Bab 10

1117 Words
Berhari-hari Alfa tak memiliki gairah apapun. Hidupnya terasa 'flat'. Bahkan saat bekerja pun dirinya terasa malas. Beberapa kali meeting harus ia Cancel atau ia meminta Delta atau Gamma untuk menggantikannya. Sebagai anak tertua serta penanggung jawab seluruh aset keluarga, seringkali Jonathan menegur Alfa. Tapi, teguran itu tidaklah membuat Alfa kembali bersemangat. Hingga akhirnya baik Delta maupun Gamma harus kembali turun ke kantor. Sementara itu, Melodi, sang wanita yang selalu mengisi pikiran Alfa tengah sibuk dengan keluarganya. Shelyn, sang kakak tiri tak menyangka adiknya itu akan kembali. Ia yakin betul, menyerahkan Melodi pada Mr.Ax adalah jalan yang paling tepat. Sangat tidak mungkin Melodi akan kembali ke rumah. Ia pun tak habis pikir, bagaimana bisa Melodi kembali ke rumah dengan keadaan sehat dan ingatan yabg sudah pulih. “Mel..., Papa senang kamu sudah kembali ke rumah ini.” Reno, sang papa memeluk Melodi entah ini yang ke berapa kalinya sejak Melodi kembali ke rumah. Melodi tak menceritakan apapun mengenai bagaimana bisa ia kembali ke rumah ini. Melodi merahasiakan semuanya. Yang penting ia sudah kembali ke rumah. Begitu katanya pada Reno. “Iya, Pa,” jawab Melodi santai sambil menikmati cappucino hangatnya. Shelyn dan Friska, Mama tiri Melodi saling menyikut. Mereka berdua tentunya sangat tidak menyukai apa yang mereka lihat saat ini. “Kamu sudah bertemu dengan Rey?” tanya Reno. Raut wajah Melodi berubah. Matanya melirik ke arah Shelyn dengan tatapan tak suka. “Mas gimana, sih..., kan Rey sama Shelyn sudah sepakat mau menikah.” Friska mengingatkan Suaminya itu dengan nada yang sangat manis. Reno menoleh.”Tapi, itu kan ketika Melodi tidak ada. Kita semua mengira Melodi sudah tiada. Sekarang Melodi ada. Siapa tahu Rey berubah pikiran.” “Rey tidak akan berubah pikiran. Kami saling mencintai. Rey sangat terpuruk saat Melodi hilang. Aku lah yang mebangkitkannya kembali. Aku yabg buat Rey tertawa lagi.” Shelyn angkat bicara sebelum Reno bicara banyak. “Tapi, Rey itu tunangan aku. Sekarang aku kembali,” ucap Melodi sedikit keras. “Kami sudah mencetak undangan, Melodi sayang. Terus... apa kelihatannya Rey senang atas kembalinya dirimu?” Shelyn terkekeh. “Papa akan bicara sama Rey. Sebenarnya siapa yang dia pilih. Jangan bikin keputusan sendiri.” Reno berkata pada Shelyn. Melodi terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Rey, mungkin kali ini ia harus melepaskan tunangannya itu. Pertemuan dirinya dengan Rey kemarin benar-benar membuatnya terpukul. Rey memang sangat bahagia saat Melodi muncul di hadapannya. Tapi,ternyata Tunangannya itu sudah memiliki hubungan spesial dengan sang kakak. Bahkan Rey tidak bisa kembali padanya karena suatu hal. Mereka benar-benar tidak bisa bersama lagi. Rey mengatakan bahwa Shelyn tengah mengandung anaknya. Oleh karena itu, Rey harus menikah dengan Shelyn. Jawaban yang sangat menyakitkan. Bahkan membuat Melodi mati rasa. “Melodi? kamu baik-baik aja, kan?” tanya Reno. Melodi mengangguk perlahan. Sampai bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, Bik Asih, asisten rumah tangga mereka datang menghampiri. “Pa, Bu... ada undangan.” Reno meraih undangan tersebut.”Undangan pernikahan.” “Siapa, Pa?” Reno membuka undangan tersebut dan membacanya.”Ini undangan pernikahan anaknya James Morinho dan Riana Larasati.” “Pasangan fenomenal itu,” kata Friska sedikit sinis. Shelyn memekik.”Duh... yang anaknya ganteng-ganteng banget, kan, Pa. Mana tajir semua lagi.” “Kenapa kamu gak milih mereka. Kenapa malah milih Rey,” cibir Friska. “Kan... Rey juga tajir mama....” Shelyn terkekeh. “Itu siapa yang menikah, Pa?” “Jonathan dan Sharen. Anak pertama mereka. Beruntung sekali keluarga yang menjadi besannya James.” Reno meletakkan undangannya di atas meja. Kemudian, Reno pergi menuju kamar mandi. “Kamu dong, Shel... kan sering tuh gabung di kalangan mereka. Biarin deh... kamu lepasin itu Rey.” Friska justru bersemangat sekali. “Udah, ma... Shelyn pernah dekat, sih, sama Alfa... adiknya Jonathan. Tapi... sikapnya dingin banget. Sama kayak Jonathan. Terus... ada sih adiknya. Delta. Tapi, kayaknya enggak suka perempuan deh,Ma.” “Kamu ini. Coba deketin lagi,” bisik Friska. Melodi terpaku sesaat. Diraihnya undangan itu. Ia tahu James dan Riana adalah nama orang tua Alfa dan adalah orang yang pertama kali ia ajak bicara setelah ia bisa mengingat semuanya. Di undangan tersebut tertera nama Alfabian Axel Morinho sebagai adik dari mempelai. Melodi membuang wajahnya agar tak dilihat oleh Shelyn maupun friska. Mendadak ia menangis saat mengingat Alfa. Pria yang pernah mengejarnya saat ia sedang bahagia-bahagianya dengan Rey. Lebih menyedihkan lagi adalah, saat ia ingat bahwa ia dan alfa pernah melakukan hubungan yang sangat dalam. Bahkan itu terjadi saat dirinya tak ingat apapun. Ia tidur bersama laki-laki yang paling tidak ia inginkan sejak dahulu. Apakah ia marah dengan Alfa karena telah memanfaatkan situasi ini. Entahlah. Melodi bersyukur saat ia sudah sadar, Alfa tak berada di sampingnya. Riri dengan gamblang menceritakan semuanya. Dari a sampai z. Untung saja Riri adalah wanita yang sangat baik. Ia mengantarkan melodi pulang. Setidaknya Melodi berhutang itu ada keluarga Morinho. Dan jangan lupa, selama ini merawat Melodi sampai sembuh dari lupa ingatan. Sekarang ia tak tahu harus bagaimana. Rey telah meninggalkannya. Sebentar lagi mungkin ia akan menikah dengan shelyn. Melodi lebih rela jika Rey bersama wanita lain saja, asalkan itu bukan shelyn. “Kenapa harus Shelyn, Rey. Kamu tahu,kan, dia itu siapa....” Melodi merintih dalam hati sambil pergi meninggalkan ruang keluarga. Ia kasih bisa mendengarkan canda tawa antara Friska dan Shelyn. Melodi merasa sendiri. Ia punya Papa tetapi seluruh perhatiannya telah direnggut oleh Ibu tirinya. Lalu Rey... sekarang juga sudah bukan lagi miliknya. Rey adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Shelyn. Dunia ini begitu sempit. Melodi ingin menangis. Menangisi apapun yang membuat bebannya semakin bertambah. “Rey....” Air mata Melodi kembali mengalir dengan deras. Dikuncinya pintu kamar, lalu mendekap guling dan menangis dengan puas.   **   Melodi mematung di depan sebuah rumah mewah bernuansa eropa. Hatinya sedikit ragu untuk masuk. Tapi, ia tak sanggup menahan rasa yang berkecamuk di d**a. Ia harus menemui lelaki itu. Masih terlarut dalam lamunannya, Pak Juned, tukang kebun di rumah itu membuka pintu gerbang dengan tergopoh-gopoh. “Neng Melodi..., ngapain bengong di sini? Ayo masuk.” Melodi memaksakan dirinya untuk tersenyum.”Mas Rey ada di rumah, Mang?” “Iya. Ada, Neng. Masuk aja. Kayak baru pertama kali datang aja si eneng ini.” Mang Juned terkekeh. Melodi masuk ke dalam rumah besar itu. Biasanya ia memang langsung masuk lewat pintu samping lalu langsung ke paviliun yang menghubungkan langsung dengan kamar Rey. Tapi, kali ini rasanya sudah berbeda. Dengan ragu ia mengetuk kamar Rey. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Rey sedikit terkejut dengan kehadiran Melodi. Air mata Melodi tak tertahankan lagi. Semuanya tumpah tuah seiring dengan tubuhnya yang Melemah. Melodi memeluk Rey, menghirup aroma tubuh kekasihnya yang ia rindukan. “Mel!” Rey mengusap rambut Melodi. “Aku kangen, Rey,” bisiknya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD