○---○
Medlyn terbangun saat perdebatan sengit menyeruak ke telinganya. Ia melihat ke kiri dan kanannya. Kasurnya kosong. Kemana Ana, Tika dan Reni pergi?
Suara perdebatan yang memekaka telinga itu pun kembali terdengar oleh Medlyn.
"Demi Tuhan! Ini bahkan masih jam 5 pagi! Persetan dengan pembuat keributan itu!" Umpat Medlyn seraya turun dari kasurnya. Kepalanya sedikit pusing karena lukanya semalam, tapi ia tetap memaksakan diri untuk mencari asal keributan itu.
"Heh sotau lo!"
"Sotau apa?! Kinara itu suka nya sarapan nasi goreng"
"Nemu teori dari mana lo septitank! Kinara sukanya sarapan ayam goreng!"
"Gue ini udah kenal lama sama dia, dia tuh pasti lebih suka sarapan pake sup ayam!"
"Nasi goreng!"
"Ayam goreng!"
"Sup ayam!"
"Gue sarapan roti! lo pada kea ayam aja sih njir pagi pagi ribut!" Hentakan Medlyn membuat mereka terdiam.
"So-sorry"
"Gausah gugup gitu kali bang elah"
"Sorry ya Kin, gue jadi bangunin elo"
"Udah udah, lo pada mau makan apa langsung buat aja ndiri ndiri ya. Abis itu langsung balik biar ga ada yang curiga!"
"Okay my Queen" sahut mereka.
"Oke lah, gue mau siap siap ke sekolah. 1 lagi, jangan lupa diberesin" ucap Medlyn dan di acungi jempol oleh mereka. Medlyn pun berjalan ke arah kamarnya dan segera mempersiapkan dirinya ke sekolah.
"Kina kasian ya, kenapa dia harus jalanin hari hari seberat ini."
"Bim, lo baru gabung 2 tahun disini. Dan gue? Gue udah 10 tahun lebih kenal sama dia. Gue bisa ngerasain sedihnya jadi dia"
"Jonathan bener, gue emang baru kenal sama Kina. Tapi Kina tuh baik banget"
"Iya Ren, dia emang baik"
○---○
Medlyn menatap gerbang EASH. Ia sudah harus sekolah. Sudah cukup 3 hari yang lalu ia mendekam di apartemennya. Ia lalu melajukan mobilnya agar memasuki lapangan parkir dari EASH.
Setelah memarkirkan mobilnya, Medlyn pun berjalan masuk ke arah kelasnya. XI IPA 1.
Ia berjalan senormal mungkin, tak bisa ia pungkiri jika beberapa siswa memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Medlyn tau apa yang ada dikepala mereka. Mereka pasti merasa kasihan dengan Medlyn. Cih Medlyn tidak membutuhkan belas kasihan mereka.
Medlyn pun memasuki kelasnya dan disambut oleh Aca dan Stella.
"MEDLYNNN SAYAANGG GUE KANGENNN SAMAA LO" teriak Aca menggema di seluruh kelas.
"Aca, jangan teriakk" sinis Medlyn sambil melepaskan pelukkan Aca.
"Med, gue turut-"
"Stop Stel, ga usah dibahas oke" ucap Medlyn dan diangguki oleh Stella dan juga Aca.
"Emm, buk Suyatmi ga masuk kelas hari ini." Ucap Medlyn dengan disertai kerlingan nakal dan dibalas juga dengan Aca. Sedangkan Stella, hanya menggelengkan kepalanya. Kelakuan sahabatnya ini benar benar gila.
"Let's party guys" teriak Medlyn.
"Yuhu!!"
"Mantapp gengss!!"
"Tarik mangg!!"
"Woi buka club aja disini!"
"Iya njir dugem yok!"
Sorak sorai bersahut sahutan memenuhi kelas XI IPA 1. Baru saja Medlyn ingin menyiapkan alat alat untuk melancarkan aksi "club dadakan" dikelasnya, tiba tiba seorang anak kelasnya berlari dan berteriak.
"WOI GAIS DARLING!!!" Teriak Reza. Sentak seisi kelas berhamburan duduk dibangku mereka masing masing. Begitu juga dengan Medlyn, Aca dan Stella. Darling merupakan singkatan dari Darma keliling. Pak Darma adalah kepala sekolah EASH.
Seisi kelas berpura pura membaca buku. Ketegangan berlanjut saat pintu kelas mereka dibuka dan menampakkan sosok pak Darma.
"Kamu, masuk" suruhnya hingga menampakkan seorang laki laki. Medlyn memandang laki laki itu datar. Ia tau, laki laki itu adalah tetangga apartemennya. Medlyn pun menutupi rasa terkejutnya.
"Perkenalkan dirimu, pada teman teman barumu" pinta pak Darma.
"Hai, perkenalkan nama saya Rendy Dekano Putra. Saya pindahan dari ISH Jakarta" ucapnya.
"Ada pertanyaan?" Tanya pak Darma.
"Tidak pak" sahut seisi kelas.
"Yasudah, kalian lanjut belajarnya. Jam pelajaran siapa sekarang?"
"Buk Suyatmi pak" jawab Karend.
"Wah, buk Suyatmi sedang izin. Ya sudah, Medlyn kamu antar nak Rendy ini untuk keliling sekolah ya. Bapak tidak menerima penolakan." Ucapnya lalu meninggalkan mereka begitu saja. Medlyn hanya menatap pak Darma dengan datar. Tanpa meng iya kan dan juga menolak.
Ia pun berjalan kedepan kelasnya. Seperti ingin menghampiri si anak baru, tapi melewatinya. Medlyn menuju meja guru. Ia mengeluarkan speaker yang tadi ia taruh di dalam laci meja guru. Ia pun menyalakan speakernya dan mencari lagu yang akan ia putar keras keras. Toh juga kelasnya kedap suara.
"Lo mau ngapain?" Tanya Rendy.
"Bukan urusan lo" jawab Medlyn dingin.
"Tapi lo disuruh buat nganterin gue"
"Who cares dude?!" Sinis Medlyn pada Rendy.
"Guys, need some request??" Tanya Medlyn pada teman temannya.
"Kartoyono Med!"
"Kartoyono Medot Janji! Woah mantep itu"
"Good choice. Oke, LET'S PARTY GUYS" Medlyn lalu menyalakan speakernya. Lalu mengalun lah musik yang menjadi musik khas anak XI IPA 1 itu.
Kartoyono Medot Janji ?
Kok kebangeten men
Sambat blas ra ono perhatian
Jelas 'ku butuh atimu, 'ku butuh awakmu
Kok kebangeten men
Loro ati iki
Tak mbarno karo tak nggo latihan
Sok nek wes oleh gantimu, wes ra kajok aku
Mergo wes tau, wes tau jeru
Mbiyen aku jek betah, suwe-suwe wegah
Nuruti kekarepanmu sansoyo bubrah
Mbiyen wes tak wanti-wanti, ojo ngasi lali
Tapi kenyataannya pergi
Kartonyono ning Ngawi medot janjimu
Ambruk cagakku nuruti angan-anganmu
Sak kabehane wes tak turuti tapi malah mblenjani
Budalo malah tak duduhi dalane
Metu kono, belok kiri, lurus wae
Ra sah nyawang sepionmu sing marai ati tambah mbebani
Mbiyen aku jek betah, suwe-suwe wegah
Nuruti kekarepanmu sansoyo bubrah
Mbiyen wes tak wanti-wanti, ojo sampek lali
Tapi kenyataannya pergi
"Asekkk goyanggg guys"
"Tarikk mangg"
"Gedein Med!!"
"Siapp"
Kartonyono ning Ngawi medot janjimu
Ambruk cagakku nuruti angan-anganmu
Sak kabehane wes tak turuti tapi malah mblenjani
Budalo malah tak duduhi dalane
Metu kono, belok kiri, lurus wae
Ra sah nyawang sepionmu sing marai ati tambah mbebani
"Hok a hok e"
"Yakyakayak"
"Huhuuhuhuu mantapp guys!!"
Sorak sorai anak XI IPA 1. Mereka semua berjoget ria dengan Medlyn dan Aca sebagai koor. Medlyn dan Aca seketika menjadi biduan didepan kelas dengan jogetan mereka ala ala dugem di club. Tapi tidak semua turun di lantai dan berjoget. Ada beberapa yang duduk dikursi mereka sambil ikut bernyanyi, ada juga yang mojok seperti Stella dan Karend. Ya mereka sudah baikan.
Namun, Rendy hanya menatap Medlyn. Gadis ini begitu semangat saat berjoget di depan kelasnya. Tapi kenapa ia sangat dingin saat dengan Rendy?
Rendy lalu kembali teringat dengan lebam di wajah Medlyn. Nampaknya gadis itu menutupinya dengan bedak dan juga rambut yang diurainya.
Acara joget mereka berlangsung sampai kurang lebih 1 jam. Club dadakan itu berhenti saat sang koor sudah kelelahan. Medlyn terduduk di bangkunya dengan wajah puas dan juga ngos ngosan. Untung saja ruang kelas ini disertai AC.
Medlyn menundukkan wajahnya. Ia sangat lelah, tapi juga risih saat Rendy selalu memperhatikannya sedari awal laki laki itu memasuki kelasnya.
Ketukan di meja Medlyn, membuat si empunya terbangun dengan malas. Ia melihat wajah Rendy. Ia merasa tenang saat menatap mata itu, tapi ia merasakan hal lain juga. Jantungnya berdebar saat ditatap seperti itu.
"Anterin gue keliling sekolah" pinta Rendy.
"Lo kan bisa minta tolong sama yang lain"
"Gue cuma kenal sama lo"
"Ck" desis Medlyn, namun ia tetap bangkit dan berjalan keluar dari kelasnya dan diikuti oleh Rendy.
Medlyn hanya diam saja. Tidak menerangkan satupun ruangan disini. Ia hanya berjalan ke arah kantin. Rendy berhenti.
"Kantin"
"Dari sekian banyaknya ruangan, lo cuma nunjukin kantin ke gue?"
○---○
Tbc...
Part 15 ~11 Mei 2020