Bab 13

1163 Words
Sampai di tujuan, tak lupa Alfa memakai topengnya lalu masuk seperti biasa. Alfa duduk di tempat biasa sambil memperhatikan orang-orang yang tengah berjoget di sana. Ia sudah meneguk 3 gelas red label karena pikirannya semakin gelisah. Tanpa ia sadari seseorang tengah memerhatikannya sejak pertama kali ia masuk ke sini. Dan sekarang orang itu tengah menghampirinya. “Selamat malam, Mr.Ax. Lama tidak bertemu,” sapa Shelyn selembut mungkin. Ax menoleh kemudian ia mendecih dalam hati.”Ada apa?” “Bagaimana dengan wanita yang aku berikan pada waktu itu. Sangat memuaskan anda, bukan?” kata Shelyn lagi. “Apa aku harus menjawabnya? Itu urusanku. Bagaimana dengan liburanmu, Nona Shelyn?” tanya Ax dengan nada sinis. “Sangat menyenangkan. Aku sangat berterima kasih atas hadiahmu, Mr. Ax.” Shelyn memerhatikan Ax yang masih setia dengan topeng yang menurutnya sangat menjijikkan.”Bagaimana dengan Melodi?” “Melodi? Menurutmu bagaimana?” Ax balik bertanya. Membuat Shelyn kebingungan. Shelyn berusaha bersabar. Ia ingin tahu kenapa Melodi bisa sampai di rumah. Bukankah seharusnya Ax masih menahannya, atau menjual wanita itu. Atau mungkin Melodi kabur.”Apa dia tidak mencoba untuk kabur dari anda?” Ax menggeleng.”Tidak. Aku yang melepaskannya. Lagipula aku bukan seorang penculik. Dia sudah sampai di rumahnya, bukan?” Mata Shelyn menyipit.”Kau tidak menyukainya?” “Bukan aku yang tidak menyukainya. Tapi kau, Nona Shelyn. Kau berusaha menyingkirkannya dari keluargamu. Iya,kan?”  Ax terkekeh. Ucapan Mr.Ax membuat Shelyn terperanjat. Bagaimana bisa pria itu mengetahui semuanya. “Kau adalah kakak tiri dari Melodi, bukan? Kau dengan sengaja membuatnya kecelakaan. Lalu semuanya disetting, jasad Melodi hilang. Padahal kamu yang membawanya ke rumah sakit itu menuruh seorang perawat mengurusnya.” Shelyn menatap Ax tak suka. Dengan tatapan tajam ia menatap Ax. “Kau sengaja memberinya pekerjaan dengan alasan kau kasihan. Padahal, sebenarnya kau ingin menjauhkan Melodi dari keluarga. Yaitu dengan menyerahkannya padaku.” Shelyn benar-benar membenci laki-laki ini. Andai dia bukan orang yang disegani atau dihormati di sini, ia pasti sudah memukul kepala Ax dengan botol atau sepatunya.”Ya kuakui semua itu benar. Tapi  ya sudahlah. Melodi sudah kembali. Dia juga tidak ingin menceritakan apapun ke Papa.Hm... sepertinya Melodi begitu berarti di hatimu, Mr.Ax... sampai-sampai kau mencari tahu segalanya tentang dia.” “Bukan urusanmu, Nona Shelyn. Jangan ganggu aku... sebab aku ingin sendiri.” Alfa terlihat marah. Shelyn berusaha menahan gejolak emosinya.”Baiklah, Mr.Ax... tapi aku punya informasi penting. Kau akan menyesal jika tidak mendengarnya.” Ax melirik tajam.”Ada apa?” Senyuman penuh kelicikan Shelyn mengembang.”Kau sangat menyukai Melodi, bukan? Sepertinya kau akan segera memilikinya. Untuk selamanya.” “Kenapa?” Ax menatap Shelyn curiga. “Sebab... dia tengah mengandung anakmu, Mr.Ax. Melodi hamil. Itu pasti anakmu, kan?” Shelyn tersenyum dengan puas. Alfa terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa selain terharu sebab ia akan segera memiliki anak. Hebatnya lagi adalah anak itu sedang berada dalam kandungan wanita yang amat ia cintai. Ia akan memiliki Melodi. Segera. “Terima kasih atas informasinya, Nona Shelyn,” kata Ax. Berusaha senormal mungkin agar perasaan bahagianya tak terlihat. “Melodi tentu membutuhkan pengakuanmu. Kasihan jika... dia dianggap wanita tidak baik karena hamil di luar nikah. Segeralah datang ke rumah,” ucap Shelyn tak sabar. Ax mengangguk.”Aku akan datang besok.” “Jika kau punya kendala untuk masuk. Hubungi saja aku.” Shelyn melambaikan tangannya usai mengatakan itu pada Ax. Kini hatinya puas. Melodi akan menikah dengan Mr.Ax yang menjijikkan itu. ** Di rumah sakit, Melodi masih terbaring lemah. Ia masih harus dirawat selama beberapa hari untuk memulihkan kondisi kesehatannya. Di sana ia, Bi Asih menemaninya selama 24 jam. “Non... jangan nangis,” kata Bi asih saat melihat Melodi tengah menangis. Melodi tak menjawab, ia masih terisak. Bi Asih memijit kaki Melodi. “Sebaiknya, Non segera beritahu siapa laki-laki itu, Non. Biar Non enggak sedih begini.” Melodi menggeleng. Ia juga bingung kenapa ia harus menangis. Ia tak mengharapkan apapun dari Alfa. Bahkan saat ini ia tidak ingin bertemu dengannya.”Tidak perlu, Bi. Mel bisa sendiri tanpa pasangan.” “Tidak bisa!” Reno muncul dari balik pintu mengejutkan Bi asih dan Melodi. Sepertinya sejak tadi ia menguping di balik pintu. “Tuan....” Bi Asih menyingkir dari tempat duduknya dan berpindah ke sebelah kiri Melodi. “Laki-laki itu harus bertanggung jawab. Katakan siapa dia?” Tanya Reno marah. “Bu...bukan begitu, Pa. Dia memang belum tahu masalah kehamilan Melodi. Tapi, saat ini Mel memang belum ingin kasih tahu dia, Pa,” jawab Melodi pilu. Kemarahan Reno semakin membuatnya terisak. “Lalu kenapa tidak kamu beritahu? Katakan saja siapa namanya dan dimana rumahnya. Biar Papa yang seret dia ke sini!” “Biar... Melodi yang hubungi, Pa. Tapi, kasih kesempatan Melodi untuk kasih kabar ke dia besok. Melodi belum siap hari ini.” Melodi tampak memegangi dadanya yang terasa semakin teriris. Reno mengangguk.”Oke. Kalau besok... dia belum datang menghadap Papa, Maka Papa sendiri yang akan menyeretnya.” Melodi mengangguk sedih, terlebih saat Reno pergi begitu saja. Bi Asih ikut sedih, ia memeluk Melodi sambil mengusap pundaknya. “Sabar, ya, Non. Semua ini pasti berlalu.” “Mel kangen mama,Bi. Seandainya Mama masih di sini. Mel enggak akan ngerasa sendiri. Papa enggak sayang sama Melodi, Bi.” Tangis Melodi semakin pecah. Bi Asih ikut menangis sedih.”Non... sudah. Doakan saja Mama Non. Jangan diingat sampai menangis begini. Kasihan almarhumah di sana. Papa Non... itu sayang. Tapi, mungkin saat ini dia tidak suka anaknya diperlakukan seperti ini. Makanya, Non segera hubungi laki-laki itu. Biar Papa tidak marah lagi.” Melodi mengangguk sedih. Andai ia bisa berteriak, maka ia ingin mengatakan,”Rey! Tolong aku!” ** Jonathan dan Sharen tergesa-gesa memasuki rumah karena Alfa menghubungi mereka. Alfa mendesak Jonathan agar segera datang ke rumah karena ada sesuatu yang sangat penting. Jonathan sampai harus meninggalkan segala urusan kantor. Semua anggota keluarga tengah berkumpul. Tapi, James dan Riri masih dalam perjalanan pulang. Mungkin malam hari baru tiba di rumah. “Ada apa sih,kak?” Tanya Delta bingung. Alfa tak menjawab, ia menunggu Jonathan duduk dengan sempurna.”Nah, kami sudah datang. Ada apa, Fa?” Jonathan, Delta, Quin, dan Sharen menatap Alfa dengan tegang. Sebab wajah Alfa terlihat serius. “Melodi hamil.” Mereka semua saling berpandangan, terlihat bingung . “Terus kalau Melodi hamil kenapa?” Tanya Quin dengan polosnya. Delta memeluk pundak Quin.”Melodi itu hamil anaknya Kak Alfa, tahu?” Quin memegang kedua pipinya dengan takjub.”Wuww... kakak hebat! Quin bangga punya kakak seperti Kak Alfa!” “Apanya yang hebat coba,Quin. Dasar ini anak, sama kelakuannya kayak Alfa.” Jonathan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Quin... biarkan mereka bicara dulu. Ini sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan. Kita bikin teh dulu, yuk,” kata Sharen pada Quin. Quin mengangguk senang, terlebih saat melirik bungkusan yang  dibawa Sharen. Quin dan Sharen pergi ke dapur. “Jadi, apa yang kamu mau sekarang, Fa? Sudah tahu kan kalau kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu?” Kata Jonathan.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD