BAB 7: OM ABI PULANG (REVISI)

849 Words
SELAMAT MEMBACA *** Sehari setelah proses inseminasi kemarin, tidak terjadi apapun. Utari tidak merasakan apapun pada tubuhnya, dia masih beraktifitas dengan biasa. Seperti biasa, setiap pagi Utari akan membantu Mbok Kem untuk membersihkan rumah. Meski Mbok Kem sudah menolaknya, namun Utari memaksa untuk Mengerjakannya. Dia merasa sangat bosan, jika hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. "Mbok bunga di depan Tari siram ya." Utari yang sedang duduk di depan TV merasa bosan dengan acara yang dia tonton. Sedangkan Mbok Kem sejak tadi sedang melipat baju di ruang belakang. Abi, entahlah sejak pagi hingga siang ini Abi belum juga pulang. Utari hanya tahu laki-laki itu bekerja sebagai dokter di rumah sakit selebihnya Utari tidak tahu lagi. "Jangan, masih siang. Nanti bunganya layu." Mbok Kem menjawab teriakan Utari juga dengan teriakan dari ruang belakang. "Ya sudah kalau begitu Tari pel lagi ya lantainya." Utari kembali berteriak. Padahal bisa saja dia berjalan sedikit ke belakang menghampiri Mbok Kem dan berbicara pelan tanpa harus mengeluarkan uratnya untuk teriak-teriak. "Kan tadi pagi sudah di pel, jangan di pel lagi," jawab Mbok Kem dengan teriakan juga. "Terus aku mau ngapain Mbok, bosan nonton TV. Mau tidur siang panas, tidak bisa tidur aku." Utari tetap berteriak berbicara dengan Mbok Kem sambil menyandarkan tubuhnya di sofa yang dia duduki. "Kamu pikir ini hutan teriak-teriak begitu?" Tanpa Utari sadari Abi sudah berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang. Dari tadi dia mendengar Utari dan Mbok Kem teriak-teriak bersahutan dan dia merasa kesal. "Lohh Om kok sudah pulang, Om naik apa kok Tari tidak dengar mobil Om?" Utari berdiri berjalan ke arah Abi. Dia nyengir tanpa dosa saat Abi memarahinya. "Bagaimana kamu bisa dengan suara mobil, di dalam rumah teriak-teriak seperti di hutan." Setelah mengatakan itu, Abi pergi meninggalkan Utari. Utari segera menyusul langkah Abi. "Om mau dibuat kan minum. Om sudah makan siang. Mau Tari ambilkan minum atau makanan?" Utari terus saja bertanya sambil mensejajar kan langkahnya dengan Abi. "Saya mau tidur, daripada kamu cerewet mending makan ini." Abi menyerahkan bungkusan yang sejak tadi dia bawa. "Terima kasih Om." Utari menerima bungkusan itu dengan senang hati. Meskipun dia tidak tahu apa yang Abi berikan. Abi yang melihat reaksi Utari yang tidak disangka-sangka oleh Abi. Meskipun hanya sesuatu yang sederhana namun Utari menerimanya dengan bahagia. Padahal Abi yakin Utari tidak tahu apa isinya. "Wahhh, onde-onde kumbu. Mbok, sini dulu. Lipat-lipatnya nanti lagi, ayo makan onde-onde. Mbokk." Utari kembali duduk di sofa yang tadi dia duduki. Abi yang melihat tingkah Utari hanya menggeleng tidak habis pikir dan tingkah istrinya itu. Iyakan, istri. Abi tidak salah jika mengatakan Utari adalah istrinya. "Jangan teriak-teriak Tari, saya mau tidur," tegur Abi. Saat sedang asik makan onde-onde dengan Mbok Kem, Utari melihat Abi turun dari kamarnya sambil menarik koper kecil di tangannya. "Lohh katanya, Om mau tidur siang?" Utari bertanya saat Abi duduk di sofa yang berada di depan Utari. "Tadi ada telpon mendadak, saya harus kembali ke Jakarta. Ada pasien yang butuh pertolongan saya di sana." "Sekarang?" tanya Utari. "Iya." "Om kapan ke sini lagi?" "Belum tahu." Abi menyerahkan sebuah kartu kepada Utari, yang Utari tahu itu adalah bentuk lain dari uang. "Ini untuk apa Om?" "Ini ATM untuk kamu. Di dalamnya ada uang yang bisa kamu pakai untuk keperluanmu. Nanti kalau habis saya akan transfer lagi, sandinya 1-6." Utari terdiam melihat kartu yang diserahkan Abi, Utari tidak pernah berharap akan mendapatkan ini. Apa ini bisa disebut nafkah dari Abi untuk dirinya. "Ambil ini, kamu pasti perlu nanti. Kamu sudah menjadi tanggung jawab saya jadi ikuti kata-kata saya. Jangan gunakan untuk keperluan rumah, karena Mbok Kem sudah saya kasih sendiri kartunya." "Jangan marah lo nanti kalau uangnya Tari habiskan." Akhirnya Utari mengambil kartu yang diberikan oleh Abi itu dengan senang hati. Siapa yang tidak senang diberi uang, apalagi Utari. "Habiskan kalau kamu sanggup." Setelah itu Abi berdiri dan ingin berjalan kearah pintu. "Om..." "Kenapa lagi?" "Salim Om, biar dapat pahala." Utari mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Abi. Abi yang kembali menerima perlakuan tidak terduga dari Utari kembali tertegun. Seumur hidupnya menjadi seorang suami baru kali ini Abi menerima ciuman di punggung tanganmu dari orang yang berstatus istrinya. Bahkan Naina sendiri tidak pernah mencium tangannya. "Ayo Om, sana berangkat." Abi tersadar setelah mendengar ucapan Utari. Dengan diam dia berjalan masuk ke dalam mobilnya. Perlahan mobil yang Abi tumpangi bergerak meninggalkan pekarang rumah itu meninggalkan Utari dan Mbok Kem berdua. *** Setelah kembali dari Jogja Abi langsung pergi ke rumah sakit karena adanya operasi darurat. Dia baru menyelesaikan tugasnya sebagai penyelamat saat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan langkah lesu Abi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. "Istri saya sudah tidur Bi?" tanya Abi pada bibi yang tadi membukakan pintu. "Nyonya belum pulang, Tuan." "Ke mana, jam segini belum pulang?" "Tadi katanya mau ada acara dengan agensi modelnya, Tuan." "Ya sudah." Abi berjalan dengan pelan menuju kamarnya. Saat sampai di kamar, benar saja Naina tidak ada di dalam kamar, Abi malas menghubungi istrinya itu. Abi justru langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu istirahat. Tubuhnya benar - benar lelah, apalagi dia melewatkan makan malamnya tadi karena sedang melakukan operasi untuk pasiennya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD