Rara terbangun dari tidur, jam masih menunjukkan pukul dua dini hari. Ia terkejut saat tak mendapati Elang di sampingnya. Ia segera menuju ke ruangan lainnya. Mungkin saja suaminya itu ada di sana. Tapi, perkiraannya salah. Elang tidak ada dimana pun juga.
Rara segera memeriksa garasi, mobil Elang tidak ada di sana. Itu artinya, Elang belum pulang. Jantung Rara berdegup kencang, ia di rumah seorang diri. Ia segera mengunci semua pintu dan jendela. Biasanya Elang yang melakukan hal tersebut sebelum tidur. Rara mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Elang. Tapi, nomornya tidak aktif. Perasaan Rara jadi tidak enak. Kemana Elang pergi. Rara duduk di sofa, menunggu Elang pulang sambil menyalakan televisi untuk mengurangi rasa kantuknya. Tapi, kelamaan ia tertidur.
Suara mobil terdengar memasuki area rumah. Rara tersadar, ia berlari ke arah garasi. Langkahnya terhenti saat melihat cuaca di luar sudah cerah. Elang baru pulang di jam segini.
Elang keluar dari mobil dan terkejut melihat Rara ada di pintu dapur, masih mengenakan baju tidur, rambut sedikit berantakan dan mata yang bengkak. Padahal biasanya jam segini, isterinya itu sudah rapi dan wangi.
"Rara?"
Rara mematung di tempat. Hatinya terasa berdenyut melihat Elang tampak rapi dan wangi. Bahkan rambutnya terlihat basah. Apa yang dilakukan suaminya itu semalam, pikirannya mulai kotor. Air matanya mengalir lagi membahas rasa perih di matanya.
"Sayang?" Elang memeluk Rara.
Rara terisak dalam pelukan Elang."Kamu darimana jam segini baru pulang?"
"Aku dari kantor."
"Mana ada pulang dari kantor jam tujuh pagi,"kata Rara.
Elang mengusap kepala Rara dengan lembut."Yuk kita masuk dulu, ya." Elang mendudukkan Rara di sofa. Isterinya itu terisak-isak. Ditatapnya wajah Rara yang sembab. Rasa bersalah menghantui dirinya. Ia sudah membuat isterinya menangis.
"Semalam...aku pergi ke kafe di depan komplek buat dinginin otak aku. Terus.. ternyata banyak kerjaan yang harus aku selesaikan malam itu juga. File-file yang aku butuhkan juga ada di kantor. Nah, makanya semalaman aku di kantor."
"Enggak percaya!" balas Rara.
"Ya udah nanti kita lihat cctvnya ya...biar kamu percaya."
"Terus mandi di kantor...dengan baju lengkap, rapi, dan wangi gini?"
"Kamu kan belum pernah ke kantorku, Ra. Kantorku itu beda sama kantor kebanyakan. Kan...selama jadi isteriku, kamu enggak pernah nanyain juga dimana kantorku,"kata Elang membuat Rara terdiam.
Hatinya terasa ditampar, hal itu menunjukkan betapa ia tidak peduli dengan suaminya sendiri."Maafin aku, Lang."
Elang tersenyum."Iya. Aku maafin kamu. Maafin aku juga, sayang. Aku sayang kamu." Elang mengecup kening Rara.
"Aku belum mandi," kata Rara.
Elang tertawa."Iya. Bau. Mandi dulu sana. Enggak usah masak. Habis ini kamu ikut aku ke kantor ya. Kita sarapan di jalan aja."
Rara menyeka air matanya. Ia menatap Elang dengan serius."Maafin aku, Elang. Aku belum bisa bersikap baik padamu. Aku akan terus belajar mencintai kamu."
Elang menyentuh pipi Rara."Kamu sudah cinta sama aku kok, Ra. Hanya saja kamu belum menyadarinya."
Rara tersenyum tipis.
"Ya sudah...kamu mandi."
"Aku ikut ke kantor,kan?" tanya Rara memastikan.
Elang mengangguk."Iya. Biar kamu tahu kantorku, dan akan kubuktikan kalau semalaman aku ada di sana."
"Oke. Sebentar ya." Rara bergegas mandi. Sementara Elang tersenyum melihat kelakuan isterinya yang terkadang menyebalkan tapi selalu membuatnya Rindu dan tak sabar untuk pulang.
Rara tertegun melihat desain kantor Elang. Mungkin hanya ada empat lantai. Memiliki desain yang unik dan elegan. Tentunya biaya pembuatan gedung ini memakan biaya yang cukup mahal. Sebenarnya apa pekerjaan Elang, selama ini ia hanya tahu suaminya itu pengusaha properti.
"Kamu mau berdiri aja di sini?" tanya Elang.
Rara tersenyum malu, ia memeluk lengan Elang dengan erat, mereka berdua berjalan masuk ke dalam. Seorang penjaga kantor menyambut mereka dengan hangat.
"Elang...kamu pengusaha properti bukan sih?" tanya Rara saat mereka ada di lift.
Elang terkekeh."Kalau bukan bagaimana?"
"Berarti...kamu bohong dong!"
"Kapan aku bilang kalau aku pengusaha properti? Kamu tahu darimana?" tatap Elang menggoda.
Wajah Rara terlihat bingung."Enggak tahu...siapa yang kasih tahu ya...lupa deh. Tapi, kok sepi kantor kamu ya. Enggak ada karyawan?"
"Ini hari Minggu, sayangku." Elang terkekeh.
"Astaga." Rara menepuk jidatnya. Ia pun menertawakan dirinya sendiri.
Mereka berhenti di lantai tiga dimana ruangan Elang berada. Ruangan itu sangat besar dan bernuansa minimalis. Rara menatap sekeliling ruangan dengan takjub. Satu hal lagi yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Foto pernikahan mereka terpasang di salah satu sisi ruangan ini.
"Bagaimana bisa ada wanita lain, Ra, sementara aku menaruh foto pernikahan di ruanganku. Bahkan...foto ini akan dilihat siapa pun yang datang. Aku bangga memilikimu. Aku beri tahukan pada dunia bahwa aku adalah milikmu,"kata Elang dengan serius.
Mata Rara berkaca-kaca mendengar ungkapan dari Elang yang begitu tulus. Rara sadar, tadi sempat berpikiran Elang sudah tidur dengan wanita lain karena ia kerap menolak melakukan hubungan suami isteri. Tapi, bisa saja suatu saat itu terjadi.
"Ini adalah ruangan dimana aku menerima tamu, atau klien yang ingin bertemu denganku. Sekarang...kita ke sini." Elang membuka sebuah pintu, di dalamnya ada ruang kerja. Ruang kerja yang sama seperti pada umumnya. Ada kursi empuk dan meja yang besar.
Lagi-lagi Rara dibuat terkejut, di sisi kiri meja kerja Elang dipenuhi frame yang berisikan foto mereka berdua. Bahkan ada foto Rara sendiri saat berada di rumah melakukan aktivitas. Saat itu Elang mengambil gambarnya diam-diam."Elang...."
Elang tersenyum, mengusap puncak kepala Isterinya."Aku mau nunjukin sesuatu ke kamu,"katanya sambil menekan dinding. Sebuah pintu rahasia terbuka.
Rara tercengang melihat isinya yang seperti sebuah apartemen kecil. Hanya saja tidak tersedia kompor di sana."Ini...? Kamu tidur di sini semalam?"
Elang mengangguk."Itu pakaian aku semalam."
Rara tertegun, ia melihat tempat tidur berantakan bekas tidur Elang dan ada sebuah frame di atas tempat tidur. Itu adalah fotonya. Air mata Rara mengalir. Ia tidak menyangka Elang melakukan itu semua. Rara berjalan cepat ke arah Elang dan memeluknya dengan erat. Elang sampai kaget dibuatnya.
"Maafin aku, Elang. Maaf!"
"Ra, kamu kenapa tiba-tiba menangis?"
Rara menggelengkan kepalanya."Selama ini aku udah jahat banget sama kamu, Lang. Aku durhaka sama suamiku sendiri."
Elang mengusap punggung Rara."Iya, sayang. Aku ngerti kok."
Elang menatap wajah Rara, menyeka air matanya. Perlahan ia mengecup bibir Rara. Isterinya itu tidak memberikan perlawanan, Elang melakukan hal yang lebih lagi. Ia melumat bibir Rara, dan apa yang diinginkan Elang pun terwujud. Rara membalas ciumannya.
Elang menutup pintu dengan satu tangan, lalu mendorong tubuh Rara hingga terhempas ke tempat tidur. Ciuman mereka terlepas, saling bertatapan mesra, tersenyum malu-malu, dan tiba-tiba tertawa.
"Ra,"panggil Elang.
"Iya?"jawab Rara dengan berdebar-debar.
"Aku tegang, Ra."