Lintang tertawa cukup lama mendengar pertanyaan mamanya, membuat Widya jadi semakin penasaran. “Lintang, jawab pertanyaan Mama.” “Mama tuh lucu. Dulu kepingin banget Ajeng jadi menantu, berhasil, tapi setelah kejadian Mas Anung, berubah kesel.” Lintang tampaknya masih mengulur-ulur waktu memberitahu mamanya tentang perubahan sikap Ajeng sekarang. Dia lalu melanjutkan, “Makanya, Ma. Jangan terlalu sayang atau terlalu memuji-muji Ajeng, jadi sakit hati banget kan ketika ada masalah.” Widya menghela napas panjang. “Ya tapi Mama sekarang sadar bahwa Ajeng nggak bersalah. Masmu yang salah.” Lintang mengusap-usap bahu mamanya. “Sakit ya?” tanya Widya yang tak sengaja melihat goresan luka kecil di tulang pipi Lintang. Lintang memang tidak bercerita bahwa Ajeng menyerang wajahnya kepada mama

