CHP. 04

2701 Words
Satu pelajaran terakhir, Gio memilih bolos ke warung belakang sekolah tempat dia biasa nongkrong dengan Septa dan Bima, sahabat baiknya dalam hal membolos, tawuran juga gosipan. Jangan salah, biarpun cowok, mereka juga harus up to date perihal perkembangan sekolah. Sebenarnya sih yang punya info hanya Septa sama Aries kalau Gio cukup menjadi pendengar dan manggut-manggut. Kalau penting ya di simpan kalau nggak ya ngapain dipikirin. "Gosip coy!!" Bima yang pertama berkoar setelah mereka duduk di warung kopi. Gio duduk dengan gaya selengeannya. Kaki satu dinaikkan ke atas kursi dan mulut sibuk ngisepin choky-choky. Septa yang baru saja disuguhi kopi panas sama bulek Ani langsung menoleh, "Apaan?" "Gio lagi suka sama cewek." Gio mendelik dengan choky-choky yang ada di dalam mulutnya, "Lah kok gue yang dijadikan bahan gosip!" Bima memutar bola matanya, "Di sekolah yang jadi bahan gosipan utama itu cuma tiga yang lain selingan." "Pertama?" tanya Septa masih sibuk dengan kopinya. "Kapan guru-guru rapat dan semua muridnya di anggurkan." Septa manggut-manggut, "Kedua?" Bima menarik satu kerupuk koin yang bergelantungan tidak jauh dari wajahnya, "Chelsea hari ini nge-bully siapa." Septa terkekeh sedangkan Gio mencibir sambil terus menghabiskan coklat kayak sedotan itu sampai habis. "Terakhir?" "Kapan sang casanova menyudahi masa nganggurnya berhibernsi dari cinta ciwi-ciwi sekolah yang sudah siap lahir dan batin mengantri layaknya ngantri sembako." "Lo kata hati gue beras, gula sama minyak." Bima dan Septa tertawa membahana membuat bulek Ani yang berada di dalam warung ikutan memberi pendapat, "Wah kalau den Gio jualan sembako, bulek mau juga ikutan ngantri." Semakin meledaklah tawa keduanya membuat Gio keki dan melempar bungkus choky-choky yang sudah habis berjumlah sepuluh buah itu bergantian ke mereka. "Eh..eh tapi seriusan nih. Semua cewek begosip soal elo sama Ros-" "Geva njir! gue timpuk juga lo!!" "Astaga Gio!! lo posesif amat sih jadi laki. Geva atau Anci atau Rosie atau Belle kan sama aja kali namanya dia tinggal digabung jadi satu." "Gue banting lama-lama lo ya." "Oke bos ngak deh. Iya namanya Geva. Susah memang ya ngomong sama cowok posesif kayak elo nih kalau sudah kepincut cewek." Gio langsung berdiri membuat Bima loncat dari duduknya sambil mengunyah kerupuk koinnya. "Sini lo k*****t!!" "Uuuuuu abang Gio kalau marah seraaaam!!!" Bima  semakin gencar menggoda. Septa sedari tadi sibuk menikmati kopinya tidak peduli. Setelah kejar-kejaran geli dan menimpuk Bima pakai sapatunya beberapa kali, Gio duduk lagi di tempatnya tadi dan langsung nyerocos, "Siapa sih yang bilang kalau gue lagi kepincut cewek ? pasti semua ini elo yang mulai kan?" Gio menunjuk muka Bima yang kembali mencomot kerupuk koin keduanya, "Ya nggaklah. Itukan karena kalakuan lo sendiri." "Yang mana?" Gio pura-pura b***t. Septa mengangkat kepalanya dan menoleh, "Lo pikir semua anak-anak kemarin waktu lo mandangin Geva terus ngak bakalan jadi gosip terhangat." Gio mendengus dan membuang muka. Diambilnya ponsel di dalam saku seragamnya dan mencoba mencari sesuatu di sosial media miliknya yang followersnya , amit-amit banyaknya. Padahal yang Gio posting cuma baju Taekwondo, sepatu futsal sama motor besarnya. Ngak ada satupun foto Gio di sana yang terpampang untuk konsumsi public tapi nyatanya followernya bejibun. "Bener kan Gio?" Septa kembali bertanya. "Hmm." "Anjir!!! Ngaku juga kan lo akhirnya." Gio menoleh sebal, "Apa sih?!!" "Lo aja ngak ngebantah tadi. Wah ternyata Giovani doyannya cewek kayak begitu ya." Gio geram, "Maksud lo kayak gitu apa?" "Kamprett!! Seram amat muka lo. Gue bahkan belum bilang apa-apa," sembur Bima. Septa menggelengkan kepala, "Kenapa Geva?" "Gue ngak tahu." Hanya itu jawaban yang bisa di berikan oleh Gio karena memang cowok itu masih belum tahu apa yang tengah dia rasakan ini. Hanya penasaran belaka atau karena kasihan. Kalau ngomongin cinta sepertinya terlalu cepat dan Gio malas berdebat dengan dua kunyuk di hadapannya ini jadi dia lebih memilih diam. Gio melirik jam tangannya dan mendengus karena bel pulang sekolah masih lama. Bisa mati bosan menunggu kalau begini caranya. "Lo ngapain ?" tanya Bima. "Apanya?" "Dari tadi gelisah." "Ngak!!" "Bohong." Mata Bima menyimpit tajam. "Ngapain juga gue bohong." Septa berdeham seraya melirik Gio. Dia tahu apa yang digelisahkan cowok itu jadi dia mencoba memancing, "Oh iya kita pulangan ini jadikan tanding game online di rumah gue?" "Yoi," Bima menyahut bersamaan dengan Gio yang membantah, "Ngak!!" Kedua temannya menoleh bersamaan, "Lah kan elo tiga hari yang lalu ngusulin. Gimana sih?" "Ngak bisa. Gue ada urusan." "Urusan apa sih?" Bima kembali menatap penuh curiga. "Mau tahu aja lo." Septa sudah bisa menduganya, "Itu loh. Dia udah janjian sama Geva nanti pulang sekolah." "WHAT !!!" Aries berdiri dan berteriak lebay. Gio mendengus, "Biasa aja kales!!!" "Nggak. Soalnya ini nggak biasa." Septa mengangguk seraya menyerumput habis kopi hitamnya yang rasanya ngalahin kopi-kopi di Starbucks. Saat Septa tanya sama bulek Ani apa rahasia kopinya enak banget, Bulek Ani hanya menjawab kalem, "Pake cinta ditambah air liur sedikit." Septa langsung merinding tapi tahu kalau bulek Ani memang suka bercanda dan akhirnya tahu kalau kopi itu buatan langsung tangan bulek Ani yang memang sejak gadis suka meramu kopi walaupun hanya kopi hitam. "Ya sudah biarkan aja lah Ries. Lo seharusnya senang karena Gio akhirnya doyan sama cewek. Gue kan rada-rada parno juga karena lo tahu sendiri Chelsea yang cantiknya kebangetan gitu dia kibas aja pake tangan." Gio mendengus, "Gue paling anti cewek kayak dia. Nggak ada menantangnya sama sekali." "Anjirr!! Songong memang lo ye. Walaupun dia nggak menantang tapi jangan abaikan wajah cantik, bibir ranum seksi menggoda di tambah bodi aduhainya itu. Gue heran sebenarnya elo nggak lihat apa pura-pura nggak lihat," cerocos Bima seraya mencocol kerupuk koin pake sambal botolan. "Gue nggak peduli karena fisik aja nggak menjamin kebahagiaan." "Sadaaap!!!!" Septa berdecak. Mereka kemudian sibuk sendiri-sendiri. Septa yang masih menikmati kopinya dengan tangan yang lain bermain di atas keypad ponselnya sedangkan Bima lebih memilih memakan kerupuk koin kesukaannya yang sudah memasuki bungkus ke sepuluh. Gio mengotak atik ponselnya mencari satu nama yang mungkin bisa dia stalkerin media sosialnya tapi sejak tadi dia sama sekali nggak mendapatkan hasil apa-apa. Akhirnya saat di kejauhan suara bel sekolah berbunyi nyaring membuat senyuman tipis Gio terbit. Dengan gerak cepat, Gio bangkit berdiri meronggoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan menyerahkannya ke bulek Ani. "Kembaliannya buat besok aja bulek," ucap Gio seraya berbalik dan mengambil tas ranselnya kemudian berlari menembus tembok eh maksudnya melompati tembok belakang sekolah dengan ketangkasan seorang Giovani yang memang sudah biasa membolos disaksikan enam pasang mata yang menatap dengan mulut ternganga. "k*****t memang Gio!!! Pergi main pergi aja nggak pake Assalamualaikum apalagi pamitan sama kita." Septa dan bulek Ani menyetujui u*****n Bima dengan anggukan kepala sampai Gio benar-benar menghilang meninggalkan mereka dengan penuh tanda tanya. Cewek itu bisa membuat seorang Giovani menolak di ajak main game. Luar biasa, batin Bima dan Septa bersamaan. *** Mimpi apa Geva semalam. Ah ya Geva ingat kalau dia mimpi lagi ketiduran di lantai rumahnya yang berantakan. Walaupun dia tahu itu bukan mimpi tapi realita. Sambil misuh-misuh, Geva menyapu area perpustakaan yang lumayan besar itu akibat dari kelalaiannya mengerjakan PR Matematikanya. Sebenarnya bukan karena dia nggak bisa tapi karena lupa. Dia terlanjur senang untuk menyiapkan makan malam yang berakhir berantakan kemarin. Geva terduduk di salah satu kursi dan menyeka keringat di dahinya. Akhirnya selesai juga tugasnya dan dia bisa pulang dengan damai. Geva beranjak berdiri ketika teringat sesuatu."Ampun mampus!!" Geva menyambar tasnya, meletakkan sapunya di tempat sebelumnya dan berjalan cepat ke arah ruangan latihan eskul Taekwondo yang ada di area belakang sekolah paling ujung. Kakinya masih nyut-nyutan yang sama sekali nggak dia perban setelah menginjak pecahan mangkuk yang lumayan banyak. Geva meringis saat jalannya terpatah-patah hampir mendekati pintu eskul yang sudah terbuka. "Mampus gue telat nih!!" Geva melongokkan kepalanya ke dalam dan celingak-celinguk mencari sosok Gio di ruangan luas yang sepi itu. Geva menghela nafas sesaat kemudian berbalik dan bertubrukan dengan d**a bidang seseorang. Hidungnya terhantup dan reflek mundur sambil memeganginya. "Eh kak Gio," Geva cengengesan kala melihat Gio berdiri menjulang di hadapannya dengan wajah datar tapi tetap ganteng. "Ngapain lo cengengesan? Gue bilang kemarin nggak pakai telat kan dan lo lihat ini sudah jam berapa?" Geva melihat ke pergelangan tangannya yang nggak ada jam tangannya itu karena ketinggalan dan tersenyum tanpa dosa, "Lupa bawa jam kak. Memangnya jam berapa?" Gio mendengus sebal dan langsung menarik Geva malah setengah menyeretnya masuk ke dalam ruangan. Geva harus menahan sengatan sakit di kakinya karena Gio membawanya dengan langkah cepat lalu menyentaknya dan melepasnya hingga posisinya berada tepat di depan cowok itu di tengah ruangan. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Geva dengan tatapan setengah takut setengah terpesona sedangkan Gio lebih mendetail memperhatikan wajah Geva. Gio sedikit tersentak mendapati Geva yang nampak pucat dari biasanya tapi kemudian dia bisa menguasai diri dan berujar datar. "Kira-kira hukuman apa yang cocok buat kelakuan lo ini?" Mata Geva membulat mendengar kata hukuman. "Kak Gio, Geva tadi sudah di hukum membersihkan perpustakaan karena lupa buat PR. Masa sekarang dapat hukuman lagi?" Gio berdecak, "Itu sih urusan lo. Capek ya?" "Iya." "Kalau mau ikut latihan Taekwondo dan bisa menguasai jurus pertahanan diri, lo kudu strong. Jangan jadi cewek lembek." Geva terdiam dan membenarkan perkataan Gio. Geva memang sudah bertekad sejak awal kalau dia harus bisa menguasai jurus pemula. Jadi kalau dia ketemu empat bandit itu lagi, Geva bisa melawan dengan anggun bukannya lari, bersembunyi atau melawan dengan membabi buta. Geva meletakkan tasnya agak menjauh ke belakang kemudian berdiri di depan Gio dengan senyuman sumringah. "Bener juga kata Kak Gio. Gue harus strong demi bisa menguasainya. Oke deh kak!!" Gantian Gio yang terdiam melihat tekad itu di mata Rosie saat sebelumnya gadis itu nampak kelelahan tapi sekarang semuanya sirna. Gio tahu bukan perkataannya yang membangkitkan semangat itu tapi sesuatu yang lain. "Gue tanya sama lo?" "Apa?" "Alasan sebenarnya elo niat banget ikut beginian?" "Kan sudah Gev-" "Nggak Rosie. Bukan alasan lo yang kemarin tapi yang sesungguhnya?" Geva terdiam. Bukan hak Gio untuk bertanya dan Geva nggak ada kewajiban untuk menjawabnya, "Itu bukan urusan kakak. Gue akan berlatih sungguh-sungguh kalau kak Gio berniat ngajarin Geva dengan serius !" Gio menahan keinginannya untuk bertanya lebih jauh. Ketika mata itu menatapnya tanpa gentar, Gio nggak punya pilihan selain menghela nafas dan berbalik, "Segala jenis olahraga di awali dengan pamanasan. Sekarang lari sepuluh putaran." Geva melotot, "Yah, kok lari sih kak?" Gio berbalik di ujung ruangan, "Lo mau push up aja lima puluh kali." Geva manyun. Kakinya sudah teramat sakit sekarang. "Ngak ada pemanasan yang lain kah? Kayak senam gitu?" Geva nyengir. "Kita bukannya mau ikutan aerobic Rosie," geram Gio. "Lima kali aja ya?" Geva masih mencoba menawar. "Lima belas kali." "Yakk, kok malah nambah." "Kalau elo masih ngebacot nggak gerak-gerak hukumannya makin nambah." Geva berdecak, "Kak Gio ganteng-ganteng s***s ih." "Dua puluh kali." "JIAAAHH !!!!" teriak Geva seraya berlari di tengah rasa nyeri kakinya. Geva mengerahkan segenap kekuatannya memutari ruangan yang lumayan luas itu di bawah tatapan tajam Gio yang duduk di atas meja pojokan dengan seplastik gorengan yang dia nikmati sendirian. k*****t!! Geva berhasil menyelesaikan dua puluh putaran dengan nafas tersenggal lalu duduk selonjoran di tengah ruangan. Gio menghampirinya dan duduk di samping Geva memperhatikan dengan seksama. Gio tahu bahwa cewek itu sedang tidak fit dan juga langkahnya terseok-seok. Disorongkannya Aqua miliknya yang masih tersisa setengah yang langsung Rosie ambil dan meminumnya sampai habis. "Ah, lain kali kalau kaki gue nggak sakit, gue pasti bisa menyelesaikan dua puluh putaran dengan gemilang. Kalau urusan lari, gue mah jagonya kak," ujarnya seraya tertawa. Gio terdiam saat Rosie secara tidak sadar telah menceritakan sendiri sesuatu yang tengah di sembunyikannya dari tadi. Gio menghela napas kemudian bangkit dan berjongkok di depan kedua kaki Geva yang terjulur,dengan tangkas dan cepat melepas kedua sepatu dan kaus kaki Rosie sebelum pemiliknya sadar apa yang terjadi. Gio tersentak kaget mendapat  kedua telapak kaki cewek itu penuh luka bahkan parah yang nampak semakin iritasi karena tidak diobati dengan benar. Geva gelagapan, "Ah, kak. Nggak apa-apa kok. Itu bukan apa-apa." Geva menarik kakinya mencoba untuk kembali memakai sepatunya tapi kalah cepat saat tangan yang lain sudah lebih dulu menarik kakinya kembali lurus dengan geraman di dalam suaranya. "Rosie, ini kenapa?" Geva bungkam melihat Gio nampak memandanginya tajam, "Nggak apa-apa kak." "Gue tanya sekali lagi. Kaki lo kenapa?" Geva sesaat melihat tatapan itu yang nampak gusar dan akhirnya menyerah, "Nggak sengaja nginjak pecahan kaca yang berserakan." Gio terdiam dengan tampang kaget ketika mendengarnya," Nggak sengaja atau lo nggak sadar saat nginjaknya. Ini bukan hanya satu tapi puluhan bekas luka yang gue tahu kalau pecahan itu lebih banyak dan elo tenang-tenang aja." "Ini bukan apa-apa kak. Geva cuma lagi apes aja jadi nggak usah terlalu mempermasalahkannya." "Lo ngusik ego gue." Geva terdiam mendengarnya."Diem lo di situ. Jangan kemana-mana atau gue akan uber lo sampai ketemu!!" Geva terpaksa menganggukkan kepalanya lalu melihat Gio berdiri dan berlari keluar ruangan meninggalkan Geva dalam keterbungkaman. Geva menyeka air mata yang turun ke pipinya seraya berdiri dan mengambil tasnya mengeluarkan sandal nyamannya kemudian memakainya. Di masukkannya sepatu miliknya ke dalam tas dan keluar dari sana ke arah yang berlawanan dengan Gio. Geva hanya tidak mau membagi bebannya dengan siapapun. Gio benar kalau dia memang si pembawa masalah dan dia tidak mau menyusahkan siapapun untuk menolongnya keluar dari semua masalahnya yang teramat rumit. *** Gio memacu motor besarnya membabi buta membelah padatnya lalu lintas siang jalan raya. Gio memang lagi emosi tingkat tinggi ketika mendapati ternyata Rosie sudah pergi dari area sekolah saat dia mengambil peralatan P3K di ruang kesehatan yang memang berada agak jauh dari sana. Bisa-bisanya cewek itu pergi padahal dia menyuruhnya bahkan mengancamnya untuk tetap diam di tempat. Gio langsung bergegas mencari ke seluruh area sekolah yang sudah kosong dan sama sekali tidak menemukan cewek itu. Dia juga sempat berlari ke halte tapi tetap tidak menemukan apapun sampai akhirnya dia kembali untuk mengambil tasnya dan berinisiatif memutari jalanan sekitar sekolah dan halte bis yang ditumpangi Rosie tapi nihil. Cewek itu benar-benar membuatnya geram. Bayangan kaki Rosie yang penuh luka menambah perasaannya kacau. Cewek itu lebih dari tidak baik-baik saja dan bisa-bisanya dia malah dengan bersemangat mengikuti perintahnya sambil tersenyum dan ketawa-ketawa. Sebenarnya apa yang ada di pikiran cewek itu. Gio memberhentikan motornya di sebuah halte yang sudah sangat jauh dari sekolah dan turun lalu menendang apapun yang ada di sekitarnya. "ROSIE !!!" geramnya. Gio sama sekali nggak tahu alamat rumahnya atau siapa teman yang bisa dihubungin. Gio hanya bisa menendang sebuah pohon pinggir jalan melampiaskan kekesalannya. Setelah sedikit reda dengan gontai dan mengacak rambutnya dia kembali ke motornya mengabaikan beberapa tatapan mata perempuan yang duduk bergerombol tidak jauh dari halte dan melajukan motornya pergi. Selang lima menit Gio pergi , sebuah bus dari arah berlawanan berhenti di halte itu menurunkan seorang cewek yang membawa seplastik belanjaan di tangannya. Geva menghela napas lalu mengedarkan pandangannya dan berjalan masuk ke sebuah tikungan sampai berhenti di sebuah mini market tidak jauh dari rumahnya. Geva masuk ke dalam mengambil beberapa persediaan untuk di rumah. Lima belas menit kemudian , Geva keluar dari sana melihat ke arah langit yang nampak gelap menandakan hujan akan segera turun dan melajukan sedikit langkah kakinya yang masih sakit masuk ke dalam g**g di samping mini market tersebut untuk pulang ke rumah. Sedangkan Gio sampai di rumah saat petang dalam keadaan basah kuyup. Mamanya yang membukakan pintu nampak kaget mendapati anak bujang satu-satunya itu terlihat lelah. "Astaga abang. Kenapa lagi kamu?" Gio tersenyum samar, "Nggak apa-apa Ma. Gio cuma kehujanan kok." Wanita cantik yang masih muda itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Gio naik ke lantai dua ke arah kamarnya dengan gontai. Gea memang sudah biasa melihat Gio pulang dalam keadaan kacau entah karena berkelahi atau apapun itu tapi dia tidak pernah melihat Gio pulang dalam keadaan seperti ini. Gea berniat akan mencari tahu kalau Gio sudah bisa diajak bicara karena anaknya itu selalu menceritakan apa pun padanya. Gio yang sudah masuk ke dalam kamar, melempar tasnya sembarangan lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Setengah jam kemudian, cowok itu sudah lebih baik dari sebelumnya dan menjatuhkan badannya di atas ranjang single bed bermotif bola dan menenggelamkan wajahnya di bantal dengan pikiran berkecamuk. Keadaan Rosie membuat Gio begitu gusar. Gio akan membuat perhitungan dengan gadis itu besok. Gio tidak pernah main-main dengan apa yang diucapkannya. Gio bangkit dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan menelepon seseorang. "Hmm, apaan ?" "Gue mau minta tolong." "Apaan sih?" Septa nampak bingung. "Ini tentang Rosie....." -- G E V A N C I A --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD