“Eeellll, kapan kita akan pulang?” Yaya menatap ke arah luar jendela, dan membiarkan coklat hangatnya tetap berada di atas meja. “Kurasa ... aku bisa mati kedinginan jika terlalu lama tinggal di tempat seperti ini.”
El langsung memutar kedua bola matanya. Karena menurutnya, ucapan Yaya barusan terdengar sangat berlebihan. “Tenang saja, kau baru akan mati jika dibiarkan tidur di atas hamparan salju selama berhari-hari.”
Yaya hanya mendengkus, dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Dan jika kau sedang merasa kedinginan, lebih baik kau pakai mantelmu sekarang!” El melemparkan sebuah mantel ke arah Yaya tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu kepadanya. Hingga mantel itu hinggap begitu saja di atas kepala. “Jangan memakai baju setipis itu!”
Yaya kontan merengut, dan mengambil mantel dari atas kepalanya. Lalu menatap El yang sedang berdiri tak jauh darinya. “Kenapa kau harus marah-marah begitu? Memangnya apa salahku?”
“Pakai mantelmu sekarang, dan jangan banyak bicara.” El berucap dengan nada tegasnya yang tidak ingin dibantah. Karena ia merasa sangat terganggu dengan jenis pakaian yang sedang Yaya kenakan sekarang. Lantaran wanita itu mengenakan baju terusan selutut, berlengan 3/4 yang terbuat dari bahan yang sangat tipis dan cukup transparan.
“Memangnya kita akan pergi ke mana?” tanya Yaya yang belum juga memakai mantelnya. Ia bahkan sudah menaruh mantel itu ke atas meja.
“Memangnya mantel hanya dipakai saat sedang bepergian saja?”
“Iya.” Yaya menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
El hanya tertawa, dan segera naik ke atas ranjang. Lalu membaringkan tubuhnya di atas sana. Karena ia tidak ingin pergi ke mana-mana.
“Ini adalah liburan yang paling membosankan,” ucap Yaya secara tiba-tiba sambil menghempaskan bokongnya ke bagian ujung ranjang. “Seharusnya kau membawaku ke pantai saja, di sana aku bisa berenang, berjemur, menikmati sunset, sunrise, dan lain sebagainya.”
“Kau bisa berbahasa Inggris?” tanya El dengan nada tak percayanya. Karena ia langsung membuka kedua matanya begitu mendengar Yaya berceloteh panjang-lebar mengenai pantai.
Yaya kontan menolehkan kepalanya dengan raut wajah dongkol yang sangat kentara. “Tidak!”
Setelah itu ia kembali menolehkan kepalanya ke arah depan, dan membiarkan El menertawakan dirinya di belakang sana.
“Kalau kau ingin berenang, kau bisa berenang di kolam.”
“Jangankan untuk berenang, untuk mandi saja aku sudah malas. Cuaca di sini benar-benar keterlaluan.” Kemudian Yaya ikut membaringkan tubuhnya ke atas ranjang sambil terus bertanya-tanya di dalam hatinya, kapan mereka berdua akan pulang? Karena ia sudah tidak betah berada di negeri orang.
“Yaya.”
“Ya?” Yaya menolehkan kepalanya ke arah El yang sedang berbaring di sampingnya dengan kedua mata yang menatap lurus ke arah langit-langit kamar.
“Apa kau tidak bisa memakai selimut sekarang juga?” El mati-matian menahan dirinya agar tidak menatap ke arah Yaya, terutama ke arah pahanya yang terpampang nyata. Karena hari ini, wanita itu bertindak sangat ceroboh sekali. Hingga berhasil menyiksanya seperti saat ini.
“Memangnya kenapa?” tanya Yaya dengan nada polosnya.
El langsung mendengkus samar, dan segera menarik selimut yang ada di bawah kakinya. Kemudian menyelimuti tubuh Yaya saat itu juga. Karena tubuh wanita itu sangat mengganggu konsentrasinya, hingga ia merasa tidak tenang, dan ingin berbuat yang ‘iya-iya’ saja.
“Aku tidak suka bajumu ...,” El segera menggelengkan kepalanya. Sedangkan Yaya langsung membeku seketika, karena ia sama sekali tidak menyangka kalau pria itu akan berbicara tepat di atas tubuhnya. “ ... Tidak, bukan bajumu. Tapi ....”
Kemudian El berdecak pelan dengan kedua mata yang memicing menahan rasa kesal. “Yaya, aku adalah pria dewasa. Jadi, jangan sekali-kali memakai baju terusan yang bisa tersingkap dengan mudah, atau aku sendirilah yang akan merobeknya.”
Yaya hanya melebarkan kedua matanya dengan bibir yang terkatup rapat. Lalu El membuka kedua matanya, dan pandangannya langsung terjatuh ke tempat yang tidak seharusnya. Karena hal itu malah membuatnya kembali teringat pada ciuman pertama yang pernah mereka lakukan di acara pernikahan.
El langsung mengumpat dari dalam hatinya. Pertahanan dirinya hancur seketika, dan ia mulai mengikis jarak di antara mereka berdua. Selanjutnya, ia sudah mencium bibir Yaya dengan gerakan samar.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, karena El langsung memperdalam ciumannya begitu Yaya sudah memejamkan kedua matanya. Tampak menikmati ciuman darinya.
Seakan belum cukup, El juga segera menyingkirkan selimut yang sedang menutupi tubuh istrinya itu.
“Aku akan membuka bajumu,” ucap El setelah menyatukan dahi mereka berdua dengan napas yang terengah-engah, dan bersiap untuk membuka kancing di bagian d**a* wanita itu. “Kalau kau tidak mau, kau masih memiliki sedikit waktu untuk menghentikan aku.”
Napas Yaya tampak naik-turun, tapi ia tidak mengatakan apa pun.
“Aku akan benar-benar membuka bajumu.” El berbisik pelan di samping telinga Yaya, dan memberikan gigitan kecil di sana. Membuat Yaya meremang seketika, tapi tetap tidak mengatakan apa-apa. Sehingga El pun langsung melancarkan aksinya saat itu juga.
*****
Bersambung ....
Jangan lupa follow akun IG-ku @_ruangbicara_