Kebebasan?
Sebagai penulis, dunia Miana Kaluna justru runtuh dalam satu tarikan napas kedalam sebuah alur yang paling buruk yang bisa ia bayangkan. Terutama ketika sore itu, Mian membukakan pintu untuk seorang wanita.
Wanita muda dengan pakaian sederhana yang sedikit terlalu aneh untuk lingkungan yang makmur. Ia terlihat gelisah, Mian bisa melihat wajahnya yang pucat dan lesu menatap Mian dengan tatapan lebar. Penuh dengan emosi yang tidak bisa Mian tangkap artinya.
Tangan wanita itu turun ke bagian yang terlihat menonjol. Sebagai seorang pembuat plot cerita, Mian merasa bahwa entah bagaimana insting nya sudah mengerti, kejadian apa yang akan tercipta sebentar lagi di hadapannya.
"Cari siapa ya?" senyum mian tersungging ramah. Secerah udara sore itu yang masih terasa hangat dan kaya akan sinar matahari.
"Ap... apakah benar ini rumah pak Galih Rivaldo?"
Dari gerakan mata wanita itu yang menghindari Mian, napasnya yang naik turun dan tangannya yang sibuk meremas-remas membuat Mian merasakan atmosfer yang mulai memberat. Sebuah pertanda buruk. Sangat buruk.
"Benar, ada perlu apa ya?"
Tatapan wanita muda itu melirik melewati Mian, mengamati pintu masuk, napasnya tertahan pelan. Matanya melebar, kilasan sesuatu yang mirip dengan pengenalan, lalu keterkejutan, melintas di wajahnya. Ia memegang perutnya, buku-buku jarinya memutih.
“Saya… saya mencari Galih,” ia tergagap, suaranya serak dan lemah.
Jantung Mian berdebar aneh dan mengkhawatirkan. Galih. Di sini? Di rumah mereka? Pikirannya berpacu, mencari penjelasan logis apa pun. Seorang klien? Kerabat jauh yang belum pernah ia temui? Tetapi kesedihan yang jelas dari wanita muda itu, sikapnya yang dijaga ketat, menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks.
"Kebetulan pak Galih sedang dinas diluar kota." Mian menelan ludah dengan susah payah. Ini bisa apa saja, tapi entah kenapa jantung Mian mulai berdebar kencang.
"Berarti anda Bu Mian?"
Mian mengangguk masih berusaha mempertahankan keramahannya.
"Saya... hamil, anak pak Galih..."
Kata itu jatuh begitu saja. Seperti kaca yang terlempar dan pecah di antara mereka berdua. Mian terdiam, namun netranya justru terkunci pada jam tangan Patek Philippe di pergelangan wanita itu. Seri yang sama dengan yang Galih beli saat izin 'lembur' bulan lalu.
Alih-alih meledak, ada sesuatu yang berbunyi klik di kepala Mian. Saklar emosinya padam.
Sebuah senyum terulas di bibir Mian, begitu tulus dan simetris, seolah dia baru saja menemukan solusi untuk bab yang buntu. "Oh, jadi ini plot twist-nya?" gumamnya nyaris tak terdengar.
'Sepuluh tahun pernikahan, dan Galih memberiku plot twist paling klise dari rak buku diskon?'
Mian ingin tertawa. Rasanya sangat konyol sampai-sampai rasa sakitnya lupa untuk muncul.
"Silakan masuk. Jangan berdiri di luar, tidak baik untuk bayinya," ujar Mian dengan nada selembut sutra.
Dengan gestur yang sangat sopan, nyaris seperti pelayan hotel berbintang lima. Mian memandu wanita itu masuk. Mian bisa merasakan tatapan ketakutan wanita itu di tengkuknya.
Mian ingin memberitahunya.
'Jangan takut, aku tidak akan menjambakmu. Aku hanya sedang mencoba mengingat, di bab mana biasanya tokoh utama sepertiku akan mulai menghancurkan segalanya.'
"Duduklah, uhm dengan siapa ya?"
"Nama saya Rania Mailani."
"Oh, Rania mau minum apa? Teh atau Kopi?" Senyum Mian tidak kunjung pudar, itu yang membuat wanita bernama Rania itu bergidik ngeri. Dia sudah siap dengan teriakan dan argumen panjang, namun sikap Mian membuat wanita hamil itu gemetar lebih dari pada jika Mian mengamuk saja.
"T.. Teh saja terimakasih..."
"Tunggu disini yah..."
Di dapur, tangan Mian bergerak mekanis. Ia menyeduh teh, menatanya di nampan dengan beberapa biskuit dan pai apel. Pai itulah yang tadi dimakannya dengan Galih sebagai sarapan, seolah dunia ini masih berjalan baik-baik saja tanpa masalah.
Kini akan Mian berikan sebagai suguhan dari selingkuhan pria yang masih mencium kening Mian sebelum berangkat dinas pagi tadi.
"Aku berangkat dulu sayang, jaga rumah kita ya.." begitulah kata si b******k itu.
Otak Mian membayangkan kalau saja ia adalah villain dalam cerita, Mian pasti menunggu Galih pulang tepat ketika dia menyuguhkan teh berisi sianida ke dalam minuman selingkuhannya. Tapi ini dunia nyata. Dan kenyataannya, Mian bahkan tidak memiliki racun apapun di rumahnya.
'Eh... apakah pembersih lantai termasuk racun?'
Mian tidak segila itu, dan dia juga masih terlalu waras untuk masuk kedalam penjara. Sambil berjalan, Mian menghitung langkahnya. Satu, dua, tiga... setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terasa seperti titik-titik yang menandai akhir dari sebuah paragraf panjang bernama pernikahan.
“Sekarang… kamu bisa ceritakan semuanya. Pelan-pelan. Dan kalau kamu punya bukti, aku ingin lihat.”
Riana mengeluarkan ponsel dan sebuah kertas. Tangan Mian, seolah digerakkan oleh kekuatan yang tak terlihat, terulur dan mengambil kertas itu. Jari-jarinya menyentuh tangan wanita muda itu, dan ia merasakan getaran menjalari tubuhnya.
Kertas itu terasa hangat secara tidak wajar, seolah-olah telah digenggam sangat lama. Ia membukanya, pandangannya tertuju pada kata-kata yang ditulis dengan rapi, hampir halus. Itu adalah sebuah surat. Dan di bawah surat itu, sebuah foto.
Foto itu sangat jelas, detailnya langsung terpatri dalam pikiran Mian. Itu adalah Galih. Pria itu tertawa, lengannya merangkul wanita muda itu, wajah mereka berdekatan, cahaya hangat menyelimuti mereka. Dan di bawah foto itu, konfirmasi kehamilannya yang tak salah lagi, catatan dokter yang merinci perkiraan tanggal kelahiran, tanggal yang sangat dekat.
Surat itu sendiri, ditulis dengan campuran keputusasaan yang penuh harapan dan kepolosan yang memilukan, berbicara tentang janji yang dibuat, tentang masa depan bersama, tentang cinta yang, di mata penulisnya, nyata. Surat itu ditujukan kepada Galih, merinci kehidupan bersama, rencana untuk kamar bayi, dan nama yang dipilih untuk seorang anak.
Pandangan Mian kabur, bukan karena air mata, tetapi karena kejelasan yang tiba-tiba dan intens. Bangunan kehidupan yang telah dibangunnya dengan hati-hati, sepuluh tahun tawa bersama, keseharian yang tenang, dan keyakinan yang tak tergoyahkan, runtuh di sekelilingnya.
Aroma teh dan pai apel, yang dulunya menenangkan, kini terasa menusuk hidung, menyesakkan. Ia menatap wanita muda itu, Rania, wajahnya seperti topeng kerentanan. Dalam pandangan Mian, ia tidak melihat musuh, melainkan bidak catur, bukti dari pengkhianatan Galih.
Dengungan nyaman sore hari kini menjadi deru yang memekakkan telinga di telinga Mian. Kehangatan matahari di kulitnya terasa seperti tatapan dingin dan menuduh. Dunia telah miring, tak dapat diubah lagi.
Kertas timbul itu terasa sangat halus, hampir dingin, di telapak tangan Mian yang tiba-tiba lembap. Tidak hanya itu, Rania mengulurkan tangannya mantap seolah menawarkan kartu nama, tapi gemetar saat ia menariknya kembali.
Foto lain. Gamblang dan tak terbantahkan, terbentang di antara mereka di atas meja mahoni yang dipoles halus. Itu adalah foto candid. Galih, lengannya melingkari pinggang Rania dengan posesif, senyum mereka lebar dan tanpa kepura-puraan, kontras sekali dengan keceriaan yang dipaksakan dan dibuat-buat yang sering disaksikan Mian di acara-acara sosial.
Tangan Rania menyentuh perutnya. "Galih… dia bilang… dia bilang kau akan mengerti." Suaranya bergetar. "Dia bilang kita akan menyelesaikannya. Dia berjanji."
Pandangan Mian kembali tertuju pada foto itu. Janji Galih. Sebuah kata yang sering ia gunakan sepanjang pernikahan mereka, sebuah kata yang, seperti banyak kata lainnya, terbukti hampa seperti properti panggung. Ia telah menjanjikan seumur hidup untuknya.
"Galih sering membuat janji," kata Mian, suaranya datar. Ia melihat secercah kepanikan di mata Rania. "Dan terkadang, janji-janji itu memiliki konsekuensi yang tak terduga."
"Ta.. tapi dia bilang akan membuatku bahagia..."
"Benarkah?" Tatapan Mian bertemu langsung dengan tatapan Rania. Tidak ada kemarahan di matanya, tidak ada tuduhan. Hanya keheningan yang mendalam dan meresahkan. "Dan apa kau mempercayainya?"
Rania memerah, tangannya mengepal. "Dia mencintaiku. Dia menginginkan bayi ini. Dia bilang… dia bilang kau punya buku-bukumu. Kariermu. Kau tidak membutuhkan… dia."
Kata-kata itu menghantam Mian dengan kekuatan yang aneh. Jadi seperti itu cara Galih menggambarkan tentangnya. Sepuluh tahun Mian berusaha agar tidak menjadi beban, membangun apa yang bisa Mian lakukan agar membantu meringankan keuangan keluarga.
'Terlalu mandiri sepertinya menjadi bumerang untukku'
Keheningan yang dibuat Mian, menggelisahkan Rania. Wanita itu menatap Mian dengan raut kebingungan bercampur was-was.
"Anda... tidak marah?"
Pertanyaan paling konyol yang pernah Mian dengar seumur hidupnya. Siapa wanita yang tidak marah kalau diselingkuhi? Yah mungkin hanya Mian.
"Marah tidak akan menyelesaikan apapun." Mian menyilangkan kakinya lalu terlihat mengetuk-ngetuk lengannya sendiri. Sedang menganalisis jalur yang harus ia ambil setelah ini.
Seolah telah mendapatkan pencerahan, Mian bangkit berdiri dengan elegan. Ia menatap Rania dengan senyuman yang sudah biasa ia latih saat Meet and Great buku-bukunya.
"Terimakasih sudah jujur padaku Rania, silahkan nikmati teh dan cemilannya." kata Mian, suaranya halus, nyaris tanpa emosi. "Tunggu sebentar disini..."
Tanpa menunggu jawaban, Mian berjalan ke kamarnya. Begitu pintu tertutup dibelakangnya, Ia meraih meraih handphone dan menelepon sebuah nomor yang sekarang menjadi nomor yang paling sering Mian hubungi.
"Halo pak Rendy?"
"Ya Bu Mian, ada apa?"
“Tolong buatkan aku rekening baru. Pindahkan semua aset yang atas nama ku ke rekening baru. Sekarang juga. Termasuk royalti bulan ini dan hak cipta novel-novel lama. Jangan tinggalkan satu rupiah pun yang bisa disentuh Galih.”
“Bu Mian… apa yang terjadi?” suara sekretarisku terdengar khawatir.
“Aku akan cerita nanti. Lakukan sekarang. Dan kirimkan email konfirmasi ke email pribadiku.”
Rumah ini memang atas nama Galih, tapi semua uang dari novel-novelnya, dari royalti, dari endorsement, dari investasi kecil-kecilan yang Mian kelola sendiri, semuanya sudah aman di tempat lain.
Setelah memastikan Pak Rendy akan segera memprosesnya, Mian mengakhiri panggilan.
Mian menatap sekeliling kamar dengan tatapan nanar. Kamar yang selama sepuluh tahun ini ia bagi dengan Galih. Yang setiap malam mereka habiskan bersama. Mian mendadak merasa perutnya melilit tidak enak, ia menggeleng keras mencoba mengusir rasa jijiknya. Tidak ada waktu untuk nostalgia.
Mian membuka lemari pakaian, memilih beberapa baju kesayangannya yang ia beli sendiri dari hasil jerih payah menulis, bukan pemberian Galih. Beberapa setelan yang nyaman, beberapa gaun yang selalu membuatnya merasa kuat.
Mian menghentikan gerakannya saat matanya tertumbuk pada bingkai besar di dinding kamar, foto pernikahan mereka sepuluh tahun lalu.
Dalam foto itu, Mian mengenakan gaun putih yang begitu ringan, seolah ia bisa terbang hanya dengan embusan angin. Galih berdiri di sampingnya, memandangnya dengan binar mata yang saat itu Mian yakini sebagai pemujaan abadi. Ia ingat betapa pegalnya pipinya karena tersenyum terlalu lama hari itu. Ia ingat betapa ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena mendapatkan "sang pahlawan" dalam ceritanya sendiri.
Mian berjalan mendekat, menyentuh permukaan kaca yang dingin itu dengan ujung jarinya.
Hening. Begitu hening sampai ia bisa mendengar suara jarum jam tangan Patek Philippe milik Rania yang tertinggal di bawah tadi, seolah waktu terus berdetak menghitung mundur kehancuran dunianya.
"Akting yang luar biasa, Galih," bisiknya dalam hati.
Ia memperhatikan detail kecil yang dulu luput dari pengamatannya. Cara tangan Galih menggenggam jemarinya tidak terlalu erat, seolah pria itu selalu siap untuk melepaskannya kapan saja. Ataukah itu hanya prasangkanya yang sekarang sudah teracuni?
Mian tidak menangis. Matanya tetap kering, namun ada rasa hampa yang menghisap oksigen di sekitarnya. Sebagai penulis, ia selalu bangga bisa menciptakan karakter yang setia hingga mati. Ternyata, ia hanya sedang menuliskan keinginannya sendiri ke dalam kertas, sementara suaminya sedang menuliskan naskah pengkhianatan di belakang punggungnya.
"Bab ini sudah selesai," gumamnya.
Ia membalikkan badan dan tidak sekali pun menoleh lagi ke arah tempat tidur yang kini terasa seperti tumpukan kayu lapuk yang siap runtuh.
Mian beralih ke laci meja kerja. Dia mengambil paspor, kartu identitas, beberapa buku tabungan, dan dokumen penting lainnya. Laptop dan alat tempur seninya, tentu saja tidak ketinggalan. Mian memasukkan semuanya ke dalam koper sedang, dengan cekatan dan tanpa emosi.
Sambil melipat baju terakhir, Mian kembali meraih ponsel. Ia membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Destinasi? Singapur. Kota impiannya, tempat yang selalu ingin ia kunjungi sendiri, tanpa Galih. Mian memesan satu tiket untuk penerbangan malam ini. Konfirmasi tiket masuk ke emailnya dalam hitungan detik.
Mian tahu keputusan ini terlalu impulsif. Tapi ia tidak bisa membiarkan orang lain masuk dan mempengaruhi keputusan paling besar dalam hidupnya ini.
'Tidak ada yang boleh lagi mendikte tentang hidupku!'
Mian menarik napas panjang, aroma ruangan yang dulunya ia sebut rumah kini hanya terasa seperti set panggung yang sudah tidak lagi ia butuhkan. Ia menyeret kopernya pelan, suaranya berderit pelan di atas lantai kayu, menandai setiap inci jarak yang ia ciptakan antara dirinya dan masa lalu.
Di bawah sana, Rania mungkin masih menyesap tehnya, tidak menyadari bahwa ia baru saja memenangkan sebuah trofi yang isinya telah dikosongkan oleh Mian hingga ke akar-akarnya.