Bab 10

1012 Words
Rara tertegun, mendengar ucapan Elang ia merasa ngeri."Elang, kata orang rasanya sakit. Aku takut." "Kenapa takut, sayang...aku kan suami kamu. Sakitnya cuma sebentar. Lagi pula...rasa sakit itu menunjukkan bahwa kamu masih suci." "Dulu, aku lihat temenku diperkosa. Dia berteriak kesakitan sampai gila. Aku takut jadi seperti itu. Aku..." Rara memejamkan mata, ia masih ingat kisah sepuluh tahun yang lalu. Saat ia melihat temannya menjadi gila karena diperkosa. Elang mulai mengerti kenapa Rara kerapkali menghindar. Ternyata, isterinya itu memiliki rasa trauma terhadap hubungan seksual karena pernah menyaksikan temannya diperkosa. Secara psikologis, Rara seperti ikut merasakan kejadian itu. "Kenapa kamu enggak cerita sama aku selama ini, sayang. Ya sudah... Aku enggak akan maksa. Nanti yang ada kamu malah benci sama aku. Tapi, please, Ra...jangan menghindar kalau aku peluk, cium atau pun sentuh kamu. Kamu nikmati saja...karena aku adalah suami kamu. Aku adalah orang yang sayang sama kamu, tidak akan menyakiti apa lagi membuat kamu menangis sedih. Jadi, kamu enggak perlu khawatir." Rara mengangguk mengerti. "Ya sudah, kita begini saja dulu ya. Tenangin diri kamu." "Kayaknya aku terima hadiah liburan itu deh." "Tapi,maaf banget aku enggak bisa,sayang. Soalnya banyak sekali kerjaan yang harus kupantau langsung. Nanti kalau semuanya udah beres...aku janji akan langsung ajak kamu liburan kemana pun yang kamu mau. Oke?" Rara tertawa kecil."Iya. Oke. Kalau kamu perlu bantuan di kantor...aku siap kok." "Wah, hebat sekali isteriku mau bantuin. Aku maunya sih...kamu siapin diri aja buat aku,"kata Elang sambil mengecup bibir Rara. Perasaan Rara terasa hangat. Ia memeluk Elang dengan erat. Rasanya nyaman sekali. Ia kecewa karena tidak jadi berbulan madu. Tapi, kemudian ia mendapat ide bagaimana semua itu tetap bisa terwujud.  ** Pagi ini, Rara terbangun dengan perasaan yang begitu bahagia. Diliriknya sang suami, masih tidur. Kemarin mereka menghabiskan waktu di kantor. Setelah itu, pulang dan langsung tidur karena kelelahan. Rara mengikat rambutnya dengan asal, kemudian segera mandi. Setelah itu ia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Elang meraba-raba tempat tidur, terasa kosong. Ia membuka mata, ternyata sang isteri sudah bangun. Pria itu tersenyum, kemudian bangkit dan langsung mencari Rara.  Isterinya itu sedang menata sarapan di meja makan. Begitu melihat Elang sudah bangun, Rara langsung menghampirinya. Dikecupnya pipi Elang. Tubuh pria itu membatu seketika. "Yuk sarapan dulu." Elang memegang pipi bekas ciuman Rara. "I...iya." "Kamu sudah sikat gigi belum?" Elang menggeleng. Kemudian ia ke wastafel untuk kumur-kumur. "Loh, kok cuma kumur-kumur sih?"kata Rara. Elang mengambil tisu dan menyeka mulutnya yang basah."Enggak apa-apa. Sama aja." "Ya udah, sarapan dulu aja...mumpung masih hangat." Elang mengangguk, ia mulai sarapan. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya sesekali curi pandang saat sedang makan. Rara pun terlihat lebih pendiam dibandingkan hari biasanya. "Hari ini kamu di rumah aja?"tanya Elang. "Iya. Memangnya mau kemana?" "Mungkin mau belanja sayur atau belanja apa gitu keperluan rumah?" Rara menggeleng."Enggak. Udah belanja kemarin. Kamu...kerja ya hari ini?" Elang mengangguk."Iya. Kan biasanya juga begitu." "Libur dong!" Elang menautkan kedua alisnya."Kenapa harus libur? Kan kemarin Sabtu Minggu sudah libur." "Temenin aku di rumah." "Tapi...." Elang terdiam beberapa saat."Tapi, kenapa...tiba-tiba kamu nyuruh aku libur?" Rara mengangkat kedua bahunya."Aku kau ditemenin aja di rumah. Aku bosan sih di rumah terus." "Ya ...kamu bisa pergi kok keluar. Jalan-jalan nikmati waktu kamu. Nanti aku kasih uangnya." Ponsel Elang terdengar berbunyi dari dalam kamar."Sarapanku udah selesai." Rara mendecak sebal, kemudian ia merapikan piring-piring bekas sarapan mereka. Ia merasa malu, gagal merayu sang suami agar tidak bekerja. Padahal hari ini ia ingin bersama Elang terus agar hubungan mereka bisa sangat dekat selayaknya pasangan. Rara menyusul Elang ke dalam kamar, ternyata suaminya itu sedang mandi. Rara tersenyum kecewa. Tapi, biar pun begitu ia berusaha bersikap biasa saja. Ia segera menyiapkan pakaian kerja Elang. Elang keluar dari kamar mandi, tersenyum penuh arti melihat Rara. Ia meraih stelan kerja yang disiapkan Rara."Makasih ya." "Iya." Rara tetap berusaha tersenyum. Elang segera memakai pakaiannya, mengambil beberapa keperluan kerja, kemudian berangkat."Ra, aku berangkat dulu ya. Ini...ATM aku." Rara menerima kartu sakti itu."Oke." Elang mengusap puncak kepala sang isteri. "Hati-hati di rumah ya. Aku pergi dulu." "Iya." Rara mengantarkan Elang sampai ke depan pintu. Mobil sang suami pun keluar dari pekarangan rumah. Rara segera masuk dengan hati kecewa. Ia segera pergi ke mesin cuci dekat dapur, memasukkan beberapa pakaian ia dan Elang. Mesin berputar dan Rara mulai bingung harus berbuat apa. Rara melirik laptop yang ada di ruang tengah. Itu adalah salah satu laptop Elang. Ia pun punya ide yang menurutnya cemerlang. Ia segera mengambil ATM Elang tadi dan segera pergi ke super market terdekat, membeli banyak cemilan. Sesampai di rumah, ia mendownload film drama Korea. Ia pun menonton sampai sore, sampai lupa dengan cuciannya di mesin juga lupa masak untuk sang suami. Elang pulang dengan wajah yang lelah. Ia sedikit kaget saat melihat lampu teras dan ruang tamu tidak menyala. Ia masuk cepat-cepat dari pintu garasi yang menghubungkan ke dapur. "Rara!" panggilnya. Dilihatnya ada seberkas cahaya dari ruang tengah. Ia tersenyum geli melihat sang isteri terbaring di sofa. Ia segera menyalakan lampu teras dan ruang tengah. Ia duduk di sisi Rara, mengusap kepalanya."Rara...." Rara membuka matanya dengan berat, cahaya yang begitu terang membuatnya menyipitkan mata. "Ehm...kamu?" "Hei...kamu ngapain di sini? Matanya sampai sembab gitu. Nonton drama Korea Spain ketiduran...nangis ya?" Elang segera mematikan laptopnya. Rara merubah posisinya menjadi duduk."Kamu udah pulang?" "Iya. Kamu baik-baik aja?" Rara mengangguk saja."Aku...enggak masak." "Iya. Enggak apa-apa. Kamu enggak makan siang ya?" Rara menggeleng."Kenyang makan cemilan ini." "Enggak baik sering-sering begini, kamu harus makan nasi ya." "Iya." "Jangan sedih gitu..." "Aku enggak sedih,"balas Rara. "Maaf, ya...pagi tadi itu aku memang enggak bisa libur karena sudah ada janji." Elang menyerahkan bucket mawar merah pada Rara. Melihat bucket mawar yang begitu  d indah di tangan Elang,, Air mata Rara berlinang. Ia memeluk Elang dengan erat."Kamu jahat!" Elang tertawa."Maaf... Aku benar-benar enggak bisa tadi pagi. Aku maunya sih libur kok nemenin kamu. Tapi, aku udah keburu janji." "Aku di rumah sendirian...enggak enak tahu!" Rara memukul lengan Elang dengan kesal. Elang mengecup kepala Rara."Sekarang kan aku udah di rumah. Sudah ada sama kamu kan?" Rara mengangguk sambil mengelapkan cairan kental yang keluar dari hidungnya ke kemeja Elang. "Ya udah, jadi...kita mau kemana ini? Kencan yuk?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD