16 | Kantin dan HN

1433 Words
○---○ "Kantin" ucap Medlyn singkat. "Dari sekian banyaknya ruangan, lo cuma nunjukin kantin ke gue?" Tanya Rendy. ○---○ "Menurut lo?" Ucapnya tanpa sedikit pun melirik Rendy. "Ck." "Lo tuh ya, masih untung mau gue anterin! Dah sono pergi. Terserah lo mau ke mana." Ucap Medlyn lalu berjalan ke kios om Marly. "Kalo gue kesasar, lo mau tanggung jawab?" Tanya Rendy, masih dengan mengikutinya dan duduk disamping Medlyn. "Om mie ayam satu sama es teh satu ya om!" Teriak Medlyn tanpa menjawab pertanyaan Rendy. "lo tuh tuli apa gimana sih" sungut Rendy dengan kesal. "..." Medlyn masih diam. Sampai akhirnya Rendy meraih wajah Medlyn. Pemandangan pertama yang ia lihat, adalah air mata. Gadis ini menangis? Medlyn melotot saat Rendy menangkap basah dirinya sedang menangis. Medlyn lalu menghempaskan kasar tangan Rendy, mengalihkan wajahnya dan menghapus air matanya. "Sorry," lirih Rendy. "..." "Lo kayanya lagi sedih. Kalo lo mau, lo bisa kok cerita ke gue tentang masalah lo" tawar Rendy. "Never" desis Medlyn. Suasana diantara mereka sedikit canggung, sampai akhirnya Om Marly datang membawakan mie ayam milik Medlyn. "Pak, saya mau mie ayam juga ya pak" ucap Rendy "Minumnya?" "Es teh aja pak" "Oke" Om Marly pun meninggalkan mereka berdua. Kantin masih sepi, karena belum waktunya istirahat. Saat Medlyn menuangkan sambal di mangkuknya, Rendy mencekal tangannya. Medlyn melotot. "Lepasin.tangan.gue" desis Medlyn dengan penuh penekanan. "Lo mau bunuh diri?" "Apaan sih lo! Gue cuma nambahin sambel dikit doang!" Eyel Medlyn. "Sedikit? Sambel itu bisa bikin lo sakit perut" "Bukan urusan lo!" Medlyn menarik lengannya sampai hendak terhuyung kebelakang, jika saja tidak di tahan oleh Rendy. Wajah mereka hanya tersisa beberapa cm saja. Hembusan nafas Rendy menyapu wajah Medlyn. Medlyn meremang. Menatap dalam mata Rendy. Entah mengapa, menatap mata itu dapat membuatnya tenang dan merasa aman. "Eghem" deheman seseorang membuat lamunan keduanya buyar. "Dicariin ampe keujung dunia, nyatanya ni anak mojok disini" sinis Aca dengan sangat hiperbola. "All of you Ca" jawab Medlyn malas, lalu memakan mie ayamnya. "Le, ini mie ayam sama es teh mu." "Eh iya pak, terimakasih" "Iya le" "Om, aku sama Aca pesen juga Om. Kaya biasa" ucap Stella pada Om Marly. "Kita juga om" ucap Iren saat sudah sampai di meja mereka. "Widih, anak IPS dah istirahat?" Tanya Medlyn. "Udah dong ce, eh ini siapa nih?" Tanya Risa. "Baru lagi ce? Jangan lagi deh ce, mam-" "Shut up Iren!" Bentak Medlyn. Yang dibentak pun langsung terdiam. Sedangkan Rendy menatap Medlyn bingung. "Mak-" "Ga usah kepoin hidup gue!" Sarkas Medlyn saat Rendy ingin mengetahui tentang Medlyn lebih lanjut. "Lo bisa pergi dari sini, kalo lo keberatan" ucapnya tanpa menatap Rendy. "Sorry" ucap Rendy tanpa mendapat balasan dari Medlyn. Aca berdehem, agar situasi tidak terlalu canggung. Untungnya Gavin menghampiri mereka bersama Idwar. "Hai Med, udah baikan?" ucap Gavin langsung duduk disamping Medlyn. Medlyn pun membalasnya dengan senyuman. Kini Medlyn duduk diantara Gavin dan Rendy. "Em, ini siapa Med?" Tanya Gavin. Bukannya menjawab Medlyn justru kembali memakan mie ayamnya. "Kenalin, gue Rendy." Ujarnya sambil mengulurkan tangan dibelakang Medlyn dan di sambut baik oleh Gavin. "Gue Gavin" Suasana mencair ketika om Marly datang membawa makanan pesanan mereka. "Ada hn ga nih?" Tanya Aca penasaran. "Gue ada!" Teriak Iren dengan semangat. "What?" Tanya Stella. "Geng BS terbongkar" ucap Iren. "Ughuk ughuk" Medlyn tersedat. Melihat itu, Gavin memberikan minum kepada Medlyn namun di dahului oleh Rendy. Medlyn pun mengambil minum yang diberikan Rendy. Namanya juga orang keselek ga mikir lagi dah sapa yang ngasih minum. "Med, Lo ga papa?" Tanya Aca. "Gapapa, ini mie nya pedes" ucap Medlyn bohong. "Kan tadi udah gue bilang, jangan banyak banyak naro sambel. Lo kan ga tahan pedes" kalimat Rendy membuat mereka yang duduk disana terkejut. Termasuk Medlyn. "So tau lo maemunah" sinis Stella. "Lanjutin hn nya." Pinta Medlyn. Ia ingin tau, seberapa banyak berita tentang BS yang tersebar. "Oke. Jadi tawuran yang dulu itu, anak Angkasa sama BS juga. Tapi Waktu itu ga ada yang nangkep foto anak BS. Cuma anak Angkasa aja yang masuk berita. Tapi kali ini, BS juga masuk berita. Bahkan sempet jadi trending di twitter." Jelas Iren. "Tapi kok gue ga liat ya?" Tanya Aca. "Beritanya udah diapus sebelum jam 2 pagi. Tapi gue udah sempet screen shoot" jawab Iren dengan bangga. Pasalnya baru kali ini berita tentang BS bocor. "Manaa coba liat" pinta Stella. Iren pun mengeluarkan ponselnya dan memberikan SS berita itu kepada Stella. "Astaga iyaa bener. Gila ngeri banget sih" ucap Stella dan diangguki Aca. "Lo mau liat Med?" Tanya Aca. "Gak. Terus apa lagi yang lo tau tentang BS Ren?" Tanya Medlyn. "Nah ini yang ga sempet gue SS. Nama ketua dari BS. Ketua nya itu tertutup banget tau ga sih! Kalo ga salah namanya itu, Kinara. Ya! Kinara namanya!" Jawab Iren menggebu gebu. Jantung Medlyn berdetak tidak karuan. Sentak ia memandang Gavin, bagai bertelepati, Medlyn pun merasa sedikit tenang. "Gue takut banget sama Kinara. Dia brutal. Anak Angkasa aja sampe babak belur gara gara dia" Candle angkat bicara. "Lo takut sama Kinara, tapi lo malah berusaha ngusik Kinara? Cih" ucap Medlyn dalam hati. "Iya. Dia brutal banget. Lo tau Afkar kan? Anak Angkasa. Dia aja sampe masuk rumah sakit guys!" Ucap Iren. "Jahat banget sih Kinara Kinara itu" Celetuk Stella. Mereka benar benar tidak tau, siapa yang sedang mereka hakimi itu. "Kinara itu emang jahat. Dia ga pantes buat idup. Dia bahkan udah jadi penyebab kematian ibunya sendiri, diumur 6 tahun" ucap Medlyn dengan pandangan kosong. "Harusnya dia bunuh diri aja" sambungnya. Rahang Gavin mengeras. Ia sangat emosi dengan perkataan Medlyn. "Lo tau dari mana Med?" Tanya Idwar yang sedari tadi hanya diam menyimak. "Lo lupa kalo gue lagi deketin anak Angkasa. Dia bahkan ikut tawuran itu semalem" jawab Medlyn tenang. Ya bibirnya dapat mengatakan hal itu dengan tenang. Tapi hatinya bergetar, tak kuasa menahan segala rasa sakit ini. Idwar mengangguk paham. "Terus lo dapet info apalagi soal Kinara itu ce?" Tanya Risa. Medlyn menggeleng. "Gue duluan ya, tadi disuruh pak Darma buat keruangannya." Ucap Medlyn seraya berdiri. Diikuti oleh Rendy yang juga ingin ikut bersamanya. "Gue ikut" Medlyn mengangguk dan langsung meninggalkan teman temannya. "duluan" sambung Rendy dan mengekori Medlyn. "Gav, posisi lo terancam noh" sungut Idwar. "Lo belom pernah keseleq sepatu kayanya" "Santai boss" "Em, Gav. Nanti jadi kan kerja kelompoknya?" Tanya Candle. "Ini bukan meja diskusi" ucapnya sambil berdiri dan pergi dari kantin. "Gav tunggu!" Teriak Idwar sambil berlari menghampiri Gavin. "Gue mau beli roti bentar ya" ucap Candle dan diangguki mereka. "Ris, Ren, gue sama Stella duluan ya." Ucap Aca. "Oke deh. Bye Ca, Stel" ○---○ "Kenapa lo bohongin sahabat lo sendiri?" Tanya Rendy. Medlyn menghentikan langkahnya. Apa ia tau kalau Medlyn adalah Kinara. "Maksud lo?" Tanya Medlyn balik. "Lo kan ga dipanggil sama pak Darma" Medlyn menghembuskan nafas lega. Ia tersenyum. "Bukan urusan lo!" Sinis Medlyn dengan wajah datarnya, lalu kembali berjalan. "Yayaya, selalu aja. Bukan urusan lo. Bukan urusan lo, nyenyeneye" ucap Rendy mengikuti gaya bicara Medlyn. Medlyn sebenarnya ingin tertawa, tapi diurungkannya. Ia tidak mau laki laki ini merasa dekat dengan dirinya. "Kalo mau ketawa ketawa aja kali neng" ucap Rendy. "Lo ngomong sama gue?" Tanya Medly. "Apa lo liat orang lain disini?" Medlyn menggeleng. "Terus?" Sambung Rendy. "Entah" jawab Medlyn acuh. Ia pun berjalan mendahului Rendy. "Hei, Med! Lo mau kemana" teriak Rendy. "Rooftop" jawab Medlyn sedikit berteriak. "Gue ikut boleh nggak?" Teriak Rendy. Medlyn berhenti dan berbalik menghadap Rendy. "Bukannya dari tadi lo emang ngikutin gue ya?" Tanya Medlyn bingung. Rendy pun tersenyum dan menarik tangan Medlyn untuk berlari. "Rendy!! Jangann ditarikk." Teriak Medlyn namun tak dihiraukan oleh Rendy. "Rendy!! Emang lo tau tempatnya?!" Rendy berhenti. Medlyn ngos ngosan. "Iya juga ya" jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "b**o! Ikutin gue" pinta Medlyn dan diikuti Rendy. "Secret place?" Tanya Rendy setelah melihat Medlyn menggeser sebuah lemari dan menemukan sebuah pintu. Tenaga gadis ini tidak bisa diremehkan begitu saja. "Yup!" Jawab Medlyn singkat, lalu mendaratkan bokongnya di sebuah kursi yang langsung memberikan pemandangan daerah Jakarta Selatan. "Bagus kan" ucap Medlyn dan diangguki oleh Rendy. "Siapa aja yang tau tempat ini?" Tanya Rendy sambil duduk disamping Medlyn. "Cuma gue" jawabnya singkat. Rendy terkejut. "Sama gue dong sekarang" ucapnya dan dibalah deheman oleh Medlyn. "Ren, tatap mata gue" pinta Medlyn. "Lo mau hipnotis gue?" Tanya Rendy dengan terkekeh. "Ga ada untungnya" Medlyn menarik bahu Rendy dan mengarahkan wajahnya agar menatap Medlyn. Rendy pun hanya pasrah. Medlyn menatap mata Rendy dalam. Rendy tetap diam. Nafasnya teratur. Ia bahkan tersenyum! Justru Medlyn yang merasa deg deg an. Tatap tatapan itu tidak berlangsung lama. Medlyn mengalihkan wajahnya dan menatap langit Jakarta. "Lo bukan dia" ○---○ Tbc... Part 16 ~12 Mei 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD