Pagi ini, Melodi bergegas pergi ke kamar mandi dengan menarik tiang infusnya. Bi Asih sampai kaget mendengar suara berisik di pagi-pagi ini. Ternyata Melodi mengalami morning sickness lagi. Perutnya seakan-akan sedang diaduk-aduk dan ia dipaksa memuntahkan semua isi perutnya. Bi Asih memijit pundak Melodi. Setelah selesai ia membantu Melodi kembali naik ke tempat tidur.
“Non... Mau bibi bikinin s**u? Kira-kira perutnya enakan enggak kalau minum s**u?”
Melodi menggeleng.”Aku enggak mau, Bi. Aku pengen pulang. Bosen di sini terus.”
“Ya...Non, kan belum sehat.”
Pintu kamar terdengar diketuk. Bi Asih bergegas membukanya.
“Selamat pagi,” sapa Alfa.
“Eh... Tuan ganteng. Ayo masuk.” Bi Asih kembali menutup pintu setelah Alfa masuk.
“Bibi bisa aja.” Alfa terkekeh. “Gimana keadaan kamu, sayang?”
“Barusan muntah, Pak. Sekarang enggak mau makan apa-apa. Perutnya udah kosong padahal.” Bi Asih membantu menjawab karena Melodi terlihat sibuk pengen apa?”
Melodi menggeleng lalu tiba-tiba ia memeluk Alfa. Menghirup aroma tubuh Alfa membuatnya sedikit membaik. Bi Asih dan Alfa bertukar pandang. Keduanya lalu tertawa.
“hmm... Pengen bau-bauan bapaknya tuh,”jelas Bi Asih.
Alfa mengernyitkan dahinya. Meskipun ia kaget dengan perlakuan Melodi barusan, dalam hatinya ia sangat senang. Mungkin jika tidak malu, ia akan salto-salto.”Bau?”
“Biasanya ada yang begitu, Den. Bau apa-apa enggak enak, mual... Tapi pas nyium bau badan suaminya, langsung ilang mualnya,” jelas Bi Asih.” Bibi keluar bentar, ya, den... Cari angin segar di depan.” Bi Asih keluar dari kamar agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.
Alfa mengusap puncak kepala Melodi.”Oh begitu... Sabar ya. Sebentar lagi, kita bakalan tinggal bareng kok.”
Melodi mengangguk malu. Ia benar-benar malu sebenarnya, tapi entah kenapa ada dorongan dan keinginan yang sangat kuat dari dalam hatinya untuk memeluk Alfa. Lalu menghirup aroma tubuhnya yang seakan menjadi pelepas dahaga. Entah dimana rasa bencinya pada Alfa, mungkin sudah hilang ditelan si jabang bayi. Sekarang ia hanya ingin mencium aroma tubuh Alfa. Hal itu membuatnya tenang dan nyaman. “Aku pengen pulang.”
Alfa tersenyum.”Nanti sore pulang kerja aku ke sini lagi. Nanti aku tanyain kamu sudah boleh pulang atau belum. Sabar, ya. Ini juga demi kebaikan kamu.”
“Tapi, aku bosen di sini.”
Alfa menggenggam tangan Melodi.”Jadi, kamu mau apa biar enggak bosen. Selain pulang ya. Belum bisa, sayang.”
“Handphone. Biar aku main game.” Melodi tersenyum seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan mainan pada Papanya.
“kamu enggak bawa handphone?” Alfa merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel.”Ini pake.”
Melodi menerimanya dengan mata berbinar.”Hape nya bagus... Pasti mahal. Ada kuotanya enggak?”
“Ada.”
“Banyak?”
“Banyak, sayang. Cek aja. Kalau habis nanti kamu hubungin aja aku,ya.”
Melodi mengangguk senang, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah.”Eh... Kamu pake apa kalau ini kupake?”
Alfa melambaikan sebuah ponsel.”Aku ada dua handphone. Kamu pakai itu, di situ ada kontak aku. Kamu hubungin kalau rindu sama aku.”
“aku enggak rindu.”
“Anak kita pasti rindu. Iya, kan?” Alfa sedikit menundukkan tubuhnya ke arah perut Melodi. Seolah-olah ia sedang bicara pada sang anak. Melodi hanya bisa membuang wajahnya menyembunyikan rasa malu.
“ya sudah... Kamu berangkat kerja sana,” usir Melodi dengan nada malu-malu.
“Setelah ini kamu harus makan, ya, terus vitaminnya diminum. Kalau bosen itu ada televisi. Ada handphone juga. Kalau ada apa-apa kabarin aku. Sore nanti aku ke sini sama Mama Papa.” Alfa mengintruksikan Melodi layaknya seorang dokter yang mengingatkan pasiennya.
Melodi mengangguk-angguk, dalam hati ia tertawa melihat Alfa yang terlibat lucu. Ia tak pernah melihat Alfa sehangat itu. Alfa yang ia kenal selama ini adalah pria yang pemaksa, egois, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Tapi, mungkin saja selama in ia salah sebab ia memang tak pernah mau memberikan kesempatan ada Alfa, untuk bicara banyak sekalipun.
Alfa mengecup kening, mengusap perut, lalu berpamitan untuk pergi ke kantor.”Aku pergi dulu, sayang.”
Melodi melambaikan tangannya, lalu disibukkan dengan ponsel milik Alfa. Bi Asih masuk.”Non... Makan dulu. Tuh sarapannya udah dateng.”
Melodi mengangguk, kemudian meletakkan ponselnya di laci. Ia makan dengan lahap, padahal pagi tadi ia sama sekali tidak berselera makan. Kali ini ia merasa sangat lapar.
Hari sudah sore, Melodi sudah mandi sebab selang infusnya sudah dilepas. Melodi sudah diperbolehkan pulang malam ini. Entah kenapa ia menjadi bersemangat sekali, padahal tadi Alfa mengatakan kalau ia yang akan menanyakan kapan Melodi boleh pulang. Tapi, Melodi menanyakannya secara langsung pada dokter saat sedang memeriksanya.
“Bi, jam berapa sih?”
Bi Asih menatap Melodi bingung. Ini sydah entah ke berapa kalinya selama satu jam belakangan. Padahal Melodi sendiri bisa mengecek jam di ponsel.” jam lima, Non.”
Melodi hanya ber-oh-ria sambil terus mengeringkan rambutnya. Bi Asih merapikan pakaian kotor Melodi, karena direncanakan mereka akan pulang malam ini. Tak lama kemudian, pintu terdengar diketuk.
“Bi, tolong bukain pintunya.” pintu dalam keadaan terkunci sebab, tadi Melodi sedang ganti pakaian.
“Iya, Non.” Bi Asih membuka pintu dan mempersilakan orang tersebut masuk.
Melodi sudah tak sabar menyapa siapa yang datang. Senyumannya sudah melebar, siap menyambut tamu tersebut. Tapi, senyumannya langsung sirna saat yang datang adalah orang yang memang pernah sangat ia rindukan. Tapi, sekarang tidak. Dia sudah menjadi milik orang lain.
“Hai?” Rey tersenyum.
“Hai, Rey,” balas Melodi.
“Bagaimana kondisi kesehatan kamu? Aku baru tahu kalau kamu masuk rumah sakit,” katanya membuat hati Melodi terasa diiris.
“Ah... Tidak apa-apa. Tidak begitu penting juga. Kamu kenapa ke sini? Nanti Shelyn marah loh. Aku enggak mau kalian bertengkar menjelang pernikahan kalian.” Melodi berkata dengan santai, seolah dia lupa beberapa hari yang lalu ia masih menyebut nama pria itu.
Rey menggeleng lemah, wajahnya tertunduk sedih.”A... Aku, hmm... Kami tidak jadi menikah.”
Ucapan Rey sontak membuat Melodi menaikkan sebelah alisnya.”Tidak jadi menikah? Karena....?”
“Shelyn bohong mengenai kehamilannya. Dia tidak sedang mengandung anakku. Semua itu ia lakukan hanya karena ingin mendapatkanku, Mel. Dia tidak benar mencintaiku.”
“Oh... Ya sudah, kenapa harus dibatalkan. Lanjutkan saja pernikahan kalian. Sudah mendekati hari H ka”
Rey menggeleng.”Aku tidak mencintainya, Mel. Kemarin Aku hanya berusaha bertanggung jawab. Tapi, ternyata dia bohong. Dia yang mengatur semuanya.”
“Turut bersedih, Rey,” kata Melodi.
Rey menggenggam kedua tangan Melodi. Matanya terlihat berkaca-kaca saat menatap wanita di hadapannya.”Mel, please... Kita ulangi kisah kita seperti dulu. Aku akan segera lamar kamus setelah ini. Aku janji.”
Air mata Melodi secara spontan mengalir. Ada rasa senang, sedih, bingung, takut, takjub dan juga kaget.
“Rey....”
Rey mengecup punggung tangan Melodi yang masih ia genggam.”Maafin aku, Mel. Aku sayang sekali sama kamu. Banyak sekali kenangan kita berdua yang tak terlupakan.”
“Aku juga, Rey. Kamu jahat sekali ninggalin aku demi Shelyn. Kamu tidak ingat banyak sekali suka dan duka yang kita lewati berdua.” melodi terisak.
Rey mengangguk-angguk, sejuta rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya.”Aku ingat. Makanya aku enggak mau jauh dari kamu. Pisah dari kamu. Jangan... Ini berat, Mel.”
Rey memeluk Melodi, secara refleks Melodi membalas pelukan Rey. Ia menumpahkan tangisannya di sana, segala sakit dan pedih yang ia rasakan kemarin, semua sudah tertumpahkan di sini. Di hadapan orang yang menyakitinya.
“Melodi?”
Rey dan melodi tersentak, melepaskan pelukan perlahan dan menoleh ke arah sumber suara.
“Alfa!”
Pria itu berdiri kaku di tempatnya, menatap wanita yang baru saja ia yakini sudah mencintainya sedang berpelukan dengan mantan kekasihnya. Apa yang harus ia lakukan.