Bab 12

1181 Words
 “Udahlah, Fa. Kalau kamu masih mau bahas ini, aku mohon maaf. Aku tidak bersedia.” Melodi berdiri dari duduknya. Alfa ikut berdiri dan menahan Melodi.”Mel, jangan seperti ini.” “Fa... aku lagi males. Enggak pengen ketemu siapa-siapa. Maaf, kamu boleh pulang.” Melodi pergi meninggalkan Alfa. Alfa tak mengejar Melodi. Sepertinya waktunya tidak tepat. Bi Asih mengejar melodi sampai ke kamar. “Non... Non baik-baik aja,kan?” Melodi mengangguk.”Iya, Bi. Melodi baik-baik aja. Oh,ya... suruh Alfa pulang ya, Bi. Jangan kasih tahu Mama ataupun Shelyn kalau Alfa datang ke sini.” “Beres, Non.” Bi Asih mengacungkan jempolnya lalu pamit. Melodi merasa tubuhnya sangat lelah dan sedikit pusing. Lalu, ia memutuskan untuk tidur dengan harapan pusingnya hilang setelah bangun tidur. Entah berapa jam Melodi tertidur, sampai ia terbangun karena mendengar suara cekikikan dari luar. Ternyata pintu kamar Melodi tak tertutup dengan sempurna. Diliriknya jam dinding di kamar. Sudah pukul delapan malam. Melodi bangkit dari tempat tidur, ingin melihat kesibukan apa yang ada di bawah sampai harus mengganggu tidurnya. Melodi mengintip dari atas. “Rey,” desis Melodi. Hatinya terasa tertusuk saat melihat Rey berada di rumahnya. Bersama Shelyn dan kedua orangtuanya. Ini menyakitkan. “Non,” panggil Bi Asih. Melodi tersentak.”Bibi ngagetin.” “Anu... ayo makan, Non. Udah malem Non belum makan. Ayo makan sama Bibi... yang lain udah makan duluan.” Melodi mengangguk.”Bi, masak apa?” “Kesukaannya Tuan, Non kayak biasa,” jawab Bi Asih. “Bi... masakin kangkung, ya,” kata Melodi. Bi Asih tercengang,” Kangkung? Non enggak salah? Non Melodi,kan, enggak suka kangkung.” Melodi terlihat bengong. Ia memang tidak suka kangkung karena menurutnya teksturnya lembek dan menggelikan. “Hmmm... enggak tahu, Bi, pengen aja.” “Nah, Bibi masak kangkung untuk Bibi sendiri, sih. Kalau Non mau... ayo kita makan bareng.” Bi Asih bersemangat. “Ayo!” Melodi menarik tangan Bi Asih dengan semangat. Melodi makan dengan lahap sekali seperti orang tidak makan seharian. Bi Asih sampai terbengong-bengong melihat kelakuannya. “Bibi seneng banget lihat Non makannya lahap. Sejak pulang itu, kan... Non jarang banget makan.” Bi Asih senyum-senyum sendiri. Melodi mengangguk-angguk saja karena mulutnya penuh. Saat ini mereka berdua sedang makan di dapur, bukan di meja makan seperti biasa. “Enak,Bi... apalagi cumi goreng tepungnya. Enaak!!” Puji Melodi setelah perutnya kenyang. Bi Asih tepuk tangan pelan.”Asyik... Non juga jadi suka cumi. Biasanya anti banget. Besok Bibi masakin lagi.” Melodi mengacungkan jempolnya. Mereka berdua terlibat banyak percakapan selama di dapur mengenai masakan juga menu masakan yang akan dimasak besok. Bi Asih merasa takjub, karena selama ini majikannya yang satunya ini sangat pendiam. Sekarang berubah menjadi banyak bicara dan sedikit cerewet. Dari dapur, Melodi dan Bi Asih bisa mendengar suara di ruang tamu sudah sepi. Itu artinya tamu sudah pulang. “Bibi rapiin meja dulu, ya,Non.” Bi Asih tergopoh-gopoh menuju ruang tamu sebelum mendapat panggilan melengking dari ibu tiri Melodi. Melodi ikut ke ruang tamu, tapi saat hampir saja ia tiba di ruang tamu,mendadak kepalanya berputar-putar, isi perutnya juga seakan berputar. “Non!” Bi Asih berteriak saat melihat Melodi memegangi kepala dan matanya mendelik. Melodi pingsan. Bi Asih kembali berteriak membuat seisi rumah menuju ruang tamu. Melodi segera dilarikan ke rumah sakit karena sepertinya yang dialami Melodi sedang gawat. Reno mondar-mandir di depan ruangan, saat Melodi sedang diperiksa. “Bi... Melodi kenapa bisa begitu?” “Enggak tahu, Tuan. Tadinya kita abis makan terus ngobrol aja. Pas Bibi tinggal ke ruang tamu, Non Melodi ngikutin eh... tiba-tiba begitu,” jelas Bi Asih sambil menangis. Ia merasa sangat sedih melihat Melodi yang dianggapnya sudah seperti anaknya sendiri. Reno menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung. “Sudah, Pa... kita tunggu aja apa diagnosa Dokter. Siapa tahu aja Melodi cuma kurang istirahat.” Friska menenangkan suaminya. “Ya. Semoga saja.” Reno tersenyum tipis. “Keluarga Ibu Melodi!” Seorang perawat muncul dari balik pintu. “Iya, Suster!” Reno mendekat. “Silakan masuk. Dokter ingin bicara,” katanya dengan ramah. Reno, Friska,dan Shelyn masuk menemui dokter yang memang sudah menjadi langganan mereka. “Ren, silakan duduk.” Vino, salah satu teman lama Reno. “Bagaimana dengan Melodi? Apa dia sakit?” tanya Reno langsung. Vino tersenyum.”Sabar, Ren. Melodi baik-baik saja kok.” “Baik-baik aja? Tapi tadi dia teriak-teriak kesakitan sampai matanya mendelik gitu terus pingsan.” Nada suara Reno terdengar sangat cemas. “Itu karena seharusnya Melodi banyak istirahat dan makan-makanan yang bergizi. Melodi tidak boleh makan sembarangan, apalagi ada janin di kandungannya.” Penjelasan Vino membuat Friska, Shelyn dan Reno terbelalak.”Janin?” “Maksudnya Melodi hamil?” Shelyn memastikan. Vino mengangguk.”Iya. Selamat ya, Ren, Fris... kalian akan segera mendapatkan cucu.” Reno terdiam. Segala perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa senang, terharu dan bahagia karena ia akan segera memiliki cucu. Tapi, ia bingung siapa ayah dari bayi itu. “Untuk sementara... Melodi dirawat saja dulu untuk memulihkan kondisi kesehatannya. Besok kita lihat lagi... apakah Melodi boleh pulang atau belum,” sambung Vino. Reno mengangguk-angguk dengan kaku. Dirinya masih shock. “Thanks, Vino atas bantuannya. Kami keluar dulu. Sepertinya masih banyak pasien.” Friska membawa Reno keluar dari ruangan tersebut. “Pa, yang tenang... nanti kita tanya Melodi siapa yang menghamilinya,” kata Friska sambil melempar senyum pada Shelyn. “Non Melodi hamil?” Bi Asih memekik tak percaya. “Iya, Bi Asih. Bibi lihat sana kondisi Melodi. Siapa tahu dia butuh temen curhat.” Shelyn menyuruh Bi Asih masuk ke ruang perawatan. Bi Asih mengangguk dan pergi dengan cepat. Sementara Shelyn tersenyum penuh arti. “Sepertinya aku tahu... siapa ayah dari bayi dalam kandunganmu,Mel.”   ** Rumah keluarga Morinho terlihat lengang. James dan Riri sedang pergi ke luar kota. Alfa merasa stress dengan penolakan Melodi kemarin. Ia butuh hiburan. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke club lagi, menghilangkan stressnya meski hanya sesaat. Setelah rapi dan tak lupa topeng yang menjadi ciri khasnya itu, Alfa pun berangkat. “Kakak mau kemana?” Tanya Quin saat Alfa melintasi ruang keluarga. Quin tengah tidur di pangkuan Delta yang sedang bermain game di smartphonenya. “Pergi,” jawab Alfa cuek. “Ke club, kan? Ikut....” suara Quin terdengar manja. Quin juga penganut hidup bebas seperti Alfa. Alfa melotot.”Enggak!” Quin memanyunkan bibirnya dengan kesal. Delta menariknya kembali agar duduk.”Udah lanjut nonton tv. Di sini kamu enggak boleh liar.” “Kan perginya sama kak alfa.” “Tidak, Quin. Di rumah saja sama Delta. Atau... kalian jalan-jalan mungkin. Dah....” Alfa melambaikan tangannya. “Kak Delta.” Quin bergelayutan manja. “Hmmm.” Delta masih fokus dengan gamesnya. “Ayo jalan... atau Quin nyusul kak Alfa, nih,” ancam Quin. Ia selalu tahu bahwa kakaknya itu tak akan pernah menolak. “Ya sudah ganti baju sana.” Quin memekik senang, diciumnya pipi Delta lalu pergi ke kamar. Alfa yang sempat melihat kelakuan kedua adiknya itu dari dinding kaca hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepanjang jalan hatinya terasa hampa. Ia terus memikirkan Melodi. Ditolak berkali-kali rasanya menyakitkan. Kapan gadis itu memberikan hati untuknya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD