5 | Nikah?!

1354 Words
"Sebesar apapun egoku, aku akan tetap berbalik dan meninggakannya hanya untukmu" ○---○ Keesokkan harinya Medlyn bangun dan sudah berada di kamar yang semalam sempat ia tiduri. "Pasti Gavin yang bawa gue kesini" ujar Medlyn pada dirinya sendiri sambil menguap. Ia berjalan ke arah meja rias dan menatap wajahnya sendiri. "Oke, good morning Medlyn. Yesterday was a good day. And today must be better than yesterday. Keep spirit" sambungnya. Ia suka melakukan hal ini. Menyemangati dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian ia membuka ponselnya. Niat awalnya ia ingin mencari kabar hari ini. Namun ia malah melihat chat line yang masuk. Just Zenadgtr Med? Are u okay? Kok cuma d read? Medlyn menghembuskan nafasnya. Jujur ia memang suka memainkan pria. Namun jika pria yang belum saja dimainkan sudah berlaku seperti ini, Medlyn agak ilfeel. Medlyn pun akhirnya membalas line dari Zen. Azzmed Sorry kak, smlm ketdrn Zenadgtr Okey, no problem. Emm,,, gmna klo pgi ini l berngkt barng gue? Azzmed Sorry kak, gue brng Gavin. Read. "Idih cuma di read" kesal Medlyn sambil memaki ponselnya. Oke Medlyn juga g****k:v "Apa yang cuma di read?" Suara Gavin dari pintu kamar membuat Medlyn menengok ke arah pintu. "Gavin, sejak kapan lo disana?" "Sejak majikan gue bangun" jawabnya sambil berjalan mendekati Medlyn. "Apaan siih Gav, receh lo" "Iya iya, lo mandi gih. Tadi mami Siena nelfon, nanyain soal elo." Ujarnya sambil duduk di kasur. "Terus lo jawab?" "Menurut lo?" "Kenapa lo kasih tau sih Gav. Biarin aja mereka bingung" "Dan ngerbiarin pasukan bokap lo ngacak ngacak rumah gue? Gila lo" "Eh, iya juga sih. Terus apa aja kata mami" "Beliau bilang, gue suruh jagain elo." "Aelah itu mah emang tugas ubab kali" "Haha, iya Med. Kayanya masalah antara papi sama mami lo makin ribet deh Med. Soalnya suara mami Siena kaya abis nangis gitu" "Gue bingung Gav harus kaya gimana." "Ya udah, lo mandiiii cepetann! Nanti baju lo dianterin sama supir. Gue ga mau ya kalo kita ampe telat" ucap Gavin sambil berdiri dan hendak keluar dari kamar Medlyn. "Gavinn" panggil Medlyn. "Apa lagi" Gavin pun berhenti dan berbalik menghadap Medlyn. "Pelukk" ealah majikannya lagi manja-_ "Gak" tolak Gavin. "Gavinn ihhh" rengek Medlyn. Akan sulit situasinya jika Medlyn semakin merengek. "Gak. Gue gak mau! Mandi sono lo. Bauk!" "Ihhh gue nangis nih" oke, Medlyn mulai mengancam. Gavin tidak bisa menolak kali ini. "Ck." Gavin berdecak sembari menghampiri Medlyn didepan meja rias. Memeluknya yang tengah duduk. Ide jail Gavin pun meronta ronta. Ia mengangkat Medlyn dan menggendongnya didepan ala bayi koala. Medlyn pun refleks melingkar kan lengannya ke leher Gavin. "GAVIN TURUNIN!!" "ogah" "GAVINNN NANTI GUE JATOH ANJIR!!!" "bodo amat" Gavin menggendong Medlyn dan membawanya turun ke bawah. Di ruang makan sudah terdapat papa dan mama Gavin yang sedang santai menikmati segelas teh. Mereka pun kaget melihat Gavin yang menggendong Medlyn turun. "Ma, liat nih anak kesayangan mama. Disuruh mandi malah minta gendong" "Ngga ma! Gavin boong!" "Mau gue jatohin?" "Gavinnn ihhh" "Ya udah nurut" Gavin pun kembali berjalan melewati ruang makan. Papa dan mama Gavin hanya tertawa melihat kerecehan 2 remaja itu. "Gavinnn turuninnn!!!" Rengek Medlyn. Namun Gavin hanya diam dan tidak menanggapinya. Tak tanggung tanggung. Gavin membawa Medlyn ke halaman belakang rumahnya. Ia pun melompat kedalam kolam renang. Tentu saja dengan Medlyn yang masih dipelukkannya. Byurrr. "GAVIN b**o!! BAJU GUE BASAH SEMUA ANJIR!!" "HAHAHAHA" Mendengar ada keributan di halaman belakang rumahnya, papa dan mama Gavin pun berlari ke halaman belakang. Mereka kembali terkejut dengan tingkah ajaib Gavin. "Gavin! Bawa Medlyn masuk. Nanti masuk angin lho nak" ucap mama Gavin sambil menyuruh pelayan mengambilkan handuk untuk mereka. "Katanya Medlyn mau berenang ma" jawab Gavin. "Gavin boong ma!" Medlyn pun menyangkal ucapan Gavin sambil mencipratkan air ke wajah Gavin. "Gak ya!" Balas Gavin yang juga ikut menciprati Medlyn dengan air. "Iya!" "Enggak!" "Iya!" "Enggak!" "Iya!" "Enggak" "Iya!" "Enggak!" "UDAH CUKUP. KALIAN BERDUA NAIK SEKARANG ATAU MAMA NIKAHIN KALIAN SEKARANG JUGA" mereka berdua diam. Namun Medlyn dengan jail justru berkata. "Nikahin aja ma, ga papa. Biar Medlyn lebih gampang nyiksa Gavin" ucap Medlyn sambil nyengir. Gavin sungguh ingin mengumpat saat itu. Ia tau mereka sedang mengejeknya. Gavin pun mengangkat Medlyn dan membawanya ke kamar mandi. "GAVIN SIALAN LO" ○---○ Setelah drama pagi yang terjadi, Medlyn dan Gavin perang dingin. Saat sarapan mereka hanya saling melempar tatapan tajam. Saat di mobil pun, Medlyn tidak duduk didepan. Ia justru memilih duduk dikursi belakang. Gavin tak memberikan protes, padahal ia tau, kalau ia sedang diberlakukan layaknya seorang supir. Medlyn tetap diam dan tidak akan meminta maaf duluan karena ia merasa sebagai korban disini. Namun Gavin juga enggan meminta maaf karena saat ini Medlyn justru sedang tertawa bersama Zen, kakak kelasnya itu. Dari awal Medlyn melihat Zen, Gavin sudah mulai tidak menyukai Zen. Eh sekarang malah si Zen itu asik asik an dengan Medlyn. "Med, lo marahan sama Gavin?" Tanya Iren. "Iya" jawab Medlyn singkat. "Kenapa?" Tanya Risa. "Dia jeburin gue ke kolam pagi pagi buta" jawabnya dengan tenang. Mereka pun tertawa, kecuali Zen. "Gavin itu siapa?" Tanya Zen. "Sahabat gue" "Sahabat rasa pacar. Ya gak Med" ledek Candle. "Apasi Can, ngaco lo. Mending lo makan nih biar pinter" Mereka pun melanjutkan makan siang mereka sambil bersenda gurau, dan menonton acara pdkt Medlyn dan Zen. Sampai bel masuk pun berbunyi. Semua siswa sisiwi EASH segera masuk kedalam kelas. Begitupun dengan Medlyn dan kawan kawannya. Medlyn dan Gavin berbeda kelas. Medlyn masuk di X IPA 1 sedangkan Gavin masuk di X IPS 3 sekelas dengan Iren, Risa dan Candle. Mereka memang beda mengambil jurusan saat pendaftaran kemarin. Dikelasnya Medlyn berteman dengan Aca dan Stella. Menurut Medlyn, Aca dan Stella dapat dipercaya karena gaya mereka yang bahkan sudah blak blakan sejak pertama bertemu. ○---○ Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari 15 menit yang lalu. Namun Gavin tak kunjung melihat Medlyn memasuki area parkir. Ia pun memutuskan untuk berjalan ke arah luar sekolah. Ia melihat Medlyn sedang ditarik tarik oleh Zen. Emosi Gavin seketika naik. "Lepasin Medlyn" ucapnya dingin. "Lo ga usah ikut ikutan. Orang gue cuma mau ngajak dia balik bareng doang" jawab Zen dengan keukeuh "Tapi gue gak mau! Lo ngerti bahasa manusia gak sih! Gue gak suka dipaksa! Apalagi sama lo!" Balas Medlyn sambil mencoba melepaskan tangannya. Zen yang kesal dengan ucapan Medlyn justru mengangkat tangannya dan hendak menampar Medlyn. Medlyn memejamkan matanya bersiap merasakan perih. (Kan g****k-_) Namun, belum sempat tangan Zen menyentuh pipi Medlyn, Gavin langsung menangkis tangannya dan mendorong Zen hingga tersungkur. Beberapa siswa siswi EASH yang belum pulang hanya bisa menonton hal yang mereka anggap sebuah pertunjukkan. Gavin masih belum merasa puas. Ia lalu melihat Medlyn. Air matanya tak jatuh, namun matanya menyiratkan luka. Gavin lalu menarik Zen hingga bangun dan mencengkram kerahnya. "Minta maaf sama Medlyn. SEKARANG!!" ucap Gavin di depan wajah Zen. "Sorry Med" Bugh. Satu bogem mendarat di pipi Zen. "Sekarang juga, lo pergi dari sini. Dan jangan pernah gangguin Medlyn lagi" ucap Gavin dengan penuh penekanan pada Zen. Zen pun hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Gavin dan Medlyn dengan motornya. Gavin bernafas lega. Untung saja ia tidak terlambat. Jika ia sampai terlambat, mungkin ia akan menyesal selamanya. Ia berdiri tegak, membelakangi Medlyn. Ia sungguh tak kuat bila harus melihat Medlyn yang tersakiti. Ingin rasanya ia membunuh pria tadi. Namun ia tau, hal itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. "Gavin..." panggil Medlyn pelan. Gavin menghembuskan nafasnya. Lagi. Ia mengalahkan egonya yang sedang marah dengan gadis ini. Ia lalu berputar, menghampiri Medlyn dan memeluknya. Bahu Medlyn bergetar menyiratkan kalau ia sangat ketakutan. Ia menangis dalam dekapan Gavin. Untuk yang kesekian kalinya Gavin akan berbalik meninggalkan egonya dan membawa Medlyn dalam pelukannya, memberikan gadis itu kekuatan. Itulah yang selalu Gavin lakukan selama ini. "Sutttt udah Med, gue ada disini" bisik Gavin pada Medlyn. "Lo jangan nengok, sembunyiin muka lo di d**a gue. Kita ke dalem ambil mobil" ucap Gavin. Medlyn pun mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan Gavin. "Cih. Lo cuma bisa bertahan dalam lindungan Gavin doang. Gue bakal buat lo hancur sehancur hancurnya. Liat aja, seorang Dewita Azkassyah Medlyn bakal menunjukkan tangisannya yang menyedihkan itu di depan banyak orang" Ucap orang itu seraya meninggalkan tempat kejadian. ○---○ Tbc... Part 5 ~10 April 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD