Bab 12

1013 Words
"Aku...mau punya anak ya, Ra? anak dari kamu...anak kita." "Apa kamu cinta sama aku, Lang? Kita kan dijodohkan?" Elang tertawa kecil."Tentu aku mencintaimu, Rara, makanya aku menikahimu." "Kalau begitu...kenapa kamu malah nanya boleh atau enggak kamu mau punya anak?" "Ingin punya kesepakatan dengan isteriku. Mungkin aja kamu belum siap..." "Bernegosiasi sama yang di atas. Sebagai manusia kita hanya bisa menjalankan." Rara menggerakkan pinggulnya karena merasa tidak nyaman. Tiba-tiba Elang mengerang. Cairan miliknya menyembur akibat gerakan pinggul Rara. "Kenapa kamu?" "Udah keluar...baru juga dimasukkin. Kamu gerak sih." Elang langsung lemas. “Ya kenapa kelamaan sih, sakit tahu!" protes Rara. "Ya kan sempit, Ra..." Elang menarik miliknya perlahan. "Perih,"ucap Rara saat cairan Elang menetes mengenai miliknya. Elang melirik tisu di atas meja, lalu mengambilnya dengan cepat untuk membersihkan miliknya dan juga Rara. "Aku pengen pipis,"kata Rara mulai bangkit. Dengan sigap, Elang memegang tangan Rara dan menuntunnya ke kamar mandi."Pelan-pelan ya...kata orang sakit banget kalau pipis." Wajah Rara terlihat begitu khawatir, ia membayangkan rasanya. Ia jongkok, lalu mulai buang air kecil. Benar apa yang dikatakan Elang rasanya perih sekali sampai ia harus menghentikan air seninya. Kemudian ia mengeluarkannya pelan-pelan sambil menahan sakit. "Kamu nggak apa-apa?"tanya Elang. Rara mengangguk, ia berjalan dengan rasa yang sedikit tidak nyaman. Sekarang Elang masuk ke dalam toilet. Rara melihat sprei basah, lalu mengambil tisu dan mengeringkannya. Kemudian ia berbaring. Beberapa saat kemudian ia merasakan Elang tengah memeluknya dari belakang. "Terima kasih, sayang." "Terima kasih untuk apa?" "Sudah menyerahkan dirimu seutuhnya sama aku. Sekarang...kamu milikku...selamanya." Rara tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di d**a Elang. Sesekali ia mendapat kecupan di pipi atau bibir. Tak lupa sentuhan nakal Elang pada puncak dadanya. **   Dini hari, Udara semakin dingin karena Elang sengaja tidak menyalakan penghangat ruangan. Ia beralasan, berpelukan akan menghangatkan segalanya. Mereka tidur, di bawah selimut bulu yang tebal. Tapi, nyatanya itu tidak membantu karena suhu udara semakin dingin. "Mas,"panggil Rara. Entah karena apa akhirnya ia memanggil Elang dengan sebutan 'Mas', mungkin sejak merasakan kenikmatan 'senjata' Elang. Elang tidak mendengar panggilan Rara. Rara menepuk pipi Elang dengan pelan."Mas!" Tidak berhasil. Ia pun mengguncang tubuh Elang dengan keras. Elang kaget, ia pikir sedang terjadi gempa. Lalu dilihatnya sang isteri tengah murung sambil menatapnya. "Kenapa, sayang?" "Dingin banget...nyalain penghangat ruangannya ya,"pinta Rara. "Memangnya dekapanku kurang hangat ya?" "Enggak. Nyalain aja ya, aku enggak kuat." Elang mengangguk, ia cepat-cepat menyalakan penghangat ruangan. Setelah itu kembali ke tempat tidur dan kembali memejamkan mata. "Mas,"panggil Rara lagi. "Hmmm,"gumam Elang. "Aku lapar." Elang spontan membuka matanya."Lapar?" Rara mengangguk. Elang melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga dini hari."Kok laparnya sekarang sih, sayang...nunggu pagi aja ya sekalian sarapan." "Masa lapar sekarang makannya besok!" Rara cemberut. Elang menggaruk kepalanya."Iya iya...kamu mau makan apa? Coba dipesenin deh...semoga aja ada." "Aku enggak tahu mau makan apa, tapi...aku lapar aja." Elang tertawa."Ya ampun, isteriku...ya udah kita keluar aja ya. Ke restonya langsung. Biar jelas...ada makanan apa aja. Pake bajunya." Rara mengangguk senang. Ia memakai kaus dan celana selutut, sementara Elang memakai kaus dan celana pendek. Mereka berdua menuju restoran dari penginapan ini. Elang berbincang-bincang dengan petugas yang ada di sana. Kemudian menghampiri sang isteri yang sudah duduk di kursi. "Sayang, makanan yang bisa mereka sediakan saat ini nasi goreng, Mi goreng, dan kentang goreng,"jelas Elang. Rara mengangguk-angguk."Mau pesen nasi goreng pakai telur dua. Telurnya didadar. Terus...kentang gorengnya satu, teh manis panas satu, air mineral satu." "Ada lagi, sayang?" Elang tertawa karena tiba-tiba merasa menjadi seperti seorang pelayan restoran. "Itu aja, Mas, enggak pake lama,"balas Rara. Elang mengusap puncak kepala Rara, kemudian pergi menyampaikan pesanan Rara pada pelayan resto. Setelah itu ia duduk di sebelah sang isteri. "Kamu lapar banget ya? Pakai telurnya sampai dua." "Iya...biar spesial kayak kamu." Rara menaik-turunkan kedua alisnya. "Kok spesial kayak aku?"tanya Elang bingung mengaitkan antara dirinya dengan nasi goreng. "Spesial karena telurnya dua." Jawaban Rara membuat Elang tertawa terbahak-bahak, memecah keheningan malam. "Mas, jangan bikin malu deh. Kayak enggak pernah ketawa aja deh,"protes Rara. "Ya kan kamu yang bikin aku ketawa. Sekarang udah bisa ngelucu ya isteriku ini. Bercandaannya nyerempet-nyerempet gitu." Elang mengecup pipi Rara dengan gemas. "Kan nyerempet-nyerempet gitu enak, Mas. Sempit-sempit gimana gitu." Rara tertawa. Elang geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang isterinya yang tiba-tiba menjadi absurd. Tapi, bagaimana pun juga ia sangat bersyukur, sudah berhasil membuat Rara menyerahkan diri seutuhnya sebagai isteri. Wanita itu juga sudah luluh dan bersedia memiliki anak. Sekarang, isterinya itu sudah mulai bisa membuat suasana rumah tangga mereka menjadi bewarna. "Mas...kenapa laki-laki 'itu'nya tegang?" Pertanyaan aneh mulai muncul dari mulut Rara. "Ya kalau enggak tegang, nggak bisa masuk,"balas Elang sekenanya. "Memangnya kalau lemes gimana bentuknya sampe enggak bisa masuk?" "Nanti aku kasih lihat gimana yang lemesnya ya. Tapi, habis itu kamu harus tanggung jawab kalau jadi tegang." "Janganlah, Mas...sakit loh." "Kan pertama aja sakit, kalau kedua dan seterusnya udah enggak. Malah nanti enak, kamu bakalan minta terus sama aku." "Iya dong, minta dibelanjakan terus...minta dijajanin terus...minta duit terus." Rara terkekeh. "Pesanan mereka pun datang, Rara terlihat begitu bersemangat setelah mencium aroma lezat dari uap nasi gorengnya. Dilihatnya pesanan Elang, dua tumpuk nasi goreng, ukurannya sedikit kecil, lalu di atasnya masing-masing ada dua telur mata sapi. Ia memesan dua porsi nasi goreng. "Kenapa dua?" "Biar enak,"jawab Elang tenang. "Enak?" "Iya...kamu lihat bentuknya kayak apa? Bulat, besar, terus...ada titiknya di tengah-tengah." Rara tersenyum malu, kemudian ia menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. "Kamu tahu enggak ini apa?" "Tahu lah." "Apaan?" "d**a aku kan?" Elang mengangguk."Iya. Aku suka d**a kamu...besar, kenyal, juga suka sama titik di tengahnya. Nanti lagi ya." Elangemberi kode pada sang isteri. Rara hanya bisa mengangguk malu. Setelah selesai makan, Elang dan Rara kembali ke kamar. Suasana penginapan sudah mulai rame karena pagi sudah tiba.  Beberapa pekerja atau pun pelancong terlihat mulai bermunculan. Sesampai di kamar, keduanya duduk di kursi dengan malas. Mereka kekenyangan sampai harus membuka kancing celana mereka agar perut bebas bergerak. "Perut kamu makin buncit deh,"komentar Rara. "Memang iya?" Elang melihat ke arah perutnya yang kelihatan karena bajunya ia angkat sedikit. Pria itu tak pernah menyadari bentuk badannya yang semakin hari semakin berisi. "Iya. Kayaknya pas baru-baru nikah gitu badan kamu bagus. Sekarang...udah ada lipatannya." "Iya enggak apa-apalah, udah laku juga." Elang tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD