med, mereka pasti tau kok, kalo lo cuma emosi. Udah jangan nangis lagi ya. Semua masalah ada solusinya. Masalah lo bakal kelar kok . Yang penting lo harus yakin." Ucap Gavin mantap. Medlyn mengangguk dalam pelukkan Gavin.
"Besok pagi gue jemput ya" tawar Gavin saat Medlyn mulai tenang.
"Sorry Gav, gue udah janjian sama Iyan. Dia udah ngajak gue berangkat bareng" Gavin membeku. Siapa yang berani beraninya menikung dirinya? Lebih dulu dari Gavin?
"Iyan?"
"Ah ya, gue lupa nyeritain soal Iyan. Dia adek sepupunya Afkar"
"Adek sepupunya Deon juga?" Tanya Gavin.
"Iya" jawab Medlyn.
"Kenapa lo malah deket deket sama dia?! Dia itu musuh lo Med! Dia berbahaya buat lo!"
"Tap-"
"Gak! Pokoknya besok lo berangkat bareng gue!"
"Stop Gav! You have no right! Gue berhak mau deketin siapa aja!"
"Please Med, dengerin gue. Ini bahaya buat lo."
"Gak akan berbahaya selama dia ga tau kalo gue itu Kinara"
○---○
Medlyn terbangun saat tidur nyenyaknya diganggu dengan alrm di ponselnya berbunyi. Pukul 05:15. Ia pun beranjak bangun dari tempat tidur dan langsung memasuki kamar mandi yang ada dikamarnya.
30 menit kemudian Medlyn keluar dari kamar mandi mengenakan kimono. Ia menghela nafas. Rasanya masih begitu sulit untuk menjalani hari harinya dengan semua masalah ini.
Medlyn membuka lemarinya, mengambil seragam sekolahnya dan bersiap siap.
Setelah selesai memakai seragam sekolah, Medlyn menggendong tas nya dan duduk dimeja makan. Ia sarapan dengan beberapa roti tawar dan juga selai tentunya. Setelah selesai dengan acara sarapan solonya, Medlyn menaruh piringnya di tempat cucian piring.
Ia lalu duduk di single sofa yang ada diruang tamunya. Ia membuka ponselnya dan menemukan notif chat teratas dari Iyan.
Yesterday
K.Iyan.blek
Bsk jngn lp!
Kmr l lantai brp?
Medlyn terkekeh "dia baik ternyata, walaupun dia gak sadar kalo udah masuk ke perangkap gue"
Just
Azzmed
Mau ngapain l nnyain posisi kmr gw?
K.Iyan.blek
Mau nyulik.g
Mau jempt l lh!
"Dia online ternyata jam segini" ucap Medlyn.
AzzMed
Tnggu gw d lobi aj
Emng dh brngkt l?
K.Iyan.blek
Ok
Gw otw.
Read.
"Gue turun sekarang aja apa ya? Kan rumah dia juga ga jauh jauh banget" Medlyn berbicara pada dirinya sendiri, lalu segera keluar dari apartemennya dan mengunci apartemennya. (Ribet banget sih nulisnya-_)
Medlyn memasuki lif, saat ia berbalik hendak menekan tombol matanya melihat orang yang juga sedang melihatnya. Medlyn sempat terkejut karena orang tersebut seperti memata matainya. Kenapa ia begitu ceroboh sekali!
Medlyn hendak keluar, dan menghampiri orang tersebut. Namun, lift yang dipakainya sudah tertutup. Mungkin ia akan mencarinya lain kali. Lagi pula Iyan juga akan segera sampai.
Benar saja, saat lift sampai di lantai 1, Medlyn melihat sebuah Motor ninja hitam terparkir tepat di depan apartemennya. Beserta pengendaranya tentu. Medlyn menghampirinya dan menepuk bahu si empunya motor.
"Udah lama ya? Sorry." Kata Medlyn.
"Ngga, baru juga sampe. Santai aja kali" jawab Iyan sambil memberikan Medlyn sebuah helm.
"Buat gue?" Tanya Medlyn keheranan sambil melihat helm tersebut tanpa menyentuhnya.
"Emang ada orang lain lagi?" Tanya Iyan balik.
"Hello kitty? Lo pikir gue se cute itu??" Jawab Medlyn dengan ekspresi terkejut, bingung dan ahh banyak.
"Biasa aja mukanya neng, lagian hello kitty cocok kok buat lo. Imut" Medlyn terdiam
"Kalo lo tau siapa gue, lo pasti nyesel bilang gue imut"
"Hei, malah melamun. Ayo pake helmnya"
"Ish iya iya"
"Jangan cemberut gitu napa"
"Hm" Medlyn pun naik ke motor Iyan, dan berpegangan pada bahunya.
"Lo kira gue tukang ojek apa? Tangannya tuh disini mba" Iyan menarik tangan Medlyn untuk memeluknya.
"Ya udah mas, jalan sekarang. Kalo saya ngga telat, saya kasih bintang lima deh. Hahaha" Medlyn tertawa, begitu juga dengan Iyan. Medlyn senang naun merasa aneh, seperti sedang di intai. Namun tidak ada yang terlihat mencurigakan disekitarnya.
"Med, mantan lo berapa?" Tanya Iyan masih dengan pandangan fokus ke jalan.
"Banyak"
"Gile sih lo. Kena karma mampus"
Deg.
Medlyn terdiam. Kenapa ucapan Iyan begitu ngena?
"Elah, jangan bengong entar kesambet lho"
"Hm"
"Med, ada ngga salah satu dari mantan lo yang bener bener bikin lo jatuh cinta?"
"Ngga"
"Kenapa?"
"Hati gue udah mati"
"Jangan ngomong gitu ga baik. Seberat apapun masalah lo, yakin aja semua orang juga punya masalah yang berat"
"Jauh amat"
"Apanya?"
"Bahasan lo kejauhan. Dari hati kok ke masalah"
"Hati lo mati karena ada masalah kan?"
"Sotoy lo t*i kuda"
"Hahaha iya berarti"
"Ck. Serah"
"Jangan judes judes amat jadi cewek"
"Misi mas, kok jadi bahas saya ya?"
"Hahah gapapa kali. Seru bahas tentang lo. Lo itu orangnya ngga fake. Ngomong apa aja pasti keluarnya dari hati."
"Dih so so an mau cenayang masnya"
"Gue ngobrol sama lo tulus, jadi wajar aja kalo lo jawabnya dari hati"
"Bukannya itu harusnya gue yang bilang ya?"
"Gue tau lo itu gengsian. Jadi gue ambil alih. Hahaha" Iyan tertawa. Medlyn melirik Iyan dari kaca spion. Helm full face yang dikenakan Iyan mungkin menutupi bibirnya, tapi tidak matanya. Mata itu begitu tulus.
"Udah sampe neng, jangan lupa bintang limanya!" Ucap Iyan membuyarkan lamunan Medlyn. Medlyn pun langsung turun dan melepas helm nya.
"Haha, iya bang. Gampang!" Ucap Medlyn sambil memberikan helmnya kepada Iyan.
"Belajar yang bener. Jadilah orang pinter biar bisa b**o in orang"
"Siapp bos."
"Balik nanti gue jemput ya"
"Oke, see u" Medlyn melambaikan tangan dan dibalas dengan Iyan, sampai Medlyn menghilang dibalik pagar EASH.
○---○
Bel istirahat telah berbunyi dari 5 menit yang lalu. Medlyn dan kawan kawannya pun sudah berada di kantin. Hari pertama mereka bertemu setelah hampir 4 minggu berpisah.
"HALLOO OM MARLY. ACA YANG CANTIK CETAR MEMBAHENOL IS COME BACKM. HUWAAA ACA KANGENN BANGETT SAMA MIE AYAM OM MARLYYY" Teriak Aca ketika memasuki kantin. Seketika keadaan kantin menjadi hening dan memfokuskan pandangan ke Aca.
"Ngapain pada nontonin Aca? Udah bosen idup kalian?!" Gertak Medlyn dengan smirk andalannya. Keadaan kantin yang hening pun seketika kembali normal, mereka tentunya tau konsekuensi bila menantang seorang Medlyn.
"Serem amat sih neng mukanya" ucap Risa berusaha menetralkan suasana.
"Dah lah, gue lagi gak mood. Pesenin gue sekalian yak. Kaya biasa." Medlyn berlalu dan duduk di meja yang biasa mereka duduki. Di pinggir pojok. Mereka suka melakukan itu agar kalo gibah ngga di denger sama yang lain.
"Lo ga sarapan nasi goreng ya? Tumben ngga santuy banget" ucap Stella sambil duduk di depan Medlyn.
"Apa hubungannya sama sarapan?" Tanya Iren.
"Waktu itu gue sarapan nasgor, seharian full gue bersikap santuy. Walaupun kena tugas buat makalah + klipping + artikel tulis tangan 5 lembar folio dari pak Zul, gue tetep santuy" terang Aca.
"Itu namanya kelewat santuy g****k!" Hardik Risa yang datang sambil membawa nampan berisi pesanan mereka. Mereka tertawa, kecuali Medlyn. Mimik wajahnya tidak mengenakkan.
"Gue sarapan roti tawar" jawab Medlyn setelah sekian lama terdiam.
"Roti pandan rasa tawar?" Tanya Stella.
"Stel, lo b**o apa g****k sih?" Pertanyaan Iren lagi lagi mengundang gelak tawa mereka. Sampai Gavin datang dan membuat mereka berhenti tertawa.
"Hai Med" sapa Gavin, lalu duduk di dekat Medlyn. Dengan menggeser Iren secara paksa tentunya. Begitu pula dengan Idwar yang datang bersamanya.
"Enak di bonceng pake ninja?" Pertanyaan Gavin mengundang tatapan penuh tanya dari sahabat sahabat Medlyn. Medlyn hanya memandang datar sahabatnya, dan juga Gavin yang justru memakan mie ayam pesananya.
"Kalo ga mampu beli bilang, gue lebih ikhlas ngasinya" sindir Medlyn.
"Kalo ga mau jawab bilang, gausah ngalihin topik" jawab Gavin lebih sinis, tanpa melihat Medlyn.
"Sial. Si Gavin pasti ngikutin gue" batin Medlyn.
"Perlu banget gue bilang? Bukannya lo udah liat sendiri? Lo ngikutin gue kan tadi pagi?"
"Iya, gue ngikutin lo"
"Norak tau gak!"
"Gue cuma mau lo aman Med"
"Ga.pake.ngikutin.gue.juga" desis Medlyn dengan penuh penekanan. Teman temannya yang lain tau, Medlyn sedang badmood dan dipancing emosinya oleh Gavin seperti ini. Mereka menunduk, hanya Gavin yang menatap mata itu.
"Sorry" lirih Gavin mengalah. Ia lantas menarik Medlyn ke pelukkannya. Medlyn pun hanya diam di perlakukan seperti itu. Tangannya bergerak menyentuh kalung huruf K yang dipakai Gavin. Medlyn mendongak dan lalu tertawa bersamaan dengan Gavin.
Suasana kembali tenang. Medlyn tau ada yang sedang memandangnya dengan emosi. Tapi ia tetap santai. Ia pun menyenderkan kepalanya di bahu Gavin dan memeluk pinggang Gavin. Gavin membalas pelukanya.
"Idwar, lo pesen gih. Masa iya mau diem aja" ucap Gavin pada Idwar.
"Iye iye, bentar" Idwar pun berjalan ke kios om Marly.
"Guys, gimana kalo balik sekolah kita nongkrong di cafe?" Usul Iren sambil menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Boleh juga. Udah lama anjir kita ga kumpul" jawab Aca yang diangguki Stella, Risa, dan Candle.
"Gue diajak ga nih?" Tanya Idwar yang sudah datang dengan sepiring nasi + lauk dan es jeruk.
"Udah ngikut ae, Gavin juga pasti ikut" Jawab Stella.
"Tergantung Medlyn" jawab Gavin yang tengah melahap mie ayam Medlyn, sambil menyuapi Medlyn sesekali.
"gimana Med?" Tanya Risa.
"Gue ngga bisa sorry. Gue udah ada janji sama Iyan" jawaban Medlyn membuat Gavin menaruh sendoknya.
"Cowok itu lagi?"
"Stop like this Gav. Enough!" Medlyn berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan teman temannya.
"Med lo mau kemana?" Teriak Aca yang masih didengar Medlyn.
"Bolos"
"Gav, yang sabar ya. Medlyn lagi emosi" ucap Candle sambil mengusap bahu Gavin. Gavin pun menurunkan tangan Candle dan pergi meninggalkannya begitu saja.
"Gav! Ini makanan gue belom abis woey!" Teriak Idwar namun diacuhkah oleh Gavin.
"Biarin aja War, sayang ama duit 10 ribu loh"
"Iya juga sih. Yaudah lah bodo amat sama Gavin" mereka pun tertawa. Tidak se girang tadi. Sebagian dari mereka juga tidak bahagia jika tidak lengkap bersama Medlyn.
"Medlyn butuh ruang" ucap Aca dan diangguki yang lain.
○---○
Medlyn berlari ke kelasnya dan mengambil tasnya. Ia berlari menuju gerbang utama EASH. Dibelakangannya Gavin mengejarnya.
Medlyn melihat pintu gerbang yang ditutup. Ia mendengus, lalu meminta mang Ujang untuk membukakan gerbangnya.
"Mang Ujang, bukain pintunya" pinta Medlyn. Mang Ujang yang melihat Medlyn sedang emosi pun hendak membuka gerbangnya.
"Jangan dibuka!" Teriak Gavin. Medlyn hanya diam, tanpa menoleh ke arah Gavin.
"tapi-"
"Bapak mau saya pecat?" Ancam Gavin. Medlyn sudah menduganya. Gavin pasti akan mengancam.
Namun Medlyn keras kepala. Ia tetap maju dan hendak memanjat pagar. Gavin pun langsung menariknya dan memeluk Medlyn. Medlyn yang sudah benar benar emosi hanya pasrah diberlakukan seperti itu.
Gavin lalu membalik tubuh Medlyn dan memeluknya lagi. Medlyn menangis.
"Bunda..." lirih Medlyn. Serapuh itukah Medlyn? Ia tidak akan memanggil bundanya seperti itu jika ia tidak benar benar sakit.
"Kita kemakam bunda" Gavin langsung menarik Medlyn ke arah parkiran, dan menyuruhnya masuk. Ia langsung membawa Medlyn ke tempat dimana bundanya di makamkan.
Disini. Selalu berakhir disini. Medlyn akan sangat lemah saat sudah berada di gerbang pemakaman ini. Selama bertahun - tahun, ia tidak pernah berani untuk masuk kedalam. Ia takut untuk kembali pada kenyataan dan kenangan masa lalu.
Medlyn terduduk di pagar makam, dan menangis. Gavin merasa sesak melihat Medlynnya rapuh seperti ini.
"Kita ngga masuk?" Tanya Gavin. Ia tau jawabannya pasti tidak. Tapi hal berbeda terjadi. Medlyn mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya.
"Ayo masuk Gav" ucapnya parau. Gavin terkejut.
"Lo yakin?" Medlyn mengangguk.
"Sebagai Medlyn atau-?"
"Medlyn. Kinara terlalu kotor buat ketemu sama bunda" Medlyn pun berjalan masuk ke area pemakaman.
Ia berjalan semakin ke tengah dengan langkah berat. Banyak yang berubah. Medlyn kebingungan. Dimana makan bundanya.
Gavin pun mendahului Medlyn dan menggandeng tangannya. Tanpa banyak bicara Gavin membawa Medlyn ke pusara bundanya.
"Kenapa lo bisa tau Gav?"
"Gue sering ngunjungin calon mertua gue" Medlyn hanya tersenyum tipis, dan mengalihkan pandangannya pada bunga di makam bundanya. Air matanya mencelos begitu saja.
"Siapa yang kesini?" Batin Medlyn. Medlyn pun duduk disamping gundukan tanah itu.
"Bunda, ini Medlyn... maaf setelah bertahun tahun baru kali ini Medlyn berani ke makam bunda" Medlyn menghentikan kalimatnya. Ia menunduk menahan agar tidak meneteskan air matanya di sini.
"Bunda, maafin Medlyn. Medlyn belom bisa ngungkap pelakunya sampai saat ini. Medlyn janji, Medlyn bakalan cari pelaku yang sebenarnya" Medlyn terdiam, begitu juga dengan Gavin. Hanya hembusan angin yang mengisi keheningan.
Medlyn terdiam menatap pusara sang bunda. Sampai dering ponselnya menghamburkan semua hayalan Medlyn. Dering pertama ia biarkan. Sampai dering ke lima.
"Angkat aja Med, siapa tau penting" ucap Gavin. Medlyn pun membuka tasnya dan mencari keberadaan ponselnya.
Papi is calling...
"Papi... Gav" Medlyn bingung. Tumben sekali ia ditelfon oleh papinya. Ia merasa senang karena papinya seolah peduli padanya.
"Angkat Med" Medlyn pun menekan tombol hijau disana, dan menspeaker panggilan.
"Medlyn, Siena Kecelakaan. Keadaannya sekarang kritis"
○---○
Tbc...
Part 12 ~7 Mei 2020