Bab 15

1139 Words
  Usai pembicaraan panjang mereka. Reno, Jonathan, dan Delta pergi keluar untuk ngopi. Sementara Alfa masih tinggal di sana. Agar Alfa dan Melodi leluasa bicara, Bi Asih, Shelyn, dan Friska diminta keluar oleh Reno. Dan tidak diperkenankan masuk sebelum Alfa keluar. Suasana menjadi mencekam. Keduanya terdiam dan tak ada yang memulai pembicaraan sampai beberapa menit. “Mel... Maaf.” Hanya itu yang bisa diucapkan Alfa sebagai pembuka kata. Melodi masih terdiam. Ia tak ingin bicara dengan Alfa. “Mel,aku akan menikahimu. Kamu dengar sendiri, kan apa yang kami bicarakan nanti,” kata Alfa lagi. Air mata Melodi perlahan mengalir.”aku ... Tak menginginkan ini, Fa. Kamu tahu itu.” “Aku tahu, Mel. Tapi, sekarang kamu sedang mengandung anakku. Anak kita, Sayang.” Alfa meraih kedua tangan Melodi dan menggenggamnya. Melodi menggeleng.”Kenapa kamu lakuin semua ini ke aku, Fa? Kenapa? Salahku apa?” Alfa menunduk sedih. Saat ini ia telah benar-benar melukai hati wanita yang sangat ia cintai. Tapi, ia melakukan ini karena ia memang bersungguh-sungguh ingin memiliki Melodi. Bukan untuk melukai atau menyakiti hatinya. “Mel, kenapa kamu tidak pernah membuka hati kamu untuk aku, Mel? Apa kurangnya aku?” Alfa menatap Melodi dengan hati yang terluka. “Karena aku tidak mencintai kamu, Fa,” jawab Melodi. Alfa memegang kedua pundak Melodi dan mengguncangnya pelan. “Tapi kenapa? Kamu memang tidak pernah mau membuka hati untukku.” “Aku tidak mau!” “Kamu masih berharap sama Rey? Laki-laki yang udah ninggalin kamu selama kamu hilang? Sekarang malah mau menikah sama Shelyn. Mel... Aku mencintaimu. Bahkan... Kamu sudah menolak ku sejak dua tahun yang lalu. Perasaanku enggak berubah, Mel.” Alfa menunduk sedih. “Andai... Ada yang bisa kulakukan agar kamu bisa mencintaiku,” lanjutnya lagi. Melodi menyeka air matanya perlahan dengan tisu yang ada di meja sebelah tempat tidur. “Fa, kenapa kamu tidak membuka hati untuk wanita lain saja? Bukankah banyak wanita yang ingin menjadi kekasihmu? Wanita bukan aku saja, kan?” “Ya. Benar apa yang kamu katakan. Wanita memang bukan kamu saja. Tapi, aku selalu mencintaimu. Aku tidak pernah bisa mencintaiku orang lain. Aku sudah mencoba, Mel.” Tatapan Alfa terlihat sedih sekali. Bisa dilihat seberapa luka yang ia rasakan karena cintanya pada Melodi. “Aku tidak tahu apakah kamu memang sengaja membuatku hamil atau bagaimana, Fa. Tapi, yang jelas kita tetap akan menikah, bukan? Suka tidak suka aku harus menikah denganmu.” Melodi berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir lagi. Alfa kembali meraih tangan Melodi dan menggenggamnya dengan penuh keyakinan.”Kamu tidak perlu risau kan itu, Mel. Kamu hanya perlu tahu bahwa aku akan menikahimu. Aku adalah laki-laki yang mencintaimu. Aku adalah ayah dari anak yang sedang ada di dalam kandunganmu. Aku akan memberimu kebahagiaan. Apapun untuk kamu dan juga anak kita, Mel.” Tangis Melodi pecah.”Hidupku sudah rumit, Fa. Kenapa semuanya semakin begini.” Alfa langsung memeluk Melodi. Entah Melodi  suka atau tidak dengan perlakuannya. Yang penting ia berusaha membuat wanita yang ia cintai merasa tenang.”Hidupmu akan baik-baik saja.” Tanpa disangka Melodi menyandarkan kepalanya di bahu Alfa. Ia sudah merasa sangat lelah melewati setiap detik hidupnya bersama ibu dan kakak tiri. Mereka selalu menjadi mimpi buruk bagi hidupnya. Mengambil apa yang ia punya. Mama, Papa, harta, dan pria yang ia cintai. Melodi tak memiliki apapun selain dirinya sendiri. Bahkan ia merasa sang Papa tak lagi pernah berpihak padanya. “Maafin aku, Mel. Aku janji... Setelah ini akan membuatmu bahagia,”peluk Alfa. “Semua sudah terjadi,Fa. Aku hanya bisa tinggal mengikuti semua skenario yang Tuhan berikan. Suka tidak suka aku akan tetap jalani semuanya.” Melodi melepaskan pelukan mereka. Alfa tersenyum.”Iya, Mel. Kamu cepat sembuh ya. Maaf kalau dia sangat merepotkanmu.” “Dia?” Alfa menunjuk perut Melodi. Lalu mengusapnya perlahan. Ada rasa nyaman yang tiba-tiba dirasakan oleh Melodi. “Terus lakukan itu,” kata Melodi. Ia merasa nyaman dan segala sakit yang ia rasakan langsung hilang. Alfa tersenyum dan mengangguk.”Apa kamu ngerasa nyaman seperti ini?” Melodi mengangguk lemah. Bahkan sangat nyaman. “Mungkin kamu harus tinggal di rumahku. Di sana ada banyak orang. Ada Mama, Papa, Delta, Quin sama Bibi Grace. Mereka pasti senang dengan kehadiran kamu.” Alfa bercerita seolah-olah Melodi sudah mau menerimanya saja. “Bagaimana rasanya hidup dengan keluarga yang utuh?” Tanya Melodi. Alfa tersentak kaget dengan pertanyaan Melodi. Sepertinya Melodi memang sangat butuh figur orang-orang yang menyayanginya. Ibunya meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu akibat serangan jantung. Serangan jantung itu tepat saat ia mengetahui perselingkuhan Reno dengan Friska. Setahun kemudian setelah kematian Mama Melodi, Reno menikah dengan Friska. “Menyenangkan. Tapi, sebentar lagi akan semakin menyenangkan... Karena ada kamu di sana. Apalagi adik aku, Quin. Pasti senang sekali ada temennya di rumah.” Melodi membayangkan seperti apa rasanya tinggal di rumah dengan jumlah anggota keluarga yang banyak. Mungkin ia tak akan kesepian. Daripada ia harus tinggal di rumahnya sendiri. Tapi, tidak ada yang menyayanginya. Bahkan Friska dan Shelyn juga sudah berupaya membunuhnya. Alfa mengusap kepala Melodi.”Hei... Jangan berpikir yang berat-berat. Nanti kamu stress. Kasian anak kita.” Melodi tersenyum kecut.”Apa keluarga kamu akan marah mendengar aku hamil duluan, Fa? Ini kan aib.” “Tidak, sayang. Keluargaku tidak seperti itu. Mereka selalu support apapun yang menjadi keputusanku. Aku akan mempertanggung jawabkan semua kelakuanku. Oh ya... Delta dan Quin sudah tak sabar punya keponakan. Mereka pasti akan sangat menyayangimu di rumah.” Alfa berusaha meyakinkan Melodi lagi. “Aku harap itu benar, Fa.” “Pasti. Kamu istirahat sekarang, ya? Sudah malam. Waktunya tidur. Kamu belum boleh pulang, ya?” Melodi mengangguk.”Iya. Belum. Aku belum sehat.” Alfa mengangguk paham.”Maaf, ya... Dia sangat merepotkan. Besok aku ke sini... Sama Papa dan Mama. Kamu yang sabar, ya. Yang kuat dan sehat demi anak kita.” Alfa memanggil Bi Asih masuk. “Iya, Den Alfa?” “Bi... Saya mau pulang. Enggak pulang sih... Tapi bergabung sama yang lain. Biar Melodi istirahat, biar cepat pulih. Bibi... Saya minta tolong jagain Melodi, ya.” Bi Asih mengangguk.”Siap, den. bibi jagain dua puluh empat jam. Besok pasti Non Melodinya sehat.” Melodi dan Alfa tertawa mendengar gaya bicara Bi Asih yang lucu. Alfa merasa lega, sepertinya Melodi tak lagi membencinya. Meskipun ia tahu bahwa Melodi masih menutup pintu hatinya rapat-rapat, begini saja ia sudah terasa bahagia. “Ya sudah, Mel... Aku pulang dulu.” Alfa mengecup kening Melodi dengan penuh perasaan. Bi Asih sampai menutup matanya. Kemudian, Alfa beralih ke perut Melodi, mengecupnya beberapa detik, mengusapnya lalu melambaikan tangan. “Hati-hati,Fa!” Ucap Melodi tanpa sadar. Langkah Alfa terhenti sejenak, tersenyum, lalu menghilang di balik pintu. “Ya ampun, Non... Ternyata calonnya sweet banget.” Bi Asih menyenggol lengan Melodi dengan nada menggoda. Melodi hanya bisa tersenyum dan menunduk malu. Tanpa ia sadari pipinya sudah merona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD