○---○
Hari mulai gelap, matahari pun sudah tenggelam dibalik pepohonan. Bulan telah menggantikan sang surya.
Seorang gadis menatap penuh harap kepadanya. Berharap semua ini hanyalah mimpi. Mimpi terburuknya.
Tapi harapannya justru terbang bersama angin. Kenyataan tetap pada tempatnya. Siena sudah tiada, karena kecelakaan itu.
Medlyn telah berusaha mencari semua bukti, mulai dari rekaman cctv disekitar tempat kejadian, saksi mata, sampai teori yang dibuatnya sendiri. Namun semua hal tersebut tidak memberikan hasil. Pelaku melakukan aksinya dengan sangat bersih. Medlyn tidak menemukan satupun bukti yang mengarah pada siapa pelaku nya.
Sudah 3 hari ini Medlyn tidak menginjakkan kakinya di EASH. Ia masih sangat terpukul. Dan 3 hari ini juga, Gavin ikut membolos menemani Medlyn.
Gavin menemani Medlyn bukan tanpa alasan. Ia tau gadis bar bar ini, bisa melakukan apa saja saat ia sedang kalap. Dan kebetulan juga, mama dan papa Gavin sudah berangkat ke luar negeri 2 hari yang lalu. Jadi kelakuan Gavin tidak diketahui oleh orang tuanya. Walaupun saat penerimaan rapot, mereka akan terkejut dengan isi absen, banyaknya Gavin alfa.
Kehadiran Gavin cukup membantu buat Medlyn. Setidaknya seperti sekarang, Gavin menjadi hiburan untuk Medlyn.
Laki laki itu sudah 3 kali memecahkan telur ayam, dan 2 kali membuat gosong. Jadi sudah 5 telur terbuang sia sia. Medlyn hanya menanggapinya dengan tawa. Ia tau kalau memasak, bukanlah bidang keahlian seorang Gavian Vicenzo Lonata.
"Gav kayanya semakin lama lo di dapur gue, gue bisa bangkrut deh" sindir Medlyn sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Dapurnya sudah tidak berbentuk lagi.
"Tenang aja, nanti gue ganti uangnya pake jatah bulanan gue"
"Sedih gue dengernya Gav. Ahahaha"
"Sans Nyonya Lonata udah ngasih serep-" belum selesai Gavin berucap, tiba tiba ponselnya berbunyi. Ia kebingungan mencari ponselnya. Medlyn pun ikut membantu.
"Dimana sih hp gue" ujar Gavin yang masih mencari cari ponselnya.
"Astaga, ini hp lo. Candle?" Ucap Medlyn sambil memberikan ponsel ke Gavin. Gavin pun mengangkat panggilan tersebut.
"Apa?"
"Gavin, lo dimana. "
"Apartemen Medlyn."
"Mm, lo bisa kesini ngga? Temenin gue. Mama sama papa gue pergi. Gue takut"
"Gak" putusnya lalu mematikan ponselnya.
"Gue perhatiin belakangan ini lo lagi deket ya sama Candle? Cie cie cie" goda Medlyn pada Gavin.
"Gara gara lo! Coba kalo lo ga pake hp gue buat tau masalah dia. Dia gabakal kea gini kali ke gue"
"Tapi Gav, dia cuma mau curhat ke lo. Jadi mau ga mau deh gue pake hp lo"
"Dah lah mending lo bantuin gue masak" ucap Gavin mengalihkan pembicaraan.
"Ututututu babu gue akhirnya jatuh cinta juga. Hahaha"
"Gue udah jatuh cinta dari dulu Med. Sama lo" batin Gavin.
"Bacot lo"
"Tapi Gav, mendingan lo samperin Candle deh. Kasian dia sendirian."
"Dan ninggalin majikan gue gitu aja? Ga ah"
"Gapapa kok Gav. Gue baik baik aja."
"Gak"
"Gav gue takut dia kambuh terus nyayat tangannya lagi."
"Tap-"
"Ini perintah Gavin" ucap Medlyn tegas.
"Oke. Nanti tapi"
"Makasihh Gavin" Ucap Medlyn senang, lalu berhambur ke pelukkan Gavin.
"All for you" ucap Gavin sambil membalas pelukkan Medlyn
○---○
Gavin pov's
Setelah gue makan siang bareng Medlyn, gue diusir sama dia buat nemenin sahabatnya itu. Sebenernya gue tuh males banget buat ketemu sama si Candle. Tapi mau gimana lagi, Medlyn yang maksa gue. Gue ga bisa nolak dong.
Dan sekarang gue udah di depan rumah Candle. Gue pun ngetuk pintunya, berharap dia yang buka. Terus gue bilang kalo gue sibuk dan langsung pulang.
Tok
Tok
Tok
Lama gue nunggu, akhirnya pintunya pun dibuka. Gue kaget dong waktu dibuka pintunya, yang keluar itu mamanya Candle.
"Sore tante" sapa gue.
"Sore, cari Candle ya Gav?" Jawabnya.
"Iya tante, Candle nya ada tan?"
"Ada. Ayo masuk dulu, tante panggilin" ajaknya dan gue pun ngikutin masuk ke dalem. Gue bener bener kesel. Bisa bisanya tuh anak bohongin gue.
Gak lama gue nunggu akhirnya tuh bocah nongol juga.
"Maksud lo apa?" Ucap gue tanpa basa basi.
"Mak- ap- kenapa Gav?" Dia gugup.
"Lo bilang lo sendirian. Tapi orang tua lo ada kok. Tega ya lo bohongin gue. Lo itu sahabatnya Medlyn Can! Lo harusnya mikirin keadaan Medlyn! Dia baru aja kehilangan maminya!"
"Kenapa lo malah bahas si Medlyn sih Gav! Dia juga baik baik aja kok!"
"Baik kata lo? Lo itu ga tau apa apa soal Medlyn! Lo egois Can!" Dia nunduk. Apa lagi ini?!
"Sorry Gav," dia minta maaf?
"Gue balik" gue pun langsung keluar dari rumahnya. Gue bener bener kesel sama dia.
○---○
Author pov's
Medlyn memacu mobilnya dengan kecepatan penuh saat mendapat kabar bahwa seorang anggota BS tengah di keroyok oleh anak Angkasa. Kebetulan lokasinya cukup dekat dengan aprtemen Medlyn.
Emosinya bagai naik ke ubun ubun. Ia benar benar kesal. Setelah Deon di tahan olehnya, mereka masih mencari masalah dengannya?
Medlyn menarik rem tangannya ketika ia sudah sampai di tempat yang dikirimkan oleh anak BS. Ia pun langsung memakai masker dan juga kaca matanya.
Dibalik masker tersebut Medlyn menampilkan smirknya.
"Let's play guys!" Ucapnya pada diri sendiri lalu keluar dari mobilnya.
Kedatangan Medlyn membuat beberapa anak Angkasa menghentikan aksinya. Termasuk Afkar. Tapi yang Medlyn sesali, Iyan juga berada disana.
"Akhirnya emak kalian pada dateng" ucap Afkar yang sudah sedikit bonyok.
"Apa mau lo" jawab Medlyn dingin dengan suara yang sedikit diubahnya. Takut, Iyan akan mengenalinya.
"Bebasin kakak gue"
"Not easy that dude" Medlyn lalu menonjok Afkar. Baku hantam pun tidak terelakkan. Sejauh ini Medlyn masih menang tanpa luka sedikitpun.
Jumlah anak Angkasa 3 kali lipat lebih banyak dari anak BS, tapi Medlyn masih mampu menanganinya. Toh juga sebentar lagi Jonathan akan datang dengan anak BS yang lainnya.
Tapi fokus Medlyn terpecah saat ia melihat Iyan tumbang. Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh lawannya. Afkar langsung memberikan tinju ke wajah Medlyn. Medlyn yang sedang fokus pada Iyan pun seketika tumbang di berikan tonjokan.
Baru ia hendak bangkit, teriakan datang dari arah belakangnya.
"b*****t LO APA IN KINARA ANJING!!" teriak Jonathan dan langsung menghajar Afkar. Baku hantam kembali terjadi. Kini jumlah mereka seimbang. Namun kekuatan anak Angkasa sudah melemah karena sudah lebih dulu menghadapi beberapa anak BS.
Mereka menyudahi acara tawuran ini, sesaat setelah mendengar bunyi sirine mobil polisi. Mereka sentak berhamburan agar tidak tertangkap polisi.
Medlyn pun mengisyaratkan agar beberapa anggotanya mengikutinya. Dan yang lain kembali ke markas.
Seketika apartemen Medlyn penuh dengan anak BS yang sudah babak belur. Termasuk Jonathan.
"Kina, lo ada P3K ngga?" Tanya Jonathan.
"Gue beli dulu" ucap Medlyn dan keluar dari apartemennya. Sebenarnya kepalanya cukup pusing, tapi ia harus melakukannya. Bagaimana pun ia harus menjaga anggotanya.
Medlyn tidak membawa mobil. Ia hanya berjalan kaki saja. Tentunya setelah membuang jeans, hoodie, kaca mata dan maskernya. Agar tidak di curigai. Tapi, lebam diwajahnya ia tutupi dengan rambutnya yang digerai.
Setelah membeli P3K di apotek Medlyn kembali berjalan menuju apartemennya. Saat di perjalanan tiba tiba kepalanya pusing. Ia hampir saja tumbang, jika saja tidak ditahan oleh seseorang.
Medlyn menatap orang tersebut. Ia merasa tidak asing dengannya.
"Lo ga papa?" Tanya orang tersebut.
"Gak" jawab Medlyn.
"Lo tinggal dimana?" Tanya orang itu lagi.
"Bukan urusan lo" putus Medlyn lalu meninggalkan orang itu, karena ia menangkap mata orang itu yang memperhatikan lebam di pelipis kanannya.
Medlyn berjalan dengan berat sampai di depan lift. Ia merasa jika orang tadi masih mengikutinya.
"Ga. Usah. Ngikutin. Gue. Lo pasti orang suruhan papi kan?!" Bentak Medlyn di hadapan orang tadi. Mereka sentak menjadi perhatian orang orang di lobi apartemennya.
"Gue tinggal disini kalo lo mau tau" orang tersebut tersenyum dan langsung mendahului Medlyn yang masih mematung didepan lift.
Ia merasa malu telah salah sangka seperti itu. Ia pun berbalik dan masuk ke lift. Satu lift dengan orang tadi.
Medlyn hanya diam sambil menahan rasa sakit di kepalanya, begitu pun dengan orang itu.
Lift berdenting. Pertanda jika mereka sudah sampai di lantai tujuan mereka. Mereka bedua satu lantai? Kenapa Medlyn baru menyadarinya?
Medlyn pun membiarkan orang itu keluar lebih dahulu, namun saat Medlyn hendak berjalan tubuhnya terhuyung kembali dan hampir jatuh.
Untuk yang kedua kalinya orang itu menolong Medlyn.
"Dimana kamar lo, gue anterin" tawar orang itu. Medlyn menggeleng dan melepaskan tangan orang itu.
"Ga perlu" tolak Medlyn.
"Tapi luka lo-"
"Silahkan lo duluan" dengan ragu orang itupun berjalan duluan hingga menghilang di balik pintu nomor 378. Sangat dekat dengan kamar apartemennya. 378 dan 377 kamar Medlyn.
Medlyn lalu memasuki kamar apartemennya dan terkejut. Bagaimana tidak, aprtemennya benar benar berantakan?!
"Sialan lo bang!" Umpat Medlyn sambil duduk di samping Jonathan.
"Ya lo kaya ngga tau anak anak aja Kin" bela Jonathan.
"Tapi ga pake berantakin aprtemen gue juga kali" sahut Medlyn santai.
"Hehehe kali kali lah"
"Kina, apartemen lo bagus banget dah. Betah gue disini lama lama. Mana kulkas lo penuh bat sama makanan" ucap Bima.
"Serah lo. Nih gue dah beli P3K. Lo pada obatin dulu lukanya. Nanti lanjut lagi berantakin apartemen gue." Ucap Medlyn sambil menunjuk kantung kresek berisi P3K yang telah dibelinya tadi.
"Kina, obatin" rengek Jonathan.
"Manja" sinis Medlyn namun tetap mengobati Jonathan.
Malam itu pun apartmen Medlyn diisi oleh 8 anak BS. Ditambah lagi 3. Ya, Ana, Tika, dan juga Reni datang untuk membantu Medlyn. Mereka memang selalu begitu. Solid dan saling membantu.
○---○
Tbc...
Part 14 ~10 Mei 2020