○---○
"Medlyn, Siena Kecelakaan. Keadaannya sekarang kritis"
○---○
Medlyn pov
Ucapan papi sukses ngebuat gue bener bener shyok.
"Papi ngga bercanda kan pi?" balas gue dengan sedikit bergetar. Gue ga siap buat denger jawaban papi. Air mata gue kembali menetes. Gue semakin terisak saat Gavin meluk gue.
"RS Persahabatan" ucapnya lalu memutus sambungan telfon. Hati gue teriris. Bahkan papi ga mau bicara sama gue lebih lama lagi? Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Mami kritis dan gue harus kesana!
"Gav, anterin gue kesana" Gavin mengangguk dan menarik tangan gue dengan sedikit berlari. Gue harus cepat sampai disana. Gue ngga mau kehilangan sosok ibu, untuk yang kedua kalinya.
○---○
Author pov
Medlyn telah sampai di rumah sakit. Ia langsung bertanya ke resepsionis, karena tidak diberitahu tentang alamat lengkapnya oleh Rangga.
Ia menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa gesa dan juga berurai air mata. Bagaimana pun juga, Siena telah merawatnya dengan baik selama ini.
Medlyn sampai di ruangan yang dimaksudkan oleh suster tadi. Jantungnya berdetak sangat cepat. Terlebih saat dokter keluar dari ruangan tersebut. Ia pun bergegas menghampiri sang dokter dengan tangan bergetar.
"Dokter! Mami baik baik aja kan? Mami udah siuman kan? Mami ga kenapa napa kan? Dokter?! Jawab !" Teriak Medlyn dengan begitu histeris sambil mencengkram lengan sang dokter kuat kuat. Gavin menariknya dan menenangkan Medlyn.
"Maaf nak, kami sudah melakukan operasi semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Beliau telah meninggal"
"NGGAK!! DOKTER PASTI BOHONG KAN?!! IYA KAN!! INI PRANK KAN DOK?!! DOKTER!!! INI PASTI PRANK!! MAMI NGGA MUNGKIN NINGGALIN MEDLYN" Medlyn meraung raung didepan ruang operasi. Gavin kewalahan menahan agar Medlyn tidak memukul sembarangan.
Namun usaha Gavin sia sia. Medlyn melepaskan tinjunya ke tembok sampai tangannya mengeluarkan darah. Sedangkan Rangga? Dimana laki laki itu sekarang?!
"Medlyn tenang Med" Ujar Gavin berusaha menenangkan Medlyn. Ia sungguh tidak tega melihat Medlyn seperti ini. Medlyn terdiam saat pintu ruang operasi dibuka dan beberapa suster mendorong bankar yang diatasnya berbaring seorang wanita dengan wajah tertutup.
Medlyn mendekati bankar tersebut dan membuka selimut yang menutupi wajah wanita itu. Tangisnya seketika pecah. Wajah Siena dipenuhi luka dan juga lebam. Lalu Medlyn pun memeluk erat tubuh tanpa nyawa itu.
"MAMI BANGUN!!! JANGAN TINGGALIN MEDLYN MI!!! BANGUNN!!!" Tangis Medlyn semakin menjadi saat tidak ada satupun jawaban dari Siena.
"Mi, kenapa begini? Kenapa secepat ini mi? Mami bahkan belom ngasih tau Medlyn soal 'rahasia itu'. Jangan tinggalin Medlyn mi. Medlyn ngga mau ditinggalin mami" ucapnya melemah. Begitupun dengan badannya yang hampir menyentuh lantai jika tidak segera ditahan Gavin.
Gavin memeluk Medlyn, menguatkan gadis itu sampai bankar kembali di dorong oleh suster. Medlyn menangis dalam pelukkan Gavin. Ia sangat terpukul dengan kematian Siena.
Medlyn mendorong Gavin, pandangannya menggelap menerka nerka dalang dibalik kecelakaan yang dialami Siena. Tangannya terkepal kuat, sambil merancang semua fakta fakta yang mungkin benar.
"Deon... gue abisin lo sekarang juga" gumam Medlyn dan langsung berlari ke arah luar rumah sakit.
"Medlyn! Tangan lo belom diobatin!" Teriak Gavin namun tak digubris oleh Medlyn. Mau tidak mau, Gavin pun ikut berlari mengerjar Medlyn.
"Med stop" Gavin menarik lengan Medlyn, hingga ia berhenti dan menatap Gavin nyalang. Matanya menyiratkan luka mendalam dan juga dendam yang masih abu abu. Gavin benci melihat hal itu.
"Lepasin gue" jawab Medlyn dingin.
"Gak. Lo lagi gak waras Med! Bahaya!"
"Gue gak peduli! Lepasin gue Gav!" Medlyn berteriak sambil meronta pada Gavin. Seketika pandangan orang orang disekitar terfokus pada mereka. Gavin pun langsung membekap mulut Medlyn dan membawanya ke parkiran rumah sakit agar tidak diperhatikan orang.
Sampai di parkiran Gavin melepaskan tangannya dan membuat Medlyn menatapnya.
"Med, tenang. Jangan gegabah kaya gini" ucapnya lembut. Bukannya tenang Medlyn justru menangis lebih kencang dan memeluk Gavin. Entah sudah berapakali mereka berpelukkan hari ini-_
"Gavin... dunia jahat! Mereka jahat sama gue! Mereka selalu nyiksa gue! Gue cape Gav! Gue cape! Gue ga kuat! Gue pengen mati!" Racaunya dalan pelukkan Gavin. Kata kata Medlyn sungguh mengiris livernya:v
"Medlyn, gaboleh ngomong gitu" Gavin melepas pelukanya dan menatap mata Medlyn dalam. Gavin mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Medlyn lama.
"Gue ngga suka liat lo sedih" ucapnya lalu menangkup wajah Medlyn, menghapus air matanya.
"Thanks Gav, selalu ada buat gue." Medlyn memegang tangan Gavin yang ada di wajahnya.
"Gue akan selalu ada buat lo. Gue janji"
"Karena gue cinta sama lo Med" lanjutnya dalam hati. Medlyn mengangguk.
"Anterin gue ke markas Gav. Please" pinta Medlyn pada Gavin.
"Tapi lo lagi kaya gini Med"
"Please Gav"
"Oke" putus Gavin. Mereka pun memasuki mobil Gavin dan menjalankan mobilnya ke markas BS.
○---○
At BS's basecamp
Keadaan di markas BS berjalan seperti biasanya. Beberapa orang nongkrong di halaman, ada yang menonton tv, berbincang, ada yang berlatih tinju dan ada juga yang sibuk memasak. Ya beberapa anggota BS memang tinggal disana.
Saat mobil Gavin memasuki halaman BS, mereka semua terlihat senang. Karena sebelumnya Gavin sudah pernah kesini, dan Gavin pun merupakan anggota BS pasif.
Namun keadaan berubah menjadi tegang saat Medlyn keluar dari mobil dengan sorot mata yang sudah menggelap. Mereka semua terdiam. Bahkan untuk bernafaspun mereka takut.
Medlyn menendang pintu markas dengan sangat kuat sampai pintu tersebut terbuka sempurna. Jonathan yang sudah mendapat kabar dari ayahnya pun tau, kenapa Queen of BS ini datang dengan amarah.
"Kinara, long time no see. How are-"
"Ga usah basa basi bang Jono! Lo tau apa yang gue mau!"
Skak
Usaha Jonathan untuk menetralkan suasana sia sia saja.
"Dimana laki laki itu." Tekan Medlyn dengan penuh amarah.
"Di- diruang bawah tanah" ucap Jonathan yang ikutan takut. (b**o banget sih ama Medlyn doang takut-_ eh ini bukan Medlyn! She's Kinara. Medlyn langsung berjalan menuju ruang bawah tanah dan diikuti oleh Gavin. Medlyn pun menyuruh Gavin untuk menunggunya diluar ruangan.
Medlyn mengedarkan pandangannya hingga ia melihat seorang pria yang duduk di pojok ruangan.
"Wow, sepertinya gue kedatangan tamu"
"This place, mine!"
"Ada apa lo kesini? Lo mau nyalahin gue atas kematian ibu tiri lo?"
"s**t" umpat Medlyn langsung mendekati Deon dan menghujam laki laki itu dengan tinjunya.
Bugh
Bugh
Bugh
Medlyn berhenti dan menatap laki laki itu. Wajahnya memerah penuh amarah, terlebih saat laki laki itu justru tersenyum kepadanya.
"Sebenci itu lo sama gue? Rasa benci lo itu buta! Tanpa bukti yang jelas!" Medlyn mencerna kata kata Deon. Memang benar, ia membenci laki laki itu tanpa bukti yang jelas. Medlyn hanya bungkam dan memilih mendengarkan Deon.
"Apa dengan nyakitin gue, lo bisa dapet buktinya? Apa dengan nyakitin gue lo bisa ngerasa lebih baik? Kalo iya silahkan lakuin lagi. Gue siap." Ucap Deon mantap.
"Lo udah bosen idup kayaknya" Medlyn meradang dan kembali menghujami laki laki itu dengan beberapa pukulan dan juga tendangan. Kalian dilarang membayangkan bagaimana keadaan Deon saat ini. Kondisinya benar benar buruk. ( gue aja ampe takut buat nulisnya)
Air mata Medlyn mencelos begitu saja. Ia terduduk dihadapan Deon yang sudah tertidur lemas. Ia bingung kenapa laki laki ini tidak melawannya. Padahal Deon memiliki banyak kesempatan. Seperti sekarang contohnya.
"Merasa... lebih baik?" Tanya Deon dengan sedikit kesusahan. Bibirnya robek karena tinjuan Medlyn. Ia pun berusaha bangun dan mengangkat wajah Medlyn.
"Kina, lo harus bisa nyadarin semuanya lebih cepat. Lo harus tau, mana yang bener dan mana yang salah" Medlyn menatap laki laki itu. Pria yang selalu ia klaim sebagai musuhnya itu tidak menampakkan sedikitpun kebohongan. Laki laki itu tulus bicara padanya.
"Gue ga ada sangkut paut sedikitpun atas semua rasa sakit yang udah lo alami" ujarnya tulus. Medlyn kembali meneliti wajah Deon, sialnya ia tidak menemukan setitik pun kebohongan disana. Tapi Medlyn tidak percaya begitu saja.
Medlyn berdiri dan menghapus air matanya.
"Kalo sampe lo terbukti ambil bagian dari kematian mami, gue pastiin lo bernasib lebih buruk dari ini" ucapnya dingin lalu berbalik hendak meninggalkan Deon sendirian.
"Kalo gue terbukti ga salah sama sekali apa yang gue dapet?" Tanya Deon, menghentikan langkah Medlyn.
"It's impossible dude. Jangan berhayal terlalu tinggi"
○---○
Tbc...
Part 13 ~8 Mei 2020