Bab 11

1019 Words
"Kencan kemana?"tanya Rara dengan suara seperti orang sedang flu. "Ya udah, kamu mandi terus...kita pergi ya. Nanti kamu bakalan tahu kita mau kemana." "Kamu kan capek?" Rara seperti tidak percaya kalau Elang akan mengajaknya kencan malam ini. Sementara wajah suaminya itu terlihat seperti sedang kelelahan. "Nggak apa-apa, lagi pula...aku sudah ambil cuti beberapa hari untuk temenin kamu." Ucapan Elang itu membuat Rara tersenyum senang. "Beneran?" "Iya." Elang berdiri, kemudian segera menarik Rara."Ayo kita mandi ...terus kita makan malam aja di luar." Rara mengikuti perintah suaminya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di perjalanan, di dalam mobil Rara terus menciumi bucket mawar yang diberi suaminya tadi. Hal itu membuat Elang geleng-geleng kepala. "Bunganya kenapa dibawa?" "Biar bisa dicium-cium. Wangi!" Rara kembali mencium aroma mawar merah itu. "Orang yang ngasih aja dicium, kenapa bunganya?"kata Elang sambil fokus menyetir. "Malu,"jawab Rara. Elang terkekeh."Suami sendiri ini, Ra." "Ya udah sini,"kata Rara, meletakkan bunga mawar ke pangkuannya. Ia menarik leher Elang hingga lelaki itu harus mengurangi kecepatan mobil. Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Elang. "Terima kasih, sayang." Rara tersenyum malu, ia menggunakan bucket mawar untuk menutupi wajahnya yang kini sudah merona. Mobil terus berjalan cukup lama, Rara jadi bertanya-tanya sebenarnya mereka mau kemana. Tapi, ia tidak berani melontarkan pertanyaan tersebut. "Kita mau ke suatu tempat,"ucap Elang tiba-tiba. Rara kaget, seakan-akan Elang menjawab pertanyaannya di dalam hati."Oh...jauh ya? Kok udah setengah jam nggak sampe-sampe?" Elang mengangguk."Iya. Udah lapar ya?" Rara mengangguk dengan wajah kasihan. "Salah sendiri enggak makan siang!" Elang tertawa mengejek. Rara memukul lengan Elang dengan kesal."Kan...." Elang tertawa."Iya...iya, sebentar lagi sampe kok." "Tahu ah!" Rara memalingkan wajahnya. Akhirnya mobil berhenti. Di kawasan kebun teh yang memiliki suhu udara dingin. "Yuk turun!"kata Elang. Rara melihat ke sekeliling dengan bingung. Mau apa mereka ke tempat ini, pikirnya. Elang membuka bagian belakang mobil, mengambil sebuah koper kecil. "Loh itu isinya apa?"tanya Rara heran. "Pakaian kita." Elang memainkan kedua alisnya. "Loh...loh, kapan kita...." Elang menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rara."Aku lapar, makan dulu yuk." Rara mengangguk pasrah. Elang mengaitkan jemari mereka, menuntun Rara agar mengikutinya. Mereka memasuki sebuah joglo yang dimana di sana ada beberapa meja makan. Salah satu petugas di sana menyambut dan mengantar mereka ke meja yang sudah tersedia makanan. "Nah, ayo makan." Elang meletakkan koper di sebelahnya. Rara mengangguk. Ia menatap ke sekeliling, tampak sunyi."Ini tempat apa ...kok sunyi." "Iya, kan ini bukan weekend. Wajar kalau sunyi,"jawab Elang. "Iya...iya." "Kita nginap di sini...beberapa hari. Terus...pas kamu mandi aku udah ambil baju-baju kamu dan masukin kedalam koper. Buat kejutan sih." "Terima kasih." "Sama-sama. Oh ya...suhu di sini bagus loh untuk buat anak." Rara hampir saja tersedak. Ia segera meneguk air mineral."Bikin anak?" "Iya." Elang tertawa, kemudian tidak berkata apa-apa lagi. Ia meneruskan makannya sampai habis. Namun, pikiran Rara justru sedang bekerja mengartikan apa yang diucapkan Elang tadi. Mungkinkah maksud Elang adalah meminta Rara menunaikan kewajibannya yang tertunda sekian lama itu? Tidak ada pembicaraan yang serius saat makan. Setelah makan mereka langsung masuk ke kamar yang sudah dipesan oleh Elang. "Ra...enggak apa-apa kan kita beberapa hari di sini?"tanya Elang. Rara menggeleng."Nggak apa-apa. Tapi, kenapa jauh-jauh ke sini? Kan di rumah aja bisa." "Nggak apa-apa, biar kamu liburan. Kasihan kan diri rumah terus. Ya walaupun liburannya deket banget sih, maaf ya...belum bisa bawa ke tempat yang jauh dan lebih bagus." Elang mengecup pipi Rara. "Nggak apa-apa..." "Ini kopernya." Elang pun duduk di salah satu kursi.      Rara membuka koper untuk memeriksa pakaian apa yang diambil Elang untuknya."Kamu enggak bawakan aku jaket atau sweater ya?" "Enggak." "Terus kalau aku kedinginan gimana?" "Aku bawain kok satu." Elang mendekat ke Rara. "Mana...enggak ada nih,"kata Rara sambil menunjukkan isi koper. "Ini...." Elang memeluk Rara dari belakang. "Hangat kan?" Tubuh Rara membatu. Sekujur tubuhnya merinding saat Elang mengecup lehernya. Kemudian ia menyingkirkan koper dari tempat tidur. Setelah itu, ia kembali pada Rara, mencium bibir sang isteri. Tentu saja kali ini tidak ada perlawanan, isterinya itu justru membalas ciumannya, dengan begitu lbut dan mesra. Jantung mereka sama-sama berdegup kencang. Milik Elang sudah memberontak di bawah sana, begitu juga dengan Rara. Sepertinya mereka sudah sama-sama siap sekarang. "Aku sayang kamu, Ra,"ucap Elang. Rara menatap Elang, mereka sudah dua bulan menikah, tidak pernah bermesraan apa lagi bercinta. Semua itu akrena keegoisan Rara sendiri. Hati Rara pun luluh, ia tersenyum, sedikit berjinjit mengecup bibir Elang.     Elang menatap sekujur tubuh Rara, lalu perlahan menurunkan lengan gaun yang dipakai Rara, menariknya perlahan ke bawah. Mereka saling berpagutan, saling menyentuh titik terdalam mereka. Keduanya terhempas ke atas tempat tidur. Satu persatu pakaian dibuka, kulit mereka benar-benar telanjang, bersentuhan langsung dengan udara malam yang dingin. Wajah Rara memerah, tubuhnya terasa panas dingin saat bibir seksi Elang menyentuh puncak dadanya.  Miliknya di bawah sana terasa berkedut dan cairannya mulai mengalir. Bibir Elang terus menjamah puncak d**a sang isteri Desahan-desahan kecil mulai terdengar, begitu seksi dan menggairahkan. Ciuman Elang turun ke perut, kemudian ia melihat milik Rara yang kini disembunyikan rapat-rapat oleh pemiliknya. "Aku ingin memilikinya,"kata Elang. Rara menelan ludahnya, ia mengangguk, kemudian membuka pahanya perlahan. Ia memalingkan wajahnya menahan malu saat Elang melihatnya. Elang tersenyum, pria itu kembali melumat bibir Rara sambil menggesekkan miliknya. "Jangan tegang ya,rileks aja,"bisik Elang. Rara mengangguk. Kemudian ia merasakan kejantanan Elang menyentuh miliknya. Terasa sangat keras dan besar, bahkan ia tidak yakin milik Elang itu akan bisa memasukinya. "Hei,"panggil Elang. Rara menatap Elang."Kenapa?" "Jangan dipikirkan, nanti malah sakit." Elang mengecup kening Rara."Kamu cantik...." Rara tersentak, miliknya tiba-tiba terasa penuh dan tidak nyaman. Ia mendorong tubuh Elang."Apa ini...enggak nyaman." "Tenang...tenang dulu." Elang menenangkan Rara yang mulai panik. Kemudian ia menghentakkan miliknya sekali lagi. Rara mengigit bibirnya. Lalu ia ingat dengan temannya yang sedang diperkosa. Pasti rasanya jauh lebih sakit dari ini. "Aku sayang kamu, Ra, semua ini kulakukan karena aku sayang kamu. Aku ingin memilikimu, kamu adalah milikku,"bisik Elang mesra sambil terus berusaha menerobos milik Rara. Rara terdiam. Perlahan ia memejamkan mata, mendengarkan ucapan-ucapan Penuh cinta itu, rasa sakit dan tidak nyamannya mulai hilang. Elang mulai berkeringat, ia masih terus berusaha menenggelamkan miliknya seutuhnya. Rara mengalungkan kedua tangannya di leher Elang, menciumi d**a dan lekukan leher sang suami. Elang akhirnya bernapas lega, miliknya masuk seutuhnya meski ia belum bisa bergerak. Ia menatap wajah sang isteri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD