BAB 8: JALAN HIDUP UTARI (REVISI)

1039 Words
SELAMAT MEMBACA **** Abi bangun saat mendengar senandung pelan istrinya yang tengah menyisir rambutnya di meja rias. Abi tidak tahu sekarang jam berapa, tapi yang jelas matahari sudah sangat tinggi. "Jam berapa sekarang?" Dengan pelan Abi turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi, dengan wajahnya yang lebih segar. "Jam berapa semalam pulang?" tanya Abi lagi. Pasalnya dia tidak tahu jam berapa istrinya itu pulang karena dia sudah tidur duluan. "Jam dua." "Kenapa pulang selarut itu?" "Agensiku bikin pesta perayaan Mas, Mas kan sudah tahu kalau aku baru aja dapat penghargaan sebagai model terbaik. Mas kemarin di Jogja, jadi kan tidak datang waktu aku terima penghargaan, tapi tidak papa. Mas sudah mau mengabulkan permintaanku, aku sangat bahagia," ucap Naina dengan wajah bahagianya. Tidak ada sedikitpun kesedihan ketika mengatahui suaminya sudah menikahi wanita lain. "Selamat, Mas bangga sama pencapaianmu," ucap Abi pelan. "Oiya gimana sama Utari. Dia masih mudakan. Aku cuma lihat fotonya sekilas kemarin tapi kurasa lumayan, wajahnya manis. Sepertinya dia juga anaknya baik." Naina bertanya dengan santainya tidak ada nada cemburu ataupun marah sedikitpun. "Seperti yang kamu bilang dia masih muda, wajahnya manis tapi masih lebih cantik kamu." Abi menjawab pertanyaan istrinya itu dengan jujur, memang benar menurutnya Utari memang tidak secantik Naina. Naina adalah perempuan tercantik yang pernah Abi temui dan Utari tidak bisa disandingkan kecantikannya dengan Naina namun Utari memiliki wajah yang manis. "Setidaknya kalau nanti anak kita perempuan, dia akan memiliki wajah manis seperti ibunya." Naina lalu berdiri sambil menyampirkan tas kecil di bahunya. "Mau ke mana lagi?" Abi tidak tahu jika sekarang istrinya akan bekerja di hari libur. "Ada acara pemotretan Mas." "Di hari libur?" tanya Abi tidak percaya. "Iya sejak kemarin, banyak tawaran kontrak masuk jadi aku bakalan lebih sibuk. Sudah ya, aku berangkat, jangan lupa sarapan Mas." Setelah itu Naina pergi meninggalkan Abi sendirian. Abi sudah biasa dengan sikap istrinya yang sangat sibuk, bahkan pertemuan mereka sangat sulit, karena mereka memiliki jam kerja yang berlawanan. Sudah sejak lama Abi ingin istrinya berhenti bekerja, dia ingin istrinya diam di rumah menyambut kepulangannya dari bekerja, menyiapkan keperluan-keperluan kecilnya. Hanya sebuah keinginan sederhana dari Abi yang begitu sulit untuk Naina kabulkan. Tapi mau bagaimanapun Abi sangat mencintai istrinya itu, Abi menerima istrinya dengan segala sikapnya. Tiba-tiba saja Abi teringat tentang Utari. Biasanya di jam segini, Abi akan melihat Utari sibuk membantu Mbok Kem untuk menyiapkan sarapan, sedang apa wanita itu di sana. Tok... Tok... Tok... Abi tersadar dari lamunanya saat mendengar suara pintu diketuk. "Siapa?" Abi bertanya siapa yang mengetuk pintunya. "Ini Bibi, Tuan. Ini mau Bibi bawakan sarapannya ke kamar atau Tuan sarapan ke meja makan." Ternyata salah satu asisten rumah tangganya yang mengetuk pintu tadi. "Nanti saya turun Bi," ucap Abi dengan malasnya. Setelah itu tidak ada lagi jawaban yang terdengar. *** Sedangkan di lain tempat, lebih tepatnya di Jogja. Utari dan Mbok Kem sedang merawat tanaman sayuran di halaman belakang rumah. Untuk mengisi waktu luang saat bekerja, Mbok Kem menanam beberapa sayuran yang mudah tumbuh di halaman belakang. Halaman belakang yang begitu luas selain ditanami bunga, juga ada beberapa pohon buah dan sayuran. "Mbok, ini sudah boleh dipetik belum?" Mendengar pertanyaan Utari, Mbok Kem yang tengah membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu tanaman sayurnya menoleh ke arah Utari yang tengah jongkok di depan tanaman lombok yang rata-rata buahnya sudah mulai memerah. "Coba kamu petik, terus kamu gigit. Kalau rasanya sudah pedas boleh dipetik kalau masih manis jangan dulu." Utari yang mendengar jawaban Mbok Kem merasa sedikit kesal dengan wanita tua itu. Dari mana ceritanya lombok itu rasanya manis, sudah pasti pedas. Tinggal jawab boleh begitu apa susahnya, ketimbang harus merangkai kata-kata perintah seperti tadi. Utari langsung mengambil wadah dan mulai memetik satu persatu lombok itu. Sedangkan Mbok Kem yang tau, kalau istri muda tuannya itu kesal dengan jawabannya hanya tersenyum sambil menggeleng. "Sepi ya Mbok kalau Om Abi tidak di sini. Mbok berarti selama ini cuma berdua dengan Asep di rumah ini?" "Ya begini, mau bagaimana lagi. Tapi kan ada Tari sekarang jadi Simbok sama Asep sudah ada temannya." "Om Abi itu sering ke sini tidak sih Mbok?" "Tuan Abi jarang ke sini, kalau tidak ada urusan yang benar-benar penting. Tapi mungkin sekarang akan sering ke sini, kan ada kamu istrinya di sini." "Hahaha, Mbok Mbok. Kok Tari jadi lucu pas Mbok bilang sekarang ada Tari jadi Om Abi sering ke sini. Tari ini siapa Mbok, cuma istri sirinya Om Abi. Kalau dibandingkan istri sahnya Om Abi, Tari jelas jauh." Sambil tanganmu terus memetik lombok Tari kembali teringat akan nasibnya. "Mau siri ataupun sah ya tetap saja istri," jawab Mbok Kem. "Simbok sudah pernah bertemu istrinya Om Abi?" "Sudah, Nyonya Naina." "Iya Tante Naina, Tari belum pernah bertemu orangnya Mbok tapi pernah dengar suaranya waktu telpon melamar pekerjaan. Wajahnya seperti apa Mbok." "Nyonya Naina itu cantik, dia juga baik sekali orangnya. Kalau dia ada kerjaan di Jogja pasti juga menginapnya di sini." "Katanya artis ya Mbok?" "Model, itu Naina Picollo masa kamu tidak tahu. Wajahnya ada di mana -mana dia model papan atas." Utari tahu siapa Naima Picollo. Siapa yang tidak kenal dengan model papan atas tanah air itu. Wajahnya sering Utari lihat di poster produk-produk terkenal. Tapi Utari tidak menyangka jika Naina model itu adalah istri dari Abi. Utari semakin minder dan tidak percaya diri mendengarnya. "Siapa yang menyangka ya Mbok, Om Abi itu dokter, kaya, istrinya juga cantik dan sukses. Kalau dilihat sekilas mereka itu seperti keluarga yang sempurna, tapi ternyata lihat saja sekarang Om Abi menikahi Tari hanya demi seorang anak." "Hidup itu sawang sinawang, belum tentu mereka yang memiliki kesempurnaan dan kita kira hidup bahagia, mereka bahagia dan tidak merasa kekurangan lagi. Dan belum tentu mereka yang kekurangan tidak bahagia. Karena kadar bahagia setiap orang itu berbeda. Lihat saja, mereka yang hidup kadang kekurangan tapi bisa memiliki keluarga yang lengkap mereka terlihat bahagia. Sedangkan Tuan, dia memiliki segalanya, tapi tidak bisa memiliki anak. Makanya Tuan menikahi kamu, mungkin memang sudah takdirnya begini. Intinya tuhan itu berlaku adil kepada setiap umatnya." Utari mengangguk, tanda menyetujui apa yang di katakan oleh Mbok Kem. Sekarang, dia jadi lebih menghargai hidupnya. Dia akan berusaha bahagia dan menerima takdirnya. Dia tidak akan mengeluh dan menyesal karena Tuhan pasti sudah menyediakan jalan terbaik untuk hidupnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD