"STOP!!!!"
Geva dan Selly terpaksa menghentikan langkah kaki mereka di area parkiran sekolah yang masih sepi dan memandang heran dua cowok yang menghadang dan memperhatikan mereka dengan seksama.
"Ada apa ya kak?" Selly buka suara duluan.
"Elo yang namanya Ros- , ah Geva?" Tunjuk cowok tinggi putih yang tampangnya terlihat baik-baik itu ke arah Geva.
"Iya. Kenapa?"
"Tunggu di sini. Jangan kemana-mana!!" Kata cowok hitam manis di sampingnya.
Geva dan Selly saling berpandangan heran merasa tidak pernah memiliki urusan dengan kakak kelas mereka yang berdiri menjulang dengan gaya masing-masing. Yang putih memasukkan kedua tangannya ke saku celana sedangkan yang item manis melipat kedua lengannya di d**a.
"Kakak berdua ini siapa sih? Kok kita nggak boleh masuk kelas!" Geva protes.
"Elo nggak kenal siapa gue?" Cowok item manis itu nampak shock lebay.
Geva menggelengkan kepala begitu juga Selly.
"Astaga kalian kudet ya sampai nggak kenal kita berdua yang terkenal seantero jagat raya!"
"Ngak kenal tuh," Geva mendengus sebal merasa buang-buang waktu meladeni mereka berdua. Kenal aja nggak main hadang-hadang sembarangan aja.
Cowok itu menoleh ke arah teman sebelahnya yang sedari tadi hanya diam, "Wah ini namanya penghinaan bro. Mereka nggak tahu siapa kita?!"
"Memangnya lo terkenal?" Tanya si cowok satunya yang langsung mendapat lepakan kuat di kepala.
"Lo dukung gue kenapa sih!!"
"Ya lagian mereka berdua memang nggak kenal kita."
"Seharusnya mereka kenal dong," cowok itu belum terima.
Geva dan Selly berinisiatif untuk menyingkir dari perdebatan mereka diam-diam tapi ternyata mereka sama sekali tidak teralihkan. Lagi-lagi mereka memghadang langkah keduanya.
"Gue suruh diem aja malah minggat!!!"
"Habisnya kakak berdua ini nggak jelas. Kita kan nggak kenal terus kepentingannya apa coba kita di suruh nunggu seperti ini ?" Geva jelas protes.
Cowok itu baru akan membuka mulut ketika suara menggelegar motor yang baru saja memasuki area parkir sekolah tidak jauh di belakang mereka terdengar. Geva dan ketiganya bahkan semua yang ada di koridor serempak menoleh dan menemukan pemandangan indah pagi hari yang menyegarkan hati dan pandangan.
"Mampus gue!!!" Geva yang melihat devilnya nongol langsung bersembunyi di belakang kedua cowok itu yang nampak berdecak memandangi temannya juga Selly yang terkesima.
Gio menepikan motornya, membuka helm full facenya di sambut pekikan para gadis-gadis pecinta cogan. Rambutnya berantakan dan sumpah fresh banget di pandang mata. Gio langsung bergerak cepat mendekat dan berhenti di depan kedua sohibnya dan pandangan berbinar Selly.
"Mana dia?"
Septa dan Aries sontak menunjuk ke samping Selly yang kosong dan kaget, "Nah loh!!! Mana dia?" Septa dan Aries nampak bingung. Gio berdecak dan menarik kedua sohibnya berpisah ke arah berlawanan memperlihatkan sosok Geva di sana yang menutup kepalanya sambil ngintip. Gio maju membuat Geva memekik dan langsung balik badan siap lari.
"Mau kemana lagi lo?!"
Sialnya, gerakannya kalah cepat karena Gio sudah keburu menarik ransel Geva hingga mundur menubruk badan cowok itu dan membaliknya dengah mudah. Geva cengar-cengir, "Kabar Geva baik kak. Kak Gio giman ? Sudah sarapan?"
Gio nampak geram seketika, "Lo tuh y a!! Rasanya pengen gue iket di pohon mangga belakang sekolah."
"Ampun kak. Geva salah apaa?"
Mata coklat milik Gio membulat, "Lo masih tanya salah lo apa?"
Geva tersenyum kikuk, "Hmm itu kemarin, bokap gue tiba-tiba jemput kak dan buru-buru. Kelamaan nunggu kak Gio jadinya Geva tinggal."
Gio jelas nggak percaya. Geva tersenyum manis mencoba untuk mengabaikan bisik-bisik tetangga dan tatapan sangar seluruh murid yang melintasi area parkiran karena posisi Geva terlalu dekat dengan Gio. Tanpa melepas cekalannya, Gio menarik sesuatu dari saku celananya, "Sebutin nomor kontak lo?"
"HAH!! Buat apaaan?"
"Nggak usah bacot. CEPETAN!!!"
Geva langsung menyebutkan sederet nomor ponselnya sembari melihat Gio menyalinnya di dalam ponsel dan melakukan panggilan hingga ponsel dalam saku Geva berbunyi nyaring. Posisi Geva tiba-tiba berubah ketika Gio menyeret tasnya hingga menghadap ke tiga orang yang sedari tadi memperhatikan mereka dalam diam.
"Nama lo Selly kan ?" tanya Gio. Selly nampak bengong sesaat lalu tersentak saat Septa menyenggol lengannya hingga sadar.
"Hmm iya kak Gio," katanya sambil tersenyum. Geva langsung memutar bola matanya jengah.
"Nomor kontak lo berapa?"
Selly nampak shock tapi langsung bisa menguasai diri dan menyebutkan sederet nomornya. Gio mengangguk dan menekan tanda panggil hingga ponsel Selly juga berdering sekali lalu mati.
"Simpan nomor gue. Gue yakin elo pasti bisa bantuin gue kalau teman lo ini ngilang atau berulah. Bisa bantu gue kan?"
Selly nampak berbinar, "Bisa kak. Bisa."
"Selly!!!" Geram Geva.
Selly tidak memperdulikan geraman Geva sibuk memandangi Gio. Fokus Gio kembali ke Geva, "Kita masih punya urusan yang belum selesai Rosie."
"Apalagi sih kak?!" Geva mulai jengah. Gio nampaknya belum mau melepaskan cekalannya sampai suara yang Geva kenali super maskulin itu terdengar.
"Ada apa ini?"
Mereka semua serempak menoleh. Geva langsung berbinar melihat cowok ganteng tinggi menjulang yang melihat mereka dengan tampang heran. Gio berdecak dan Geva langsung maju menyeruak dengan mata berbinar, "Pagi kak Nino," sapaan Geva manis banget.
Gio menggeram. Septa dan Aries menahan tawa mereka melihat wajah sangar Gio. Nino menaikkan sebelah alisnya melihat cewek yang baru pertama kali di lihatnya ini dengan heran tapi anehnya dia jawab juga sapaan itu padahal biasanya Nino nggak pernah membalas sapaan dari cewek yang nggak di kenalnya.
"Pagi."
Geva merasa dunianya indah seketika hanya karena sapaanya di balas. Gio menutup kedua mata Geva seraya menarik tubuh cewek itu mundur, "Mulut lo manis banget ya."
Geva menyentak tangan Gio di wajahnya dan berbalik sebal, "Kak Gio ini apa-apan sih? Geva jadi nggak bisa lihat cogan neh. Nggak usah pegang-pegang bukan muhrim."
Nino mengangkat alisnya dan berdecak. Seharusnya dia sedari tadi sudah bisa menebak siapa cewek cantik yang bersama Gio itu. Otaknya pagi ini agak lamban kayaknya.
"Oh elo Ros- eh Geva ya?"
Geva langsung mengalihkan tatapannya dari Gio kembali ke Nino penuh binar membuat Gio langsung mengepalkan tangannya erat dengan wajah geram.
Septa menyenggol lengan Aries, "Mampus. Gio marah!!!" bisiknya.
"Kira-kira Nino bakal di hajar nggak?"
Selly menatap kesal mereka berdua, "Jangan berisik kak!!!"
Septa dan Aries kompak mendelik ke Selly yang langsung membuang muka.
Geva maju dan mengulurkan tangan, "Kenalin kak. Nama gue Geva. Salah satu anggota baru Taekwondo. Mohon bimbingannya ya kak dan sabar kalo lagi ngajarin Geva."
Nino dengan wajah datarnya memperhatikan wajah Geva mencoba menilai kenapa Gio bisa begitu penasaran dengan cewek yang Nino akui cantik itu. Tidak ada yang salah pada cewek itu yang terlihat sama saja dengan yang lain. Walaupun memang di matanya menyembunyikan banyak rahasia. Nino dalam hati tertawa geli melihat wajah murka Gio di belakang Geva memandanginya seperti di makan api cemburu. Beberapa tahun kenal dengan Gio baru ini tuh cowok berekspresi seperti itu. Nino jelas nggak akan menyiakan kesempatan ini untuk menggoda Gio.
"Hai, gue Nino Aristama."
Nino menyambut uluran tangan Geva yang langsung tersenyum lebar. Nino tersenyum sekilas membuat Geva makin jejeritan dalam hati. Mimpi apa dia semalam ketemu Nino pagi ini dengan wajah gantengnya. Gio melepas paksa tautan tangan keduanya, "Di larang pegangan. Bukan muhrim."
Geva cemberut, Nino berdecak. Gio menautkan tangannya di genggaman Geva dan menariknya mundur ke belakang punggungnya, "Nanti gue akan nemuin lo lagi No," geramnya lalu menarik paksa Geva menjauh dari sana diikuti oleh Selly, Septa dan Aries di belakang.
"Dadah Kak Nino."
Geva masih sempat melambaikan tangan ke Nino sebelum berbelok ke koridor dengan Gio yang menyeretnya paksa. Nino sempat melambai lalu menggelengkan kepalanya. Gio lebih dari marah dan dia harus berurusan dengan cowok itu nanti. Gio memang nggak pernah terlibat dengan seorang cewek tapi saat cowok itu menyukai seseorang sifat posesifnya langsung keluar. Nino menghela napas dan berlalu dari tontonan semua murid di sana mengarah ke kelasnya sendiri.
***
"BRAKKK !!!!"
"Astagfirullahaladzim Ya Allah," Geva sontak mengelus dadanya ketika Chelsea menggebrak mejanya dengan sangar.
"HEH BELLE!!! Lo gue diemin malah ngelunjak ya?!"
Geva berdiri dari duduknya. Kelasnya yang semula hening langsung ramai saat Chelsea mulai melakukan aksi bully-nya. Sudah tidak usah ditanya untuk apa aksi Chelsea ini karena dia pasti mendengar seluruh warga sekolah membicarakan hal yang terjadi tadi pagi di area parkir.
"Ada apa kak?" Jawab Geva kalem.
Chelsea tidak menjawab gantinya menarik paksa kerah baju Geva dan menyeretnya ke depan kelas. Di sana Chelsea melampiaskan kemarahannya, "Ngapain lo tadi pagi bareng Gio? Mau kegenitan?"
Geva menggeleng. "Nggak kak. Kak Gio sendiri yang nongol."
"Alah, bacot lo bohong doang. Mau ngapain coba dia nemuin lo kayak lo penting aja. Pasti lo yang kecentilan duluan kan?!"
Mata Geva sontak membulat. Geva menarik paksa tangan Chelsea lepas, "Ya nggaklah. Ngapain kurang kerjaan banget sampai harus kecentilan sama dia mending sama kak Nino."
"Dasar junior kurang ajar. Gue kasih pelajaran sini mulut lo . HAH!!!!"
Chelsea menarik paksa rambut Geva membuat cewek itu mengeryit sakit. Bukan Geva namanya kalau nggak melawan. Geva langsung menarik rambut Chelsea dengan kedua tangannya dan terjadilah adu saling jambak sampai mereka menabrak meja dan papan tulis. Koridor dan kelas sudah berjubel dengan para siswa yang asyik menonton perkelahian anarkis itu tanpa ada niatan untuk menolong.
Geva menyikut perut Chelsea membuat cewek itu mendesis mundur lalu menampar Geva bolak balik meninggalkan seberkas rasa nyeri di wajahnya dan asin darah di sudut bibirnya. Geva maju dan menjambak lagi rambut Chelsea lalu menendang kakinya sampai cewek itu mengumpat. Geva dan Chelsea baru akan berniat kembali saling sikut kalau saja kedua pinggang mereka tidak ditarik dan ditahan oleh dua orang yang berbeda.
Chelsea ngamuk, "Dasar cewek jalang. Sini lo lawan gue!!!"
"Lo pikir gue takut apa. Lo senior kecentilan tukang ngaku-ngaku!!" desis Geva seraya bergerak maju tapi ditahan seseorang di belakangnya.
"Nino, cepet lo bawa Chelsea keluar!!!" suara Gio di belakang tubuh Geva berdesis.
Nino mengangguk mengerti lalu setengah paksa menyeret Chelsea yang masih mau maju melawan, "Lepasin gue woy! Enak aja dia mau ngerebut Gio dari gue."
Geva mendelik, "Enak aja gue di salahin. Seharusnya lo ngaca ya, Gio itu nggak suka sama lo. Ngak usah sok ngaku deh!!!"
"Nino, CEPATAN!!!"
Nino langsung bergerak dengan tangkasnya menyeret Chelsea keluar menerobos kerumunan dan menjauh dari sana.
"Ah k*****t tuh senior gilaa!!!" Geva mengomel sendiri belum sadar siapa yang tengah memeluknya dari belakang. Gio berdecak lalu menarik paksa pinggang Geva dan menyudutkannya di dinding kelas sampai mata cewek itu membulat sempurna setelah melihat siapa yang sedari tadi bersamanya.
"Lah kak Gio, ngapain disini?"
"Lo memang tukang cari masalah ya."
Geva nggak terima, "Loh jangan salahin Geva karena tuh cewek duluan yang main kasar."
Gio menghela napas dan memeriksa wajah Geva yang memang memar. Gio langsung mengambil pergelangan tangan Geva dan menariknya paksa membuat Geva terseret mengikuti dan terbelalak melihat kelasnya sudah ramai seperti pasar malam.
"BUBAR! MINGGIR KALIAN SEMUA!!!" Teriak Gio membuat semua siswa yang ada di depan pintu kelas langsung minggir. Gio berdecak lalu menarik genggaman tangannya membawa Geva pergi dari sana di bawah tatapan dan bisik-bisik seluruh penghuni sekolah di seluruh koridor yang mereka berdua lewati.
***