CHP. 02

1691 Words
"Gevancia Rosiebell? Geva? What's wrong with her?" Nino berujar santai seraya meletakkan formulir milik Geva di atas meja saat Gio masuk ke dalam ruangan sekretariat eskul Taekwondo di salah satu sudut lain sekolah. Gio tersenyum tipis, menjatuhkan tas ranselnya sembarangan, mengambil soft drink dingin di kulkas kecil dan duduk di depan Nino. "Rosie gue yang latih dan elo jauh-jauh dari dia!!!" Ancamnya dengan ekspresi serius. "Slow down, bro. Ada apa ini sebenarnya? Dua minggu yang lalu gue masih ingat dengan semua omelan lo karena gue dengan asal mengajukan nama lo buat bantuin gue melatih anggota baru. Kenapa sekarang begini?" Gio meminum soft drinknya dan berdecak, "s****n tuh cewek, buat gue penasaran." "Karena alasan pertamanya ini atau yang kedua?" Kekeh Nino saat matanya menyusuri dua alasan yang ada di tulisan paling bawah lembar formulir Geva lalu di lihatnya, Gio mencoret kasar alasan kedua Geva yang masih bisa Nino lihat alasannya, karena dirinya. "Kenapa? Senang lo? Hampir seluruh anggota baru cewek rata-rata ikut karena ada elonya." "Mau gimana lagi? Pesona gue masih bersinar sampai sekarang." "Najis!!” umpat Gio. “Tapi gue minta untuk Rosie lo jauh-jauh dari dia selama latihan. Tuh cewek sepertinya suka sama lo." Nino menaikkan alisnya dan berucap jahil. "Wah boleh gue coba kalau begitu.” BRAK!! Gio menggebrak meja, "Enggak usah belagak lo yah. Awas aja lo!!" Nino tertawa melihat sorot marah Gio yang tiba-tiba itu sementara Gio yang kesal hanya mendengus sebal. Dibalik sikap dingin seorang Nino Haristama terhadap perempuan sebenarnya dia sosok teman yang menyenangkan. Entah apa alasannya sampai dia membuat image seperti itu. Gio juga tidak pernah bertanya. “Hmm, gue jadi penasaran ingin melihat wujudnya nih cewek." "Nantikan di eskul lo juga lihat. Jangan elo cari-cari dia di kelas. Nanti dia bisa jantungan tiba-tiba elo datangin." Nino jelas heran melihat sikap Gio yang diluar dari kebiasaan. Selama ini yang ada di otak Gio hanya Mamanya, tawuran , membolos dan main game. Heran sekali kalau tiba-tiba dia seperti cacing kepanasan hanya karena satu nama itu, Gevancia Rosiebell. "Jadi Rosie—" "Geva," sela Gio yang duduk santai dengan kaki satu naik ke atas kursi menikmati minumannya. "Tadi lo manggil dia Rosie," Nino protes. "Itu panggilan gue khusus buat dia. Elo enggak usah ikut-ikutan. Panggil dia Geva aja seperti yang lain." Nino memajukan duduknya dan menatap Gio heran. "Panggilan khusus. Sejak kapan?" "Apanya?" "Sejak kapan seorang Gio manggil juniornya dengan panggilan khusus?" "Sejak tadi siang. Gue harus tahu siapa cewek itu. Gue penasaran setengah mati saat melihat tatapan kuat tapi enggak berdayanya saat menyebutkan alasan pertamanya. Gue sampai tidak bisa berkata-kata. Dari semua anggota baru yang mendaftar, hanya dia dan tatapannya yang membuat gue mikir sampai pusing apa maksudnya dan gue tahu dia enggak main-main." Nino bertopang dagu nampak penasaran. "Dari mana lo tahu?" Gio tersenyum tipis, "Matanya. Dia berusaha kuat tapi justru yang gue lihat kerapuhannnya di sana. Banyak yang dia sembunyikan. DAMN IT !!” Gio mengacak rambutnya. “Gue jadi kepikiran!!" Nino menggeleng, "Ini enggak seperti lo biasanya deh." "Gue tahu. Gue cabut!!" Nino menghela napas dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi melihat Gio berdiri dengan kaleng softdrink di mulutnya dan meneguk isinya sampai habis lalu melemparnya ke sudut ruangan di mana tempat sampah berada yang langsung masuk sasaran kemudian berbalik mengambil tasnya dan menyampirkannya di bahu. Di depan pintu, Gio kembali berbalik ke arah Nino. "Ingat itu, No. Rosie punya gue." Nino hanya tersenyum tipis tidak menjawab sampai Gio keluar dan menghilang pergi. Nino mengambil lagi kertas formulir itu dan membacanya sekali lagi lalu bergumam, "Gevancia. Kenapa rasanya namanya tidak asing ?" Nino berdiri dari duduknya. Dia bertekad untuk melihat sendiri seperti apa cewek itu dan mencoba mengabaikan ancaman Gio. Besok dia harus mencarinya dan melihat sendiri kenapa sosok Geva begitu mempengaruhi Gio. ****** Gio bersandar di motor besarnya di parkiran sekolah sambil berfikir keras. Ada apa sebenarnya dengan dia hari ini? Di mulai dari istirahat siang di kantin saat dia mendengar seruan menggelegar Chelsea untuk murid junior yang bisa Gio lihat cantik dan imut. Saat tatapan mata mereka beradu, mata hazel cewek itu sudah mengganggunya. Lalu tadi saat mereka saling berhadapan, mata hazel itu seperti membawa sesuatu yang lain. Selama ini, Gio hanya memiliki Mamanya yang begitu dia cintai dan di jaganya. Gio memang memiliki Papa tapi itu semua hanya formalitas baginya. Tatapan mata cewek itu seperti membawanya pada kenangan masa lalu, saat keluarganya mulai berantakan yang dia temukan pada tatapan mata Mamanya. Kuat tapi rapuh. Terlihat baik-baik saja di luar tapi di dalam tersimpan selubung luka yang tidak akan semudah itu terlihat di permukaan kalau tidak di sibak sampai dalam. Jenis luka yang tidak akan mudah untuk disembuhkan jika hanya mengandalkan diri sendiri. Semua hal itu membuatnya begitu penasaran akan masalah yang sebenarnya ditanggung cewek yang Gio akui cantic itu. Bukan jenis cantik seperti milik Chelsea tapi cantik menenangkan dan tidak akan bosan di pandang. Gadis itu memaksakan dirinya terlihat sama dengan anak lainnya padahal alasan keikutsertaannya dalam eskul Taekwondo menampilkan perbedaannya. Gio berdecak dan berbalik mengambil helmnya lalu memakainya saat di sudut mata dia melihat sesuatu yang lain. Gio terdiam memandangi satu titik di kejauhan tepatnya di halte bus seberang sekolah. Gadis itu terlihat menyandarkan bahunya ke tiang penyangga halte sedang memeluk sebuah buku bermotif dan memejamkan mata. Rambut hitam panjangnya berkibar di belai angina, kedua telinganya sedang memakai earphone yang tersambung ke dalam tasnya. Rosie nampak tenang memejamkan mata di antara deru suara bising dan debu pinggir jalan. Sekolah memang sudah sepi karena bel pulang sudah berbunyi hampir dua jam yang lalu. Dia di sana sendirian merasa seperti berada di rumah sendiri. Gio hanya bisa berdecak, meletakkan kembali helm yang ada di tangannya ke tempat semula dan memastikan motornya terkunci aman. Dia berbalik dan melangkah ringan ke arah halte dan berdiri agak sedikit menjauh dari gadis itu. Gio bersandar pada tiang listrik di bawah pohon rindang. Ditatapnya punggung Rosie yang tidak bergeming sedikitpun dari belakang membuatnya ikut hanyut dalam keterdiaman dengan satu titik sebagai pusatnya. Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya kali ini. Gio mengngkat alisnya saat melihat ada lelaki yang mendekat ke halte. Awalnya Gio tidak mempedulikannya tapi semakin lama gelagatnya semakin mencurigakan. Dia duduk di ujung satunya lalu perlahan menggeser duduknya dan mendekati Rosie. Dengan pelan tangannya mulai membuka kancing tas ransel Rosie yang berada di belakang punggungnya. Gio berdecak dan mengumpat seraya mendekat. Saat laki-laki itu berhasil menarik dompet Rosie keluar, pekikan tertahannya terdengar. Laki-laki itu kaget mendapati tangannya dicekal dengan sangat eratnya oleh Gio yang menggertakkan giginya berusaha untuk tidak menghajar laki-laki itu. Cekalannya semakin mengerat membuat laki-laki itu pucat pasi ditambah wajah Gio yang sangar menatapnya. Akhirnya dia menyerah. Dilepasnya dompet milik Rosie jatuh kembali masuk ke dalam tas dan menarik paksa tangannya. Laki-laki itu berdiri dan menatap tajam Gio sesaat sebelum berbalik dan berlari pergi dari sana. Gio memandangi punggung laki-laki itu yang semakin menjauh dan menghilang. Gio menghela napas lalu memastikan dompet itu ada di dalam tas Rosie lalu menguncinya saat cewek itu menggeliat dan membuka mata. Geva terbelalak saat melihat Gio yang juga nampak kaget dengan bangunnya Geva masih memegang pengait tas nampak seperti pencuri yang aksinya ketahuan. Sedetik cewek itu mengerjapkan matanya, sedetik kemudian dia menjerit. "AAAAKKKHHHHH—MMMPPP!!!" Gio dengan sigap menutup mulut Geva dengan tangannya dan berusaha keras membela diri dari serangan brutal Geva. "Elo bisa diam dulu nggak? Gue bisa jelasin," pinta Gio. Geva mendelik tapi akhirnya menurut. Gio menarik tangannya dan langsung mendapat semburan u*****n dari mulut cewek itu. "Kak Gio mau nyopet dompet Geva ya? Ganteng-ganteng kok nyopet sih!!" tuduhnya. Gio berdecak, "Memang duit lo banyak di sana sampai gue mau repot-repot nyopet punya lo?" tanyanya sambil melipat kedua lengannya di d**a memandangi Geva. "Hanya ada seratus ribuan sih tapi uang segitu kan lumayan. Apalagi kalau dipakai buat mainan game online bisa dapat beberapa jam.” "Hanya segitu aja kurang buat main game. Enggak ada lebihan?" Rosie menggelang dengan begonya membuat Gio berusaha keras menahan tawanya lalu menjitak kepalanya hingga cewek itu mengaduh. "Elo b**o. Pas banget dijadikan sasaran empuk orang-orang jahat." "Kok ngomongnya gitu?" Geva tidak terima sambil mengelus kepalanya. "Sekarang gue tanya sama lo. Ngapain lo bukannya pulang malah tidur nyenyak di sini? Elo hampir aja kecopetan tadi kalau enggak ada gue." Geva mendelik lalu menarik tas ranselnya ke depan dan memeriksa isinya. Nyatanya dompetnya masih aman di sana lalu diambilnya dan dibukanya. Dengan cengengesan dia mengangkat kepalanya, "Masih ada." Gio mendengus. Geva memasukkan lagi dompet, buku diary yang sejak tadi di peluknya dan earphone yang sudah lepas itu ke dalam tasnya dan memeluknya. Mereka lalu diam saja memandangi lalu lintas ramai yang ada di depan mereka. "Dari tadi pulang sekolah busnya semua ramai. Kebanyakan dari sekolah sebelah sana. Mau enggak mau gue nunggu dulu sampai ada yang kosongan sedikit tapi malah ketiduran." "Bisanya lo tidur di sembarang tempat seperti ini?" Geva tersenyum samar. "Kenapa kak Gio juga belum pulang?" "Suka-suka gue lah." "Ya terserah sih, cuma nanya doang." Mereka kembali diam tidak ada yang berniat berbicara. Geva melihat di kejauhan bus yang ditunggunya datang lalu tersenyum dan menoleh ke Gio yang langsung kaget karena sedari tadi dia hanya memperhatikan Geva dari samping. "Busnya datang." Gio mengangguk dan Geva berdiri dari duduknya menunggu bus yang semakin mendekat. Sebelum bus benar-benar berhenti, Geva berbalik dan tersenyum, "Makasih banyak ya kak Gio." Gio berdiri. "Oke, asal lain kali lo lebih hati-hati. Lo belum belajar jurus pertahanan diri sama sekali." Geva mengacungkan jempolnya, "Sebentar lagi jurus itu akan gue kuasain biar enggak selalu nyusahin orang." Gio hanya diam sampai bus berhenti sempurna. Geva berbalik dan melangkah masuk ketika seruan Gio terdengar menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. "Rosie—" Geva berbalik, "Ya ? "Hati-hati di jalan." Geva tertegun sejenak dan mengerjapkan mata lalu senyuman cantiknya perlahan muncul di wajahnya, "Terimakasih kak. Kakak juga hati-hati." Tanpa menunggu jawaban Gio, Geva berbalik dan masuk ke dalam mencari kursi kosong di pojok dekat jendela. Gio memperhatikan sesaat lalu pergi saat dilihatnya cewek itu sudah duduk di sana. Geva meletakkan ranselnya di depan lalu menoleh ke arah halte saat bus mulai berjalan dan tidak menemukan sosok Gio lagi di sana. Cowok itu sudah pergi. Geva menghela napas dan menyandarkan kepalanya di jendela bus memperhatikan pemandangan di sepanjang jalan. Dia tersenyum saat mengingat kebaikan yang Gio lakukan tadi untuknya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD