Geva bertopang dagu memandangi meja makan yang hanya terisi oleh dirinya padahal makanan di atas meja sudah tersaji dan masih hangat.
Hari ini hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya. Geva hanya menyiapkan makanan kesukaan ayahnya saja, sayur lodeh, ikan goreng dan sambal cobek. Dulu, kalau ibunya sudah menyiapkan hidangan ini ayahnya akan makan dengan lahap bahkan bisa nambah sampai tiga kali.
Walaupun kali ini Geva tidak berharap banyak. Ayahnya yang biasanya pulang bekerja sekitar jam tujuh akan mundur jauh menjadi jam satu malam dan dalam keadaan mabuk-mabukan. Geva harus menulikan telinganya dari rancauan amarah Ayahnya meneriakkan makian untuk Ibunya yang pergi tujuh tahun yang lalu.
Sejak tadi Geva terus saja memandangi bergantian antara jam dinding rumahnya dan pintu depan berharap kalau Ayahnya akan pulang dengan senyuman lalu memeluknya seperti dulu dan mereka akan makan malam bersama, walaupun kemungkinan itu sangat kecil.
Geva menelungkupkan kepala di lekukan lengannya di atas meja. Memandangi jam yang berdetak pelan tapi pasti yang sekarang telah mengarah ke angka sepuluh malam. Geva berusaha menahan linangan air matanya agar tidak mengalir sama seperti malam-malam sebelumnya di saat dia sendirian di dalam rumah penuh kenangan mereka ini.
Dulu, Geva akan melakukan banyak hal dengan ibunya saat menunggu kepulangan ayah dari bekerja. Menyirami tanaman, membersihkan halaman rumah, menonton sinetron sambil mengoceh hal-hal yang tidak penting. Lalu ayahnya akan pulang dan membawakan makanan atau mainan baru. Saat waktunya tidur, Ayah akan menggendongnya ke dalam kamar dan menyelimutinya. Masa bahagia miliknya ketika dia di kelilingi oleh keluarga yang mencintainya.
Lalu entah apa alasannya, suatu malam ibunya pergi di tengah-tengah hujan deras setelah di bentak oleh ayah yang mengusirnya. Sejak itu ibunya tidak pernah pulang lagi sampai saat ini dan mendapati ayahnya menyesal setengah mati dan mulai mabuk-mabukan, tidak mempedulikan Geva bahkan membencinya.
Bunyi suara kunci di pintu disusul suara berderit menyadarkan Geva dari lamunannya. Geva mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan ayahnya yang baru masuk nampak biasa tidak dalam keadaan mabuk. Geva tersenyum lalu berlari ke arah ayahnya dan memeluknya. Ayahnya hanya diam saja tanpa pelukan balasan tapi Geva tidak peduli. Dia terlalu senang mendapati ayahnya pulang tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Geva lalu melepaskan pelukannya dan menemukan ayahnya menatapnya datar. Geva tetap tersenyum dan mulai menarik lengan Ayahnya ke meja makan dengan senang.
"Kebetulan ayah pulang cepat. Kita makan bareng ya. Geva masakin makanan kesukaan ayah. Ada sayur lodeh—"
"Geva," panggil ayahnya.
Tapi Geva tidak mendengar masih tetap melanjutkan ocehannya, "Ada sambel cobek juga yang khusus –"
Ayahnya melepas paksa tangan Geva dari lengannya saat mereka hampir mendekati meja makan. Geva tersentak kaget dan menoleh melihat ekspresi keras di wajah Ayahnya lalu mundur selangkah.
"Sudah Ayah bilang tidak suka kalau kamu masak makanan itu. Kamu ini dari dulu selalu saja buat Ayah marah. Kamu ini sudah besar dan sudah mengerti tidak perlu lagi menuntut perhatian ayah. Kamu harus ngerti kalau Ayah ini capek."
Geva terdiam dengan air matanya yang perlahan turun, "Tapi Geva—"
"GEVA!!" bentak ayahnya. Geva berjengit kaget. "Buang semua makanan itu di tempat sampah sekarang juga!" desisnya seraya melempar tas kerjanya ke sofa ruang tengah dengan kerasnya.
Geva menggelengkan kepala, "Geva sengaja masakin Ayah semua ini. Tolong di makan sedikit aja ya."
"Kalau kamu tidak mau membuangnya, biar ayah yang buang!!"
Ayahnya langsung bergerak ke arah meja makan membuat Geva langsung bergerak menghentikan masih disertai tangisan, memegang tangan Ayahnya yang sudah mengangkat semangkuk sayur lodeh itu.
"Jangan ayah!! Ini semua makanan buat ayah," Geva menggelengkan kepala.
Ayahnya melepas cekalannya dan membanting mangkuk itu ke lantai beserta isinya dengan emosi.
PRAANKKK !!!
Geva termundur kaget mendapati sayur itu sudah berceceran di lantai beserta pecahan mangkuk yang bisa saja melukai mereka berdua.
"Ini akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah. Persetan dengan semuanya. Kamu membuat Ayah muak, Gevancia!!"
Geva mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya penuh amarah, "Apa salah Geva sampai ayah bersikap seperti ini?"
Ayahnya mendegus, "Kamu itu jelmaan Ibumu yang b******k itu. Kamu itu mirip sama dia dan Ayah muak melihat kamu. NGERTI!!!"
Geva terdiam mematung dan terisak, "Apa ini semua salah Geva sampai kalian seperti ini?"
"Ini semua gara-gara kamu!!!"
Geva menatap heran ayahnya, "Tapi kenapa?"
Pertanyaan itu yang sejak dulu ada di benak Geva. Kenapa keluarganya tiba-tiba bisa tercerai-berai seperti ini.
Ayahnya berbalik pergi tidak menjawab pertanyaan Geva membuat cewek itu berlari mengejar mengabaikan sengatan tajam di kakinya yang terkena pecahan dalam jumlah banyak. Darah mulai memberi jejak pada lantai marmer putih di bawahnya. Sebelum ayahnya keluar dari pintu, Geva sudah lebih dulu menarik lengannya.
"Jelaskan dulu biar Geva mengerti," pintanya.
Ayahnya melepaskan cekalannya dan menunjuk wajahnya, "Lebih baik kamu nurut. Ayah sudah muak melihat tingkahmu ini. Kamu harus sadar kalau keluarga kita sudah berantakan. Ibumu sudah mati. INGAT ITU GEVA!!" teriaknya.
Geva mematung. Bagai di sambar petir mendengar informasi tentang ibunya. Geva mundur dengan tatapan nanar dan gelengan kepala, "Ayah bohong!!!"
Ayahnya berdecih, "Ibumu sudah lama mati dan Ayah harus kebagian ngurusin kamu!!!"
Setelah itu Geva tidak bisa merasakan apapun. Ayahnya membuang muka dan keluar dari rumah meninggalkan Geva dalam badai emosi hebat yang melandanya sejak ibunya pergi. Sekarang yang bisa dilakukannya hanya menangis dan memeluk dirinya sendiri.
Malam itu Geva meringkuk dan menangis semalaman di sana memikirkan tentang nasibnya yang teramat tragis.
Ibunya sudah mati. Apa ada hal lain lagi yang lebih mengerikan terkait dengan dirinya?
*****
"Gev, mata lo kok bengkak sih?"
Selly menatap wajah Geva lekat karena melihat lingkaran mata diwajahnya yang lebih pucat dari biasanya. Geva tersenyum dan menangkup wajahnya sendiri dengan tangan, "Gue terharu lo perhatian banget."
Selly berdecak, "Gue ini temen lo. Walaupun kita baru kenal, gue bisa kok buat diajak curhat selain buku diary lo itu. Lo tinggal ngomong aja Gev."
Geva mengangguk dan mencubit pipi Selly gemas membuat temannya itu misuh-misuh. Masalahnya lebih dari besar dan Geva tidak mau kalau Selly ikut-ikutan pusing. Tadi malam dia tertidur di lantai dingin sampai menjelang pagi lalu membersihkan sisa-sisa pecahan yang berserakan.
Sepanjang perjalanan ke sekolah dia terus memikirkan ucapan Ayahnya. Tidak ada satu hal pun yang Geva mengerti dan sepertinya Ayahnya enggan untuk menjelaskannya karena itu Geva mengambil keputusan untuk mencari jawabannya sendiri nanti. Dia harus tahu apa yang telah terjadi dengan keluarganya selama ini hingga membuatnya menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa yang sebenarnya berhak untuk tahu.
Ayahnya sama sekali tidak pulang. Entah dia tidur di mana. Rasa sakit hatinya membuatnya ingin membenci Ayahnya sendiri atas sikap arogan dan egoisnya tapi Geva tidak bisa semudah itu membencinya karena rasa sayangnya yang teramat dalam. Dia tidak mau kehilangan satu lagi anggota keluarganya. Walaupun Ayahnya seperti itu, Beliau tetap memberi Geva uang harian untuk sekolah. Geva sudah merasa cukup senang dengan kenyataan kecil itu bahwa Ayahnya masih sedikit memiliki perhatian padanya. Bagaimana mungkin Geva bisa membencinya begitu saja ?
"Gev, lo nanti harus nemuin kak Gio ya?"
Di tengah-tengah pembahasan Bu Rena tentang sejarah kemerdekaan Indonesia, Selly mengingatkan Geva pada satu hal yang hampir saja dia lupakan. Geva menepuk jidatnya pelan dan menoleh ke Selly.
"Astaga hampir gue lupa."
Selly berdecak dan bertopang dagu. Tatapannya lurus ke depan tapi fokusnya ada di mana-mana, "Lo ini gimana sih? Janjian sama cogan ganteng kok bisa lupa!"
"Cogan selengean seperti dia ngapain di harap-harap kecuali kalau kak Nino yang kasih janji. Tanpa mikir lagi gue pasti datang."
Selly menoleh heran, "Lo beneran suka sama tuh Straight Face?"
Geva mendelik seraya berbisik pelan, "Enak aja lo buat julukan tidak bermutu gitu buat yayang gue!"
Selly menggeleng, "Gevancia. Lo bisa buka mata lo lebih lebar dikit ngak karena—"
Selly menjauhkan wajah Geva yang matanya dia pelototin dan mendengus, "Kak Gio kalau di jejerkan sama Kak Nino menang banyak lah dia. Kak Nino ngak ada apa-apanya."
"Lo katanya suka sama bang Akbar?" Geva menyimpitkan matanya.
"Kalau yang itu tetep tapi gue juga punya selingan lain," Selly tersenyum centil.
Geva memutar bola matanya dan kembali fokus dengan tulisan indah Bu Rena di depan sana yang dia salin ke dalam buku tulisnya sendiri. Di tengah usaha mencatatnya, pikirannya beralih ke satu nama itu. Gio. Mungkin untuk murid yang lain, bisa berjarak sedekat kemarin dengan sang badboy tengil itu merupakan sebuah anugrah Tuhan yang maha kuasa yang tidak boleh di dustakan tapi bagi Geva itu namanya bencana.
Tatapan membunuh Chelsea tidak bisa diabaikan begitu saja walaupun jelas Geva merupakan jenis cewek yang kalau disentil bakalan nyentil balik. Kalau dia benar dan tuh cewek malah ngelunjak, Geva akan maju tanpa gentar walaupun itu artinya kehidupan sekolahnya tidak akan pernah tenang.
Geva tersenyum tipis seraya kembali menulis. Sejak ibunya pergi, kapan sih Geva bisa memiliki hidup yang normal. Kalau ngak di kejar-kejar empat demit ngak jelas itu lalu jarang tidur karena mengkhawatirkan ayahnya yang kadang ngak pulang atau pulang dalam keadaan mabuk. Untung saja Geva dianugrahi otak yang pintar kalau nggak mana bisa dia masuk sekolah keren begini.
Sisa pelajaran Sejarah, Geva berusaha fokus belajar. Urusan Gio, itu urusan nanti. Geva jadi penasaran apa sebenarnya maunya cowok itu sampai harus bersikap begini.
"Dia suka sama elo kali Gev?" Selly tiba-tiba berbisik membuat kepala Geva sontak tertoleh ke arahnya, "Lo ngaco?"
"Ngak ngaco. Gue dapat gosipan?"
"Elo gosipan sama siapa ?" Geva mendelik.
Selly nyengir, "Sama ratu gosip kelas kita. Noh si Enita dan geng mininya."
Geva menoleh ke arah pojokan kelas tempat di mana seorang cewek gendut dengan radar gosipan paling jitu bersama partner in crime nya yang juga si gendut Bonita sedang cekikikan berdua. Geva berdecak dan kembali menoleh ke Selly karena penasaran.
"Gosip apaan?"
Selly tertawa kecil, "Kepo juga lo?"
"Iya lah. Lo udah terlanjur ngomong juga. Sesuatu yang lo mulai itu harus lo selesaikan."
"Kak Chelsea itu bukan pacarnya kak Gio. Dia memang sok-sokan aja ngaku-ngaku."
"Seriusan?"
"Iya. Enita itu punya kakak sekelas sama Gio. Masa sih sumber terpercaya gitu ngak lo percayain."
"Terus?"
"Katanya Gio itu dari awal sekolah memang gak pernah deket sama cewek. Nggak gebetan nggak juga pacar."
"Seriusan lo?"
Selly mengangguk mantap. Geva menggaruk kepalanya, "Masa cowok ganteng begitu nganggur sih?"
"Nggak tahu deh. Dia ngak doyan cewek kali," ucap Selly asal. Geva mencubit pipinya, "Lo ngaco. Dia nggak mungkin nggak suka cewek. Lihat aja kelakuannya yang macho abis dan tatapan matanya."
"Duh, lo merhatikannya segitu amat."
"Berisik ah."
"Ya elo beruntung bisa dekat sama dia. Apalagi kalau elo nanti di ajarin taekwondo sama dia. OMG!!! semua cewek pasti pada iri berat apalagi si mak lampir."
"Kayaknya itu sesuatu nggak patut di banggain deh. Gue bisa bayangin kalau Gio marah nanti gue yang dibanting-banting."
"Ngak apa-apa asal yang banting lo cogan."
Geva mendelik, "Enak aja!!!"
Selly dan Geva terkikik bersama-sama. Setelah itu mereka berdua sibuk dengan pejaran sejarah karena di akhir jam, Bu Rena memberi mereka kuis essay yang jawabannya sejibun.
*****