Bab 19

1184 Words
Hari sudah semakin sore, Alfa masih disibukkan dengan pekerjaannya. Tadi, setelah yakin Melodi sudah tidur, ia langsung melanjutkan beberapa urusan yang harus diselesaikan. Suasana begitu hening, sesekali terdengar suara keyboard yang disentuh Alfa. Tapi, suara itu tidak mengganggu Melodi sama sekali. Pintu kamar terdengar diketuk, membuat Melodi pun ikut terbangun. “Siapa itu?” Melodi tersentak kaget. Alfa mengusap punggung Melodi.”Tenang. Biar aku yang liat. Yang pasti... Orang di rumah ini.” Alfa membuka pintu. Riri dan James ada di sana dengan pakaian yang rapi.”Helo, ganggu enggak?” “Enggak kok, Ma. Melodi lagi baring aja. Alfa juga lagi kerja. Ayo masuk.” Alfa membuka pintu lebar-lebar. Riri masuk ke dalam kamar, lalu tersenyum melihat sang menantu terlihat sehat-sehat saja.“Mel, gimana keadaan kamu? Udah enakan?” Riri duduk di sisi tempat tidur sambil mengusap kepala Melodi. “Ya ini cuma bawaan bayi aja kok, Ma. Melodi baik-baik aja.” Senyuman terukir di bbir Melodi mendapatkan perlakuan yang manis dari sang mertua. “Mel, kami harus pergi ke luar kota. Jadi, Mama sama Papa tinggal dulu, ya. Palingan juga dua hari balik lagi,” kata Riri. Melodi mengangguk, Mertuanya itu memang sangat sibuk, meskipun usia mereka semakin menua. Mereka sangat pekerja keras.“Iya, Ma. Mama sama Papa hati-hati. Sehat sampai tujuan.” “Kamu juga, ya, Mel. Yang akur dan mesra di rumah sama Alfa. Ini sudah menjadi rumah kamu. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang sama Bibi Grace, Delta, atau Quin. Alfa... Kamu jagain benar-benar isteri kamu.” James mengingatkan. “Iya, Pa,” kata Alfa dan Melodi bersamaan. Malam mulai menjelang, rumah terlihat sepi. Melodi yang baru selesai mandi, keluar kamar dengan bingung melihat seisi rumah. “Sayang, mau kemana?” Alfa mensejajarkan langkahnya dengan Melodi. “Mau turun. Rumah kok sepi, ya.” “Mau ngapain turun ke bawah? Kamu butuh sesuatu?” Melodi menggeleng.”Pengen aja turun ke bawah. Tapi kok sepi.” “Iya. Pada pergi semua. Delta sama Quin juga, tadi, kan di acara kita ketemu temen lama. Kayaknya mereka pergi buat jalan-jalan. Ya sudah aku bantu turun.” Alfa memegang lengan Melodi saat mereka sudah sampai di tangga. Mereka berdua duduk di meja makan. Bibi Grace menghampiri dan menunduk hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” “Bi, tolong buatkan s**u untuk Melodi, ya. Mel... Mau makan apa?” Melodi menggeleng.”Aku enggak pengen makan. Perutku mual.” “Minum s**u mau, ya?” Kata Alfa lagi. Melodi mengangguk. “Bi, tolong buatkan s**u yang kemarin dibeli kak Sharen untuk Melodi. Terus, tolong bikinin saya kopi dan roti bakar rasa cokelat,” pesan Alfa dengan lembut dan sopan. Bibi Grace mengangguk.”Iya, Tuan. Sebentar ya.” “Kamu kok minum kopi? Nanti kamu susah tidur loh,” kata Melodi. Alfa tersenyum.”Enggak kok. Pasti nanti aku nyenyak tidurnya. Kan, sekarang ada kamu.” Melodi menundukkan wajahnya malu mendengar ucapan suaminya. Ternyata diberi kata manis oleh suami sendiri itu rasanya berbeda.”Iya...Iya. oh, Iya... Masalah permintaan Mama gimana? Yang nyuruh kita ke rumah.” “Menurut kamu kapan? Kalau aku, sih, ya.   Pasti aku usahakan bisa. Karena itu, kan acara penting. Nah, sekarang kamu gimana. Kamu kuat enggak?” “Lusa aja gimana?” Kata Melodi. Alfa mengangguk, kemudian mengusap punggung tangan Melodi.”Gimana baiknya aja, sayang. Yang penting kamu nyaman dan tidak mengganggu kondisi kesehatan kamu, ya.” “Kamu yang bicara sama Mama, Papa, ya?” “Iya, sayang. Oh ya... Aku cek handphonenya aku sebentar, ya. Ada yang chatting kayaknya. Oh ya... Ini hape kamu.” Alfa menyodorkan ponsel Melodi. Melodi melirik ponselnya, mengambilnya dengan ragu. Sudah beberapa hari ini ia jarang sekali memegang ponselnya. Bahkan ia tak tahu, apa saja isinya. Melodi terkejut saat mengecek pesan w******p, di sana ada pesan dari Rey. Melodi melirik Alfa, tampaknya Alfa tak mengecek ponselnya sama sekali. Padahal ponselnya itu tidak menggunakan sandi. “Kamu kenapa, Mel? Kok sedih gitu?” Alfa menyadari raut wajah Melodi berubah. Lalu, diliriknya layar yang sedang ditatap isterinya itu. “Boleh aku lihat?” tanyanya sambil mengambil ponsel Melodi. Dibacanya pesan yang tertera di sana. Ada sedikit kekesalan karena Rey masih saja berusaha menghubungi Melodi yang sudah sah menjadi isterinya. “Aku enggak balas kok. Aku cuma baca,” kata Melodi lemah. “Hei..  enggak apa-apa. Kamu jangan pikirin itu ya. Nah itu susunya datang.” Bibi Grace membawa nampan berisi segelas s**u, secangkir kopi dan sepiring roti bakar. “Minum s**u. Abis ini istirahat lagi.” Alfa menyodorkan segelas s**u khusus wanita hamil. Kemarin ia minta tolong pada Sharen untuk mencarikan s**u hamil yang bagus. Karena Sharen juga sedang hamil. Melodi memilih bermain games daripada harus mengecek sosial medianya. Ia tak mau banyak pikiran melihat postingan ini dan itu. Sesekali Alfa melirik apa yang sedang dilakukan oleh isterinya itu, ia hanya bisa tertawa diam-diam. Setelah rotinya habis, mendadak Alfa menjadi kenyang dan tak ingin makan malam. s**u di gelas Melodi pun sudah habis. “Mel, kita ke kamar, yuk.” Alfa bangkit dari kursi sambil mengambil semua ponsel yang ada di atas meja. Melodi mengangguk setuju. Alfa menggenggam jemarinya sambil terus berjalan menuju kamar. “Fa, kenapa digenggam terus? Kan, di dalam rumah.” “Enggak apa-apa, kan. Kan sudah suami isteri. Lagipula... Aku suka melakukan apapun, jika itu bisa mendekatkan kita berdua.” Alfa tersenyum sambil terus melangkah. Sesampai di kamar, Alfa langsung mengunci pintu.”Kamu mau baring? Nonton?” “Enggak tahu mau ngapain, kamu, sih ajak ke kamar.” Melodi tertawa geli. “Ya udah sini, Peluk dulu.” Alfa merentangkan tangannya, lalu memeluk Melodi dengan penuh cinta. “Kamu mandi enggak, sih tadi?” Tanya Melodi. “Enggak. Bau ya?” Tanya Alfa sambil mencium ketiaknya. “Bau, sih, tapi aku suka baunya,” jawab Melodi tersipu malu. “Hmm... Kamu ini ada maunya, ya?” Alfa menyeringai. Melodi memanyunkan bibirnya.”Enggak, ih. Memang suka baunya.” “Duh... Gemesnya.” Alfa meraih wajah Melodi dan mencium bibir Melodi, melumatnya sedikit. Wajah Melodi langsung merah merona setelah Alfa melepaskan ciumannya. Kemudian, Melodi langsung naik ke tempat tidur, menutupi wajahnya dengan selimut. “Kamu kenapa, ih? Kok wajahnya ditutupin gitu?” Alfa berusaha menurunkan selimut, tapi ditahan oleh Melodi. “Aku malu....” “Ih, jangan malu, ah. Sini....” Alfa berhasil menarik selimutnya dan menatap wajah cantik sang isteri. Perlahan, ia mengecup kening, pipi, dan bibir. Setelah itu mereka saling bertatapan, dan berakhir dengan berciuman. Sentuhan-sentuhan lembut Alfa, ternyata mampu membangkitkan gairah Melodi. “Fa,memangnya boleh?” “Boleh. Asal hati-hati. Makanya kamu diem aja di sini, pasrah. Biar aku yang bekerja, ya?” Kata Alfa penuh harap. “Kata siapa boleh?”Melodi melotot ke arah suaminya, di dalam hati ia tertawa geli. Atas keinginannya sendiri, sang suami membuat keputusan sendiri. “Kata aku dong.” Alfa terkekeh dan kemudian membuka kancing piyama Melodi satu persatu. Ia berjanji akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin melukai Melodi maupun calon anaknya yang sedang berkembang di dalam kandungan. Tapi, ia juga tidak bisa menahan keinginannya untuk menyatukan diri dengan sang isteri.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD