○---○
Kejadian kemarin sungguh sangat membuat Medlyn geram dengan Zen. Beribu kata maaf dari Zen pun diabaikannya. Untung saja, kemarin Gavin datang tepat waktu. Jika tidak mungkin Medlyn akan digondol oleh Zen.
Kemarin, Medlyn si gadis angkuh itu, sedang marahan dengan Gavin. Karena ia gengsi untuk nebeng dengan Gavin, ia memutuskan untuk menunggu angkutan umum di halte EASH. Iren, Risa dan juga Candle sudah pulang lebih dulu. Jadi Medlyn tidak bisa ikut pulang bersama mereka. Sedangkan teman barunya yaitu Aca dan Stella juga tidak bisa ia tebengi. Aca pulang bersama kakak perempuannya. Sedangkan Stella? Tentu saja dengan pacarnya, Karend.
Namun dengan kejadian kemarin, Gavin dan Medlyn bisa berbaikan kembali. Ada hikmah dibalik Zen (kea judul eftipi?? OKE SKIP)
○---○
Ini adalah hari pertama dari minggu kedua ia sekolah di EASH. Cukup melelahkan dengan tugas tugas yang sungguh berat.
Medlyn memasuki rumahnya dengan keadaan lelah, penat dan benar benar merindukan kasur.
Baru satu anak tangga dinaiki oleh Medlyn, suara barinton yang sangat ia kenal itu memanggilnya.
"Medlyn. Pulang kemana kamu 3 hari yang lalu?" Tanya papi Medlyn dengan penuh penekanan. Medlyn hanya diam dan melanjutkan langkahnya.
"Medlyn! Apa seperti itu caramu bersikap dengan orang tua?!"
"Kamu ni apa apaan sih?! Anak baru pulang sekolah dimarahin?!"
"Kamu ngga usah ikut campur! Dia bukan anakmu!"
"Dia sudah menjadi anakku saat kamu menikahi aku secara sah! Bukan secara sirih seperti simpanan mu itu!"
Plak!
Rangga menampar Siena.
"Jangan pernah kamu ikut campur masalahku. Ingat. Kalau aku menceraikanmu, kamu akan kembali ke jalanan dan menjadi orang miskin" Rangga lalu pergi meninggalkan Siena yang kini terduduk menangis.
Medlyn mendengar semuanya. Dia tidak benar benar menutup pintu kamarnya. Ia tau bahwa pertengkaran itu akan berakhir seperti biasanya. Rangga akan menampar Siena.
Medlyn selalu membiarkan itu terjadi. Karena menurutnya Siena pantas mendapatkan hal itu. Clairin, Bundanya Medlyn tidak pernah menampar Siena. Walau ia tau, perempuan itu yang telah merusak rumah tangganya. Jadi Medlyn selalu membiarkan Rangga menampar Siena, sebagai perwakilan almarhum Clairin.
Setelah ia mendengar pintu utama rumahnya dibuka lalu ditutup kembali dengan kasar, Medlyn pun berlari turun kebawah menemui Siena.
"Ma" panggil Medlyn lirih. Siena pun mengangkat kepalanya dan mencoba untuk berdiri. Medlyn pun membantunya berdiri, dan mendudukan Siena di sofa.
"Ma, Medlyn ambil P3K dulu ya ma"
"Ngga usah Med" ujarnya sambil menahan tangan Medlyn.
"Kamu duduk aja disini" sambungnya. Medlyn pun duduk disampingnya.
"Kenapa ma?"
"Med, kalau misalnya ada apa apa sama mami, mami titip Elvan sama kamu ya. Mami yakin kamu bisa jagain Elvan."
"Mami kok ngomongnya kaya gitu"
"Medlyn, mami punya 1 rahasia yang ngga pernah kamu tau selama ini"
"Mak... maksud mami"
"Belum saatnya kamu tau nak."
"Tap-"
"Nanti kamu akan tau sendiri"
"Ma-"
"Sudah ya, mami mau istirahat" Siena pun meninggalkan Medlyn dengan sejuta pertanyaan. Medlyn hanya diam. Mencoba untuk mengerti semua keadaan dan menelaah, hal apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia tidak dapat menemukannya. (Gblk bngt sih Medlyn-_)
Ia pun tak mau ambil pusing dan langsung naik ke lantai 2 dan berbaring di kasur kingsize nya.
○---○
Keesokkan harinya Medlyn bangun dengan kondisi masih mengenakan pakaian sekolah.
Ia pun berusaha mengingat kejadian semalam. Dan ya! Kemarin adalah hari yang buruk. Ia pun memutuskan untuk segera mandi dan bersiap siap kesekolah.
Setelah selesai dengan acara mandi paginya dan telah siap kesekolah, Medlyn pun turun ke lantai bawah untuk sarapan. Sebenarnya ia sedikit enggan untuk sarapan di bawah. Karena ia takut tidak bisa mengontrol emosinya saat berhadapan dengan papinya.
Dilihatnya meja makan sudah siap. Ada beberapa roti dan juga selai untuk sarapan. Tapi tuan dan nyonya besar masih belum kelihatan. Medlyn pun berusaha tidak peduli dan melanjutkan sarapan solo nya.
Setelah selesai makan, Medlyn pun beranjak bangun akan berangkat ke sekolah. Namun baru 2 langkah ia berjalan. Ponselnya sudah berbunyi.
Bang Jono is calling...
"Bang jono? Ngapain dia nelfon gue pagi pagi. Atau..." Medlyn pun langsung mengangkatnya.
"...."
"Iya bang, ada apa?"
"..."
"APA?!"
"..."
"oke bang, gue otw sekarang" Medlyn pun menutup sambungan telpon dan langsung menuju halaman rumahnya. Langkah Medlyn terhenti saat melihat Gavin telah sampai didepan rumahnya.
Medlyn pun menghampiri Gavin dengan santai.
"Hai, Gav."
"Udah siap?"
"Udah"
"Ya udah masuk"
"Eh, Gav. Sorry Gue ngga bisa bareng sama lo hari ini." Ucap Medlyn. Gavin hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai kode, kalau ia menuntut penjelasan.
"Gue mau nyusul Iren, mau berangkat bareng. Sekalian nanti balik sekul kita mau hangout. Udah lama ngga hangout. Maklum lah udah beda kelas"
"Jadi.." ucap Gavin menuntut penjelasan lebih.
"Gue bawa mobil sendiri lah Gav"
"Ya udah, gue bisa ngikutin lo dari belakang"
"Ga perlu kali Gav, lo kira gue anak kecil apa"
"Tapi Med-"
"Udah lah Gav, santai aja kali. Udah siang nih. Rumah Iren juga jauh, gue berangkat sekarang. Lo duluan gih"
"Ta-"
"Babu harus nurut sama majikan. Oke"
"Ya udah. Hati hati ya Med. Kalo ada apa apa telfon gue" Gavin pun mengalah. Lagi lagi ia mengalah dengan posisinya. Sebagai babu. Hiks.
"Oke. Dah sana pergi"
"Ngusir?"
"Iya! Cepet sono!" Gavin pun memasuki mobilnya dan pergi menuju EASH.
Setelah memastikan Gavin benar benar telah pergi, Medlyn berlari ke arah mobilnya. Ia menuju kemudi, menyalakan mesin mobilnya dan segera menancap gas.
Di perjalanan Medlyn melepas kemeja putihnya. Dan menggantinya dengan hoodie hitam yang selalu berada dalam mobilnya ini. Kaca mobil yang gelap, membuat tak seorang pun tau, apa yang dilakukan si empunya mobil. (Ketawa jahat?♀️)
Medlyn membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Bertaruh dengan waktu. Ia membelah jalanan ibukota dengan BMW seri terbaru miliknya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Medlyn cukup terkejut melihat tempat ini. Dari dalam mobil emosi Medlyn bahkan sudah naik sebelum melihat semuanya. Ia bahkan sudah bisa menebak apa yang telah terjadi.
Ia pun turun dari mobilnya dan berlari masuk. Ia terdiam di pintu berusaha menetralkan emosinya.
"SIAPA YANG MERASA BERTANGGUNG JAWAB DENGAN SEMUA INI?!" teriak Medlyn. Seketika keadaan dalam ruangan tersebut sunyi. Ridak ada lagi suara baku hantam seperti tadi. Lalu seorang pria maju ke depan mwnghadap Medlyn.
"Oh, jadi ini Queen of BS. Manis. Tapi sadis" pria itu tertawa renyah di akhir kata.
"Bisa berenti nganggep gue cewek." Jawab Medlyn dengan senyum manisnya.
"Tapi nyatanya lo itu cewek darling"
"Mungkin lo bakal nyesel bilang kalo gue cewek. Nanti" ucap Medlyn masih dengan senyuman di bibirnya.
"Perlu gue cium bibir lo, buat buktiin lo cewek apa bukan?" Sahut pria tadi dengan wajah mesumnya.
"Coba aja kalo bisa" Medlyn langsung menendang pria itu hingga tersungkur. Pria tersebut bangun. Belum sempat ia membalas tendangan Medlyn, lagi lagi Medlyn menendang perut pria itu hingga darah segar keluar dari perut pria itu. Ia lalu melangkah mendekati pria itu dan menginjak punggungnya.
"Kenapa lo pada diem? Hahaha. Lanjutin dong tawurannya. Eh tapi kan aturan dalam tawuran kalo pemimpin udah takluk, antek anteknya jadi milik yang menang kan?" Sisi iblis Medlyn sungguh menguap ke permukaan. Ia bahkan masih bisa tersenyum saat banyak darah berceceran di lantai. Tidak. Ia masih bisa tersenyum sekarang. Tapi tak lama.
"Bang jono" panggil Medlyn. Yang dipanggil pun mendekat ke arah Medlyn.
"Bawa dia, dan cari tau apa motif dia ngacak ngacak basecamp kita. Setelah itu, kirim datanya ke gue" ucap Medlyn dingin, namun masih dengan senyuman manisnya.
Setelah pria tadi disingkirkan dari hadapan Medlyn, para anggotanya yang saling baku hantam tadi bertekuk lutut pada Medlyn.
"Kita bakal ngabdi sama Kina. Kita janji bakal setia sama Kina" ucap salah satu dari mereka. Ya, Kinara Aubriana Sabolev. Namanya cukup dikenal di daerah Amerika.
Medlyn? Medlyn adalah Kina. Kina adalah Medlyn. Dewita Azkassyah Medlyn hanya sebuah nama samaran yang digunakan untuk melindunginya dari segala ancaman. Karena keturunan Sabolev tidak akan pernah tenang selama musuh mereka masih hidup.
"Kami berjanji Kina" ucap mereka lagi. Medlyn hanya diam. Kepalanya mulai pusing, melihat darah dimana mana. Ia lalu melewati mereka, berjalan menuju sebuah ruangan dengan berusaha terlihat baik saja. Mereka semua tau, jika Medlyn membutuhkan waktu untuk sendiri. Mereka tidak tau, jika Medlyn sangat trauma dengan darah.
Medlyn menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia langsung duduk dan mulai menangis, dan berteriak. Ruangan itu tidak kedap suara. Tapi tidak satupun berani untuk masuk ke dalam. Ia tidak ingin, siapapun mengetahui kelemahannya ini.
Medlyn mengalami trauma saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat sang bunda, Clairin dibunuh dengan sangat sadis. Dirumah mereka sendiri. Ia melihat bagaimana penjahat itu menghabisi nyawa bundanya, menggertak, serta menyiksanya. Darah berceceran dimana mana. Sejak saat itu, setiap Medlyn melihat darah dan merasa terancam, ia akan bersikap seperti berada pada masa itu lagi.
○---○
At Edgwar Academy Senior High School
Gavin sangat gundah. Ia tidak tau mengapa ia sangat khawatir dengan keadaan Medlyn. Ia keluar dari mobilnya. Memeriksa area parkir. Medlyn masih belum sampai.
Perasaan Gavin semakin tidak enak dan memuncak saat melihat Iren, Candle dan Risa mengampirinya.
"Gav, kok lo sendirian?Medlyn mana?" Tanya Iren setelah sampai dihadapan Gavin. Gavin membeku. (Kena laser es dari elsa nih-_)
"Iya Gav, semalem gue mimpiin Medlyn mandi. Kan kata orang itu artinya jelek"
"Iya Ris, jelek itu artinya. Gue jadi khawatir sama Medlyn"
"Gav jawab" ucapan Iren membuat Gavin tersadar dari lamunannya. Medlyn telah membodohinya. Dan bodohnya Gavin percaya saja dengan gadis itu. Betapa bodohnya Gavin.
"Medlyn bilang dia mau jemput lo!"
"Ngga Gav! Dia ga ada bilang apa apa! Semalem juga ga bales chat kita, sampe pagi ini!"
"Medlyn dalam bahaya. Bilang ke buk Gita kalo gue izin." Ucap Gavin sambil berlalu meninggalkan mereka. Gavin kembali ke tempat mobilnya terparkir. Ia pun segera keluar dari EASH.
Bel masuk sudah akan berbunyi, tapi Gavin masih bisa keluar? Jangan lupakan siapa Gavin ya guys.
Gavin mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Hanya satu tempat yang pasti dituju Gavin saat ini. Medlyn pasti disana.
"Bertahan Med, gue dateng" ucap Gavin dalam mobil.
○---○
Tbc...
Part 6 ~15 April 2020