○---○
"Gue mau pulang sekolah, lo nemenin gue ke mall" jawab Gavin.
"Just that? Really?"
"Mau tam-"
"No! Okey nanti balik sekul gue temenin lo" sanggah Medlyn sebelum Gavin menambah daftar kegiatannya lagi.
Setelah itu bel masuk pun berbunyi, pengurus OSIS pun memasuki aula dan melanjutkan pls dengan beberapa acara.
○---○
Pukul 16.00 calon siswa siswi EASH telah dipulangkan. Medlyn dan Gavin pun langsung menuju mall. Sebelum masuk ke dalam mall Medlyn dan Gavin mengganti pakaian mereka.
Mobil Gavin berhenti di parkiran mall. Ia langsung membuka bajunya di depan Medlyn. Medlyn tidak seperti wanita lain yang akan berteriak saat melihat tubuh shirtless Gavin. Medlyn justru memandanginya. Membuat yang dipandang salah tingkah.
"Ga usah gitu ngeliatinnya bisa?" Tanya Gavin sambil mencubit pipi Medlyn.
"Gue bangga aja sama babu gue"
"Bangga?"
"Iya. Ini semua kan didikan gue. Hahaha" jawab Medlyn sambil meninju ringan perut kotak kotak Gavin.
"Dan ini semua juga cuma bakal jadi milik lo Med" sambung Gavin dalan hati. Ya. Memang Medlyn yang dari dulu memaksanya untuk melakukan latihan fisik dan mempelajari beberapa jenis bela diri. Itu semua dilakukan Medlyn agar Gavin kelak dapat menjaga dirinya sendiri.
"Gue keluar duluan ya, lo ganti aja didalem. Kaca mobil gue gelap kok"
"Okeh ubab" jawab Medlyn sambil mengacungkan jempolnya dan cengengesan. Gavin hanya tersenyum tipis dan langsung keluar dari mobil.
Beberapa saat kemudian Medlyn keluar dari mobil Gavin dengan hoodie peach kesukaannya. Mereka hanya mengganti baju saja. Bawahan mereka masih celana dan rok abu abu khas anak SMA.
"Gav, kita mau kemana dulu?" Tanya Medlyn sembari berjalan memasuki mall.
"Terserah lo aja"
"Kok terserah gue sih. Kan yang dihukum gue" jawab Medlyn bingung.
"Karena yang dihukum elo, berarti lo harus bikin gue seneng disini" Gavin berhenti dan melirik timezone. Medlyn paling sebal dengan tempat itu, karena ia selalu saja kalah saat bermain disana. Gavin yakin Medlyn tidak akan memilih tempat itu
"Kita ke timezone" ucap Medlyn sambil menarik Gavin ke arah timezone. Cukup mengejutkan bagi Gavin. Medlyn menurunkan egonya kali ini.
○---○
Sekarang sudah pukul 8 malam. Medlyn sudah sangat lelah tertawa. Begitupun dengan Gavin. Mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Med, lo mau gue anter kemana?" Tanya Gavin saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Medlyn tak menjawab. Ia hanya diam dengan pandangan kosong.
"Med?" Sambung Gavin sambil menggoyang-goyangkan bahu Medlyn.
"Eh... apa? Lo tanya apa tadi Gav?"
"Hftt. Balik ke rumah gue aja ya"
"Tap-"
"Mama sama papa ada dirumah kok" jawab Gavin sambil mengelus kepala Medlyn.
"Hmm...Oke" Gavin pun menyalakan mobilnya dan beranjak pergi dari parkiran mall tersebut.
○---○
30 menit kemudian, Gavin dan Medlyn sampai di rumah Gavin. Medlyn tertidur di mobil Gavin. Gavin pun hanya melihatnya dengan senyum tipis.
"Kenapa nasib lo kaya gini sih Med, semenjak bunda meninggal lo jadi berubah" ucap Gavin pada Medlyn yang tengah tertidur. Tentu saja Medlyn tidak mendengarnya. Gavin pun turun dari mobil, dan berjalan ke pintu samping mobil. Ia menggendong Medlyn ala bridalstyle, dan membawanya ke kamar Medlyn. Ya, Medlyn sampai memiliki kamar disini, karena ia sudah sering menginap disini dari dulu.
Pintu rumah Gavin terbuka dan menampakkan 2 orang paruh baya, yang terkejut melihat Gavin yang sedang menggendong seorang gadis.
"Gavin, siap... loh Medlyn? Medlyn kenapa?"
"Suttt ma, jangan berisik. Medlyn ga kenapa napa kok. Dia cuma kecapekan. Gavin bawa dia keatas dulu ya ma, pa" Gavin pun membawa Medlyn ke kamarnya, merebahkan gadis itu dikasurnya dan menyelimutinya. Gavin pun melepas sepatu dan kaoskakinya. Semua hal itu merupakan tugas seorang babu bukan?
Setelah memastikan Medlyn tidur dengan nyaman, Gavin pun mematikan lampu dan keluar dari kamar Medlyn. Ia tidak menggantikan baju Medlyn karena ia tidak yakin bila imannya akan kuat melihat tubuh Medlyn. Jadi ia membiarkan Medlyn tidur dengan hoodie pinknya dan rok abu abu.
Setelah keluar dari kamar Medlyn, Gavin segera turun kebawah, menemui orang tuanya. Gavin yakin mama papanya pasti telah menunggunya. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan Medlyn.
"Gavin, Medlyn udah bener tidurnya? Udah makan belom? Dia-"
"Ma, Medlyn udah tidur. Mungkin kecapekan."
"Gavin. Ceritakan apa lagi yang terjadi dengan Medlyn. Papa rasa Medlyn sedang tidak baik baik saja. Semalam papa mimpiin dia yang aneh aneh. Papa khawatir"
"Pa, papa tau kan tadi pagi Gavin berangkat pagi pagi banget karena disuruh sama Medlyn. Papa tau? Setelah Gavin sampe disana yang Gavin denger justru mami sama papi nya Medlyn lagi berantem pa" jawab Gavin dengan hembusan nafas diakhir kalimatnya.
"Pa, biarin Medlyn tinggal disini aja pa"
"Rangga ngga mungkin biarin anak perempuan dia satu satunya, tinggal sama orang lain"
"Tapi Medlyn ngga bahagia disana pa" mama Gavin pun mulai menangis.
"Ini semua ulah Siena! Pelakor!"
"Udah ma, udah. Tenang." tenang papa Gavin, pada mamanya Gavin.
"Gimana mama bisa tenang pa, mama bisa ngerasain jadi Medlyn pa. Papa tau sendiri si Rangga itu seperti apa"
"Tapi kita ngga bisa berbuat apa-apa ma. Kita cuma bisa jagain dia dari jauh"
"Mama gak rela pah kalo sampe Medlyn kenapa napa."
"Ma, mama yang tenang. Gavin pasti selalu jagain Medlyn. Mama sama papa sekarang istirahat ya. Udah malem."
"Ya udah Gav, papa sama mama mau ke kamar. Kamu jangan malem malem tidurnya" Papa dan Mamanya pun beranjak ke kamar mereka. Sedangkan Gavin masih berada di ruang keluarga. Ia masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan papanya.
Keuangan Gavin tidak sepenuhnya diberikan cuma cuma oleh papanya. Ia juga diperkerjakan namun hanya paruh waktu saja.
○---○
Pukul 1 malam. Pekerjaannya hampir selesai, namun fokusnya teralihkan saat mendengar langkah kaki ditangga.
"Ma?" Panggil Gavin. Namun tidak ada jawaban. Ia cukup terkejut saat melihat kalau Medlyn yang turun.
"Lho, Med kenapa bangun jam segini?" Tanya Gavin setelah Medlyn berada di depannya.
"Gue kebangun Gav. Gue mimpiin bunda lagi" racaunya sambil duduk di sofa. Gavin pun duduk disebelahnya. Merangkul gadis itu dan menyenderkan kepala Medlyn dibahunya.
"Med, bunda udah tenang disana"
"Kenapa sih Gav, bunda harus pergi secepat ini. Gue ga yakin kalo gue kuat jalanin ini semua sendirian" jawabnya. Medlyn mulai menangis.
"Suttt jangan nangis. Nanti dikira mana ada kunti disini"
"Gavin... gue serius ini" rengek Medlyn.
"Mau diseriusin?"
"Ish, lo mah"
"Udah yah, jangan nangis. Med, papi sana mami lo kenapa tadi pagi?"
"Biasa lah Gav, papi ketauan selingkuh lagi" jawabnya dengan pandangan kedepan.
"Terus mami?"
"Mami marah sama papi. Karena papi selingkuhnya ngga mulus. Masa nomor selingkuhannya dinamain "selingkuhan" gue aja awal dengernya ngakak. Tapi setelah gue cerna lagi. Tetep aja ngga ada yang lucu. Papi masih aja selingkuhin mami. Padahal dulu papi udah janji kalo mami Siena yang terakhir. Tapi kayanya itu cuma bualan doang. Buktinya sekarang papi masih selingkuh lagi" jelas Medlyn panjang lebar dan diakhiri dengan senyuman kecut.
"Gav, gue kangen banget sama bunda. Besok anterin gue kemakam bunda ya Gav" sambungnya.
"Iya"
"Gav, kayanya setelah ini gue mau tinggal di apart aja deh. Gue ga tahan tinggal dirumah"
"Emang papi lo bakal ngijinin?"
"Papi pasti ngabulin permintaan gue"
"Hmm, iya sih. Papi lo sayang banget sama lo."
"Tapi gue benci sama papi. Karena papi selingkuh, bunda meninggal. Hiks... papi jahat Gav..."
"Udah Med. Jangan nangis lagi" ucap Gavin menenangkan Medlyn sambil menghapus air mata Medlyn. Setelah Gavin menghapus air mata Medlyn, Medlyn kembali menyenderkan kepalanya di bahu Gavin. Ia membuka ponselnya. Ia cukup terkejut saat membuka aplikasi line. Notif beruntun yang diterimanya dari orang yang sama.
Gavin cukup kesal melihat isi ponsel Medlyn.
"Kak Zen? Omg gue lupa kalo dia target gue sekarang"
"Lo udh tuker id line sama dia?"
"Udah tadi pas dikantin. Gue mau kasi tau lo. Tapi lo malah langsung ke aula" terang Medlyn. Ia pun membuka chat dari kakak kelasnya itu.
Today, 14.00
Zenadgtr
Hai Medlyn
Eh iy lupa lo msih pls?
Today, 16.00
Zenadgtr
Med, balik brng gue yuk, sekalian mkn mlem.
Today, 18.37
Zenadgtr
Med? Lo marah ato gmn sm gue?
Sorry klo gue ad slh sm lo. Tp jan diemin gue:(
"Astaga, diihh. Gav liat dehhh. Dia kea ngarep gitu ga sih sama gue"
"Iya, kesel gue bacanya"
"Apalagi gue. Dah lah besok aja balesnya" Medlyn pun keluar dari aplikasi line dan mematikan ponselnya.
"Ya udah lo tidur sekarang"
"Ga mau dikamar Gavv"
"Terus?"
"Disini"
"Lah emang berani sendirian?"
"Sama elo lah!"
"Kalo gue ga mau?"
"Gue paksa"
"Kan gue ga mau"
"Gavin,, babu harus nurut sama majikan...at-"
"Oke lo menang" Medlyn pun tersenyum melihat kekalahan Gavin. Ia pun kembali menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. Kali ini ia juga memeluk tubuh kekar itu.
"Bentar, kalo gue sedeket ini sama Medlyn, apa dia bisa denger suara jantung gue ?" Batin Gavin. Oke kegoblokannya Gavin menguap ke permukaan:v
"Med lo bisa denger detak jantung gue nggak?" Tanya Gavin pada Medlyn. Kan g****k-_
"Bisa. Cepet banget kaya abis lari maraton" jawab Medlyn. Gavin membeku. Apa gadis ini tau jika itu artinya Gavin mencintainya?
"Sama kaya jantung gue. Jantung gue juga detaknya cepet Gav. Itukan tandanya kita idup. Jadi lo ga perlu khawatir Gav" sambung Medlyn. jawaban polos itu membuatnya sedikit kesal dan juga senang sekaligus. Medlyn memang sangat polos.
○---○
Tbc...
Part 4 ~8 April 2020