Bab 11

1114 Words
 Rey mengangguk-angguk mengerti. Ini juga tak mudah baginya. Ia telah mengenal Melodi cukup lama, ia bisa merasakan bagaimana sedihnya Melodi saat ini. Ia juga merindukan kekasihnya. Sangat rindu. Betapa hari-harinya begitu berat saat ia harus menerima kenyataan bahwa Melodi kecelakaan dan dinyatakan hilang. Bahkan, juga dinyatakan meninggal karena mereka tak pernah menemukan Melodi sampai berbulan-bulan. Rey merasa bahagia mendengar kabar Melodi telah kembali dalam keadaan sehat. Sampai-sampai ia harus mencubiti dirinya sendiri karena tidak percaya. Tapi di balik kebahagiaannya ia harus ingat bahwa ia telah memiliki hubungan bersama Shelyn, kakak tirinya Melodi. “Aku... sayang kamu, Rey. Jangan tinggalin aku,” isak Melodi dengan nada yang memilukan hati. Masih dalam posisi memeluk Melodi,tangan kiri Rey meraih handle pintu dan menutupnya. Rey membawa Melodi agar duduk di tempat tidur. “Iya, Mel... tapi sekarang posisinya sudah beda. Aku bahagia kamu kembali. Sangat bahagia.” Rey berusaha menenangkan Melodi yang semakin terisak. Melodi menggeleng.”Kita sudah bertunangan, Rey. Dimana letak kesalahannya. Aku hilang dan lupa ingatan selama dua bulan. Sekarang aku kembali. Aku ada di depanmu, Rey. Kenapa secepat itu kamu lupakan aku!” Rey terdiam dan membiarkan Melodi rerus menangis dalam pelukannya. Biarlah mereka seperti ini sampai Melodi tenang. Hingga menit demi menit berlalu. Satu jam kemudian, Melodi semakin terlihat lemah karena kebanyakan menangis. Rey membaringkan Melodi ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. “Rey!” panggil melodi. “Iya, Mel?” “Kenapa kamu mau menikah dengan Shelyn? Apa kamu mencintainya?” tanya Melodi lemah. “Aku tidak tahu, Mel. Tapi, sekitar seminggu yang lalu Shelyn mengatakan kalau ia telat datang bulan. Ia mengandung anakku,”ucap Rey hati-hati. Ia tahu ini akan menyakiti hati wanita yang tiga tahun lamanya ia pacari. “Kamu mencintainya?” ulang melodi. “Aku tidak tahu. Shelyn hadir sejak kamu menghilang. Dia selalu ada pada masa-masa terpuruk itu. Aku sangat gila saat kehilangan kamu, mel. Tapi, Shelyn ....” Melodi mengangguk-angguk. Dirinya mulai merasa sangat lelah mendengarkan hal yang sama dari mulut Rey, pria yang  menjadi pacarnya selama 3 tahun. Sesederhana itu kah alasan Rey memutuskan untuk meninggalkan dirinya demi Shelyn. Melodi merasa cukup untuk semua ini. Mungkin saja Rey memang sudah tak mencintainya lagi. Melodi ingin pulang ke rumah tapi tubuhnya terlalu lemah. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur sebentar di kamar Rey. Ia berjanji setelah tenaganya pulih, ia akan segera pulang. Entah berapa lama Melodi tertidur di kamar Rey, yang pasti sekarang ia sudah terbangun. Rey ada di sebelahnya sedang tertidur juga sambil memeluk dirinya. Melodi menatap Rey dengan hati yang perih, masihkah pria itu mencintai dirinya. Mengapa Rey memeluk dalam tidurnya. Apakah Rey hanya kasihan atau memang masih memiliki rasa cinta. “Rey,” panggil Melodi parau. Matanya terlihat membengkak karena terlalu lama menangis. Rey menggeliat, menatap Melodi yang tengah terduduk lemas.”Mel, kenapa?” “Aku mau pamit pulang,” balasnya dengan suara bergetar. “Aku antar, ya. Sebentar.” Rey bangkit hendak cuci muka. Melodi segera menahan Rey.”Jangan, Rey. Aku pulang sendirian.” Rey menangkup wajah mantan kekasihnya itu dengan sendu.”Mel, bukankah aku harus bertanggung jawab atas kehamilan Shelyn? Anakku ada di kandungannya, kan, Mel?” Melodi kembali terisak.”Rey, kamu jahat, Rey. Apa kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan itu sangat membuatku terluka. Sangat dalam, Rey, luka ini sangat dalam.” Rey hanya bisa menunduk sedih. Ini keputusan yang sulit, tapi ia tak bisa menjadikan Melodi salah satu pilihan sebab ia harus memilih Shelyn. “Mel, maafkan aku. Aku pasrah, Mel, kamu mau marah atau bagaimana. Kamu boleh pukul aku, benci aku selamanya. Ini kesalahanku sepenuhnya. Aku harus bertanggung jawab.” “Aku benci kamu, Rey. Kamu b******k!” Melodi menghentakkan tangan Rey dari wajahnya. Kemudian, ia berdiri dengan tegar sambil meraih tasnya. “Mel, kamu mau kemana?” “Aku mau pulang. Sendiri! Kalau memang kamu lebih memilih Shelyn daripada aku... Silakan! Semoga kamu bahagia, Rey. Semoga kamu bahagia atas perpisahan kita ini.” Usai bicara seperti itu Melodi membuka pintu dengan kasar dan berjalan cepat meninggalkan rumah Rey. Ia berharap inilah terakhir kalinya ia menginjakkan rumah mantan kekasihnya itu. Rey mengusap wajahnya dengan kasar, mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya sendiri. Kemudian ia baru terpikir untuk mengejar Melodi. Tapi, ia terlambat karena Melodi sudah tidak terlihat lagi. “Rey, kenapa kamu tega sama aku. Hubungan kita cukup lama, kan, Rey? Kenapa harus berakhir seperti ini. Apa yang kamu pikirkan.” Melodi menangis di dalam hati. Bahkan ia memukuli dirinya sendiri. Meremas hatinya yang terasa sangat sakit. Kehilangan mamanya adalah kesakitan yang teramat, tapi kehadiran Rey mampu membuat ia lupa dan tergantikan kebahagiaan. Tapi, sekarang  Setelah menghilang berbulan-bulan serta mengalami lupa ingatan akibat dibuang oleh Mama tirinya sendiri, ia harus kehilangan Rey, kekasihnya. Lebih dahsyat lagi sakit yang ia rasakan saat mengetahui bahwa Rey justru menikah dengan saudara tirinya. Hidup begitu kejam. Perlahan diusapnya air mata yang tak mau berhenti. Melodi menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha kuat. Ia yakin semua ini belum berakhir. Tapi, sekarang ia tak memiliki siapa pun yang berpihak padanya. Ia sendiri. “Mbak, sudah sampai sesuai dengan alamatnya.” Suara supir taksi yang ia tumpangi membuyarkan lamunannya. Melodi menghapus air matanya dengan cepat. Lalu, mengambil uang dari tas dan segera membayarnya. Dengan langkah gontai, Melodi masuk ke dalam rumah. Dalam hati ia terus berteriak.”Aku pasti kuat.”    ** Dua minggu berlalu begitu cepat. Melodi masih mengurung dirinya di kamar. Tidak bekerja atau pun beraktivitas layak dirinya dahulu sebelum mengalami lupa ingatan. Ia masih belum bisa melupakan semuanya. Terlebih Rey. Melodi heran dengan Shelyn yang katanya sedang hamil, tapi sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Bahkan sampai detik ini ia dan Rey belum melakukan pernikahan. “Non!” Panggil Bibi Asih. Melodi menoleh,”Iya,Bi?” “Ada tamu, Non,” katanya dengan hormat. Melodi mengernyitkan dahinya.”Tamu? Tamu saya?” Bi Asih mengangguk.”Iya, Non. Laki-laki. Katanya nyariin Non.” Melodi meletakkan majalah yang sedari tadi ia peluk sambil melamun. Tanpa penasaran siapa orang itu, Melodi langsung menuju ruang tamu. “Mel,” ucap pria tersebut Langkah Melodi melambat. Sudah lama ia tak bertemu dengan pria itu. “Ada apa?” Tanya Melodi dingin. “Apa kabar?” “Baik.” Melodi bersikap acuh tak acuh sambil duduk di hadapan pria itu.”Ada apa?” “Aku menemuimu, Mel.” Melodi mendesah kesal.”Iya aku tahu, Alfa. Kamu menemuiku. Tapi, untuk apa?” “Kamu putus sama Rey?” “Pertanyaan yang bikin aku makin males ketemu kamu. Kalau iya kenapa? Kamu seneng,kan?” Melodi menatap Alfa kesal. Alfa menggeleng,”Bukan, tapi... kenapa? Aku justru ikut sedih dengan berita ini, Mel. Apalagi saat menerima undangan pernikahan Rey dan Shelyn.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD