○---○
Dalam 30 menit, Medlyn telah selesai bersiap siap.
Ia menghadap cermin. Ia menenteng tasnya, dan keluar dari kamar. Dilihatnya Gavin sudah berdiri di depan kamarnya. Medlyn melangkah mendahuluinya.
Lagi lagi Medlyn dikejutkan saat ia membuka pintu apartemennya. Rendy berdiri tepat didepan pintu apartemen Medlyn.
"Ngapain lo disini" ketus Medlyn.
"Semalem kenapa lo ngga pulang?" Tanya Rendy mengalihkan pembicaraan.
"Bukan urusan lo. Minggir gue mau kesekolah!"
"Bareng gue aja" tawaran Rendy hendak ditolak Medlyn mentah mentah, tapi getaran di ponselnya mengalihkan fokus Medlyn.
Just.
Raycandle_N
Mobil gw bocor
Srh Gavin jmpt gw.
Medlyn menghela nafas. Sentuhan di pundaknya membuatnya terkejut.
"Lo kenapa Med?" Tanya Gavin.
"Nothing. Eh, tdi Candle bilang mobilnya bocor Gav, bisa tolong lo jemput dia?"
"Terus lo gimana"
"Gue bareng Rendy aja. Iya kan Ren?!" Jawab Medlyn sedikit membentak Rendy. Rendy mengangguk cepat. Gavin tampak lesu, namun ia tetap mengangguki perintah Medlyn.
"Oke, gue jemput Candle dulu kalo gitu. Ren, gue titip Medlyn. Ketemu disekolah ya Med" ucapnya sambil mengelus kepala Medlyn. Medlyn hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lo suka sama Gavin?" Tanya Rendy saat Medlyn sedang mengunci pintu apartemennya. Gerakan tangannya terhenti.
"Ngga" jawab Medlyn.
"Tapi keliatannya-"
"Apapun yang lo liat. Itu bukan urusan lo!" Hardik Medlyn. Ia pun segera berjalan meninggalkan Rendy. Untung saja Gavin sudah pergi lebih dulu.
Rendy menyusul Medlyn yang sudah didalam lift. Seketika suasana canggung diantara mereka. Medlyn rasa jawabannya tadi sudah keterlaluan. Tapi, sifat kepo Rendy benar benar membuatnya kesal.
Canggung masih terjadi saat di mobil Rendy. Medlyn menyetel musik keras keras agar tidak terlalu canggung. EMANG ITU MOBIL SIAPA ANJIR.
Rendy hanya diam, tidak mempermasalahkan jika Medlyn berlaku seenaknya. Toh juga Medlyn adalah-
"Ren, sorry" ucapan Medlyn mengalihkan atensi Rendy.
"Gue juga minta maaf, gue terlalu suka ngepoin lo" jawab Rendy sambil tersenyum sekilas. Ia berhenti saat traffic light berwarna merah.
Rendy mencondongkan badannya dan menarik Medlyn ke dalan pelukkannya.
Medlyn bergeming. Kenapa badannya mati rasa? Tapi tidak dengan si jantung. Jantung kurang ajar! Diskoan tidak kenal tempat.
Medlyn sempat ragu saat ingin membalas pelukkan Rendy. Sampai Rendy buka suara.
"Apapun masalah lo, gue pasti selalu ada buat lo. Kalo lo capek ngadepin hiruk pikuk dunia, lo dateng aja ke gue, gue dengan senang hati bakalan bantuin lo. Niat gue baik sama lo. Lo bisa pegang omongan gue." Ucap Rendy.
Medlyn menitikkan air matanya, kenapa ia baper dengan kata kata seperti itu?. Ia lalu membalas pelukkan Rendy lebih erat.
Ya, ia memang sedang sangat membutuhkan sandaran seperti ini.
Suara klakson mobil yang bersahut sahutan membuat drama ini berakhir. Rendy terkekeh dan menghapus air mata Medlyn.
"Gue tau, ga semua orang pernah ngeliat ini. Right?" Medlyn mengangguk dan tersenyum. Rendy pun menginjak gas, dan melaju menuju EASH.
○---○
at Edgwar Academy Senior High School.
Rendy merangkul Medlyn di sepanjang jalan menuju XII IPA 1. Banyak pasang mata yang menatap mereka iri, sinis dan juga jengkel.
Medlyn tak ambil pusing, begitupun dengan Rendy. Langkah Medlyn terhenti saat ia melihat Gavin memeluk Candle. Posisinya Gavin membelakangi mereka. Yang bisa ia lihat hanya wajah Candle. Candle tersenyum?
"Kita ke kelas lewaj jalan lain aja ya Med" Rendy menarik Medlyn menuju kelas dengan memutari sekolah. Sungguh cara yang benar benar efektif.
Medlyn memasuki kelasnya dengan sangat tidak semangat. Stella pun menghampiri Medlyn.
"Med, are you okay? Lo keliatan ga sehat" ucap Stella.
"Gue ga papa kok. Aca belom dateng?" Stella menggeleng. Baru Medlyn hendak mendudukkan bokongnya, teriakan Aca berhasil menghentikannya.
"MEDLYN!! GAWATT MED. GAWAT BANGETTT!!" teriak Aca tidak karuan. Nafasnya ngos ngosan seperti dikerjar setan.
"Tenang Ca, ada apa?" Tanya Medlyn ikutan panik. Tapi Aca masih tidak bisa bicara. Sampai Aca membisikkan sesuatu padanya.
"Oh, gue udah liat kok tadi pagi. Biasa aja kali. Heboh banget sih lo" jawab Medlyn enteng. Medlyn pun berjalan ke Rendy yang sedang bercanda dengan Karend.
"Ren, temenin gue bolos yuk" Rendy mengangguk. Membuat beberapa teman mereka cengo. Terutama Aca dan Stella.
Rendy pun menggandeng Medlyn keluar kelas.
"Ca, Medlyn kenapa sih? Kok kayanya belakangan ini Medlyn lebih deket sama Rendy sih daripada sama kita?"
"Lo tanya gue? Lah gue tanya siapa Stel. Kayanya ada yang ga beres deh. Ga biasanya kan Medlyn bolos" Stella mengangguk.
Tak berapa lama bel masuk pun berbunyi. Aca dan Stella mengakhiri perbincangan mereka dan duduk di meja masing masing.
○---○
Hening. Itulah yang terjadi diantara mereka. Hembusan angin seolah membuat mereka semakin tenggelam pada pikiran masing masing.
Medlyn lagi lagi menghembuskan nafasnya. Rendy menengok. Ia tidak lagi ingin bicara. Takut Medlyn merasa terganggu.
"Ren, lo tau ada satu hal yang ga bisa lo hindari. Takdir." Ucap Medlyn memulai percakapan. Rendy tampak antusias dan mengangguk setuju.
"Berarti emang udah jadi takdir gue buat piatu 2 kali" Medlyn memandang hampa ke depan. Rendy terkejut mendengar pernyataan Medlyn.
"Lo ga boleh sedih kaya gini. Mereka yang udah pergi bakalan ikut sedih kalo lo kaya gini"
"Gue ga tau sebenernya apa yang gue rasain sekarang. Ge capek. Masalah selalu aja dateng ke gue."
"Semua orang pasti punya masalah kok" Medlyn mengangguk.
"Menurut lo gue orangnya kaya gimana Ren?"
"Lo baik. Tapi ga mau sok baik"
"Gue jahat."
"Ga ada orang jahat-"
"Apa yang mau lo bilang kalo gue bahkan udah misahin anak dari ibunya?" Rendy terdiam.
"Lebih dari 10 tahun, karena gue, ibu tiri gue harus jauh dari anak kandungnya. Bisa lo bayangin betapa jahatnya gue? Dan dengan ga tau dirinya gue malah terang terangan bilang kalo gue benci sama anak itu!"
"Padahal, gue sayang banget sama dia. Dia saudara gue satu satunya. Gue harus kehilangan dia, karena logika yang ga jelas. Gue benci sama diri gue sendiri. Gue benci! Gue selalu ngejauhin semua yang gue sayang dari diri gue sendiri! Tapi ujung ujungnya gue selalu nyesel. Gue bodoh Ren! Gue jahat!" Air matanya tak dapat dibendung lagi. Rendy menarik Medlyn ke dalam pelukkannya.
"Gue sayang sama Elvan Ren! Gue sayang! Dia adek gue satu satunya! Gue sayang sama dia! " Medlyn menangis semakin keras. Untung mereka berada di rooftop. Rendy mengelus kepala Medlyn. Menenangkannya.
"Gue ga tau sebenernya apa yang gue rasain. Gue ngga bisa tau. Gue bahkan ga tau kenapa bisa ngucapin semuanya ke lo. Semudah ini? Selama 10 tahun lebih, baru kali ini gue ngungkapin semuanya" Medlyn mengeratkan pelukkannya pada Rendy.
"Itu tandanya lo percaya sama gue. Kaya yang gue bilang. Gue bakal selalu ada buat lo. Jadi jangan pernah sungkan buat berbagi masalah ke gue." Medlyn mengangguk. Ia melepaskan pelukkannya dan menatap mata Rendy.
"Makasih Ren" Rendy mengangguk dan mengusap air mata Medlyn.
"Med, gue juga udah ngga punya ibu" Medlyn menatap Rendy heran.
"So-sorry gue ga bermaksud-"
"Iya ga papa. Gue juga sama sedihnya sama lo. Gimana kalo kapan kapan lo gue ajak ke makam ibu ?" Medlyn terdiam.
"Gue ga berani ke makan Ren. Gue selalu keinget sam-"
"Masa lalu biarin aja berlalu. Yang penting itu masa depan. Oke" Medlyn mengangguk. Untuk sementara perasaannya menjadi sedikit lega, setelah berhasil mengucapkan semua hal yang memenuhi pikirannya selama 10 tahun lebih.
"Ren, lo tunggu disini ya. Gue mau ke toilet bentar."
"Ga mau gue anterin?" Jawabnya dengan senyum jahil. Medlyn menendang kakinya pelan dan berlalu dari rooftop.
Entah mengapa perasaan Medlyn menjadi sedikit gusar. Lorong tampak sepi. Mungkin karena sedang jam pelajaran. Medlyn berusaha tenang.
Ia memasuki bilik toilet dan menguncinya. Setelah selesai buang air kecil, Medlyn keluar dan membasuh wajah dan tangannya di wasthafel.
Belakangan ini pikirannya sangat gusar. Seolah ia akan menangis. Lagi (?).
Medlyn menatap wajahnya di cermin. Lama ia melamun tiba tiba pintu toilet terbuka dan ia melihat wajah, yang benar benar sangat ingin ia hindari.
"Lo buta? Ini toilet cewe."
"..."
"Lo ga pernah di ajarin etika? Kalo iya sih gue maklumin aja kelakuan lo kurang ajar kaya gini" Medlyn tetap membasuh tangannya.
"..."
"Gue jadi bingung, kenapa mahluk kaya lo bisa masuk EASH" gerakan tangan Medlyn berhenti saat orang itu sudah berada dibelakangannya. Medlyn kurang waspada! Medlyn menatap orang itu melalui cermin. Senyuman itu, kenapa terlihat jahat di mata Medlyn.
Baru Medlyn hendak menendang, orang itu lebih dulu menghindar dan menarik tangan Medlyn ke belakang.
"Lepasin gue! Mau lo apa sih anjing!!"
"Suttt anak cewe ga boleh ngomong kasar sayang" Medlyn merasa mual dengan ucapan itu.
"Beni, gue peringatin sama lo, lepasin gue atau gue teriak"
"Gue gak akan lepasin lo untuk yang kedua kali. Lagi pula lorong sepi. Lo bebas mau teriak. Apalagi mendesah buat gue" Medlyn mematung. Rahangnya mengeras dan matanya menggelap. Ia benar benar ingin melenyapkan laki laki ini sekarang juga.
"Sialan lo! Lepasin gue!!Tolongg!! Tolongg!! Tolongin guee!!" Teriak Medlyn saat Beni dengan lancangnya mulai menciumi lehernya.
"b*****t!! Lepasin gue anjing!! Tolonggg!!" Medlyn masih meronta. Beni memegang tangannya sangat erat. Air matanya pun melolos.
"Don't cry baby, nikmati saja" ucapnya di telinga Medlyn. Medlyn menatap laki laki itu melalui pantulan cermin. Ia sangat marah saat melihat Beni meninggalkan mark di lehernya. Tangannya terkepal kuat dan meronta lebih kuat.
"Lepasin gue b******k!! Lepasin!! Gavinn tolongin gue!! Gavinn!!"
"Gavin lo itu gabakalan dateng! Hahaa"
"Lepasin gue Ben!! Lepasin!! Lepasinn atau gue bunuh lo!! Bangsatt!! Jauhin tubuh penuh dosa lo itu dari gue!!!" Teriak Medlyn.
Usahanya tidak memberikan hasil, Beni justru semakin tersenyum. Tangannya sangat lancang menggerayangi tubuh Medlyn.
Medlyn berhasil menendang Beni saat ia mulai lengah, Medlyn hendak berlari namun lebih dulu dicekal oleh Beni. Beni langsung menampari Medlyn. Tamparan yang benar benar tidak terduga.
Plak.
Plak.
Plak.
Medlyn mendongak saat Beni mencekik rahangnya.
"Lo tau kenapa gue lakuin ini ke lo? Karena lo, gue kehilangan jabatan gue"
"Itu karena lo emang b******k!! You jerk!! Lo pantes dapetin itu!!" Medlyn berteriak di depan wajah Beni. Beni semakin murka.
"Gue ga peduli. Tapi apa lo mau tau, siapa yang ngasih gue ide kaya gini?" Medlyn menatapnya penasaran. Cengkraman di rahangnya menguat. Beni mendekatkan wajahnya ke telinga Medlyn.
Mata Medlyn membulat saat mendengar nama yang dibisikkan oleh Beni. Beni tertawa keras.
Ia lalu berhenti, dan menatap Medlyn yang penuh memar di pipinya dan juga mata yang memerah.
Gadis itu benar benar emosi. Medlyn kembali sadar dari lamunannya saat Beni kembali menciumi leher dan wajahnya. Ia sadar dia sedang dalam bahaya.
"Lepasin gue!! Berenti Ben!! b*****t lo!! Gue bunuh lo!!" Medlyn menggeleng dan menutup mulutnya rapat saat Beni hendak mencium bibirnya.
Plak.
Plak.
Plak.
Beni kembali menampar Medlyn. Tak cukup sekali, ia menampar Medlyn hingga dua kali.
Medlyn berusaha lari namun kakinya ditarik oleh Beni. Medlyn terjatuh di lantai. Kepalanya sakit tidak bisa menjaga keseimbangan.
Beni lalu menarik tangannya dan memaksa Medlyn untuk berdiri.
Ia kembali mencekik rahang Medlyn dengan satu tangan lain, tangannya yang lain menahan tangan Medlyn. Dan menyudutkan Medlyn di tembok.
Medlyn menatap pantulan wajahnya di cermin, ia sangat menyedihkan. Darah dari pelipisnya pun tidak terasa sakit. Lebih sakit perasaanya.
"Kalo lo ga ngelawan, gue ga bakal nyakitin lo." Beni mengeluarkan smirknya.
"Lagi pula, siapa yang ga mau nikmatin tubuh lo. Satu sekolah juga sadar kalo tubuh lo bener bener menarik" Beni membisikkan Medlyn.
"Lo bakal mati ditangan gue" ucap Medlyn nyalang, masih dengan air mata yang terus mengalir.
"Setelah keperawanan lo gue ambil" sambung Beni penuh penekanan. Medlyn semakin meloto tajam.
Brak.
Pintu toilet dibuka secara kasar. Medlyn terkejut sekaligus senang. Tapi ada rasa kecewa yang juga menjalar ditubuhnya.
"Gue berharap Gavin yang bakal nyelametin gue dari masalah kaya biasanya. Tapi kenapa malah Rendy yang dateng?"
"Gue bunuh lo sekarang juga!!" Orang itu langsung menonjok Beni dan membenturkan kepalanya ke tembok. Medlyn menangis sesenggukan di pojok. Ia masih sangat syok, terlebih pandangannya sedikit memburam, kepalanya berdenyut semakin sakit.
Rendy tak henti hentinya menghujami Beni dengan tinjunya. Beni kalah telak, walaupun sempat beberapa kali menyerang balik, kondisinya lebih buruk dari Rendy.
Rendy menggila ia bahkan tidak memberikan ampun pada Beni. Sampai
"Ren.... sakith.." lirih Medlyn. Rendy melepaskan Beni dengan kasar dan menghampiri Medlyn.
"Kita kerumah sakit." Medlyn mengangguk dan menutup matanya menahan perih. Rendy mengangkatnya ala bridal style dan membawanya ke parkiran. Beni ditinggalkannya begitu saja.
Ia mengejar waktu. Jika sampai 10 menit ia tidak sampai di parkiran, mereka akan menjadi tontonan dan akan lebih banyak orang yang melihat air mata Medlyn.
○---○
Tbc...
Part 19 ~18 Mei 2020