Rey Cemburu

1487 Words
"Mas bisa nikahin Lisa, aku tak akan pernah melarangnya. Tapi sebelum itu terjadi, aku mundur lebih dulu. Aku cape dan tak mau terlibat lagi pada hubungan rumit kalian." ucapku sambil melepaskan cengkeraman tangan suamiku. Aku pergi keluar rumah sakit dengan perasaan hancur lebur. Mas Rey tidak mengejarku lagi, dia sepertinya sudah benar-benar siap kehilanganku. Ku oesan taksi online, dua puluh menit kemudian, aku baru mendapatkan taksi. Di dalam taksi, aku terus menangis sampai membuat bingung sopir taksi. Terlihat beberapa kali dia melirik ke arahku melalui kaca spion . "Pak, berhenti sebentar." pintaku padaku sopir taksi. Dia menurut lalu meminggirkan mobil. Perutku sangat mual, aku kemudian turun dari taksi dan mencari tempat yang aman untuk mutah. Dalam keadaan seperti ini, harusnya Mas Rey ada di sebelahku, aku sangat membutuhkan kehadirannya. Namun sayangnya dia memilih menjaga Lisa dari pada aku, istri sahnya. Setelah merasa lebih baik, aku kembali naik ke dalam taksi. "Apa perlu saya antarkan anda ke rumah sakit tadi, Mbak?" tanya sopir taksi tersebut. Aku menggeleng, "Tidak perlu. Antar saja sesuai alamat yang saya berikan tadi." "Tapi, anda sangat pucat, mbak." "Saya masih bisa tahan. Jangan khawatirkan saya." ucapku pada lelaki yang berumur sekitar tiga puluh tahunan itu. Mobil telah sampai di depan rumahku, aku menyuruh sopir taksi itu menungguku sebentar. Keadaan tubuhku yang tengah lemah membuatku tak bisa membawa mobil, jadi ku putuskan pergi meninggalkan mobilku sementara di rumah Mas Rey. Aku naik ke kamarku dan mengambil beberapa potong bajuku serta mengambil barang-barang berhargaku. Sebelum aku pergi, ku edarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Rasanya berat juga meninggalkan kamar yang ku tempati setahun ini. Pandanganku kemudian terhenti di sebuah lukisan pernikahanku dan Mas Rey. Aku raih lukisan itu dan membantingnya. Rasanya lega sekali melakukannya. Ku tarik koper kecilku menuju taksi kembali. Semoga ini keputusanku yang paling tepat. Memberi kesempatan Mas Rey adalah suatu kesalahan. Aku tak mau selalu jatuh di lubang yang sama. Khusus malam ini, aku menginap di sebuah hotel. Aku belum punya tempat tujuan sekarang, tidak mungkin aku kembali ke rumah orangtuaku dengan keadaan seperti ini. Ayahku sudah sakit-sakitan. Aku tak mau menambah beban kedua orangtuaku dengan masalahku. "Mbak biar saya bantu bawa kopernya." ucap sopir taksi yang ku tumpangi. Sepertinya dia paham tentang kondisiku yang lemah. Ternyata jaman sekarang, masih banyak juga orang baik sepertinya. Aku turun dan sopir itu berjalan di belakangku menuju receptionist hotel. Namun belum sampai ke receptionist, teriakan seseorang mengagetkan kami. "Nevan. Jangan lari kamu!" teriak seorang wanita cantik. Aku menoleh ke belakang dan ku lihat sopir taksi itu sedang berlari di kejar wanita cantik itu. Anehnya, sopir itu tak meninggalkan koperku saat lari. Aku bergegas ikut mengejar sopir itu. Sopir yang bernama Nevan itu berlari sangat cepat. Dia membawa koperku masuk ke dalam mobil lalu kabur. Sialan! "Mbak, koperku di bawanya kabur, Mbak!" teriakku sambil ngos-ngosan pada wanita cantik penyebab kaburnya Nevan. "Kamu tenang saja. Dia bukan pencuri. Cepat atau lambat dia pasti akan mengembalikan koper, kamu." jawab wanita cantik itu. "Kalau bukan pencuri, kenapa kamu kejar!" geramku. "Gimana gak ku kejar. Dia calon tunanganku yang kabur karena gak mau di jodohin sama aku. Aku sudah beesumpah kalau dia sampai berhasil ku tangkap, langsung ku bawa KUA, dia!" cerita wanita itu. Kemudian dia membuka handhbag_nya lalu mengeluarkan kartu namanya dan memberikan padaku. "Mbak, tolong saya. Kita sama-sama perempuan. Kalau dia menghubungi Mbak untuk mengembalikan koper milik Mbak, tolong hubungi saya." Aku meraih kartu namanya. Lalu mengangguk. Wanita tersebut kemudian pamit pergi. Seperginya wanita yang bernama Putri itu, aku mencoba menghubungi nomor ponsel sopir taksi online itu, namun sialnya sudah tidak aktif. Malam telah larut. Aku terbangun karena suara brisik ponselku. Mas Rey terus berusaha menghubungiku, mau apa lagi dia? Aku yang tak mau terganggu segera menonaktifkan telepon. Karena sudah terlanjur terjaga, aku tak bisa memejamkan mataku lagi. Banyak hal yang yang aku pikurkan sampai kepalaku terasa sangat sakit. Ku usap perutku sambil menitikan air mata. Janin tak berdosa ini harus selalu ku jaga. Dia akan menjadi sumber kekuatanku setelah kehilangan Mas Rey. Akan ku sembunyikan kehamilan ini karena aku tak mau Mas Rey dan kekuarganya kembali mempersulit kepergianku. Mereka tidak boleh tahu. Udara pagi membuatku merasa kembali segar. Pagi-pagi begini tak biasanya perutku terasa keroncongan. Segera aku keluar dari hotel untuk mencari makanan yang membuatku beersera makan. Aku pergi ke sebuah restoran langgananku, di sana aku memesan teh hangat dan tomyam pedas. Beruntungnya nafsu makanku kali ini sangat bagus, dalam sekejap tomyam dan sepiring nasi telah berhasil ku habiskan. Aku tersenyum menyadari betapa rakusnya aku hari ini. Setelah selesai makan, ku ambil ponselku dari dalam handbag, kemudian segera ku aktifkan kembali ponsel yang semalaman tadi kumaatkan. Aku tersenyum kecut melihat puluhan kali panggilan dari mas Rey. Aku yakin sekarang dia tengah panik mencariku, karena orang tuanya pasti akan sangat marah jika tahu aku benar-benar kabur dari rumahnya. Saat aku sedang fokus membaca pesan permintaan maaf dari Mas Rey, tiba-tiba ponselku berdering. Nomor sopir taksi online semalam menghubungiku. Aku langsung mengangkatnya dan memaki-makinya. [Hallo! di mana kamu? kembalikan barang saya atau saya akan laporkan kamu ke polisi!] teriakku pada sopir taksi online itu. [Saya akan mengantarkan barang anda. Tapi saya gak mau antar ke hotel.] jawabnya membuatku semakin geram padanya. [Kamu mau nipu saya lagi kan? mau njebak saya baru bisa ngerampok saya lagi!] tuduhku. [Bukan begitu, Mbak. Itu hotel milik Ayah wanita yang di jodohkan sama saya. Saya gak mau tertangkap lagi seperti semalam. Sekarang saya akan mengantarkan barang anda, tapi tolong jangan suruh saya mengantarkan ke hotel itu lagi.] Wanita yang di jodohkan dengan sopir taksi itu anak dari pemilik hotel tempatku menginap? aku terkekeh mendengar lelaki berusia sekitar tigapuluh tahun itu mendongeng. [Baiklah, antarkan koper saya ke restoran 'X'. Sekarang saya ada di sini." ucapku pada lelaki itu. [Ok. Saya segera kesitu.] Panggilan terputus. Aku kemudian menunggu di depan restoran. Lima belas menit aku menunggu akhirnya lelaki itu datang juga. Lelaki yang ku pikir suka mendongeng itu datang dengan baju yang sangat rapih. Baru terlihat pesonanya ketika siang seperti ini. Pantas saja wanita cantik dan kaya raya itu mengejar-ngejar lelaki tampan ini. [Ini kopernya, Mbak. Terimakasih karena sudah membuat saya di pecat!" bebel lelaki itu. Aku tersenyum sinis. "Kamu bukan cuma kehilangan pekerjaan saja, tapi sebentar lagi kamu akan tertangkap. Aku sudah menghubungi calon tunanganmu dan menyuruhnya menangkapmu di sini!" ucapku. Sopir taksi itu marah, dia kembali mengambil koperku dan berlari ke mobilnya. Aku tak tinggal diam dan mengejarnya. Kami saling berebut koper, karena terlalu marah aku mendorong lelaki itu kebelakang, sialnya badanku di tariknya dan jatuh di atas tubuhnya. Pandanganku dan Nevan beberapa saat bertemu. "Ocha?" Suara seseorang yang ku kenal terdengar. Aku segera bangkit. Begitupun sopir taksi yang bernama Nevan itu. "Jadi alasan kamu pergi sebenarnya karena lelaki ini?" Mas Rey menunjuk Nevan dengan jari telunjuknya. Aku tersenyum getir mendengar tuduhannya. "Kalau iya kenapa? memangnya kamu saja yang bisa menyukai wanita lain!" Bugh! Mataku membulat, Mas Rey memukul Nevan sampai bibir Nevan pecah. Begitu malangnya nasib sopir taksi itu karena ulahku. "Apa-apaan kamu, Mas!" teriakku sambil mendorong tubuh Mas Rey. "Katakan, sejak kapan kamu selingkuh dengan lelaki ini!" Keributan yang Mas Rey ciptakan membuat kami menjadi perhatian banyak orang di sekitar kami. Jujur aku sangat malu. "Sejak semalam, saat kamu memutuskan menikah lagi." ucapku berbohong. Anehnya Nevan diam saja mendengar kebohonganku. Nantilah aku minta maaf pada Nevan, sekarang biar aku membuat lelaki sok sempurna di depanku kepanasan dulu. "Mas sudah jelaskan. Mas mau nikahi Lisa hanya karena mau menyelamatkan nama baik keluarganya saja." ucap mas Rey membela diri. Matanya terlihat berapi-api ketika melirik Nevan kembali. "Apapun alasannya, aku tak peduli!" Aku mendekat ke arah Nevan, "Ayo, kita ke rumahmu sekarang." Mas Rey tak tinggal diam melihatku menarik tangan Nevan. "Ikut Mas pulang!" teriak Mas Rey, sambil menarik tanganku, namun aku langsung menepis tangannya. "Lepaskan, Mas. Cukup aku jadi orang bodoh setahun ini. Kali ini aku tidak mau lagi!" Mas Rey terdiam sejenak, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Nevan. "Apa tidak ada wanita single di luar sana, sampai-sampai kamu mengganggu wanita beristri?" tanya Mas Rey sambil menatap nyalang ke arah Nevan. "Banyak wanita single di luar sana. Tapi tidak ada yang sespesial istri anda. Dia wanita yang buat saya sangat nyaman ketika berada di sampingnya." ucap Nevan. Sopir taksi ini ternyata pintar sekali berakting. "Kalian berdua akan menyesal!" ancam Mas Rey. Aku terkekeh mendengar ancamannya. "Kita lihat, aku atau kamu yqng menyesal!" aku membalas ancaman Mas Rey. Terlihat suamiku yang begitu kesal pergi meninggalkanku. "Maaf, maaf sudah melibatkanmu dalam masalahku!" ucapku pada Nevan. "Kamu hutang budi padaku." jawabnya. "Nevan! sekarang kamu tidak akan bisa lari lagi!" ucap wanita yang bernama Putri. Dia membawa dua lelaki berbadan kekar. Nevan yang terkejut langsung masuk ke dalam mobilnya. Putri dan dua anak buahnya pun masuk ke dalam mobil mereka kembali lalu mengejar Nevan. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat itu. Sopir taksi bodoh itu bisa-bisanya sok jual mahal menolak perjodohan dengan wanita cantik dan kayaraya itu. Bukankah dia akan hidup senang bergelimang harta kalau saja dia mau di jodohkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD