18 | Pelepasan

1320 Words
○---○ Kematian memang bukan sesuatu yang bisa dihindari. Semuanya sudah merupakan takdir Tuhan. Dengan menyalahkan suatu pihak atas kehilangan ini, tidak akan membangunkan raga yang telah kembali ke tanah. Tapi membuat kembalinya raga ke tanah tidak menjadi sia sia lebih baik bukan? ○---○ Medlyn menyeka keringatnya lagi, ia berlari menuju basecamp. Ia tidak mau membawa mobilnya. Ia belum sempat mengganti platnya. Jika ia membawa mobil itu, justru akan menimbulkan masalah baru. Saat sampai di gerbang, nafasnya memburu. Keadaan basecamp sangat kacau. Medlyn menerobos masuk, menghiraukan orang orang yang sedang baku hantam. Medlyn sampai didepan si pelaku utama, tanpa sedikitpun terluka atau terkena tonjokan nyasar. Keahlian bela diri Medlyn, tidak perlu diragukan. Afkar berbalik menyadari kehadiran orang yang mencari buronannya. "Wow, lo sedikit terlambat. Tapi tetep aja, tanpa lo pertarungan ini ga akan seru." Medlyn meninju tahang Afkar. Ia tau luka yang ia ciptakan bahkan belum sembuh. Tapi laki laki ini, justru mengusiknya lagi. "Itu, karena lo udah berani ngusik tempat ini!" "Hahaha, gue ga akan berenti ngusik lo sebelum lo bebasin kakak gue!" Teriak Afkar. Medlyn menendang perut laki laki itu. Afkar terduduk dan memuntahkan darah. Ia tidak meringis. Laki laki itu justru tertawa sumbang. "Gue tau. Gara gara lo ibu lo mati kan! Lo penyebab kematiannya" Sungut Afkar. Medlyn tersenyum miring dibalik maskernya. "Who cares!" Medlyn kembali menendang perut Afkar. Ia tetap tenang. Tidak merasa bersalah sedikit pun. Afkar bangkit dengan susah payah. Perutnya mati rasa, darah masih mengalir melalui bibirnya. "Cuhh" Afkar meludah kesampingnya. Ia lalu mengelap bibirnya kasar. "Lo bisa ngelakuin ini ke gue. Tapi, gue punya hadiah buat lo" ucapnya sambil menahan perih dari sudut bibirnya. Ia lalu mengisyaratkan anak buahnya untuk mendekat. Medlyn terkejut melihat keadaan Jonathan yang sudah babak belur bahkan nyaris tidak sadarkan diri. "Lepasin kakak gue, atau gue tebas leher orang ini" ucapnya mengancam Medlyn. Beberapa orang terkejut mendengar tuturan Afkar. Kini Jonathan berada dihadapannya dengan sebuah pisau menempel dilehernya. Jonathan berdesis dan menggeleng pada Medlyn. "Jangan Med" Medlyn menatap sekilas pada Jonathan, lalu kembali pada Afkar. "Lo sendiri yang bilang kalau gue pembunuh. Kenapa lo pake nawarin lagi? Sama kaya yang lo bilang tadi. Gue bisa bunuh ibu gue sendiri. Terus kenapa gue harus nahan orang lain buat membunuh? Dengan lo bunuh dia, tangan gue ga tambah kotor. Justru tangan lo yang makin kotor. Kakak lo bahkan ga tega nyakitin gue. Tapi lo-? Mau bunuh orang pake tangan lo sendiri? Lo pembunuh." Jelas Medlyn panjang lebar. Afkar menatapnya bingung. Ia lalu menjatuhkan pisaunya. Senjata makan tuan -? "lepasin tawanan kita." Afkar menatap Medlyn. Semudah ini? "Mana mungkin dia ngelepasin kak Deon gitu aja. Cuma demi nyelametin anak buahnya?" "Gue ga akan biarin orang yang ga ada hubungannya sama masalah 'itu' mati. Bang jono, dia ga ada sangkut pautnya. Yang pantes untuk mati itu, adalah yang terbukti bersalah. Dan kakak lo" "Dia ngga bersalah... sejauh ini. Jadi gue bebasin dia." Afkar bernafas lega. "Tapi... kalau dia terbukti bersalah. Gue akan dengan senang hati mempercepat kematiannya." Medlyn berbalik meninggalkan ruangan yang sudah 2 kali diacak acak oleh anak Angkasa. ○---○ Medlyn berdecak sebal saat Jonathan tidak berhenti mengoceh padanya. Setelah 3 jam pingsan, laki laki itu justru menjadi sangat menyebalkan. "Kin, harusnya lo biarin aja dia ngebunuh gue. Udah lama kan" "Shut up bang! Sepenting pentingnya tujuan hidup gue, gue ga akan biarin lo mati. Lo berharga buat gue bang! Perlu gue jelasin kaya gimana lagi sih! Gue tuh sayang sama lo! Lo yang selama ini selalu ada buat gue. Lo yang selalu ngelindungin gue! Dan gue biarin lo mati gitu aja? Cuma demi mecahin masalah yang bahkan ga ada hasilnya sampe sekarang! Gue ga seegois itu bang" jelas Medlyn panjang lebar. Jonathan menarik Medlyn kepelukkannya. Ya Medlyn benar. Masalah ini bahkan sangat buram. Jonathan mengelus surai Medlyn yang diikatnya. "Sorry. Gue terlalu gegabah. Lo tenang aja. Gue pasti selalu nemenin lo. Kita saudara Kin. Lo susah, gue juga susah." Tutur Jonathan. Medlyn mengangguk. Hari sudah mulai petang, mobil miliknya pun terlalu jauh ditinggalkannya. Akhirnya Medlyn memutuskan untuk menginap di basecamp. ○---○ Keesokkan harinya, Medlyn terbangun di kamar pribadinya. Fyi, basecamp BS terdiri dari 20 kamar, 1 aula, 1 dapur, ruang bawah tanah dengan 5 sel, 1 area parkir, 1 gudang senjata, 1 tempat gym, 1 kolam renang di belakang, 1 ruang rapat, 1 ruang untuk menonton tv, dan kamar mandi di setiap kamar. Basecamp BS terletak cukup jauh dari keramaian komplek. Luasnya hampir 1 hektare. Tempat ini sangat terawat. Makanya banyak anak BS yang justru lebih senang untuk tinggal di basecamp. Terlebih, free wifi! Oke. Back to Medlyn. Medlyn melangkah kan kakinya menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Jonathan menawari untuk mengantar Medlyn pulang, namun ditolaknya. Karena kondisi Jonathan sangat tidak memungkinkan untuk menyetir. Pukul 05.30 Medlyn sudah selesai mandi. Ia meminta Ana, dan Reni untuk mengantarnya sampai lokasi penitipan mobilnya. "Kin, lo yakin mau sekolah?" Medlyn mengangguk. "Hati hati ya, gue takut kalo deon bakal bales dendam ke lo" "Gue bisa jaga diri Ren. Makasih" Medlyn tersenyum sembari sedikit menengok ke belakang, tempat Reni duduk. "Na, gang depan belok kanan" sambungnya dan diangguki Ana. "Mobil lo disini kan?" Medlyn mengangguk. "Makasih udah mau nganterin gue" kata Medlyn. "Kita semua saudara. Kaya kata lo. Jadi udah kodratnya buat saling nolong. Ya walaupun beberapa diantara anak BS ngga punya darah keturunan yang sama, tapi lo sendiri yang bilang kalau kita semua sama" Medlyn lagi lagi mengangguk. Ia pun keluar dari mobil Ana dan melambaikan tangan pada mereka. Ia segera masuk ke mobilnya dan bergegas menuju apartemennya. ○---○ Sesampainya Medlyn di apartemennya, ia kebingungan. Kenapa pintu apartemennya terbuka? Seingatnya, ia sudah menguncinya. Medlyn pun berjalan dengan mengendap endap, sambil bersikap waspada. Siapa tau apartemen Medlyn sedang dirampok (?). Ia pun masuk ke dalam aprtemennya. Barang barang diruang tamu masih utuh. Tidak ada yang berantakan apalagi pecah. Ia pun melanjutkan untuk mengecek kamarnya. Saat ia memegang knop pintu kamarnya, ia mendengar suara dari dapurnya. Apa perampok ini merampok makanannya? Medlyn berjalan perlahan ke arah dapurnya. Ia sangat menyesal tidak membawa pisau kecilnya. Semakin ia dekat dengan dapurnya, semakin terdengar jelas suara itu. Suaranya seperti sedang, menghidupkan kompor (?) Medlyn memasuki dapurnya dengan cepat dan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . "GAVIN!!! b*****t LO BIKIN GUE TAKUT AJA ANJING!!!" Teriak Medlyn sambil memegangi dadanya. Yang diteriaki hanya cengengesan sambil mengangkat 2 jarinya. Gavin mendekati Medlyn dan dengan tiba tiba memeluknya. "Med, gue kangen sama lo" bisiknya saat masih mendekap Medlyn. Medlyn membalas pelukkannya. "Gue tau kalo gue ini ngangenin" jawab Medlyn. Gavin terkekeh sambil mengeratkan pelukkannya. "Lo kemana aja semaleman gak pulang?" "Semaleman lo ngacak ngacak apartemen gue?" "Ga usah ngalihin topik Med" Gavin mengurai pelukannya dan meraih wajah Medlyn. "Gue abis dari basecamp Gav, karena udah malem jadi gue ngga balik" jelas Medlyn. "Kenapa lo ngga minta gue jemput aja coba?" Tanya Gavin sambil mengelus pelipis Medlyn yang lebamnya sudah mulai menghilang "Bukannya lo lagi disibukkin sama Candle?" Jawaban Medlyn menghentikan gerakan tangan Gavin. "Lo cemburu?" Tanya Gavin jenaka. "Ya enggak lah. Selama, kalung ini masih tetep lo pake," Medlyn menyentuh kalung 'K' yang dipakai Gavin. "lo tetep milik gue. Lo tetep jadi babu gue. HAHAHAHA" Medlyn tertawa sambil berbalik hendak ke kamarnya. Dengan cepat Gavin berjalan dan memeluk Medlyn dari belakang. Gavin meletakkan kepalanya di bahu Medlyn. "Gue ga mau kehilangan lo Med. Ga tau kenapa gue ngerasa lo bakal pergi jauh. Jauh dari gue" ucap Gavin. "Gue disini b**o. Dah lah gue mau siap siap ke sekolah" Medlyn melepas tangan Gavin dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Baru selangkah Medlyn berjalan, ia berbalik dan menatap Gavin lagi. "Gav, gimana cara lo masuk apart gue?" "Karena gue Gavin. Buat nyelinap ke apart lo ga susah susah amat kok. HAHAHA" Gavin tertawa dan Medlyj mendengus. Kenapa Medlyn lupa kalau Gavin bukan orang biasa? ○---○ Tbc... Part 18 ~17 Mei
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD