Janji Rey

1400 Words
"Ya, aku tahu kamu sangat membutuhkanku. Lalu sampai kapan aku harus pasrah saja saat kamu menggunakanku sebagai alat balas dendammu pada Lisa? kamu cuma mau dia sakit hati dan cemburu kan, dengan pernikahan kita?" "Ucapanmu benar. Selama ini Mas hanya memperalatmu. Mas sama sekali tak mempunyai perasaan padamu. Bahkan ketika bercinta denganmu bayangan Lisa lah yang ada di kepalaku. Mas tak marah dengan tuduhanmu, tak ada yang salah dengan semua yang kamu lontarkan barusan. Tapi, Cha. Saat kamu meminta pisah, entah kenapa hati Mas terasa sangat sakit. Apa itu berarti diam-diam kamu sudah berada di hati Mas tanpa Mas sadari?" Lucu, Mas Rey sepertinya ingin membuatku bingung dengan pengakuan konyolnya. Setelah menggoreskan luka terlalu dalam, dia bilang takut kehilanganku. Bukannya aku bersimpati, aku justru semakin jijik padanya. "Diamlah, Mas. Itu lebih baik dari pada berusaha lagi mencuci otakku. Aku minta pisah karena tak ingin membuatmu menjadi lelaki pengecut seperti ini. Jika kamu memang mencintai Lisa, berjuanglah tanpa melibatkanku!" Mas Rey menunduk, tak lama setelah itu dia berlutut di hadapanku. "Apa-apaan kamu Mas, berdiri!" teriakku. "Mas gak akan berdiri sebelum kamu maafin Mas!" "Maaf?" aku sedikit terkekeh. "Memaafkanmu itu gampang. Yang sulit ku lakukan adalah bertahan denganmu. Berdirilah, jangan sok romantis. Aku bukan orang bodoh seperti hari kemarin yang gampang tersentuh dengan semua perlakuan baikmu padaku." "Cha, Mas sedang tak berakting. Mas benar-benar takut kehilanganmu." Mas Rey memeluk kakiku. "Lepasin, Mas!" aku berusaha melepaskan tangan yang melingkar di kakiku. Dengan cepatnya dia bangkit kemudian menarik tubuhku kepelukannya. Aku berontak, tapi tenagaku tak cukup kuat untuk membuatnya melepasknku. "Jangan bergerak sebelum Mas selesai menjelaskan semuanya dari awal!" ucapnya. Aku tak punya pilihan lain selain diam dan mendengar ceritanya. "Sebenarnya Mas dan Lisa pernah pacaran sebentar. Kita teman satu kampus saat kuliah dulu. Tapi orang tua Lisa tak menyetujui hubungan kami. Kamu tahu kenapa? karena mereka pikir Mas bukan lelaki baik, mereka mempermasalahkan kebiasaan Mas yang memang suka dengan dunia malam. Orang tua Lisa ternyata diam-diam menyelidiki Mas. Akhirnya kami berdua di paksa putus, dan Mas tak terima itu." Aku cukup terkejut dengan ucapan Mas Rey. Selepas SMA memang Lisa kuliah di luar kota dan tinggal di rumah bibinya. Setelah lulus kuliah, Lisa baru kembali ke kota ini. Dan dia memilih mengontrak di sebuah rumah yang dekat dengan tempat kerjanya. Mas Rey yang juga berasal dari kota yang sama dengan kami mulai menyelidiki keberadaan Lisa, dan aku tak menyangka ternyata pertemuanku dan Mas Rey di toko sepatu milikku sebenarnya bukan pertemuan pertama kami. Mas Rey sudah mengenalku jauh sebelum aku mengenalnya. Dia selalu menguntit diam-diam Lisa saat pergi ke tokoku. Dia tahu aku sahabat Lisa, dan dia pura-pura menjadi pelanggan di toko sepatuku demi bisa mendekatiku agar masuk dalam perangkapnya. "Aku menikahimu karena ingin membuat Lisa dan keluarganya menyesal. Melaluimu mereka akan tahu betapa sempurnanya aku menjadi suami. Aku bisa berubah dan melepaskan dunia malamku dan menjadi suami yang baik." Perih, aku semakin merasa perih mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Mas Rey. Aku paksa airmataku agar tidak jatuh, tapi sayang, aku gagal melakukannya. "Aku gagal menjalankan rencanaku, Lisa sama sekali tak menyesal dengan keputusannya. Dia bilang tadi, dia akan tetap menikah dengan pacarnya meskipun aku sudah memohon dan memintanya untuk membatalkan rencana pernikahannya." Mas Rey melonggarkan pelukannya, kemudian menatap mataku dengan tatapan nanar. "Apa kamu tega ninggalin Mas yang sedang hancur seperti ini? Apa kamu tidak berpikir, mas bisa saja melakukan hal nekad setelah kepergianmu?" Aku diam, aku yang merasakan sakit luar biasa dan Mas Rey menyuruhku mempedulikan keadaannya. Benar-benar lelaki egois. "Kasihanilah Mas. Bantulah mas keluar dari keadaan sulit ini. Cuma kamu yang bisa melakukannya, Cha. Setahun ini, mas cukup nyaman berada di sampingmu." Apa? Bisa-bisanya Mas Rey mengatakan hal itu tanpa rasa berdosa sama sekali. Dengan terang-terangan dia mengatakan hal yang begitu menyakitkan bagiku. Apa dia buta tentang kepedihan yang sangat aku rasakan karena ulahnya? "Mas menyuruhku untuk mengasihani Mas, apa Mas gak kasihan padaku yang selama ini di jadikan pelampiasan Mas saja?" Tangisku pecah juga. "Maafin, Mas. Cha! Setelah ini mas janji tidak akan menjadikanmu pelampiasan lagi. Cuma kamu yang punya cinta sebesar ini pada Mas. Mas janji kali ini tidak akan mengecewakanmu!" "Omong kosong!" sahutku sambil membuang muka. Mas Rey membanting ponselnya lalu menginjak-injaknya. Aku melongo melihat perbuatannya. "Aku hancurkan semua yang mengingatkanku pada, Lisa. Lihat itu, Cha! Apa kamu gak percaya sama Mas kali ini?" "Satu kebohongan sudah membuatku kehilangan kepercayaan pada, Mas. Maaf!" Aku melangkah menuju koperku. "Cha! Aku tak akan pernah membiarkanmu keluar dari rumah ini!" Mas Rey menarik tanganku lagi. "Lepaskan!" teriakku sambil menatap nyalang pada lelaki di depanku. Di tengah perdebatan kami, tak di sangka kedua orang tua Mas Rey tiba-tiba datang. Mereka cukup terkejut melihatku yang ngotot minta pergi dari rumah Mas Rey. "Ocha, Rey!" Aku dan Mas Rey terdiam. Orang tua Mas Rey merupakan mertua yang sangat baik, dia memperlakukanku seperti anak mereka sendiri selama ini. Bahkan sebulan sekali mereka akan menjenguk kami ke rumah ini. Membawakan makanan-makanan lezat dan memanjakanku dengan hadiah-hadiah yang cukup mahal. Aku dan Mas Rey duduk, Ayah Mas Rey dengan tegasnya menanyakan alasan kami ribut. Mas Rey tak punya pilihan lain selain jujur. Satu pukulan mendarat di pipi Mas Rey. Mertua lelakiku terlihat begitu marah saat tahu anak lelakinya ternyata sudah memperalatku selama ini. "Sekali lagi kamu buat menantu kesayanganku ini menangis, jangan pernah panggil aku dengan sebutan Ayah lagi!" Kalimat yang keluar dari mulut Ayah mertuaku sungguh sangat membuatku tersentuh. Ibu mertuaku mendekat ke arahku, "Maafkan anak ibu yang sudah menyakitimu, Cha. Ibu dan Ayah tahu dia salah. Tapi tolonglah, jangan pernah berniat keluar dari rumah ini. Kami sangat menyayangimu, tolong beri satu kesempatan lagi untuk Rey memperbaiki kesalahannya." Aku sedikit tak tega melihat ibu mertuaku memohon padaku agar memaafkan anaknya. bukan dia yang bersalah, tapi dia ikut meminta maaf padaku atas perbuatan mas Rey. "Kami akan sangat malu pada orangtuamu karena tak bisa mendidik Rey menjadi suami yang baik. Tolonglah, Cha. Jangan sampai orang tuamu tahu kegagalan kami sebagai orang tua. Berikan satu kesempatan lagi untuk Rey. Ayah jamin kali ini Ayah takan gagal lagi mendidik Rey. Ayah akan membuat Rey melupakan mantan pacarnya." Kali ini Ayah mertua yang memohon padaku. Meski aku tak percaya Mas Rey bisa melupakan Lisa begitu saja, namun demi kedua mertuaku, aku akan memberi satu kesempatan lagi pada Mas Rey. "Saya akan memberi kesempatan Mas Rey sekali lagi. Ini saya lakukan bukan karena saya percaya pada Mas Rey, tapi karena saya percaya pada kalian berdua." ucapku. Ibu mertuaku kemudian memelukku. "Terimakasih, Cha. Ibu sangat senang mempunyai menantu baik dan sabar sepertimu." Mas Rey tersenyum, tanpa di suruh dia membawa barang-barangku masuk ke dalam kamar lagi. Bahkan dia yang menyusun baju-bajuku ke dalam lemari. Setelah itu kami makan malam bersama. Mas Rey tak henti-hentinya tersenyum saat mencuri-curi pandang ke arahku. Aku sama sekali tak merasa tersentuh dengan perbuatannya, aku bertahan karena terpaksa. Seandainya sekali lagi dia membuat masalah, takan ada yang melarangku pergi lagi. Aku sudah membuat perjanjian dengan mertuaku, sekali lagi Mas Rey mengulang kesalahan yang sama, mereka takan melarangku pergi dari rumah ini. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu Mas Rey pamitan pulang. Rumah kembali hening setelah kepergian mereka. "Cha!" panggil Mas Rey setelah kami berada dalam kamar. Aku hanya menoleh ke arahnya tanpa menyahut panggilannya. Terlihat mas Rey mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Tadi setelah pergi ke kontrakan Lisa, aku mampir ke toko perhiasan." Mas Rey mengeluarkan sebuah cincin dari kotak mungil yang ada di tangannya, "Ini hadiah untukmu. Maaf, tidak seharusnya mas membuat kekacauan di hari spesial kita semalam." Mas Rey meraih tangan kiriku dan memasukan cincin yang sangat cantik di jari manisku. "Cantik kan, Cha. Apa kamu menyukainya?" Aku tersenyum dan mengangguk. Entah perasaan bodoh apa ini. Setelah merasakan kepahitan di hari ini, dengan mudahnya semua kejengkelanku pada Mas Rey hilang saat menerima hadiah cincin darinya. Apa begitu dalamnya rasa cintaku pada Mas Rey, hingga sesimple ini aku memaafkan kesalahannya? "Mulai hari ini cuma kamu yang akan ada dalam hati Mas. Mas janji. Mas akan belajar iklas melepaskan Lisa. Mas akan membiarkannya meraih kebahagiaannya bersama pacar barunya." Aku melihat ketulusan di mata Mas Rey saat mengucapkan janjinya. Aku berharap itu bukan suatu kebohongan, semoga dia bisa membuktikan kata-katanya. Semoga dia bisa mengembalikan kepercayaanku yang sempat hilang padanya. Benar kata mertuaku, pernikahan kami bukan melibatkan dua orang saja. Ada orang tua kami yang pastinya ikut terluka karena keputusan gegabah kami. Mulai hari ini kami harus lebih dewasa lagi dalam mengambil keputusan saat memutuskan sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD