KB 1
"Bapak pamit dulu ya Bu," ucap Wahyu pada Sarah dengan menyodorkan tangan kanannya yang kemudian diraih oleh sang istri untuk dihirup bagian punggungnya. Ayka mengintipnya diam-diam dari balik celah pintu kamarnya yang terbuka sangat sedikit sekali.
Kemudian gadis itu kembali duduk di tepi ranjang. Ia enggan keluar kamar. Rasanya berat sekali melepas bapaknya pergi. Lalu ia mendengar sang bapak memanggil namanya. Panggilan pertama sudah berlalu dengan tak ia hiraukan. Tak lama gantian suara sang ibu yang terdengar memanggil. Kali ini Ayka tak sampai hati melewatkan dua kali panggilan dari orang tuanya. Akhirnya gadis cantik itu keluar kamar datang menghampiri mereka. Ayka tak bisa menyembunyikan raut sendu. Meskipun tangannya sudah berkali-kali menyusut butiran bening yang keluar dari matanya, tetap saja sisa-sisa basah masih kentara di wajah manisnya.
"Neng, Bapak mau berangkat. Salim dulu," ucap Sarah.
Neng, begitulah keluarganya memanggilnya. Panggilan kesayangan untuk anak gadis khas suku sunda. Lantas Ayka meraih tangan bapaknya lalu menciumnya. Wajahnya masih ditekuk dengan garis bibir mendatar. Wahyu yang melihat anak gadisnya murung berusaha memberi pengertian.
"Jangan cemberut atuh Neng, Bapak lakuin ini juga kan demi kamu. Biar Bapak punya penghasilan yang lebih baik. Bapak mau Ayka bisa sekolah setinggi-tingginya. Jadi orang sukses. Jadi bapak harus perjuangkan itu. Penghasilan jadi supir angkot di desa kan ga menentu, Nak. Lihat ibumu, masih harus jualan biar nambah-nambah penghasilan. Bapak juga kasihan sama ibu. Kalo Bapak ke Jakarta, setidaknya Bapak bisa punya gaji tetap tiap bulannya."
"Tapi kenapa mendadak sih Pak? Emang Bapak mau kerja apa di Jakarta?" Ayka bersuara pelan tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Dibilang mendadak sih memang iya. Tapi mungkin Tuhan memang sudah mengatur waktunya. Tahun ini kan kamu naik ke kelas tiga SMA. Bapak lagi mikirin gimana caranya supaya Bapak bisa sekolahkan kamu sampe universitas. Sementara penghasilan Bapak pas-pasan. Dua hari lalu, Bapak ngobrol sama Pak Wira, tentangga kita yang rumahnya di pertigaan jalan itu. Dia bilang anaknya yang sulung kerja di Jakarta. Pabrik tempat anaknya bekerja lagi butuh sopir untuk antar barang. Bapak berminat, tapi bapak tidak punya ijazah atau apapun yang bisa bapak gunakan untuk melamar kerja. Lalu Pak Wira menelepon anaknya. Bapak bicara langsung sama anaknya, katanya Bapak datang aja ke pabrik. Nanti berkas lamaran kerjanya mau dibantu. Dari kemarin Bapak sudah diskusikan sama ibumu, memang berat rasanya ninggalin keluarga. Tapi kita harus bisa, Neng. Demi masa depan kamu juga. Nanti Bapak usahakan pulang dua minggu sekali."
"Kalo Ayka kangen Bapak gimana? Bapak kan ga punya handphone buat dihubungi. Terus nanti kalo ada apa-apa di jalan, Bapak udah sampe apa belum, itu gimana cara kita taunya Pak?" tanya Ayka khawatir, mengingat di rumah ini yang memiliki ponsel hanyalah dirinya dan juga Bagas, kakak sepupunya. Sementara orang tuanya tak memiliki alat komunikasi tersebut.
"Kalau sudah sampe nanti pasti Bapak kabarin bagaimanapun caranya, kamu gak usah cemas. Bapak pasti baik-baik aja. Kamu juga baik-baik ya di rumah. Jagain ibu."
Ayka hanya mengangguk, lalu memeluk ibunya.
"Ya sudah, Bapak pergi dulu. Bagas, udah siap?" ucap Wahyu sambil melongok pintu keluar dan terlihatlah seorang laki-laki sedang sibuk mengelap kaca helm.
"Siap Pak. Mau sekarang?"
" Iya atuh, masa tahun depan? Hayuk..."
Wahyu mengambil helm dari tangan bagas dan mengenakannya.
"Hati-hati Pak, pokoknya segera kabarin kalo Bapak sudah sampe pabrik atau sudah ketemu anaknya Pak Wira," pesan Sarah.
"Iya Bu. Tenang aja. Ibu juga jangan lupa doain Bapak," jawab Wahyu
"Neng, hari ini sekolahnya naik angkot dulu ya. Soalnya habis dari terminal, Akang langsung ke pabrik roti," ucap Bagas.
"Iya Kang," jawab Ayka singkat.
"Bu, Bagas sama Bapak berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa alaykumussalam," jawab Sarah dan Ayka hampir berbarengan.
"Jangan ngebut-ngebut Kang..." teriak Ayka dari jauh.
****
Selepas sholat isya, Ayka buru-buru ke teras depan saat mendengar suara motor kakak sepupunya baru tiba.
"Gimana Kang, tadi jadi mampir ke rumah Pak Wira?" tanya Ayka dengan raut wajah khawatir.
"Iya, tadi Akang mampir ke rumah Pak Wira. Beliau juga langsung menelepon anaknya, tapi katanya bapak belum sampe pabrik. Akang juga jadi bingung. Sampe malem gini kenapa Bapak belum ngabarin. Apa Bapak nyasar ya?"
Ayka tak menjawab pertanyaan Bagas. Ia malah duduk di kursi kayu yang ada di teras depan rumahnya. Kakinya terasa lemas mendengar jawaban Bagas tentang bapaknya yang masih belum memberi kabar. Bagas yang melihat adik sepupunya begitu cemas lantas menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkan.
"Perasaan Ay gak enak Kang. Takut bapak ada apa-apa di jalan," lirih Ayka
Bagas menghela nafas panjang. Sebenernya ia juga sama khawatirnya dengan Ayka. Hanya saja di sini ia harus bisa terlihat lebih tegar agar adik sepupunya itu bisa bersandar.
"Kita harus tetap berpikir positif, Neng. Mungkin bapak memang lupa kasih kabar ke kita. Yuk masuk ke dalam aja," ajak Bagas seraya menarik halus tangan Ayka dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Ayka pun menurut dan tak banyak berkata lagi.
Sarah baru saja keluar kamar. Saat melihat Ayka dan Bagas, langsung saja ia menanyakan apa suaminya sudah memberi kabar. Keduanya kompak menggelengkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata. Mengetahui jawaban yang tak sesuai harapan, wajahnya terlihat lesu. Sarah kembali pamit masuk ke kamar dengan alasan ingin beristirahat lebih dulu karena lelah setelah seharian ini berkeliling lebih jauh dari biasanya. Sarah juga menawari Bagas untuk makan malam dan meminta Ayka menghangatkan lagi sayurnya. Setelah itu Sarah segera kembali masuk ke kamarnya.
Malam itu dilewati dengan penuh kecemasan dan juga harapan agar Pak Wahyu baik-baik saja. Hingga esok harinya pun masih belum ada kabar. Bagas dan Ayka sudah ingin melapor ke kepolisian atas kasus orang hilang. Namun Bu Sarah mencegahnya. Ia masih berpikir positif jika suaminya itu baik-baik saja. Sarah meminta Bagas dan Ayka untuk bersabar menunggu kabar meskipun sebenarnya ia juga tak kalah khawatir dengan nasib suaminya. Sarah memberi waktu jika tiga hari setelah suaminya berangkat ke Jakarta masih belum ada kabar, maka ia membolehkan Ayka dan Bagas membuat laporan orang hilang ke polisi. Ayka dan Bagas tak bisa membantah keputusan Sarah. Jadi mereka mau tak mau menyetujuinya.
Malam di hari kedua masih belum ada kabar dari Wahyu. Bagas yang baru pulang kerja di sambut oleh Ayka. Sebelum tiba di rumah, ia sengaja mampir ke rumah Pak Wira untuk kembali menanyakan apakah pamannya itu sudah mengabari anak Pak Wira di pabrik. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Ayka menelan ludah kasar mendengar jawaban dari Bagas.
"Ya udah Akang makan dulu aja. Nanti Ay panasin dulu sayurnya ya," ucap Ayka.
"Neng, ga usah dulu dipanasin sayurnya. Nanti aja biar sama Akang. Lagian Akang mau mandi dulu. Mending kamu tolong beliin mie instan aja gih di warung. Akang lagi pengen makan mie," ucap Bagas sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.
Ayka menerima uang dari tangan Bagas. Ia pun bergegas ke warung untuk membeli apa yang diminta Bagas. Warung tujuannya memang tak jauh. Hanya melewati lima rumah ke kiri dari rumah Ayka. Tapi sayangnya warung itu sudah tutup. Akhirnya warung di depan g**g menjadi tujuan kedua Ayka. Sambil menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua, Ayka melangkahkan kaki sembari berdoa dalam hati agar warung di depan g**g tersebut masih buka. Karena jika warung itu juga tutup, maka Ayka harus pergi ke arah pertigaan jalan yang lumayan jauh untuk kembali menemukan warung.
Tapi syukurlah warung yang berada persis di seberang g**g rumah Ayka itu masih buka. Usai membeli mie instan dari warung tersebut, Ayka bersiap untuk menyebrang. Kendaraan yang malam itu cukup padat membuatnya berdiri cukup lama menunggu celah untuk bisa menyeberang dengan selamat. Ayka melihat sebuah mobil berhenti tepat depan g**g rumahnya. Lalu disaat ada celah untuk bisa menyeberang, Ayka langsung melangkah menyebrangi jalan. Mobil yang terparkir persis di depan g**g ini cukup menghalangi jalan masuk ke g**g rumahnya. Kemudian Ayka memberitahu pengemudinya untuk memarkirkan mobilnya di halaman ruko sebelah g**g. Namun yang membuat Ayka terkejut, ternyata di dalam mobil tersebut ada Wahyu.
"Bapak," ucap Ayka terperangah.
"Maaf Dek, bisa bantu Saya menurunkan Pak Wahyu?" tanya bapak pengemudi mobil tersebut.
"Iya Pak, itu Bapak Saya," ucap Ayka yang kemudian langsung memutari mobil menuju pintu sebelah kiri.
Sementara sang pengemudi mengambilkan kursi roda dari bagasi. Dan yang makin membuat Ayka terkejut saat pintu mobil terbuka, netranya langsung tertuju pada kaki sang ayah yang sepertinya sangat sulit digerakan.
"Astaghfirullah Bapak, ini kenapa bisa jadi gini Pak?" tanya Ayka yang tak percaya dengan penglihatannya.
"Nanti saja Bapak ceritakan di rumah ya Neng," jawab Wahyu tenang.
Ayka dan bapak pengemudi yang masih belum diketahui namanya itu membantu Pak Wahyu duduk di kursi roda. Setelah itu ia meminta izin untuk memarkirkan mobilnya di halaman ruko agar tak menghalangi jalan masuk ke g**g. Ayka dan Pak Wahyu menunggu di g**g. Lalu setelah itu mereka bersama-sama menuju rumah Ayka.
Setibanya di rumah, tentu saja Bagas dan Bu Sarah terkejut dengan keadaan Pak Wahyu yang seperti itu. Kemudian Pak Wahyu menjelaskan jika setibanya ia di Jakarta, ia mengalami kecelakaan dan menjadi korban tabrak lari. Lalu warga yang menyaksikan kecelakaan itu membawanya ke rumah sakit. Untung saja Wahyu memiliki kartu jaminan kesehatan dari pemerintah sehingga bisa langsung ditangani tanpa dipungut biaya. Dokter mengatakan jika Wahyu mengalami cedera tulang belakang yang mengakibatkan kelumpuhan total akibat kerasnya benturan pada kecelakaan yang dialami. Lalu usai perawatan dan dibolehkan pulang. Wahyu bingung harus bagaimana sampai akhrinya bertemu Pak Risman yang menawarkan bantuan untuk mengantarkan Wahyu pulang ke Desa.