Ajeng menurunkan tubuhnya dengan pelan, sambil menelusuri tubuh Lintang, dengan menciumi seluruh wajah Lintang, menjejal leher Lintang dan melumat lembut bibir Lintang. “Aaaah, Ajeeeeng,” lenguh Lintang, bahagia rasanya ketika p****g dadanya digigit dan dihisap lembut mulut Ajeng. “Enak kan, Mas?” goda Ajeng yang mulutnya masih memainkan d**a Lintang secara bergantian. “Iyaaa. Kamu nggak tahan kenapa, Jeng?” tanya Lintang dengan suara seraknya. “Aku mau dimasukin, Mas.” Lintang terkekeh lemas. Dia biarkan Ajeng dengan bebas menjamah tubuhnya. Senyum di wajahnya tidak sedikitpun surut saat melihat istrinya yang tampak sangat b*******h. “Ooooh,” Lintang melenguh saat Ajeng sudah bergoyang di atas tubuhnya dengan senjatanya yang sudah bersemayam di dalam liang yang lembab. Setelahnya

