Bab 18

1191 Words
Rumah besar keluarga Morinho sudah didekorasi dengan indah. Kain-kain putih beserta bunga mawar asli menghiasi setiap sudut ruangan. Hari ini, pernikahan Alfa dan Melodi dilaksanakan. Hanya keluarga inti dan beberapa rekan kerja yang memang sudah sangat mengenal keluarga Morinho yang diundang. Melodi sudah dirias, mengenakan kebaya putih. Quin dan Sharen menemaninya di kamar pengantin, yang nantinya akan menjadi kamar Melodi dan Alfa saat mereka sudah sah menjadi suami isteri. “Kakak senyum dong.” Quin mengangkat wajah Melodi yang sedari tadi menunduk, ternyata ia sedang menangis. “Mel, kenapa kamu sedih?” Tanya Sharen sambil mengusap punggung Melodi. Quin lantas mengambil tisu, dan membersihkan air mata Melodi dengan sangat hati-hati sebelum merusak make up-nya. “Aku sangat merindukan Mama,” Isak Melodi. “Ooh... Kakak... Quin jadi pengen ikutan nangis. Kakak pasti sedih banget enggak ada Mama kandung kakak. Tapi, kami semua sayang sama kakak.” Quin memeluk Melodi. Sharen mengangguk.”Iya, Mel. Kami semua sayang sama kamu. Di sini ada Mama Riri juga. Kakak tahu sosok ibu tak akan tergantikan, tapi kami akan mencoba memberikan kasih sayang yang tak lagi kamu dapatkan.” “Kak Sharen super sekali! Nanti pasti anak kakak jadi motivator,” kata Quin bercanda. “Kamu ini....” Sharen tertawa, tanpa disadari Quin pun ikut tertawa geli. “Kak Mel... Sayang enggak, sih sama kak Alfa?” Melodi mengangkat kedua bahunya.”Aku tidak tahu, Quin. Semua terjadi begitu aja. Aku memang tidak sayang sama Alfa, tapi sejak Hamil malah rasanya pengen Deket Alfa terus.” “Bawaan bayi.” Quin menduga-duga “Ya habisnya... Alfa juga kan maksa. Sama kayak Jonathan kan. Tiba-tiba kakak dinikahin sama dia. Padahal kita enggak kenal sebelumnya.” Sharen kembali mengenang kisahnya dengan Jonathan, suaminya. “Tapi akhirnya kakak suka, kan?” Goda Quin membuat Wajah Sharen memerah. “Kamu, ih... Nah, Mel... Nanti kamu juga pasti sayang sama Alfa. Kakak percaya kok, keluarga Morinho memiliki jiwa penyayang... Walaupun kadang sedikit memaksa.” Sharen terkekeh. “Jelas dong!” Kata Quin bangga. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menghentikan obrolan mereka.”Hei... Pada ngegosip. Ayo turun... Akad nikahnya sudah selesai.” “Oh... Udah selesai.” Quin membantu Melodi berdiri. Diapit Quin dan Sharen, Melodi menuruni anak tangga dengan perlahan. Ia pun. Duduk di sebelah Alfa yang telah menyelesaikan ijab Kabul nya beberapa saat yang lalu. Jantung Melodi berdegup kencang, apalagi saat ada kilatan cahaya yang berasal dari kamera fotographer. Setelah selesai, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Melodi lebih banyak menghabiskan waktu bersama Quin dan Sharen sebab, Alfa tampak sibuk dengan tamu-tamunya. Satu persatu tamu sudah pulang, sampai Reno, Friska, dan Shelyn juga pulang. Melodi menjadi kesepian. Ia sangat membutuhkan sang Ayah ada di sampingnya. “Kamu kenapa, Mel? Capek?” Tanya Jonathan khawatir. “Enggak, Kak. Melodi baik-baik aja.” Melodi tersenyum kecut. “Mel, kamu istirahat aja di kamar. Kamu juga kan baru keluar dari rumah sakit. Tamu-tamu juga udah pada pulang kok, tinggal temen-temennya Alfa aja. Kakak antar, ya?” kata Sharen. “Jangan, kakak kan juga lagi hamil. Melodi sendiri aja ke kamar. Masih bisa kok,” tolak Melodi. Jonathan mengangguk.”Hati-hati, ya, Mel. Nanti kalau Alfa sudah selesai, kakak suruh susulin kamu ke kamar.” “Iya, kak, saya duluan.” Melodi mengangkat kain bawahannya saat menaiki tangga. Berjalan pelan dan sangat berhati-hati sekali. Di kamar, Melodi langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih membuatnya nyaman. Make up di wajahnya juga langsung dihapus. Ia ingin sekali merebahkan dirinya. Suara pintu dibuka membuat Melodi harus menoleh. Ternyata, Alfa.”Sayang... Kamu baik-baik aja? Ada yang sakit?” Melodi tersenyum kikuk.”enggak. Aku cuma... Pengen baring aja. Punggungku pegel.” Alfa mendesah lega.”Maaf... Aku tinggalin tadi. Temen aku pada Dateng, padahal enggak diundang, sih. Cuma ya ikut seneng aja, akhirnya aku menikah.” “Iya enggak apa-apa. Ya udah... Ditemuin dulu temennya. Kasihan kan udah jauh-jauh datang.” Melodi tersenyum. “Mereka udah pulang kok. Acara juga udah selesai. Semua beraktivitas seperti biasa lagi.” Alfa membuka kancing kemeja putihnya satu persatu. “Kamu juga mau balik beraktivitas?” Tanya Melodi. Alfa terkekeh.”Nggak dong, ini kan hari pernikahan aku. Masa kerja. Cuma mau ganti baju.” Alfa berjalan masuk ke walk in closet untuk mengganti bajunya. Setelah itu ia kembali dengan celana pendek dan Vans bewarna biru. “Ya sudah, Kamu istirahat, ya. Kamu baru sembuh loh. Kasian anak kita.” Alfa mengusap-usap perut Melodi. “Jadi, sekarang kita suami isteri?” Kata Melodi seperti tak percaya. Alfa tersenyum kecut. Pertanyaan Melodi seperti ambigu sekali. Mungkinkah ia tak percaya karena tak sesuai harapannya atau tak percaya karena ia bahagia. Sepertinya pilihan pertama lebih tepat. “Takdir itu misteri.” Melodi tersenyum menatap suaminya. “Iya. Sesuatu yang memang sudah ditakdirkan untuk kita pasti Kan terjadi. Termasuk kamu, yang merupakan takdirku.” Alfa mengecup kening Melodi. Melodi mengangguk, menyandarkan kepalanya di d**a Alfa. Mungkin takdir begitu kejam, mengambil Mama dan Papanya. Tapi, bukankah sekarang ia sudah mendapat sesuatu yang lebih baik lagi? Ia mendapatkan suami yang begitu menyayanginya. Alfa membaringkan Melodi, agar ia beristirahat. Kemudian ia mengunci pintu kamar, dan menutup tirai jendela sedikit.”Tidur, ya. Kamu kayak kecapean banget. Aku di sini aja kok, sambil nyelesain beberapa kerjaan.” Melodi mengangguk. Ia menarik selimut, lalu memejamkan matanya. Melodi mencoba untuk tidur, tapi sulit sekali. Badannya mulai terasa tidak enak. Kepalanya terasa pusing. Melihat kegelisahan isterinya, Alfa langsung meletakkan laptop, lalu menghampiri Melodi di atas tempat tidur. “Kenapa, Sayang?” “Enggak enak badan. Kepalaku pusing,” kata Melodi dengan nada lemah. “Jadi, mana yang enggak enak? Maunya diapain? Diusap-usap? Dipijit? Atau mau makan sesuatu?” Tanya Alfa. “Dipeluk aja,”pinta Melodi. Kedua alis Alfa naik dengan spontan.”Peluk? Aku enggak salah dengar, kan?” “Enggak. Ya udah Peluk aku aja....” Alfa ikut berbaring, tangan kirinya ia rentangkan dan menarik Melodi agar menyandarkan kepalanya di lengannya tersebut. Kemudian, Direngkuhnya tubuh isterinya itu dengan penuh cinta. Tak lama setelah itu ponsel Alfa berbunyi “Aku angkat telepon dulu boleh?” Tanya Alfa meminta izin. Melodi mengangguk.”Iya angkat aja. Siapa tahu telepon dari kantor.” “Sebentar, ya.” Alfa mengecup pipi Melodi lalu mengambil ponselnya yang diletakkan di meja kerja. “Halo?” “....” “Oh, Iya, Tante. Ada apa?” “....” “Ehm... Pasti, Tante. Tapi, saya belum bisa pastikan kapan. Soalnya kondisi Melodi masih belum sehat.” “....” “Kami usahakan.” “....” “Iya, Tante. Terima kasih.” Alfa mengakhiri pembicaraan di telepon itu segera dan menghampiri Melodi kembali. “Siapa?” “Mama kamu. Mama nanya, kapan kota ke rumah.” Alfa menjawab sambil memainkan rambut Melodi. “Kok tumben... Nelponnya juga ke kamu, bukan ke aku. Padahal itu, kan rumahku.” Melodi mendadak sedih. “Jangan dibaperin gitu dong, sayang. Ambil positifnya aja, ya. Kamu enggak boleh berpikir aneh-aneh. Harus selalu berpikiran positif supaya kondisi kesehatan kamu membaik. Iya, sayang?” Alfa menatap Melodi dengan sabar. “Iya. Maaf....” “Ya sudah istirahat lagi. Masalah Mama, nanti kita diskusikan lagi.” Alfa memeluk Melodi, berharap isterinya itu segera terlelap.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD