Kejadian Tak Terduga

1337 Words
***** "Kenapa masalah datang bertubi-tubi, Ya Allah," gumam Athaya sambil mengusap wajahnya. Dia berusaha untuk menenangkan diri, tetapi masih juga gelisah, hingga akhirnya memutuskan untuk keluar rumah mencari angin sejuk. Rumah terasa seperti penjara yang pengap bagi Athaya. Di ruang tengah, dia bisa mendengar suara Ayah dan Ibunya yang sedang sibuk menelepon kerabat, memesan katering, dan tertawa renyah membayangkan pesta lamaran mewah besok pagi. ​Tanpa pamit, Athaya menyambar kerudung instannya dan melangkah keluar. Dia butuh oksigen yang tidak tercemar oleh obrolan tentang emas batangan dan mahar. Athaya berjalan tanpa tujuan, menyusuri trotoar di bawah temaram lampu jalan. Pikirannya melayang pada setiap hinaan yang dia terima hari ini. "Besok... besok adalah hari di mana aku resmi menjadi milik Pak Heru. Hari di mana semua orang akan semakin yakin bahwa aku adalah perempuan yang bisa dibeli. Kenapa dunia begitu cepat menghakimi tanpa tahu bahwa jantungku rasanya mau copot setiap kali membayangkan tatapan genit pria itu?" bathin Athaya. "Ya Allah, besok keluarga besar Pak Heru akan datang. Akan ada iring-iringan mobil, seserahan mewah, dan tawa kemenangan dari orang tuaku. Tapi di mana aku dalam acara itu? Aku hanya akan menjadi pajangan cantik yang akan mereka pamerkan sebagai hasil kesepakatan ini," ​Ketakutan yang nyata Athaya semakin jelas kala dia membayangkan Pak Heru akan datang besok dengan setelan jas yang dipaksakan menutupi perut tambunnya, mungkin sambil memilin-milin kumis tebalnya yang ikonik itu di depan semua orang. Dia membayangkan bagaimana pria itu akan mencoba menyentuh tangannya untuk memasangkan cincin di depan umum. "Aku merasa geli pada diriku sendiri. Aku merasa kotor sebelum disentuh. Bagaimana aku bisa menjalani malam-malam setelah pernikahan nanti? Bagaimana aku bisa tetap menjadi guru yang tulus jika hatiku penuh dengan kepahitan dan rasa jijik?" Jembatan itu terasa seperti ujung dunia bagi Athaya. Di desa ini, setelah jam delapan malam, kehidupan seolah mati. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut-sautan dan deru air sungai di bawah kaki jembatan yang sepi. Tidak ada lampu jalan yang terang, hanya cahaya bulan yang samar-samar menyinari wajahnya yang sudah basah oleh air mata. ​Di sini, di tempat yang tidak ada seorang pun mengenalnya sebagai "Ibu Guru Athaya", dia akhirnya bisa melepaskan semua topengnya. Dia bersandar pada beton jembatan, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di tanah yang dingin. "Ya Allah... aku ingin lari sejauh mungkin. Tapi kalau aku lari, Ibu akan kembali ke rumah sakit. Ayah akan menanggung malu seumur hidup. Kenapa beban seluruh keluarga harus diletakkan di atas pundakku?" bathin Athaya merepih perih. Tangis Athaya terhenti seketika. Suara decit ban yang beradu tajam dengan aspal memecah keheningan malam desa yang mencekam. Sebuah mobil melesat secepat kilat melewati dirinya, lalu... BRAAAKKK! ​Suara dentuman logam yang menghantam pohon besar terdengar begitu memekakkan telinga. Mobil itu terpental, keluar dari bahu jalan dan terperosok ke dalam semak-semak yang rimbun. Keadaan mendadak sunyi, hanya menyisakan kepulan asap yang keluar dari kap mesin yang hancur dan suara radiator yang mendesis. ​Athaya mematung. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah hendak melompat keluar. Rasa galau yang tadi menyelimutinya sekejap tergantikan oleh rasa ngeri yang luar biasa. "A-astagfirullah... Ya Allah..." ​Dia sempat ragu. Suasana jembatan sangat gelap dan sepi, tidak ada orang lain di sana selain dirinya. Namun, sebagai seorang guru yang terbiasa menolong, nuraninya berteriak. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun di dalam sana mati tanpa bantuan. ​Dengan kaki yang masih lemas, Athaya berlari mendekat ke arah semak-semak itu. Bau bensin dan karet terbakar mulai menusuk hidungnya. ​Athaya menerobos semak-semak, mencoba melihat siapa yang ada di dalam mobil mewah yang kini sudah ringsek di bagian depannya itu. Dia menyalakan senter dari ponselnya yang layarnya masih basah oleh air mata. "Halo?! Ada orang di dalam? Pak! Bu!" ​Dia mendekat ke pintu pengemudi yang terjepit. Melalui kaca yang retak seribu, dia melihat seorang pria terkulai lemas di atas setir. Darah mengalir dari pelipisnya, namun pria itu masih tampak bernapas meski tersengal-sengal. "Siapa orang itu? Di tengah malam begini di desa yang sepi... apa mereka orang kota yang tersesat?" gumam Athaya pelan. ​Tanpa dia sadari, kejadian ini sejenak membuat Athaya melupakan masalah lamaran Pak Heru besok pagi. Tangannya yang tadi gemetar karena sedih, kini gemetar karena mencoba menarik gagang pintu mobil yang macet itu dengan sekuat tenaga namun tidak bisa terbuka. "Pak! Pak, bangun! Tolong buka pintunya!" ​Pria itu tidak menjawab, hanya terdengar rintihan halus. Karena pintu mobil macet total akibat benturan, Athaya mencari batu besar di sekitar semak-semak. Dengan napas terengah-engah dan tangan gemetar, dia memukul kaca jendela mobil itu berkali-kali. ​PRANKKK! ​Kaca itu pecah. Athaya tidak peduli tangannya tergores serpihan kaca. Dia segera merogoh ke dalam, membuka kunci manual, dan menarik pintu itu sekuat tenaga. ​"Ayo, Pak... pelan-pelan. Mobil ini bau bensin, bahaya kalau meledak!" ​Dengan susah payah, Athaya memapah pria itu keluar. Tubuh pria itu tinggi dan atletis, jauh berbeda dengan fisik Pak Heru yang tambun. Saat pria itu berhasil disandarkan di pohon, cahaya bulan menyinari wajahnya. Meski tertutup darah, pria itu terlihat masih muda, dengan garis wajah yang tegas dan tampan, sangat kontras dengan sosok "bapak-bapak" yang menghantuinya seharian ini. ​Pria itu perlahan membuka matanya, menatap Athaya dengan pandangan kabur. "Terima... kasih... Kamu... siapa? ""Saya Athaya. Jangan banyak bicara dulu, Pak. Saya akan cari bantuan," "Jangan tinggalkan... saya..." ​Athaya tertegun. Di tengah keheningan malam desa dan di bawah bayang-bayang lamaran Pak Heru yang menantinya besok pagi, pertemuan ini terasa sangat aneh. Pria ini tampak seperti seseorang yang datang dari dunia yang berbeda. "Siapa pria ini? Kenapa dia bisa kecelakaan di desa terpencil ini di jam seperti ini? Apakah ini jawaban dari doaku di jembatan tadi?" bathin Athaya memperhatikan wajah pria misterius itu dengan lamat. Suara hantaman keras tadi ternyata terdengar hingga ke pos ronda yang terletak tak jauh dari jembatan. Beberapa bapak-bapak yang sedang berjaga, yang sedari tadi asyik mengunyah kacang. "Kalian dengar itu? Suara apa yang keras sekali dari arah jembatan?" ucap salah satu bapak yang memakai sarung. "Itu suaranya nggak beres. Ayo kita cek, takutnya ada begal atau kecelakaan," Sambil mengayunkan senter para warga desa terus berjalan menuju arah suara tadi. "Suaranya kencang sekali tadi, Pak RT. Saya yakin itu bukan ban meletus. Mirip suara barang jatuh dari langit!" "Makanya kita cek dulu. Tapi perasaan saya tidak enak, daerah jembatan itu kan gelap sekali kalau malam," sahut Pak RT. Beberapa warga terkekeh mendengar ucapan Pak RT barusan. "Ah, palingan jin penunggu jembatan lagi marah karena besok kembang desa kita mau diambil orang kota. Si Athaya itu lho, Pak. Hebat betul ya, bisa menaklukkan hati Pak Heru," ​"Iya, ya. Saya dengar maharnya bukan main. Ada emas, ada mobil. Pak Heru itu biar pun sudah duda dan... ya, maaf-maaf saja, fisiknya sudah berumur begitu, tapi tabungannya tidak berseri. Athaya menang banyak!" "Menang banyak apa? Kasihan Athayanya, Pak. Masih muda, cantik, masa harus bersanding sama yang kumisnya tebal begitu? Mana perutnya Pak Heru itu lho, sudah kayak membusung mau melahirkan. Kalau saya jadi Athaya, saya lebih milih kabur!" ​"Hus! Jangan sembarangan bicara. Orang tua Athaya sudah setuju, Ibunya si Maysarah itu juga sudah gembar-gembor ke mana-mana. Katanya ini pernikahan paling mewah di desa kita tahun ini," balas Pak RT menambahkan. ​"Mewah karena dibeli itu mah, Pak RT. Athaya itu kan dulu sempat menolak anak Bu Ratna yang masih muda. Eh, ternyata dia malah milih yang mapan meskipun bapak-bapak. Memang benar kata pepatah, cinta itu buta, tapi harta bikin mata melek!" "Tapi jujur saja, saya curiga Athaya terpaksa. Tadi sore saya lihat dia jalan, mukanya murung sekali. Beda sama orang mau dilamar. Eh, lihat itu! Ada kepulan asap di dekat semak-semak!" Merekapun mempercepat langkah mereka. "Astagfirullah! Itu mobil! Ayo cepat, jangan-jangan ada korbannya!" Dengan senter besar di tangan, rombongan warga itu berlari menuju lokasi. Saat cahaya senter mereka menyapu area semak-semak, mereka terkejut melihat Athaya sedang duduk di tanah, memangku kepala seorang pria asing yang bersimbah darah. ​"Astagfirullah! Athaya? Kamu ngapain malam-malam di sini?" tanya Pak RT penuh selidik. Bapak-bapak tersebut bukannya langsung menolong, tapi justru saling lirik dengan tatapan penuh selidik. Suasana evakuasi yang seharusnya darurat mendadak berubah menjadi sidang dadakan di pinggir jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD