10. Hutan Magis

1336 Words
"Kemana dewa bermata hijau itu?" Sudah sejam lamanya Amy menelusuri jalan setapak hutan tempatnya bertemu Keno. Akan tetapi tidak ada siapapun yang dia lihat. Setelah melewati terowongan kenangan buruk pun, masih tak ada tanda-tanda keberadaan sang dewa. "Keno! Hei, dengar, aku—aku ingin mengatakan sesuatu!" teriak Amy seraya mengedarkan pandangan ke arah manapun, bahkan sampai langit yang terlihat mendung. Masih siang, tapi cuaca sudah mulai buruk. Ketika memasuki akhir tahun, curah hujan di sini menjadi tinggi. Tidak ada sahutan, hanya suara kicauan burung asing yang terdengar bersahut-sahutan. Pepohonan makin lebat seiring dengan makin masuknya wanita itu ke tengah hutan. Dia tak pernah tahu ada hutan lebat semacam ini. Setelah mendengarkan penjelasan sang kakek, dia masih tak mampu mengingat kawasan ini. Mengapa setelah memasuki terowongan tadi, rasanya seperti mengarah ke area yang dipenuhi ilusi?, pikirnya. Perasaannya menjadi aneh, dia yakin berjalan melewati pohon yang sama berulang-ulang. Selain itu, guguran daun pun jatuh di waktu, tempat dan saat yang sama di hadapannya. Namun, kapan hal itu terjadi? Apa saat dia masih kecil dulu? Mengapa pernyataan kakeknya seperti ada yang kurang? Jika mereka bertemu saat dia saat berusia lima atau enam tahunan, lantas mengapa Keno saat itu bilang dia pernah menggendongnya saat bayi? Tiba-tiba seekor ular berwarna hitam merayap keluar dari semak-semak. Bentuknya cukup kecil namun panjang sebagaimana ular pohon pada umumnya, kulitnya licin serta mengkilap. Sekilas binatang itu kelihatan seperti baru saja terjebur tinta. "Oh, tidak," ucap Amy seraya mundur pelan-pelan. Ular itu berhenti, lalu mendongak padanya. Ia membuka mulut kecilnya, lalu suara manusia pun terdengar. "Nona, jangan pergi sendirian di hutan ini, setelah melintasi terowongan itu—kau akan terjebak di sihir hutan Tuan Cernunnos, tidak akan bisa keluar sampai ada yang memandumu." "Ah~" Amy mendelik pada binatang itu. Ia tidak terlalu kaget, terutama sejak pertemuannya dengan pria penyendiri yang menyebut dirinya dewa hutan. Lalu kenapa sekarang ada ular bisa bicara? "Namaku Nagi, aku ular magis Tuan Cernunnos, ya—tentu saja aku bisa bicara, jadi jangan takut, Nona Pengantin—aku akan memandumu ke Manor Dewa Hutan, tapi sebelum itu—aku harus menggigitmu—" Ular itu mendekati Amy, lalu mematuk pergelangan kakinya yang masih terlapisi celana panjang. Rasa sakit patukan itu sontak membuat Amy mengerang pelan. "Aku—kau—racun." Ia membelai kakinya dengan panik. Segala kemungkinan buruk mungkin terjadi karena gigitan ular. "Bukan racun yang akan melukai tubuhmu, Nona, racunku untuk melindungimu dari serangan binatang hutan ini. Ini hutan magis, terpisah dari hutan manusia, dan banyak yang membangkang pada dewa hutan." "O—ke," ucap Amy mulai merasa aneh karena bicara dengan ular, "kau tahu dimana Keno—maksudku, Cernunnos? Aku perlu bertemu dengannya." "Tentu, dia di Manor, ayo kuantar, ikuti aku—" ajak ular itu berbalik badan, lalu merayap di jalan setapak dengan kecepatan pelan, "agak cepat, Nona, ayo ikuti aku." Langkah kaki Amy bertambah cepat, lalu berlari mengejar binatang magis itu. Dalam hati dia mengomel dengan dirinya sendiri, apa aku ini? Alice di hutan ilusi yang mengejar ular? Semenjak bertemu Keno, realitas hidupnya berantakan. Hutan ilusi ini memang memiliki bentuk pohon yang berbeda, makin aneh, makin hidup dan rimbun, serta gelap. Ya, dedaunan seolah bisa bergerak sendiri tanpa adanya embusan angin, ini membuat Amy sedikit takut. Makin mendalam, cahaya mentari tak mampu menembus lebatnya daun pohon-pohon aneh itu. akibatnya udara menjadi lembat, sedikit berkabut, bahkan sebagian tanah masih basah. Aroma khas daun yang berubah menjadi kompos alami memasuki lubang hidung Amy. Bukan hanya itu, ada aura aneh yang mengambang di udara, terasa seperti ada tekanan yang membuat sesak napas Amy kambuh. Ada mata-mata asing yang mengintip di balik pepohonan, tidak jelas apakah mereka. Seperti yang dikatakan Nagi, hutan magis ini berbahaya. "Menyeramkan," komentar Amy saat tak sengaja melihat ada gerakan di salah satu batang pohon. Ya, kulit batang tersebut bergerak-gerak seperti hidup. Sambil berpaling wajah, wanita ini mengelus d**a. "Tenanglah, ini ilusi, jangan bilang itu roh hutan, mana mungkin." Dia berjuang keras untuk melompati akar-akar besar yang menyeruak ke permukaan. Sudah hampir lima belas menit dia berlari mengejar ular itu. Beberapa kali langkahnya tertahan akibat terpeleset. "s**l," umpatnya seraya melepaskan sandal yang dia kenakan. Baik blus maupun celana yang dia kenakan sudah dipenuhi bercak lumpur. Dia terbiasa berjalan di catwalk, bukan jalanan berlumpur. "Hei, Nagi, bisakah kita pelan-pelan saja? Aku yakin Ken—maksudku Cernunnos juga tidak keberatan." Ular itu menoleh. "Sebentar lagi sampai—lihatlah, di depan kita itu pintu masuknya." Ia merayap kembali ke arah terowongan yang terbentuk di antara dua pohon maple berdaun campuran merah, oren, dan hijau dan akan berubah-ubah seiring waktu. Perpaduannya begitu indah sampai membutakan mata manusia manapun, termasuk Amy. Amy baru menyadari terowongan itu. Entah mengapa melihat keindahan itu melenyapkan segala kejengkelannya barusan. Tanpa ia sadari, dia melangkah maju ke arah terowongan itu. Kedatangannya disambut oleh embusan angin lembut. "Astaga—" Dia mengagumi dedaunan yang seperti melambai-lambai ke arahnya. "Ini indah sekali." Karena terlalu menikmati keindahan terowongan daun aneka warna tersebut, dia kehilangan jejak Nagi. Ia pun buru-buru keluar terowongan, lalu memanggil, "Nagi? Nagi?" Penampakan yang terbentang di depan matanya jauh lebih indah ketimbang lokasi wisata manapun. Sebuah bangunan berjenis manor dengan tembok terbuat dari batuan sungai. Hampir seluruh tembok telah dirambati oleh benalu dari semak belukar. Bangunan ini terdiri akan tiga lantai. Pada lantai teratas, terdapat sebuah balkon yang dipenuhi oleh bunga hidup berbagai warna. Benar-benar menyatu dengan alam. Bangunan itu berada di bawah naungan kubah raksasa yang terbentuk dari puluhan pohon tinggi. Ya, semua dahan pohon saling melilit satu sama lain. Dedaunan rimbun menghalangi sinar matahari untuk masuk. Akibatnya, suasana tempat ini begitu indah, teduh, segar, lembab, dan berbau khas pohon basah. Amy melangkah pelan menuju ke teras manor itu. "Keno? Apa mungkin dia ada di sana?" Ia berulang kali mengedarkan pandangan ke manapun, tapi tidak ada satupun manusia atau binatang yang terlihat. Bahkan ular tadi juga lenyap tanpa jejak. "Ada apa dengan tempat ini? Indah—tapi entah mengapa terasa suram." Dia terdiam di depan pintu ganda manor itu. Untuk pertama kalinya, dia melihat sebuah pintu kayu paling megah, penuh ukiran berbentuk sulur-suluran yang benar-benar bernilai seni tinggi. Lebih menakjubkannya lagi, ukiran tersebut dapat bergerak mengikuti pola yang ada. "Tidak mungkin, apa ini sihir?" Amy sampai membeku melihatnya. Saat dia hendak mengetuk, keajaiban lain pun terjadi. Ya, pintu tersebut terbuka sendiri, memperlihatkan suasana suram bagian dalamnya. Seluruh bangunan ini jelas punya kekuatan magis. Grrr ... Suara gemuruh pelan terjadi, berasal dari dua pilar penyangga atap teras yang bergeser. Mereka seolah-olah sedang memposisikan diri agar tidak kelelahan. Amy menoleh cepat. "Siapa?" Mendadak kedua pilar itu berhenti. Ada yang aneh dengan bangunan itu, tapi Amy sendiri tak bisa menebak apa yang terjadi. Ia memperhatikan kedua pilar yang mencurigakan itu. Meskipun terbuat dari batuan, tapi keduanya seperti memiliki nyawa. "Astaga, ini mengerikan." Tiba-tiba ada suara riang khas anak-anak menyambut dari dalam, "Tuan Cernunnos, silakan masuk." "Heh? Cernunnos? Mana?" Amy heran sampai berputar untuk mencari keberadaan Keno, tapi di depan pintu hanya ada dirinya. Dia perlahan masuk seraya berkata lantang, "halo, ada orang? Aku Amy Williams! Eh, Keno, kau di dalam? Aku ingin membicarakan sesuatu—" Dia berhenti di tengah-tengah ruang tamu. Seluruh perabotan disini sudah tertimbun oleh rimbunnya benalu seolah tak terawat selama puluhan tahun. Ada yang tidak beres dengan tempat ini. Indah dari luar, tapi dalamnya begitu menyeramkan. Banyak sekali akar yang menyeruak keluar hingga membuat lantai menjadi hancur. "Tuan Cernunnos, silakan beristirahat," ucap suara asing itu tadi. Amy mendongak ke langit-langit, mencari asal suara itu. Dia mulai takut ketika melihat lampu gantung mati yang bergoyang-goyang tanpa sebab. "Apa ini Manor beast? Kenapa sepi sekali? Halo, Keno, kau tidak bermaksud mengerjaiku, bukan?" Tiba-tiba pintu menutup. Dan—tiba-tiba udara menjadi lebih dingin. Dan—tiba-tiba suasana jauh lebih gelap. "Keno!" Jantung Amy berdebar kencang, terkejut dengan menutupnya pintu itu. Dia bagaikan seekor kelinci yang terjebak perangkap pemburu. "Keno, aku tidak mencuri bunga mawarmu—kau tak bisa mengurungku, aku hanya ingin bicara denganmu." Tidak ada sahutan. Suara anak-anak tadi juga menghilang. Lampu gantungnya masih bergerak. Tap. Tap. Tap. Kini yang terdengar suara langkah kaki. Amy mematung di tempatnya berdiri seraya menatap anak tangga yang terbuat dari akar-akar saling melilit itu. Ia tidak melihat siapapun, hanya dua sandal berbulu hitam yang tengah mendaki anak tangga. "Ini tidak mungkin," bisiknya menggeleng tak percaya, "tempat apa ini?" ______
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD