Suara musik terdengar begitu keras mengganggu penghuni rumah. Alfa menggeliat kesal.
“Siapa, sih, pagi-pagi begini nyalain musik. Pasti kerjaan Quin ini.” Alfa turun dari tempat tidur, keluar kamar untuk mengecek keluar.
Melodi hanya melirik Alfa yang keluar dari kamar. Senyumnya mengembang melihat lelaki yang belum genap dua puluh empat jam menjadi suaminya.
“Quin!” teriak Alfa.
Quin yang sedang lompat-lompat di atas tempat tidur dengan lilitan handuk di kepalanya, langsung berhenti. Dengan tergopoh-gopoh ia mematikan musik.
“Kenapa, Kak?”
“Masih jam berapa ini, kamu nyalain musik kenceng banget. Masih pada tidur tahu,” omel Alfa.
Quin memanyunkan bibirnya.”Dih... Udah pagi loh, kak. Udah jam setengah enam. Biasanya juga, kan, kakak enggak terganggu.”
Alfa mendecak kesal.”Ya jangan keras-keras banget, Quin. Nyalain musik yang volumenya cukup kamu saja yang bisa dengar. Kamar kamu ini enggak pake pengedap suara soalnya.”
Quin meringis.”Oh Iya... Quin lupa, Kak. Maaf... Biasanya kan Quin tidur di kamar Kak Delta yang ada pengedap suara. Biasa nyalain musik kenceng banget. Maaf deh, Kak. Maaf... Kak Melodi terganggu, ya?”
“Dia enggak masalah kok. Cuma... Kita, kan harus menghargai dia, Quin. Dia masih baru di sini... Perlu penyesuaian. Oke, ya? Jangan diulangi.” Alfa mengecup kepala Quin.
Quin mengangguk-angguk.”Oke, Kak. Selamat tidur kembali, pengantin baru.”
Alfa yang sudah berjalan, langsung menoleh ke arah Quin yang kini sudah tertawa terbahak-bahak. Alfa kembali ke kamarnya, tapi ia tak menemukan Melodi di atas tempat tidur.
“Mel?” Panggil Alfa.
Lalu terdengar suara dari kamar mandi. Melodi sedang menunduk di depan wastafel, memuntahkan isi perut. Wajahnya pucat, ia seperti sedang sangat tersiksa. Alfa segera menghampiri isterinya, mengusap-usap punggung Melodi, membiarkannya muntah sampai selesai.
“Sayang? Sudah?” Tanya Alfa hati-hati, saat Melodi tak lagi bersuara.
Melodi mengangguk lemah, sambil menyalakan keran untuk kumur-kumur, menyeka mulut dan wajah. Alfa meraih handuk kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, kemudian mengeringkan wajah Melodi.
“Maaf, ya... Kamu jadi tersiksa begini.” Alfa memeluk tubuh Melodi, mungkin isterinya itu butuh pelukan setelah berjuang melewati morning sicknessnya.
Rasa mual, pusing, dan sakit seketika hilang saat menerima pelukan dari Alfa. Melodi membalas pelukan suaminya dengan erat, menghirup aroma tubuhnya seakan itu adalah obat paling mujarab baginya. Setelah beberapa menit mereka ada di posisi itu, Alfa melepaskan pelukannya perlahan.
“Gimana? Sudah enakan?”
“Iya, sudah.”
Alfa tersenyum, mengecup kening Melodi.”Ya sudah. Kamu cuci muka, sikat gigi, ganti baju. Kita turun.”
Seperti anak kecil, Melodi langsung menuruti perintah Alfa. Tak membutuhkan waktu lama, sebab ia mulai tidak tahan dengan dinginnya air. Setelah merapikan tempat tidur, merapikan rambut, ia turun ke bawah. Alfa, Delta, dan Quin sudah berkumpul di bawah.
“Hai, Kak?” Sapa Delta yang sudah rapi mengenakan kemeja kotak-kotak bewarna navy.
“Hai, sudah pada ngumpul. Maaf ya telat.” Melodi menunduk malu.
“Kakak, ih... Ini, kan bukan sekolah. Mana ada istilah telat. Kebetulan aja kita ada kegiatan pagi ini, jadi udah siap-siap. Kakak duduk sini,” kata Quin.
“Minum susunya.” Alfa menunjuk segelas s**u putih di meja disertai anggukan Melodi.
“Kak, besok udah bisa ke kantor, kan? Soalnya Pak Denny maunya ketemu langsung sama kakak. Enggak bisa digantikan aku, Gamma, bahkan Kak Jo sekalipun.” Delta memulai pembicaraan serius pada Alfa.
Alfa mengangguk.” Ya sudah, setelah ini kakak hubungin Pak Denny. Lagian apa bedanya, sih. Sama-sama anak James Morinho gitu. Enggak ngerti banget lagi pengantin baru.”
Delta tertawa.”Bisnis ya bisnis, Kak.”
Alfa dan Delta terlibat pembicaraan bisnis yang tak begitu dimengerti oleh Melodi. Quin tampak menikmati sarapannya sambil memainkan ponsel. Sesekali ia terlihat selfie, lalu menunjukkan pakaian-pakaian keluaran terbaru pada Melodi.
“Quin, ayo berangkat,” kata Delta.
Quin mengangguk.”Kak Mel, pergi dulu, ya.”
“Kalian hati-hati,” pesan Melodi.
“Iya, Kak. Banyak istirahat, ya.” Delta ikut menambahkan.
Kini tinggallah Melodi dan Alfa, menghabiskan sarapan mereka. Ponsel Quin berbunyi berkali-kali. Tapi, Melodi tak berniat membukanya.
“Handphone kamu bunyi, sayang. Enggak dilihat?”
“Tolong lihatin, ya.” Melodi tertawa kecil.
Alfa menscroll layar ponsel milik Melodi, keningnya berkerut.”Dari mantan kamu.”
“Siapa?'
“Rey,” kata Alfa.
“Oh....” Melodi kembali disibukkan dengan sarapannya.
“Cuma oh aja?” Tanya Alfa.
“Jadi, harus gimana? Kan cuma pesan dari mantan yang ngajak balikan. Aku, kan sudah menikah. Untuk apa dibalesin. Jelas-jelas itu pesan yang salah, kan?” Tatap Melodi.
Alfa mencubit kedua pipi Melodi dengan pelan.”Beneran ya itu dari hati kamu? Bukan karena di depan aku aja kamu bilang begitu?”
Melodi memanyunkan bibirnya setelah menerima cubitan Alfa.”Iya. Beneran kok. Aku tahu, dulu aku memang pacaran sama Rey, terus aku benci sama kamu. Nolak kamu berkali-kali. Tapi, ya, enggak tahu ternyata kamu malah jadi suami aku.”
“Iya, sudah... Enggak usah dipikirin. Aku percaya kok. Kita semua punya masa lalu. Tapi, jangan sampai masa lalu itu mengganggu masa depan. Oke?” Senyuman Alfa kini membuat hati Melodi meleleh. Setelah dilihat-lihat, ternyata suaminya itu tampan.
“Oke.Oh, ya hari ini kita ke rumah Papa, ya? Aku pengen makan masakan Bi Asih.”
“Oh, ya udah. Sebelum jam makan siang kalau gitu ya kita berangkat. Kamu kabarin Bi Asih sana. Nanti aku yang telepon Mama.” Setelah berkata demikian, Alfa kembali disibukkan dengan ponselnya.
Sekitar pukul sebelas, sesuai janji, Alfa membawa Melodi ke rumah orang tuanya. Sesampai di sana, Friska, Shelyn dan Reno menyambut kedatangan mereka.
“Mel....” Friska menangis histeris sambil memeluk Melodi saat ia sudah sampai di rumah.
Tubuh Melodi kaku saat menerima perlakuan yang tak biasa itu.”Tante kenapa?”
“Mel.. Maafin Tante, selama ini udah jahat sama kamu. Kami memperlakukan kamu tidak baik. Padahal... Kamu butuh sosok Ibu di samping kamu. Maafin saya.”
“Iya, Mel aku juga minta maaf atas kelakuan ku selama ini. Aku jahat banget sama kamu, Mel.” Shelyn gantian memeluk Melodi.
“Nah, begini dong. Papa seneng banget liat kalian sudah bisa akur.” Reno datang dengan senyuman lebar.
“Pa, kami datang ke sini katanya Melodi rindu rumah. Sama semuanya juga,” kata Alfa.
Reno mengangguk-angguk.”Iya. Kalian menginap lah di sini. Ini, kan rumah kalian juga.”
“Iya, Pa. Saya ikutin gimana baiknya saja.”
“Iya, kalian nginep di sini ya. Nanti Mama Masakin,” kata Friska.
“Iya, Tante. Kami nginap di sini.” Hanya itu jawaban Melodi setelah sekian banyaknya Friska dan Shelyn bicara.
Shelyn memeluk lengan Melodi.”Ayo duduk. Kamu, kan lagi hamil. Nanti kecapean.”
Friska dan Shelyn membawa Melodi ke ruang keluarga, diikuti oleh Reno dan Alfa. Mereka makan siang dan menghabiskan waktu bersama-sama. Sikap Friska dan Shelyn yang berubah sepertinya memang benar-benar dari hati. Tidak terlihat wajah mereka seperti sedang berakting atau pura-pura. Tapi, biarpun begitu, Melodi tetap waspada.