Bab 17

1217 Words
Alfa berjalan dengan semangat menuju ruangan dimana Melodi di rawat. Hari ini akan menjadi hari yang penting karena kedua orang tua mereka bertemu dan menentukan hari pernikahan. Tapi, sepertinya Alfa harus mengubur angan-angannya barusan. Ia harus kembali menerima kenyataan bahwa sepertinya cinta yang ia miliki belum sepenuhnya diterima oleh Melodi. Wanita yang ia cintai itu sedang berpelukan dengan mantan kekasihnya. “Mel,” panggilnya Kelu. Membuat pelukan Melodi dan Rey terlepas perlahan. Rey menoleh ke arah sumber suara,”Alfa? Di sini juga?” Alfa tersenyum kecut.”Sorry ganggu. Aku... Tunggu di luar aja.” Alfa berusaha berjalan mundur karena rasanya sulit sekali membalikkan badan. “Fa!” Panggilan Melodi membuat langkahnya terhenti. Rey menatap Melodi bingung, gadis itu turun dari tempat tidur.  Alfa berjalan cepat mendekat, berusaha meraih tangan Melodi agar tidak turun dari tempat tidur.”Jangan turun... Kamu harus istirahat.” “Biar aku yang bantuin.” Rey menyingkirkan tangan Alfa dari tubuh Melodi. “Rey,” tegur Melodi sambil memberi tatapan memperingatkan. Alfa kembali tersenyum kecut.”Gimana keadaan kamu, Mel? Sudah sehat?” Melodi mengangguk.”Iya... Sudah. Aku sudah sehat.” “Kamu sakit apa, sih, Mel?” Tanya Rey. “Aku hamil,” jawab Melodi santai. Baik Rey maupun Alfa, keduanya sama-sama terkejut. Alfa terkejut karena kejujuran Melodi, ia justru berpikir Melodi akan menutupi hal itu di depan Rey.  Sementara Rey terkejut karena Melodi sedang hamil. “Hamil? Kamu, kan... Belum menikah?” Rey menaikkan sebelah alisnya. “Shelyn juga belum menikah, tapi dia hamil.” Ucapan Melodi itu terkesan berani dan frontal bagi Rey. Hingga Rey hanya bisa tertawa. “Tapi, itu, kan ternyata bohongan, Mel. Shelyn tidak hamil. Kamu juga pasti bohong sama aku, ya. Kamu, enggak mungkin melakukan itu. Sama aku aja enggak mau.” “Dia hamil anakku, Rey,” kata Alfa. Rey melirik Alfa dengan tajam, lalu menyeret Alfa keluar. “Berani-beraninya kau mengatakan Melodi hamil anakmu?!” Alfa terkekeh. “Tapi memang begitulah kenyataannya.” Rey menggeleng.”Aku tidak percaya. Melodi bukan w************n! Bersamaku saja dia tidak mau disentuh. Apalagi kau! Lelaki yang berkali-kali ditolak!” Alfa tak menanggapi ucapan Rey, ia malas sekali. Kemudian, tangannya menyentuh handle pintu. Tapi, Rey kembali menarik dan tanpa diduga-duga, Rey menonjoknya hingga berkali-kali. Alfa tak membalasnya sedikitpun. Ia membiarkan wajah dan perutnya ditonjok. Kemudian, datang beberapa orang melerai keduanya. “Apa-apaan ini, kalian membuat keributan di rumah sakit!” Kata Reno yang datang bersama Friska, Shelyn, James, Riri, dan Jonathan. “Om, Orang ini sudah benar-benar mencemarkan nama baik Melodi. Dia bilang Melodi hamil, Om!” Kata Rey emosi. “Ck... Rey... Apa yang dia katakan itu memang benar. Melodi hamil.” Ucapan Reno membuat Rey langsung mematung. “Itu enggak mungkin, Om.” Rey memegang keningnya. “Kamu ini kenapa marah begitu sama Alfa. Alfa bertanggung jawab sama Melodi. Dia akan segera menikahi Melodi, kok. Kamu juga kan mau menikah dengan Shelyn... Kalian urusi saja pernikahan kalian,” marah Reno. “Rey masih belum move on dari Melodi, Pa. Dia jahat!” Isak Shelyn yang kemudian bersandar di lengan Friska. Reno menatap Rey tak suka. Riri mencolek Jonathan agar mengantarnya ke dalam. Jonathan mengangguk dan meninggalkan pertikaian tersebut.”Melodi....” Melodi terkejut melihat Riri datang.”Tante....” Riri memeluk Melodi dengan hangat.”Gimana keadaan kamu? Sudah sehat?” Melodi mengangguk.”Sudah mendingan kok, Tante.” “Selamat, ya... Sebentar lagi jadi Ibu. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.” Riri tersenyum sambil mengusap perut Melodi. “Besok kalian menikah, ya, Mel. Nikah aja dulu. Resepsi bisa belakangan.” Jonathan ikut menimpali. Melodi menggeleng.”Saya enggak pengen resepsi kok, Kak.” “Kamu jangan khawatir, ya. Jangan stress karena kami sayang sekali sama kamu.” Riri mengusap kepala Melodi. Jonathan mengangguk setuju.” Hari ini... Quin sibuk sekali menyiapkan kamar untuk kamu. Dia tak sabar menunggu kehadiran kamu di rumah.” “Beneran, kak?” Mata Melodi berkaca-kaca. Riri mengangguk.”Iya... Karena, kan kamu bakalan jadi temennya di rumah nanti. Kalau Sharen, isteri Jonathan kan mereka  tidak tinggal di rumah.” Mereka bertiga kemudian terlibat percakapan yang membuat hati Melodi menghangat. Sudah lama ia tak merasakan kasih sayang sebuah keluarga. “Ma, dipanggil Papa tuh... Katanya mau bicara di luar saja masalah Alfa dan Melodi.” Entah sejak kapan Alfa sudah berada di antara mereka. Riri mengangguk.”Ya sudah... Mel, Mama tinggal dulu, ya. Jo... Anterin Mama.” “Istirahat dulu, Mel... fa, jagain tuh ya,” pesan Jonathan. “Iya, kak,” jawab Alfa. Kemudian, ia menatap Melodi.”Mel, maaf... Karena sudah membuat hidup kamu begini. Sudah membuat kamu dan Rey tidak bisa bersatu lagi. Kalau kamu masih mencintai Rey, aku tidak apa-apa, Mel. Aku tahu melupakan seseorang itu tidak mudah.” Melodi menatap Alfa dengan takjub. Bagaimana bisa lelaki yang begitu memaksa, kini justru terlihat melemah sekarang. Apa yang membuat lelaki itu merubah pikirannya. “Maksud kamu bagaimana, Fa?” “Sepertinya kamu dan Rey sama-sama masih mencintai. Aku hanyalah penyusup di antara hubungan kalian. Tadi, juga Rey sudah mengatakan dia tidak mempermasalahkan kehamilan kamu. Dia akan menerima kamu apa adanya. Mel, aku akan tetap bertanggung jawab pada kamu dan anakku. Aku akan menanggung semua biaya selama kamu mengandung sampai melahirkan. Aku juga yang akan mengurus anak kita. Setelah itu, jika kamu ingin kembali pada Rey, aku tidak masalah. Aku tahu.. cinta tak bisa dipaksakan.” “Kamu tidak sayang aku, Fa?” Tanya Melodi. Alfa menggenggam tangan Melodi.”Sayang, Mel... Sayang sekali. Tapi, aku melihat kalian saling mencintai. Aku sudah sadar... Bahwa tak ada yang bisa merubah perasaan seseorang.” Melodi menggeleng.”Tidak, Fa. Aku dan Rey sudah selesai. Ada atau tidaknya kamu... Aku dan Rey memang sudah selesai saat dia memilih Shelyn.” Alfa mengangkat wajahnya, ia tahu Rey dan Melodi sudah selesai. Tapi, belum tentu Melodi akan menerimanya. “Aku boleh pulang hari ini, kan? Aku ingin istirahat di rumah aja,” kata Melodi. “Iya. Kamu sudah boleh pulang. Nanti aku antar ke rumah kamu.” “Enggak jadi ke rumah kamu?” Tanya Melodi. “Ma... Maksudnya?” Alfa terlihat bengong. “Bukannya kak Jo bilang, besok kita mau menikah?” Kata Melodi lagi. Alfa tertawa geli.”Iya... Menikah. Memangnya kamu mau menikah sama saya?” “Kenapa tidak? Aku mengandung anak kamu. Mungkin, dia akan senang jika berada di dekat ayahnya,” ujar Melodi sambil mengusap perutnya. Alfa memeluk Melodi dengan haru.”Maafin aku...Sudah membuat kamu begini. Aku berjanji akan menjaga kamu.” “Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali... Kita jalani saja apa yang ada. Semoga semuanya menjadi lebih baik lagi.” Melodi mengusap punggung Alfa. “Kamu yakin? Kamu masih bisa menarik ucapan kamu, Mel. Sebelum nanti kamu menyesal,” kata Alfa lagi. Melodi menggeleng.”Aku akan berusaha, Fa. Aku akan belajar mencintai kamu.” “Jangan terlalu dipaksa, nanti kamu tak bahagia,” bisik Alfa. “Tidak...” Antara percaya dan tidak, namun hati Alfa sedikit berbunga-bunga mendengar ucapan Melodi. Semoga ini bukanlah sebuah mimpi. Keduanya tersenyum, sama-sama menyampaikan apa yang mereka rasakan melalui pelukan hangat. Cukup lama dan dalam. Namun, kebahagiaan mereka tak menjadi kebahagiaan bersama. Sebab, ada hati yang terluka di balik pintu. Sedari tadi ia berada di sana mendengar pembicaraan Melodi dan Alfa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD