○---○
"Lo bukan dia"
○---○
"Lo bilang sesuatu?" Ah, Rendy tidak mendengarnya.
"Nothing" jawab Medlyn.
"Gue kira lo bakal jawab 'bukan urusan lo' lagi" Rendy terkekeh, dan Medlyn pun juga.
"Lo ketawa?" Tanya Rendy.
"Menurut lo?"
"Akhirnya lo ketawa juga deket gue. Dari semalem lo ketus mulu sama gue"
"Gue ga seburuk itu ya!" Bela Medlyn sambil menepuk bahu Rendy pelan. Sungguh memainkan peran. Tadi ia sama sekali tidak membela Kinara. Dan sekarang ia membela Medlyn.
○---○
Medlyn baru menapaki kakinya di kamar apartemennya 10 menit yang lalu. Hanya sepuluh menit ia di dalam apartemennya dan langsung keluar lagi mengenakan dress pendek selutut berwarna peach. Sangat kontras dengab kulit putihnya. Ia terlihat sangat manis dengan rambut di urai dan beberapa helai rambut di dahinya. Make up natural semakin membuatnya terlihat begitu mempesona.
Saat ia menutu pintu apartemennya ia mendengar siulan dari samping. Ia pun menengok.
"Are you want to go?" Tanya Rendy masih dengan seragam EASH yang melekat ditubuhnya.
"Lo lagi nguntit gue Ren?" Tanya Medlyn balik.
"Gue tetangga lo, kalo lo lupa" Medlyn memutar bola matanya malas.
"Gue mau nge-DATE" jawabnya dengan menekankan kata 'date' Rendy mengangguk.
"Gue ikut dong" pinta Rendy yang langsung disambut pelototan dari Medlyn.
"Gak! Mana ada date yang isinya 2 cowo 1 cewe!" Jawab Medlyn tidak terima.
"Ayolah, gue bosen banget sendirian di apart." Rengek Rendy.
"Gausah sok imut!" Sarkas Medlyn.
"Please.." ucap Rendy memohon. Medlyn menghembuskan nafasnya.
"Sana ganti baju!" Putusnya.
"Sip tunggu bentar!" Rendy masuk ke apartemennya dan mengganti pakaiannya. Entah mengapa, Medlyn jadi tidak tega an dengan Rendy.
Tak lama kemudian, Rendy keluar dengan pakaian yang lebih santai. Dan kesannya kelewat santai. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos hitam?
"Lo mau ikut gue apa jadi bodyguard gue?!" Tanya Medlyn terheran heran.
"Emangnya kenapa?"
"Lo yakin? Gue make dress and lo cuma make kaos?! Seriously??"
"Udah santai, gue tetep ganteng kok. Yuk kita caw" putus Rendy yang langsung menarik lengan Medlyn. Seneng banget sih narik narik Medlyn!
Medlyn pun hanya diam diberlakukan seperti itu.
Rendy membawa Medlyn ke basement apartemen, ke arah mobilnya tepatnya.
Medlyn sempat kaget saat melihat mobil Rendy. Buggati Veyron Vitesse Le Dlamant Noir! Jenis mobil ini benar benar limited edision.
Bmw nya saja tidak ada apa apanya. Medlyn bisa juga sih membeli mobil seperti ini, tapi ia tidak terlalu tertarik dengan mobil mewah.
Mobil Rendy melaju memecah hiruk pikuk kota Jakarta. Mobil yang melaju tanpa tujuan. Medlyn memekik tiba tiba.
"RENDY!!" yang diteriaki pun sentak menginjak rem kuat kuat. Benturan pun tidak terhindarkan. Untungnya mereka berdua sama sama menggunakan seatbelt.
"Lo mau bunuh gue?!" Tuduh Medlyn polos.
"Lo yang tiba tiba teriak ga jelas!" Medlyn bungkam. Ya memang ia yang salah.
"Emang lo tau gue mau kemanà?" Tanya Medlyn.
Rendy menggeleng. Medlyn menepuk jidatnya.
"Rumah Sakit Verdulos"
"Hahahha. Lo ga geger otak kan abis kejedot tadi?" Tanya Rendy asal.
"Ck, gue emang mau ke rumah sakit" Rendy mengenyrit bingung. Melihat kebingungan diwajah Rendy, Medlyn kembali angkat bicara.
"Kesana atau turunin gue" Sambungnya tanpa melirik Rendy. Rendy menghela nafas. Lagi pula ia yang memaksa untuk ikut dengan Medlyn bukan.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hatinya merasa tidak tenang. Seperti akan ada sebuah masalah?
Hatinya siapa hayo?
Medlyn berdehem. Berusaha menghilangkan kecanggungan yang terjadi diantara mereka.
"Sorry" ucapnya.
"Buat?"
"Gue udah bentak lo tadi" ucapnya penuh penyesalan. Tapi Rendy?
"Hahahahha. Bentakkan lo ga mempan kali buat gue"
"Karena kalo lo tau siapa gue, untuk ngeliat gue aja lo ga akan sudi" Sambungnya dalam hati.
Medlyn merajuk, "Lo tuh ngeselin banget sih!"
"Hahahaha" tawa Rendy semakin menggema. Tapi anehnya Medlyn juga ikut terkekeh, melihat tawa Rendy.
"Kenapa gue ga bisa marah sih sama ni anak. Padahal baru kenal 2 hari. Eh-"
"Ga usah meratapi kegantengan gue. Gue tau kok, ketampanan gue ini emang paripurna banget."
"Pede amat om" ejek Medlyn.
"Udah sampe. Berantemnya nanti aja. Ayo kita nge-date" ucapnya sambil memandang Medlyn. Ya mereka memang sudah sampai di Rumah Sakit Verdulos.
"Ngarep lo dugong!" Medlyn membuka seat belt nya diiringi kekehan Rendy.
Mereka berdua memasuki lobi rumah sakit.
"Med, sebenernya lo mau jenguk siapa sih?" Tanya Rendy penasaran.
"Gue benci rumah sakit" jawaban yang sangat jauh dari pertanyaan.
"Kenapa?"
"Semua orang yang gue sayang selalu berakhir disini. Sampe disini dan ga minat buat balik ke gue. Dan gue? Ditinggalin sendirian buat tetep jadi orang lain. Gue harus tetep hidup, buat kematian mereka."
"Kenapa?" Medlyn menatap Rendy bingung.
"Kenapa lo ngomong semua ini sama gue" sambungnya menjawab semua kebingungan Rendy. Medlyn tersenyum. Menggerakkan tangannya membuat Rendy menatap matanya. Sesaat Medlyn diam dan menyelami mata Rendy.
"Lo bukan dia" bisik Medlyn tepat didepan wajah Rendy. Rendy semakin bingung.
"Oh, came on. Kehidupan gue gak semenarik yang lo kira. Ayo kita temuin temen dating gue kali ini" ucap Medlyn seraya berjalan mendahului Rendy. Rendy yang tidak ingin kehilangan jejak Medlyn pun, segera mengikuti gadis itu.
Langkah Medlyn berhenti pada sebuah pintu. Ia mendorong pintu itu dan masuk kedalamnya. Tentu dengan diikuti oleh Rendy.
"Hai. Gimana kondisi lo?" Tanya Medlyn.
"Udah baikan kok. Btw thanks udah mau dateng. Dan lo dateng sama..."
"Gue Rendy." Ucap Rendy sambil mengulurkan tangannya.
"Gue Adriyan." Rendy menggangguk.
"Gue ga bawa apa apa. Tanpa gue bawain, lo juga udah dapet kan. Banyak pula" ucap Medlyn sambil melirik lemari di samping ranjang Iyan.
"Iya, santai aja kali. Lo dateng aja gue udah seneng" Medlyn tersenyum.
"Lo sendirian disini?" Tanya Rendy. Iyan mengangguk sebagai jawaban.
"Lo sampe kaya gini, dapet serangan langsung dari dia?" Tanya Medlyn.
"Ngga. Anak buah dia yang ngelawan gue. Selama ini, cuma kak Afkar yang ngadepin dia. Dia terlalu kuat. Kak Afkar aja sampe masuk rumah sakit juga. Walaupun ga terlalu parah sih" jelas Iyan panjang lebar.
"Kata temen temen gue, beritanya kesebar. Tapi cuma beberapa jam" lagi lagi Iyan mengangguk.
"Ya, seenggaknya nama dia udah kesebar. Kinara Aubriana Sabolev. Gue ga kebayang, seberapa banyak gunjingan buat dia. Kelakuannya bener bener bringas. Kasian banget dia"
"Ngapain lo kasian sama dia Yan? Dia bahkan ga berhak buat hidup. Dia cuma bisa ninggalin luka buat orang lain. Dia gak punya hati. Dia bahkan udah jadi penyebab utama dari kematian ibunya" kedua kalinya, dihari yang sama.
"Pe-penyebab utama? Lo tau info ini dari mana?" Tanya Iyan bingung.
"Lo lupa? Gue ini anak EASH Yan. Banyak paparazi yang sekolah disana. Buat sekedar nyari informasi kecil kaya gini, ga susah" jawab Medlyn dengan tenang.
Hei! Apa dirinya sedang menghakimi diri sendiri?
"Emang kalian tau gimana kehidupan asli dia? Informasi itu bisa aja salah Med, lo ga bisa ngehakimi dia gitu aja. Gue yakin dia punya alasan. Dia juga pasti tertekan"
"Wow, Ren? Lo lagi belain pembunuh itu? Dia bahkan suka ngelukain orang" jawab Medlyn.
"Gue cuma mandang dia dari sisi lain dari kehidupan dia"
"Itu cuma opini lo doang Ren. Dia itu orang jahat. Bahkan dia ga pantes buat dikasiani"
Dering ponsel Iyan menghentikan perdebatan Medlyn dan Rendy.
"Halo?"
"..."
"Lo pada mau nyerang markas mereka?"
"..."
"Sialan lo, gue belom keluar rumah sakit bang!"
"..."
"Argghh gue juga pengen bunuh si Kinara itu!"
"Gue ada dihadapan lo Yan! Gue orang yang mau lo bunuh!" Batin Medlyn.
"..."
"Ya udah, lo pada hati hati. Dan, gue punya 1 informasi penting buat lo bang"
"..."
"Dia penyebab kematian ibunya"
Percakapan mereka terhenti. Medlyn yang sempat terdiam kembali angkat suara.
"Mungkin bang Afkar bisa ngabisin dia"
"Bang Afkar gabakal ngabisin dia Med, bang Afkar bakal ngebunuh hatinya"
"Hati gue bahkan udah mati Yan!"
"Em, Med gue ada urusan penting. Bisa kita balik sekarang?" Kata Rendy. Medlyn kesal sekaligus senang. Kebetulan(?) Sekali. Ia juga harus pergi. Setidaknya, ia tidak ingin satu pun anak BS terluka.
"Oke, Yan. Sorry banget ya, gue harus balik."
"Yah, padahal gue pengen ditemenin tidur sama lo. Haha"
"In your dream! Dah lah. Gue duluan bye"
"Gue duluan Yan. GWS bro!" Ucap Rendy. Iyan mengangguk sebagai jawaban.
Mereka berdua pun keluar dari ruang rawat Iyan. Sampai di lobi rumah sakit, Medlyn menghentikan langkahnya. Rendy pun berhenti dan menatap Medlyn sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Lo balik duluan aja, gue mau mampir dulu ke supermarket"
"Gue anter"
"Ga usah, gue bisa sendiri" putus Medlyn seraya meninggalkan Rendy begitu saja.
○---○
Tbc...
Part 17 ~13 Mei 2020