Bab 14

1152 Words
“Iya, Kak. Oleh karena itu saya pengen ketemu sama kakak sebagai anak tertua di keluarga kita. Mama sama Papa mungkin, tengah malam baru nyampe. Jadi, sore ini atau malam nanti, Alfa minta ditemeni ke rumah Melodi.” Alfa menjelaskan niat baiknya. Jonathan mengangguk-angguk.”Iya. Bisa. Malam aja ya. Biar waktunya agak enakan. Sebenarnya lebih enak sama Mama dan Papa. Tapi, ini sebagai bentuk pertanggung jawaban saja,sebagai bukti kamu tidak lari. Semakin cepat semakin baik.” “Iya bener. Boleh saya ikut?” Tanya Delta. “Mau ngapain?” Kata Jonathan. “Bantu ngelerai kalau seandainya Kak Alfa dipukulin sama bokapnya Melodi.” Delta tertawa keras. “Alfa...Alfa, ada aja akal-akalan kamu biar Melodi mau sama kamu. Ditolak ya ditolak aja.” Jonathan terkekeh, begitu juga dengan Delta. Alfa juga terlihat geli mendengar ucapan Jonathan.”Bukannya kakak melakukan hal yang sama? Memaksa kak Sharen menikah sama Kakak? Pake acara tunangan dadakan, nikahan dadakan. Pemaksaan!” Sindiran Alfa membuat ekspresi Jonathan menjadi datar. Delta tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan dua kakaknya yang seperti seorang psikopat. Terlalu posesif pada pasangan, pemaksa, dan juga pencemburu berat. “Ya, Tuhan! Jauhkanlah sifat psikopat mereka dari saya.” Delta berdoa dengan suara keras. Alfa dan Jonathan menatap Delta dengan kesal. “Kok kesel ya sama anak satu ini,” kata Alfa. Jonathan mengangguk, melipat kedua tangannya di d**a sambil menatap Delta dengan tajam. “Coba kita ceburin aja ke laut.” Delta semakin tertawa. Seakan dirinya tengah bahagia melihat kondisi kakak-kakaknya yang begitu rumit. “Kenapa, sih, katanya bicara serius. Tapi ketawa-ketawa.” Quin datang dengan sepiring brownies. Di belakangnya Sharen membawa nampan berisi gelas dan satu teko teh panas. “Hmm... mau tahu aja, sih, adik kecil.” Delta mengecup pipi Quin dengan gemas. “Berarti aku bakalan dapet keponakan dari Kak Alfa duluan dong.”  Quin tersenyum lebar, menunjukkan gigi-gigi putihnya. “Siapa bilang? Hmm... Kamu juga bakalan dapat keponakan dari kakak donk.” Jonathan tak mau kalah. Kemudian ia mengusap perut Sharen. “Wow! Hebat!” Quin bertepuk tangan. Mereka semua berbincang-bincang menghabiskan waktu bersama. Mereka telah sepakat untuk berkunjung ke rumah Melodi malam ini. Sekitar pukul tujuh malam,Jonathan, Alfa, dan Delta telah siap dengan pakaian rapi mereka. Quin dan Sharen menatap mereka dengan takjub. “Kalian memang Morinho bersaudara.” Quin terkekeh. “Doakan kakak supaya berjalan dengan lancar, ya, Quin,” balas Alfa. Quin mengacungkan jempol.”Semangat, kak!” Alfa menyimpan topeng karetnya ke dalam saku celana. “Apa itu?” Selidik Jonathan. “Topeng pahlawan.” Delta terkekeh. “Ya udah ayo, ah.” Alfa memberi isyarat agar mereka berangkat. Awalnya mereka bertiga datang ke rumah Melodi, tapi sayangnya Melodi tidak ada. Penjaga rumah mengatakan kalau Melodi tengah dirawat di rumah sakit. Setelah mendapatkan alamat rumah sakitnya mereka bertiga langsung menuju rumah sakit tersebut. Sementara itu di kamarnya, Melodi tengah makan. Bi Asih menyuapinya. “Mas... gimana? Udah tahu siapa laki-laki itu?” Tanya Friska pada Reno. “Melodi masih butuh waktu untuk memberi tahu, Ma. Biarkan dia menyiapkan mentalnya dulu,” jelas Reno. “Kelamaan enggak baik, Pa. Keburu tetangga atau temen-temen Papa tahu,”  balas Shelyn. “Terus gimana?” “Shelyn tahu kok, Pa. Siapa laki-laki itu.” Ucapan Shelyn membuat semuanya terperangah. Apalagi Melodi, ingin sekali rasanya menyumpal mulutnya dengan batu padas. “Siapa, sayang? Kamu kok tahu?” Friska terlihat bingung. “Sebentar lagi... juga pasti dia datang. Dia bakalan bertanggung jawab kok.” Shelyn tersenyum licik. “Kita tunggu saja jika itu memang benar,” balas Reno. Semuanya kembali ke kesibukan mereka masing-masing. Sekitar lima belas menit kemudian,pintu kamar diketuk. Shelyn membukanya dengan cepat. Di depan pintu, Mr.Ax berdiri.”Selamat malam, Nona Shelyn.” Shelyn tersenyum puas.”Selamat malam, Mr.Ax. silakan masuk. Pa, Ma..  dia sudah datang.” Reno dan Friska berdiri dan menghampiri Shelyn. Sementara Melodi hanya bisa menelan ludahnya dengan kelu. Reno terkejut saat melihat pria bertopeng di hadapannya. “Selamat malam, Om,” sapa Alfa. Lalu muncul Jonathan dan Delta di sampingnya. Secara bersamaan, Friska, Reno dan Shelyn berkata,”Loh?” “Jonathan... ayo silakan masuk. Masuk...masuk...semuanya.” “Terima kasih, Om,” balas Jonathan. Melodi menatap ketiga pria itu dengan ekpresi sedih. Ia tak menginginkan apapun saat ini, salah satunya adalah bertemu dengan Alfa. “Maaf, Om, malam-malam menganggu.” Jonathan membuka pembicaraan. “Oh... enggak. Cuma saya kaget kok ini ada apa datang rame-rame. Gimana kabar James?”  tanya Reno. “Papa... sehat kok, Om. Ehmm langsung saja, sebenarnya tujuan kami ke sini adalah karena mendengar berita kehamilan Melodi. Apakah itu benar, Pak?” Reno mengangguk pelan. Wajahnya terlihat bingung.”Iya. Benar. Tapi, kami belum bertemu dengan laki-laki itu.” “Pa... laki-laki itu ya... itu Mr.Ax. yang pake topeng,” celetuk Shelyn. Reno menatap Alfa dengan bingung. Wajahnya tak terlihat sebab ia memakai topeng.”Oh....” “Kak Jonathan nemenin Mr.Ax ke sini, kan?” Tambah Shelyn. Jonathan mengangguk sambil tersenyum.”Iya, benar. Kalau memang kabar kehamilan Melodi itu benar. Maka di sini, adik saya mau bertanggung jawab sepenuhnya atas kehamilan Melodi.” “Alhamdulillah. Saya cemas sekali dengan nasib Melodi.” Reno terlihat lega. “Jadi, saya di sini... sebagai anak tertua dari keluarga Morinho mewakili Papa yang masih dalam perjalanan pulang, ingin menyampaikan niat baik kami. Bahwa adik saya, Alfabian Morinho akan bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Tentunya dengan menikahi Melodi.” Penjelasan Jonathan membuat Shelyn harus menyadarkan dirinya berkali-kali. Berusaha mencerna ucapan Jonathan dengan baik. “Tu... tunggu, Alfabian Morinho? Maksudnya?” “Kak buka topengnya. Enggak usah sok misterius.” Delta menyenggol lengan Alfa. Alfa terkekeh.”Maaf, Om, Tante. Saya buka topengnya, ya.” Alfa membuka topengnya. Seisi ruangan terkejut. “Astaga, jadi... kamu Alfa adiknya Jonathan. Anaknya James?” Reno tak percaya. “Iya,Om. Saya putra kedua dari James. Saya... mohon maaf atas kejadian ini, Om. Saya akan bertanggung jawab terhadap Melodi.” Alfa menunjukkan sisi kedewasaannya. “Loh... jadi selama ini kamu bohong? Menyamar sebagai Mr.Ax?” Shelyn terlihat panik. “Shelyn... jangan ikut bicara dulu,” potong Reno tak suka. “Jadi... begitu saja,Om... yang ingin saya sampaikan sebagai perwakilan Papa. Mungkin jika memang semuanya berjalan dengan baik, Papa akan langsung menemui Om,” jelas Jonathan. Reno mengangguk-angguk mengerti .”Baik. Terima kasih atas niat baik kalian. Begitu juga dengan Alfa. Sebaiknya kalian segera menikah karena usia kandungan Melodi pasti akan terus bertambah. Nanti saya akan bicarakan langsung dengan James.” “Mungkin... Papa besok baru bisa menemui Om,” tambah Delta. Reno terkekeh.”Ya enggak apa-apa. Saya maklum... James orang sibuk. Sudah tua juga masih tetap sibuk.” “Non... calon suami Non ganteng banget,” bisik Bi Asih yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka. Melodi hanya bisa tersenyum kecut. Ia pasrah. Meskipun tidak cinta ia tetap harus menerima Alfa dalam hidupnya. Kini tak sengaja ia menangkap tatapan Alfa yang juga tengah menatapnya. Melodi langsung pun dengan spontan membuang pandangannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD