Sebulan sudah aku menjalani hari-hari indahku bersama Mas Rey. Sejak pertengkaran kami saat itu, Mas Rey benar-benar membuktikan janjinya untuk melupakan Lisa. Di ponselnya sudah tak ada nomor Lisa. Di jam istirahatnya dia akan selalu menelponku. Dan dia juga selalu pulang tepat waktu. Kemudian, di hari liburnya, dia akan membawaku rekreasi. Kami akan menginap di hotel selama sehari semalam. Sungguh, dia membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung karena di nikahinya.
Siang ini, aku merasa tak enak badan. Kepalaku pusing dan selalu merasa mual. Aku terpaksa mencari pekerja untuk membantuku menjaga toko sepatuku. Beberapa hari ini aku ingin istirahat di rumah saja.
[Hari ini, Mas bungkuskan makanan. Jangan, masak. Ingat, kamu harus banyak istirahat.]
Aku tersenyum membaca isi pesan dari Mas Rey. Dia manis sekali ketika tengah menghawatirkanku.
Mas Rey pulang awal, jam tiga sore tepat dia sampai ke rumah dengan menenteng nasi goreng spesial kesukaanku.
"Kenapa jam segini Mas sudah pulang?" tanyaku, dia tersenyum kemudian menjawab pertanyaanku.
"Mas kepikiran keadaanmu terus. Mas gak bisa konsentrasi kerja."
"Jangan lebay, Mas. Aku cuma masuk angin biasa." balasku.
Dia mengelus pucuk kepalaku, "Meski cuma masuk angin, Mas tetep menghawatirkan keadaanmu."
Aku tersenyum dan memeluknya, "Makasih ya, Mas. Makasih telah membuatku merasa bahagia banget bisa menjadi istrimu."
Mas Rey mengecup pucuk kepalaku, "Mas yang makasih, berkat kamu, hidup Mas bisa seberharga ini."
Kami melepaskan pelukan lalu menuju meja makan. Mencium bau nasi goreng membuatku merasa mual. Aneh, biasa aku sangat suka dengan aroma nasi goreng kesukaanku, tapi sekarang aku begitu membenci aroma ini. Aku berlari ke arah wastefle kemudian mengeluarkan isi perutku.
Mas Rey yang melihatku tiba-tiba mutah, mendekat ke arahku. Dia kemudian memijit bagian belakang leherku. Sungguh perasaan nyaman yang sangat luar biasa ketika ada di dekatnya.
"Kamu kenapa, Cha? Apa nasi goreng yang mas bawa tidak enak?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Aku belum sempet memakannya tapi sudah mual." balasku.
"Aneh, mending kita ke dokter, yuk! Mas takut kamu kenapa-kenapa."
"Gak, Mas. Aku cuma masuk angin biasa. Aku gak mau pergi ke dokter."
Aku menolak pergi ke dokter karena aku sangat tidak suka minum obat. Sedari kecil aku selalu diam-diam membuang obatku ketika aku sakit.
Setelah merasa baikan, kami kembali menuju ruang makan. Aku tersenyum melihat Mas Rey yang makan dengan lahapnya. Sementara aku memaksa mulutku untuk tetap menelan nasi goreng meski sebenarnya perutku menolaknya. Aku tak mau membuat Mas Rey khawatir lagi. Kasian dia jika harus ijin kerja terus gara-gara ingin mengurusku.
Ke esokan paginya setelah kepergian Mas Rey keadaanku semakin buruk. Aku mual dan merasa sangat lemah. Untuk itu dengan terpaksa aku pergi ke dokter sendirian. Sengaja aku tak memberi kabar pada Mas Rey karena aku takut dia tidak konsen bekerja lagi seperti kemarin.
Mata dan mulutku kompak membulat saat mendengar hasil pemeriksaan dokter. Tak terasa air mataku menetes sambil tak berhenti berucap syukur.
Aku hamil, Mas Rey pasti akan sangat senang mendengar kabar ini. Begitu juga kedua orang tuaku dan mertuaku.
Aku sengaja tak langsung memberitahu kabar ini pada mereka semua. Aku ingin memberi kejutan lebih dahulu pada Mas Rey malam nanti. Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ibu, aku ingin belajar bersahabat dengan obat. Aku memaksakan diri untuk meminum vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mualku.
Dreeetttt!
Ponselku bergetar. Nomor Ibu Lisa yang menghubungiku. Tidak biasanya dia menelponku, perasaanku tiba-tiba menjadi tak enak.
[Asalamualaikum, Cha. Kamu dimana sekarang?] tanya Ibu Lisa dari seberang telepon.
[Walaikum salam, Tante. Saya sekarang ada di rumah.]
[Kalau suamimu ada di mana, Cha?" tanya ibu Lisa. Dadaku bergemuruh hebat saat dia menanyakan keberadaan suamiku.
[Dia masih bekerja, Tante. Kenapa memangnya?]
[Gini, Cha. Lisa sekarang tengah di rawat di rumah sakit. Nanti sepulangnya suamimu, apa bisa kamu dan suamimu datang ke sini? Tante dan Om ingin berbicara penting dengan kalian.]
Aku bingung harus menjawab apa, baru saja hubunganku dengan suamiku membaik. Suamiku kini masih dalam tahap belajar melupakan Lisa. Dan sebulan ini dia berhasil membuktikan kesungguhannya untuk berubah. Haruskah aku membawa suamiku ke rumah sakit menjenguk Lisa? setelah mereka bertemu nanti, aku tidak yakin Mas Rey akan kembali teguh dalam pendiriannya.
[Cha, kenapa diam? Apa kamu kebertan jika Tante memintamu dan suamimu menjenguk anak Tante?]
Aku gelagapan mendengar pertanyaan dari Ibu Lisa.
[Ti...tidak, Tante. Saya tidak keberatan. Nanti saya akan bicarakan ini dengan Mas Rey.]
[Terimakasih, Cha. Nanti Tante akan share alamat rumah sakitnya. Asalamualaikum.]
[Walaiakum salam, Tante.]
Panggilan terputus. Aku menghela nafas panjang, berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah pertemuan Mas Rey dan Lisa nanti.
Hampir jam enam sore. Mas Rey telah sampai di rumah. Aku membiarkannya mandi dan kemudian solat maghrib terlebih dahulu. Setelahnya kami makan malam bersama. Aku masih ragu harus memberitahu keadaan Lisa padanya atau tidak.
"Gimana keadaanmu hari ini? Sudah baikan?"
Aku mengangguk, "Sudah." jawabku singkat.
"Syukurlah kalau istri Mas sudah baikan."
Bibir Mas Rey mengulum senyum, terlihat nyaman sekali tiap kali melihat senyuman manisnya.
"Mas." panggilku.
Dia menoleh ke arahku, "Ya."
"Tadi siang Tante Rina menelpon. Dia bilang Lisa ada di rumah sakit. Dia meminta kita untuk pergi menjenguk Lisa di sana. Dia--"
"Kenapa baru ngomong sekarang!" Mas Rey menggebrak meja makan. Aku sampai terkejut mendengar bentakannya.
"Aku mau Mas makan dulu."
Mas Rey tidak menggubris ucapanku, dia berlari ke arah kamar untuk mengambil kunci mobilnya.
"Kamu ikut kan?" tanyanya. Aku mengangguk sambil memberitahu nama rumah sakit tempat Lisa di rawat.
Hening dalam mobil. Mas Rey terlihat sangat khawatir. Kepeduliannya pada Lisa melupakan janjinya padaku.
Kami telah sampai di rumah sakit, saking buru-burunya Mas Rey ingin tahu keadaan Lisa, dia berlari meninggalkanku begitu saja. Mas Rey, jika kamu terus mengutamakan Lisa kenapa hari itu kamu melarangku pergi? Sekarang aku tengah mengandung anakmu, haruskah aku mundur sekarang?
Aku melihat suamiku sedang berbincang dengan kedua orang tua Lisa. Air mata suamiku jatuh membasahi pipinya. Sebegitu rapuhkah dia jika menyangkut Lisa?
"Asalamualaikum, Om, Tante." sapaku sambil mencium punggung tangan Ibu Lisa dan Ayah Lisa secara bergantian.
"Walaikum salam." jawab mereka berdua serempak. Mas Rey masih terdiam tak merespon kedatanganku sama sekali. Benarkah ini wajah asli dari lelaki yang selama ini kuanggap sempurna?
Aku duduk di samping ibu Lisa sambil terus memperhatikan Mas Rey.
"Bagaimana dengan keadaan Lisa, Tante? Dia sakit apa?"
Tante Rina terlihat menghela nafas panjangnya, "Lisa tak sakit, Cha. Dia minum obat serangga. Untung kami tak terlambat membawanya ke rumah sakit."
Aku terkejut bukan main mendengar ucapan tante Rina, "Minum obat serangga? kok bisa, tante? lalu sekarang gimana keadaannya?"
"Dia baru keluar dari masa kritisnya. Kamu mau tahu kenapa dia sampai nekad minum obat serangga?"
Aku menggeleng
"Dia malu. Pacarnya tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan mereka. Padahal undangan sebagian sudah tersebar."
Aku terdiam dan cukup ikut merasa bersalah pada Lisa. Gara-gara dia ingin menyelamatkan rumahtanggaku, dia jadi menderita seperti ini.
"Cha. Kami ingin meminta pertolonganmu. Kami harap kamu bisa menyelamatkan hidup Lisa sekarang."
Perasaanku mulai tak enak mendengar ucapan Tante Rina. Jantungku berdebar tak menentu. Tante Rina bisa menangkap kegelisahan lewat raut wajahku. Dia kemudian menggenggam tanganku.
"Beberapa kali kami mendengar Lisa menyebut nama Rey saat tidurnya. Kami baru sadar apa yang kami lakukan pada Lisa dan Rey salah. Kami telah memisahkan dua orang yang sangat saling mencintai."
Tidak, aku tak kuat mendengar ucapan tante Rina. Air mataku tak bisa ku tahan, lolos begitu saja dari pelupuk mata.
"Jangan bilang kalau anda sekarang menginginkan Mas Rey jadi suami Lisa. Mas Rey suamiku, aku tidak mau melepaskan Mas Rey untuk Lisa!"
Tangisku pecah, bukan bersimpati Mas Rey justru membentakku.
"Jaga omonganmu, Cha! Lisa adalah cinta pertamaku. Aku takan membiarkan dia malu saat hari pernikahannya."
Tubuhku mendadak lemah, apakah ini berarti dia akan menceraikanku? lalu bagaimana dengan nasib janin yang ada dalam kandunganku jika sampai terlahir tanpa seorang Ayah?
"Cha. Kami tidak akan merebut Rey darimu. Kami hanya ingin Rey menjadikan Lisa istri keduanya. Mereka saling mencintai, apa kamu tega memisahkan mereka lagi?"
Aku menatap nyalang ke arah wanita yang selama ini sangat ku hormati.
"Kenapa baru sekarang anda menyadari ini? Bukankah mereka tak bisa bersama karena terhalang restu kalian? Kenapa sekarang kalian justru memojokanku agar mengasiahani hubungan mereka yang tak bisa bersama. Kalian egois, kalian ingin menjebak Mas Rey untuk menutup malu kalian pada tetangga kan?" teriakku tanpa merasa malu. Mas Rey bergegas mendekat ke arahku kemudian menamparku. Sakit, aku merasakan sakit luar biasa. Aku berlari meninggalkan semua orang. Aku akan pulang dan segera mengemasi bajuku. Aku tidak bisa di madu, aku tak bisa mengalah pada Lisa meski dia sempat berkorban untuk keutuhan rumahtanggaku.
"Cha, tunggu!"
Mas Rey mengejarku. Mau apa lagi dia?
"Cha, Mas hanya ingin menikah pura-pura saja dengan Lisa. Mas hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga Lisa. Kami tak benar-benar menikah. Kamu harus setuju dengan ini, Cha. Mas mohon!" mohon Mas Rey sembari mencekeram lenganku.
"Mas bisa lakukan itu, aku tak melarangnya. Aku mundur, Mas. Aku tak mau lagi terlibat lagi pada hubungan rumit kalian." ucapku sambil melepaskan cengkeraman tangan suamiku. Aku pergi keluar rumah sakit dengan perasaan hancur lebur. Mas Rey tidak mengejarku lagi, dia sepertinya sudah benar-benar siap kehilanganku.