Bagas mendengkus kasar. Pemuda jangkung itu masih kesal dengan ulah Maliq yang meninggalkannya di dalam rumah hantu tadi. Apalagi pemuda berkulit gelap itu malah mengajak beberapa hantu untuk mengobrol. Walaupun hantunya bohongan, yah tetap saja nyeremin. Bagas mendongak kecil saat melihat Arseno dan Alvaro melangkah mendekat dengan menenteng makanan pesanan mereka semua. Kedua pemuda sekaligus adik-kakak itu sudah mendudukan diri pada kursi dengan sekilas meletakan nampan di atas meja. Alvaro berdecak lirih lalu menyodorkan minuman dingin kearah Azura, "minum dulu biar gak marah marah terus," cibirnya dengan mendekatkan gelas minuman pada Azura. "Ck. Kalau aku marah emangnya kenapa? Emang kamu pantas dimarahin? Siapa suruh tadi pas di dalam sana ikut teriak ketakutan? Bukannya nolongin

