20 | Secret of Kinara

1633 Words
○---○ Medlyn membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah tv. Sejak kapam ada tv dalam kamarnya? Tidak tidak. Ini bukan apartemennya. Medlyn memejamkan matanya perlahan. Ia kembali mengingat apa yang telah terjadi padanya kemarin. Ingatannya kembali pada Beni. Sentak air matanya melolos begitu saja saat ingat Beni hampir saja melecehkannya jika saja... Rendy! Medlyn membuka matanya. Ia ingat saat Rendy menggendongnya kemarin. "Kak, aku ga mau kakak kenapa napa" Medlyn meringis. Kepalanya berdenyut nyeri. "Beresin Beni yg ada di toilet perempuan deket lorong." "Ambilin tas gue sama kak ala" "Jangan lupa beresin kasusnya. Jangan sampe anak EASH tau" Begitulah sepenggal percakapan Rendy yang sempat Medlyn dengar saat di dalam mobil Rendy. Medlyn memang menutup matanya, tapi ia masih cukup sadar untuk mendengar percakapan Rendy dengan seseorang melalui telepon. Medlyn semakin bingung. "Kak Ala? Sejauh ini cuma. Cuma dia yang manggil gue kaya gitu. Tapi ini semua ngga mungkin" Medlyn menggeleng. "Mung, mungkin gue salah denger" ucap Medlyn pada dirinya sendiri. Medlyn semakin bingung saat ia merasa tidak asing dengan tempat ini. "Kenapa tempat ini, kaya basecamp BS?" Medlyn mengalihkan pandangannya saat pintu kamar dibuka dan menghadirkan sosok yang bertanggung jawab dengan semua pertanyaan di kepala Medlyn. "Ren-" Medlyn bangun dan berusaha duduk. "Pelan pelan kak, kepala kakak masih belum sembuh" Medlyn membeku. Tidak mungkin jika sekarang ia salah dengar lagi. Nafas Medlyn memburu. Perlahan ia mendongak dan menatap Rendy. Pria itu hanya tersenyum simpul dan duduk di hadapan Medlyn. "Ren-" "Panggil gue Elvan kak, kaya dulu" Medlyn membekap mulutnya tidak percaya. Air matanya kembali lolos. Ia menggelengkan kepalanya. "Ini semua... hiks ngga mungkin..." Medlyn menangis. "Maafin Elvan kak-" "Lo itu Rendy! Bukan Elvan!" Teriak Medlyn sambil mendorong dorong bahu Rendy. "Gue Elvan kak" bela Rendy lagi. Oh atau kita mulai panggil dia... Elvan ? "GAK! GUE BENCI SAMA LO! GUE BENCI! GUE BENCI SAMA SEMUANYA!! GUE BEN- akh..." Medlyn meringis di akhir teriakkannya. "Kak, kakak kenapa?" Medlyn tidak menjawab dan jatuh ke pelukkan Elvan. "Kak, kakak! s**t! Harusnya gue ga bilang sekarang!" Elvan. menidurkan Medlyn dan mengacak acak rambutnya frustasi. Ia lalu menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Medlyn. "Gimana keadaan kakak saya dok?" Tanya Elvan setelah seorang dokter memeriksa Medlyn. "Kondisi tubuhnya cukup baik, luka di pelipisnya cukup parah tapi sudah lebih baik. Mungkin yang membuatnya seperti ini, kendala mental. Apa pasien pernah mengalami trauma?" Elvan mengangguk. Tidak mungkin Medlyn bisa melupakan kejadian dimana Clairin terbunuh di depan matanya. "Pasien hanya perlu bedrest dan piknik. Ia butuh menenangkan pikirannya selama beberapa hari. Dan jangan terlalu menekannya. Saya khawatir pikiran yang memburuk bisa membuat tubuhnya semakin sukar untuk sembuh" Elvan mengangguk. "Baik dok terimakasih" "Ya, ini resep obatnya. Kalau begitu saya permisi" Elvan mengangguk. Lagi pula sudah ada orang yang akan mengantar sang dokter pulang. Saat ini yang ada di pikirannya hanya Medlyn. "Gue bakal musnahin, siapapun yang udah nyakitin lo kak" ucap Elvan seraya mengusap kepala Medlyn dan menyelimutinya. ○---○ "Kina!! Lari sayang!!!" Teriak seorang wanita. "Ngga bunda. Kina mau sama bunda!" "Pergi!! Akh! Pe-pergi Kina" "BUNDA!!" "Pisau!" "Jangan tusuk bundanya Kina! Tolong! Ada orang jahat!" "Ki-Kina akh.. La-ri" "Jangan!" "Bunda!!! Akh.. bunuh Kina om! Bunuh! Tapi jangan bunuh bunda!!" "JANGAN BUNUH BUNDA!!" Teriak Medlyn dengan mata tertutup. "Kak! Kakak! Bangun kak!" Elvan menggoyangkan tubuh Medlyn. Namun Medlyn tetap tidur. Namun lebih tenang. Ia menghembuskan nafasnya. Kondisi Medlyn semakin buruk. Pandangan Elvan beralih kepada Medlyn lagi saat ia mendengar Medlyn meracau lagi. "Jangan sentuh gue!" "Pergi lo!" "Jauhin gue!" "GAVIN!!" "Tolong..." lirih Medlyn. Elvan tersenyum kecut dan mengusap kepala Medlyn agar ia kembali tenang. Belum lama Medlyn menggigau tentang Bundanya, dan kini soal Kemarin. Lagi lagi Medlyn menggigau. Tapi ini lebih aneh dari yang tadi. "Elvan, gue sayang sama lo" Elvan tersenyum cerah. "Elvan juga sayang sama kak Ala" Ia lalu memeluk Medlyn yang masih tertidur. Tak lama Elvan justru ikut tenggelam ke alam mimpi. ○---○ Usapan lembut di kepalanya membuatnya membuka mata. Ia terkejut melihat orang yang melakukan itu. "Ka-kak ngapain?" Tanya Elvan ragu ragu. "Gangguin lo tidur. Kaya dulu" Elvan mengeratkan pelukkannya pada Medlyn. Ia mengusap lembut punggung Medlyn. "Maafin Elvan kak, Elvan gagal jagain kakak" Elvan menangis. "Jangan nangis dek, gue baik baik aja kok. Justru harusnya gue yang minta maaf. Gue udah misahin lo sama mami" Medlyn ikut menangis dan memeluk Elvan lebih kuat. "Kak, Elvan emang sedih jauh dari mami. Tapi Elvan lebih sedih lagi saat tau kalau kakak juga gak bahagia" Medlyn menangis semakin histeris. Elvan begitu menyayanginya. Tapi ia justru mengikuti hasutan omanya. Semua itu bermula sesaat setelah Clairin meninggal dan Siena menjadi ibu tiri Medlyn.Walaupun Siena selalu mengingatkanya akan luka yang dialami Clairin, Medlyn tidak akan juga melupakan semua kebaikan Siena. Setelah meninggalnya Clairin, Sienalah yang merawat Medlyn. Clairin tewas mengenaskan di rumahnya sendiri. Seorang pembunuh bayaran dengan brutalnya membunuh Clairin didepan mata Medlyn. Medlyn kecil hanya bisa menangis dan berusaha melempari pembunuh itu dengan pecahan kaca didekatnya. Hal itu berhasil menarik perhatian si pembunuh. Ia menghampiri Medlyn dan menusuknya. Tapi Tuhan masih membiarkan Medlyn hidup sampai saat ini untuk menemui pembunuh itu. Medlyn sangat mengingatnya. Pembunuh itu mempunyai iris mata cokelat gelap. Iris mata yang dimiliki oleh rata rata orang Indonesia. Ingatan akan hal itu tidak akan pernah bisa terhapuskan. Awalnya Medlyn membenci Siena. Karena menurutnya setelah Siena datang ke rumahnya bersama dengan Elvan, Clairin selalu menangis. Ia sempat mencoba untuk bunuh diri, tapi Medlyn adalah satu satunya alasan untuknya tetap hidup. Oleh karena itu, Medlyn merasa ia harus tetap hidup untuk mengetahui segalanya. Tidak dapat dipungkiri jika yang membuat Clairin sakit hati adalah orang yang telah menjaga Medlyn selama 10 tahun ini. Merawat Medlyn sebaik dirinya merawat Elvan. Medlyn bisa bangkit di tengah keterpurukannya bersama Elvan. Tapi hal itu hanya berlangsung selama 1 tahun. Medlyn terjatuh dari tangga dan luka tusukannya kembali robek. Rahma pun memaksa agar Elvan dijauhkan dari Medlyn karena menurutnya Elvanlah yang menjadi penyebab Medlyn jatuh. Dengan berat hati, Siena membiarkan Elvan dirawat oleh Balder dan tinggal di Washington DC , Amerika. Rahma selalu memprovokasi Medlyn jika Elvan harus dibenci. Namun hati kecil Medlyn tidak pernah menyetujuinya, tapi Rahma terlalu kukuh hingga Medlyn dengan terpaksa akan menyatakan kalau ia membenci Elvan didepan semua orang. "Kak jangan melamun. Kakak makan dulu ya, terus minum obat" ucap Elvan khawatir. Medlyn terpaku padanya sesaat. Mengingat kembali saat melihat Elvan pertama kali, setelah 10 tahun lebih tidak bertemu. Saat itu Medlyn memang terkejut melihat mata Elvan. Sorot mata yang tidak pernah berubah. Tapi wajahnya berubah. Menjadi mirip. Mirip dengan Siena. Ya Tuhan kenapa Medlyn baru menyadarinya?! "Kak.." Elvan menyentuh bahu Medlyn dan membuat Medlyn tersenyum. "Maafin gue. Gue ngga bisa ngenalin lo. Awalnya gue emang curiga sama lo. Tapi gue berubah pikiran saat lo ga ngalihin pandangan lo dari mata gue" Elvan terkekeh dan mengangguk. " ya, karena dulu, gue selalu takut sama mata lo kak. Tapi sekarang nggak. Karena gue sadar, mata lo yang bisa bikin siapapun talkluk sama lo. Termasuk gue" Medlyn lagi lagi tersenyum dan meneteskan air mata. Elvan menghapus air matanya dan merengkuh Medlyn. "Kita lupain semua masa lalu. Oke." Medlyn mengangguk. Dan balas menatap Elvan. "Kita jalanin semuanya bareng bareng ya kak" Medlyn mengangguk lagi. Namun keningnya berkerut. "Bisa lo jelasin kenapa kita sekelas? Lo harusnya masih-" "Jangan lupa kalo gue juga keluarga Sabolev kak. Apapun bisa gue lakuin" Elvan tersenyum dan Medlyn menepok jidatnya. "Ayo kakak makan dulu." Medlyn mengangguk. Untuk sesaat ia bisa melepaskan ingatannya tentang perlakuan Beni. Tapi, ada banyak hal lain yang tentunya mengganggu pikiran Medlyn. ○---○ Dilain sisi, Gavin sudah ratusan kali menelfon Medlyn, namun tidak ada jawaban. Apartemennya kosong. Begitupun dengan apartemen Elvan. Ia juga sudah mencari Medlyn kemana mana tapi ia tidak menemukan gadis itu. Ia lalu memutuskan untuk menemui Aca dan Stella selaku sahabat Medlyn. Ia juga meminta Risa, Candle, Iren dan juga Idwar. "Lo itu gimana sih Gav! Lo kan yang paling deket sama Medlyn! Lo udah bertahun tahun sahabatan sama dia! Gimana lo bisa ga tau keberadaan Medlyn?!" Teriak Iren saat Gavin sudah sampai di rumahnya. Ya mereka bertujuh sedang berunding di rumah Iren. Ini hari Minggu. Medlyn telah menghilang dari hari Jum'at pagi. Terakhir kali Aca dan Stella melihat Medlyn saat ia akan bolos bersama Elvan. "Sabar Ren, gue yakin Medlyn baik baik aja" ucap Risa. "Ris, ga biasanya Medlyn kaya gini. Udah 3 hari penuh gue ga liat dia. Ga dapet kabarnya. Gimana gue bisa tenang?" Iren terduduk lemas di sofa nya. Aca dan Stella sudah berkaca kaca sedari tadi. "Gav, apa yang disembunyiin Medlyn dari kita kita?!" Teriak Aca tiba tiba. Hal itu membuat Gavin kaget dan bungkam seketika. "Iya Gav! Gue yakin ada sesuatu yang disembunyiin Medlyn dari kita!" Sambung Stella ikut terbawa emosi. "Asal lo tau, setelah Rendy dateng dan sekolah di EASH. Medlyn berubah. Dan lo pasti tau soal itu kan?! JAWAB GUE GAVIN!!" Aca bangun dan berteriak di depan Gavin. "gue ga akan bilang apapun ke kalian tentang Medlyn. Kecuali dia sendiri yang akan bilang ke kalian" jawab Gavin dingin. Aca melorot dan terduduk di atas karpet. Pandangannya kosong. Ia sangat memedulikan Medlyn. Walaupun baru 1 tahun ini mereka kenal dan bersahabat, tapi Medlyn selalu berbuat baik padanya. "Kalian kenapa sih? Medlyn itu bukan anak anak lagi! Dia juga bisa jaga diri kali. Gitu aja kok repot" semua orang menatap tajam pada Candle. Yang ditatap justru gelagapan. "Mak-maksudnya, gue mau nenangin kalian. Biar ga gegabah kaya gini" Gavin menunduk. Mengingat kembali semua hal yang bersangkutan dengan Medlyn. "Gue mau cari Medlyn" Gavin berdiri dan diikuti oleh semuanya. "Gue ikut Gav!" Ucap Aca. "Ga ada satu pun dari kalian yang akan ikut!" "Tapi-" "Kalian ga tau apa apa soal Medlyn!jadi lebih baik kalian ga usah ngikutin gue!" Gavin berjalan keluar dari rumah Iren. Tujuannya hanya ke tempat itu. Semoga saja Medlyn memang benar berada disana. ○---○ Tbc... Part 20 ~19 Mei 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD