Chapter 06 - A Question

720 Words
Hampir seharian ini, El mengajak Yaya berkeliling. Awalnya Yaya sempat menolak, karena cuaca yang kurang bersahabat untuk dirinya. Tetapi El berhasil membujuknya, hingga mereka berdua pun pergi bersama. Mereka berdua sempat mendatangi sebuah museum, menaiki kereta gantung, gondola rinerhornbahn, dan mencicipi berbagai macam kuliner. Sampai akhirnya, Yaya memaksa untuk segera pulang ke hotel saja. Karena ia sudah mulai merasa lelah, dan tidak betah juga dengan cuaca di sekitar mereka. Sehingga El langsung menurutinya begitu saja, karena ia pun sudah mulai merasa kelelahan, dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang. “Oh iya! Aku baru ingat.” Yaya menolehkan kepalanya ke arah El yang ternyata sudah berbaring telentang di tengah-tengah tempat tidur mereka. Hingga membuat dahinya berkerut samar. Karena pria itu sudah memejamkan kedua matanya. “El?” panggil Yaya dengan penuh hati-hati. “Hmm?” “Kupikir kau sudah tidur,” gumam Yaya kemudian. “Belum. Memangnya kenapa?” tanya El tanpa membuka kedua matanya. “Aku ingin bertanya.” Yaya duduk di pinggir ranjang, tak jauh dari El yang sedang berbaring telentang. “Kapan kita akan pulang?” “Memangnya kenapa?” El menatap Yaya dengan kedua matanya yang sudah terbuka lebar. “Kau ingin cepat-cepat pulang ke rumah ya?” “Syukurlah kalau kau sudah mengerti, karena aku tidak terlalu betah berada di sini.” El hanya mendengkus. “Tidak semudah itu. Karena kita berdua belum benar-benar berbulan madu.” Yaya langsung menjauh, dan menjaga jarak dari suaminya itu. “Ada apa denganmu?” El malah tertawa, dan segera duduk di atas tempat tidur. “Kenapa kau menjauh seperti itu?” “Jangan pura-pura tidak tahu!” Yaya menjawab dengan nada kesal. “Dan ... bukankah kau pun sudah sepakat denganku agar kita berdua tidak perlu berbulan madu? Lalu, kenapa kau selalu menyinggung tentang hal itu?” Dahi El kontan berkerut. “Kapan aku melakukan kesepakatan denganmu?” “Waktu itu.” Yaya menjawab, tapi suaranya terdengar ragu. El hanya mengangkat bahu. “Kenyataannya kita pergi ke sini untuk berbulan madu. Jadi, kau harus segera mempersiapkan dirimu. Karena cepat, atau lambat, aku pasti akan meminta hakku.” “Aku tidak mau,” balas Yaya dengan cepat sembari menggelengkan kepalanya. “Kau tidak boleh menolakku, atau ...," “Apa?” Yaya langsung bertanya dengan cepat, karena El sepertinya sengaja menggantung ucapannya barusan. El malah menyeringai lebar. “ ... Kita berdua tidak akan pulang ke Jakarta.” Yaya hanya mendengkus kesal, dan keinginan terpendamnya yang ingin sekali mencakar wajah El terasa semakin besar. *** “Yaya, kembalilah ke tempat tidur sekarang juga, atau—” Yaya langsung menyahut. “Aku tidak mau!” El mulai mengembuskan napas panjang. Karena Yaya tetap bersikeras untuk tidur di atas sofa, dan menolak tidur bersamanya. Padahal ia tidak akan berbuat macam-macam, tapi wanita itu sudah berburuk sangka duluan. Yaya yang sengaja berbaring di atas sofa panjang dengan posisi membelakangi suaminya, langsung bernapas lega begitu telinganya sudah tidak mendengar suara apa-apa lagi di sana. “Atau aku akan menggendongmu secara paksa,” ucap El sembari menggendong Yaya dari atas sofa menggunakan kedua tangannya. Bahkan dengan sangat mudah, yang membuat wanita itu terpekik seketika, dan langsung memegang apa pun yang bisa dijangkau oleh kedua tangannya. El hanya tertawa begitu melihatnya, dan segera membaringkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang. “Aku tidak akan membiarkanmu tidur di atas sofa begitu saja. Aku tidak mungkin berbuat setega itu, Ya.” Yaya langsung mencebikkan bibirnya, dan tidak mengatakan apa-apa saat El mengatur selimut untuknya. Kemudian pria itu ikut berbaring di sampingnya, dan masuk ke dalam selimut yang sama. “Tidurlah dengan tenang,” ucap El tak lama kemudian, yang membuat Yaya langsung menoleh ke arahnya. Namun, pria itu tetap tidak membuka kedua matanya yang sudah terpejam, dan terus berbicara tanpa menatap sang lawan bicara. “Lagi pula ... aku tidak akan memaksamu jika kau memang tidak mau berhubungan intim denganku. Karena memaksa seseorang, bukanlah hobiku. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.” Yaya masih belum mengatakan apa-apa, dan rasa bersalah mulai bergelayut di dalam hatinya. Kemudian ia pun berdeham pelan. “Apakah kau pernah melakukan hal itu sebelumnya?” Kedua mata El kontan terbuka, dan ia menolehkan kepalanya ke arah Yaya. “Melakukan apa?” tanyanya yang sengaja berpura-pura tidak tahu apa yang sedang dimaksud oleh wanita itu. Yaya langsung terlihat salah tingkah, dan mulai memalingkan wajahnya. “Lupakan saja.” El hanya tertawa begitu mendengarnya. “Menurutmu bagaimana?” “Apanya?” tanya Yaya sambil melirik El melalui ekor matanya. “Menurutmu, aku sudah pernah melakukan hal itu, atau belum?” “Mana aku tahu!” Yaya menjawab dengan nada gugup. “Sepertinya kau sengaja bertanya seperti itu untuk menghindari pertanyaan dariku.” El hanya tersenyum, karena ia memang sengaja melemparkan pertanyaan itu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD